
Siang harinya, Mardi memboyong cucu, menantu sekaligus pembantu untuk pindah ke rumah miliknya. Sofia tersenyum bahagia, mengetahui jika beberapa hari ini ia tidak akan merasa kesepian di rumah.
Rumah Mardi memang tergolong besar, bahkan di lantai 2 rumahnya berderet kamar yang bisa digunakan. Sengaja ia siapkan untuk anak-anaknya.
Sampai di rumah, Jihan langsung memompa Asinya, beberapa botol yang ia dapatkan langsung di kirim oleh Amir ke rumah sakit, untuk Anja dan Jani. Sedangkan sisanya ditinggal di rumah, untuk sang kakak, Zayn.
Waktu perlahan berlalu, kini sudah seminggu semenjak kepulangan Jihan waktu itu.
Drt drr drt
Ponsel diatas nakas bergetar, Jihan yang sedang memompa Asinya bergegas melepas alat pompa. Buru-buru menjangkau ponsel, takut jika yang menelpon adalah suaminya yang ingin memberi kabar tentang Anja dan Jani.
Semalam, Arick bilang, hari ini Anja sudah boleh pulang sementara Jani masih belum.
Wajah cemas Jihan berubah menjadi senyum yang mekar ketika dilihatnya yang menelpon bukanlah Arick, melainkan sang ibu, Nami.
Jika dihitung-hitung, saat ini Nami sudah pulang dari perjalanan ibadah umrohnya. Tanpa mengulur waktu, Jihan langsung mengangkat panggilan itu.
"Assalamualaikum Bu." jawab Jihan dengan riang, dan salam itupun dijawab antusiaa oleh Nami.
Senyum Jihan makin terkembang, ketika terdengar suara Rizky yang memanggil-manggil namanya, juga menyebut Zayn berulang, Rindu katanya.
"Bu ...," ucap Jihan, ia mengumpulkan keberaniannya dulu sebelum melanjutkan ucapannya.
"Ada apa Nak?" tanya Nami perhatian.
"Sebenarnya, Jihan sudah melahirian beberapa hari yang lalu," cetus Jihan hati-hati.
"Saat itu ibu sedang umroh, karena Jihan lahirannya sedikit ada masalah, karena itu tidak ada yang memberitahu ibu, mas Faruq dan mbak Aluna. Tapi sekarang semuanya suda baik-baik saja Bu. Aku dan kedua anakku, kami semuanya sehat dan selamat." jelas Jihan buru-buru, tak ingin ibunya itu merasa tak dianggap olehnya.
"Bu ...." Panggil Jihan lagi karena Nami hanya terdiam, lambat laun ia mendengar sang ibu yang terisak kecil.
Jihan tahu, kini ibunya sedang menangis.
"Bu, semuanya baik-baik saja. Maafkan aku Bu." lirih Jihan.
"Iya Nak, ibu tidak marah padamu, ibu bahagia mengetahui jika kamu dan anak-anakmu baik-baik saja, ibu sangat bersyukur. Ibu dan mas Faruq akan langsung kesana ya," jawab Nami disela-sela isak tangisnya.
Saat di tanah suci lalu, ia sudah mendapat firasat tentang kondisi Jihan. Ia terus berdoa untuk keselamatan anak dan cucunya.
Kini ia haru, mengetahui jika semuanya baik-baik saja. Meski sedikit kecewa, saat sang anak melahirkan ia tidak diberi kabar. Padahal selama di tanah suci pun ia selalu membawa ponselnya menunggu kabar Jihan.
"Iya Bu, Jihan sekarang tinggal di rumah ibu Sofia. Rumah mas Arick sedang direnovasi," ucap Jihan, matanya berembun, tak tega mendengar tangisan sang ibu.
Nami menjawab iya, lalu segera memutuskan sambungan telepon itu. Ia bergegas keluar kamar, mencari keberadaan Faruq dan meminta untuk langsung pergi menemui Jihan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tak butuh waktu lama, jam 11 pagi menjelang siang rombongan Nami sudah sampai di rumah Mardi. Sebelumnya Jihan sudah memberi tahu Sofia jika ibunya akan datang kesini.
Pintu rumah Mardi dibuka oleh Puji, Nami langsung bergegas masuk dan ingin segera menemui Jihan dan si kembar.
Rasanya sudah tidak sabar, kebahagiaan yang membuncah.
Namun langkah Nami terhenti, tak kala Mardi dan Sofia yang sedari tadi menunggu kedatangannya meminta untuk semua orang duduk di sofa ruang tengah.
"Jihan ada Mbak, tapi si kembar ..." jawab Sofia ragu-ragu, sedikit tak tega untuk melanjutkan ucapannya.
"Si kembar kenapa? kata Jihan mereka baik-baik saja," tanya Faruq yang juga ikut penasaran, sedari tadi lidahnya sudah gatal ingin bertanya. Pasalnya mereka semua kesini untuk menemui Jihan dan si kembar, tapi malah disuruh duduk disini.
Kali ini bukan Sofia yang menjawab, melainkan Mardi yang menjelaskan semua yang terjadi.
Tentang bagaimana Jihan melahirkan kemarin dan kondisi Anja dan Jani saat ini.
Lagi-lagi Nami menangis, merasa sedih yang bertubi. Namun ada kelegaan dihatinya ketika di ujung sana ia melihat Jihan yang datang menghampiri mereka.
Tak menunggu hingga Jihan sampai, Nami langsung bangkit dari duduknya dan menghampir sang anak, ia memeluk Jihan erat.
Baik Jihan ataupun Nami keduanya menangis, tangis itu makin menjadi takkala tangan besar merangkul keduanya. Ternyata Faruq ikut datang dan memeluk sang ibu dan adiknya sekaligus.
"Sudah sudah, semuanya sudah baik-baik saja kan? nanti siang Anja juga sudah boleh pulang." Faruq mencoba menenangkan, terlebih lagi menenangkan sang ibu yang sedari kamarin selalu kepikiran tentang Jihan.
"Lebih baik sekarang kita jemput Anja," ucap Faruq.
Tangis Nami dan Jihan langsung berhenti, seolah patuh keduanya pun menangguk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sehabis dzuhur, rombongan Faruq dan Mardi sampai di rumah sakit.
Jihan yang sudah lama tak bertemu suaminya itu merasa sangat rindu. Seminggu ini ia hanya melihat sang suami dari panggilan video.
Arick benar-benar tidak meninggalkan anak-anaknya.
"Rick," panggil Mardi, ia membangunkan Arick yang sedang tertidur di kursi tunggu di dekat ruang NICU. Semalam ia tidak bisa tertidur karena ia harus membuat laporan keuangan Cafe, laporan itu harus dibuat untuk mengetahui keuntungan selama sebulan ini. Agar uang yang digunakan untuk membayar cicilan Bank bukan termasuk uang produksi dan gaji karyawan.
Arick tersentak, makin terkejut ketika ia membuka mata semua anggota keluarganya sudah ada disini. Bahkan ada Nami, Faruq, Aluna dan Rizky.
Arick bangkit, lalu memeluk sang ibu mertua yang sudah berlinang air mata. Nami benar-benar sedih, melihat kondisi Arick saat ini.
"Kamu kok semakin kurus Nak?" tanya Nami dipelukan Arick.
Yang ditanya tidak menjawab, hanya tersenyum tipis seraya melirik sang istri yang sudah sangat dirindukannya, siapa lagi kalau bukan Jihan.
Selesai melepas Rindu dengan Nami, Arick bergeser salim kepada kakak ipar dan istrinya. Juga mengelus pucuk kepala Rizky dengan sayang.
"Wah, Rizky potong rambut begini tambah ganteng ya?" goda Arick pada keponakannya itu, hingga membuat Rizky malu-malu.
Semua orang yang melihatnya pun ikut tersenyum.
Terakhir, Arick menghampiri sang istri. Ia memeluk Jihan erat, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Jihan yang sangat ia rindukan.
"Dimana Anja dan Jani?" tanya mas Faruq dan langsung menyadarkan Arick, mereka tidak hanya berdua disini.
"Anja dan Jani ada di dalam Mas, sedang minum susu. Sehabis selesai meminum susu, Anja sudah bisa dibawa pulang."
Faruq dan yang lainnya mengangguk, sementara Arick kembali menoleh menatap sang istri yang berada disampingnya. Keduanya saling pandang, saling melempar senyum, dengan tangan yang saling menggenggam erat.