
"Apa aku bisa bertemu dengan anak-anak kita Mas?" tanya Jihan lirih, matanya masih berembun belum kering.
"Besok ya sayang, saat badanmu sudah pulih kita akan langsung menemui Anja dan Jani." jelas Arick, ia sebenarnya tak tega memisahkan Jihan dengan kedua anaknya. Tapi apa mau dikata, beginlah keadaannya.
Ibu dan anak ini harus dirawat di ruang yang terpisah.
Pelan-pelan, Arick mulai menceritakan keadaan Anja dan Jani kepada Jihan. Semuanya ia ceritakan tanpa ada yang ditutup-tutupi sedikitpun.
Arick juga berulang kali berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahkan bukan hanya Anja dan Jani bayi yang sedang berjuang di ruang NICU itu, banyak bayi lainnya juga yang mengaalami hal sama seperti kedua anaknya.
Arick juga meminta Jihan untuk tabah dan ihklas, untuk merasa bahagia dengan kelahiran si kembar. Meminta agar Jihan berhenti menangis dan bersedih.
Jihan mengangguk, ia juga menurut ketika Arick memintanya untuk beristirahat agar segera pulih.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam 4 subuh, Jihan membuka matanya dan menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Sedari tadi mencoba terlelap nyatanya mata itu tetap tak bisa diajak tertidur nyenyak.
Pikirannya tertuju pada Anja dan Jani yang kini berada di ruang NICU.
Apa mereka tidur dengan nyenyak?
Apa mereka merasa lapar?
Apa mereka merasa kedinginan?
Jihan menggeleng pelan, air mata mengalir membasahi kain penutup kepalanya, hijab. Ia terisak, ingin sekali memeluk kedua anaknya, mendekap dan memberikan sentuhan seorang ibu.
Anja, Jani, ibu sangat merindukan kalian Nak, sangat. Ya Allah kuatkanlah hati hamba.
Mendengar suara isakan tangis, Arick yang tertidur di sofa terbangun. Dari posisinya berbaring ia melihat Jihan yang menangis. Air matanya pun ikut mengalir, sumpah demi apapun ia juga sangat sedih.
Terlebih lagi saat melihat sang istri yang bersedih seperti itu, ia tidak kuat.
Tapi tidak, aku harus lebih kuat dari Jihan. Batin Arick, ia lalu menghapus air matanya pelan dan bangkit menghampiri sang istri dan mencoba bersikap biasa saja.
"Sayang, kamu sudah bangun?"
Jihan menoleh, ia mengangguk dan menggigit bibir bawahnya menahan isak tangis.
"Aku ingin bertemu anak-anak Mas." lirih Jihan dengan suara putus-putus.
Arick mengangguk, mengiyakan permintaan sang istri. Ia menghapus semua air mata Jihan dan menghujani wajah sang istri dengan ciuman.
"Apa ASI mu terasa penuh?" tanya Arick, ia menarik kursi dan duduk di sisi ranjang, menggenggam erat tangan Jihan.
Jihan menggeleng pelan, "Tidak Mas." jawabnya dengan perasaan yang makin merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, mungkin karena kamu stres ASInya jadi berkurang." jelas Arick.
Jihan tidak menjawab, ia terus mengedipkan matanya cepat, juga menggigit bibir bawahnya menahan derai air mata agar tidak mengalir.
"Nanti kita lihat anak-anak." ucap Arick mencoba menenangkan dan Jihan mengangguk antusias.
Sayup-sayup, suara adzan subuh menyelinap masuk ke dalam ruangan Jihan, menyadarkan keduanya untuk kembali bersujud. Menyerahkan semuanya pada sang pencipta, hidup dan mati, bahkan seisi dunia ini adalah miliknya.
Maka bersedih dan berbahagialah sewajarnya saja, karena semua ini hanyalah titipan.
Arick melakasanakan shalat subuh di kamar itu dan Jihan mengamati dari tempatnya berbaring.
Semua orang memang sudah pulang, sedangkan Mardi dan Sofia memutuskan untuk menginap di hotel dekat rumah sakit. Menyisahkan Arick dan Jihan saja disini.
Selesai dengan 2 rakaatnya, Arick melipat sajadah dan kembali menghampiri sang istri.
Jihan mencium punggung tangan suaminya takzim, juga Arick yang mencium kening Jihan cukup lama.
"Kamu haus?" tanya Arick.
Jihan tersenyum lalu mengangguk kecil.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam 7 pagi, dokter Diah datang memeriksa keadaan Jihan. Kesempatan itu Arick gunakan untuk meminta izin agar Jihan diperbolehkan menemui bayi-bayinya.
Dengan perlahan, Jihan bangkit dari tidurnya dan dipindahkan ke kursi roda. Sedikit terasa nyeri, karena jahitan bekas operasi itupun masih basah.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Arick cemas ketika melihat wajah Jihan yang meringis menahan sakit.
"Aku baik-baik saja Mas." jawab Jihan dengan mengangguk kecil.
Jihan, Arick dan Diah akhirnya menuju NICU untuk menemui Anja dan Jani.
Sepanjang perjalanan, Jihan tersenyum, merasa bahagia ketika hendak menemui anak-anaknya. Berulang kali ia memanggil nama Anja dan Jani di dalam hati.
Sampai di NICU, Diah dan Arick menggunakan pakaian khusus pengunjung, sementara Jihan hanya menggunakan masker dan sarung tangan.
Diah membimbing Arick dan Jihan untuk menemui kedua anaknya. Sampai disana, senyum Jihan yang sedari tadi berkembang langsung menghilang. Dilihatnya 2 bayi kecil di dalam inkubator dengan nama ANJA dan JANI.
Jihan menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangan. Menahan agar tangisnya tidak pecah.
Baik Anja ataupun Jani, keduanya disinari dengan sinar berwarna biru, entah tidak tahu gunanya itu untuk apa. Bahkan dari hidung dan mulut kedua anaknya diberikan selang.
Ya Allah.
Hatinya bagai teriris melihat keadaan kedua anaknya, jika bisa, biar ia saja yang menggantikan posisi itu.
"Sabar Ji." ucap Diah mencoba menenangkan, dia bahkan mengelus punggung Jihan sejenak.
"Pak Arick, silahkan Anja dan Jani diadzani." ucap Diah pada Arick, kemarin saat Anja dan Jani baru lahir memang belum memungkinkan Arick untuk mengadzani kedua anaknya.
Kini keadaan Anja dan Jani sudah mulai stabil, meski masih dalam perawatan intensif.
Arick mengangguk sebagai jawaban, lalu mendekat diantara kedua inkubator anaknya.
Dengan suara bergetar, ia mulai mengumandangkan adzan.
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar
Asyhadu allaa illaaha illallaah
Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah
Hayya 'alashshalaah
Hayya 'alalfalaah
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar
Laa ilaaha illallaah.
Air mata Jihan luruh tak bisa berhenti, apalagi ketika mendengar suara suaminya yang mengumandangkan adzan dengan suara berat, terlihat sekali jika Arick sedang menahan diri agar tidak menangis.
Selesai mengazani kedua anaknya, Arick berjongkok dihadapan Jihan mencium punggung tangan istrinya itu.
"Terima kasih sayang." ucap Arick tulus, air mata mengalir di sudut matanya.
Buru-buru Jihan menghapus air mata itu, lalu mengangguk dengan cepat.
"Mari kita keluar." ajak Diah, baik Jihan ataupun Arick menurut. Mereka memang tidak diperbolehkan lama-lama berada di dalam ruangan ini.
"Mereka cantik sama sepertimu." ucap Arick.
Kini ia dan Jihan sudah kembali ke ruang rawat, Arick sedang membantu Jihan untuk kembali berbaring. Sementara Diah pun sudah pamit kembali bekerja.
"Sayang jangan stress, agar ASInya kembali banyak." ucap Arick lagi, saat Jihan sudah berbaring sempurna.
"Makan yang banyak, tidur yang nyenyak. Itu bukan berarti kamu menjadi ibu yang egois, melainkan itu semua untuk anak-anak." jelas Arick lagi, ia menghapus sisa-sisa air mata Jihan yang masih menempel di pipi.
"Kasihan juga Zayn, di rumah hanya bersama mbak Puji dan Asih. Jadi ayo kita semangat."
Jihan mulai bisa sedikit tersenyum, ia merasa sangat beruntung memiliki Arick sebagai suaminya.
"Iya Mas." jawab Jihan antusias.