
Karina membuka matanya perlahan merasa pusing menderanya. Dia pun memejamkan kembali sejenak matanya berharap pusingnya segera hilang. Pelayan wanita paruh baya yang beberapa hari ini melayaninya di villa kesayangan mendiang ibunya.
"Nona sudah sadar?" Tanya wanita yang dipanggil bibi oleh Karina.
"Iya bi, apa yang terjadi padaku?" Tanya Karina tak bertenaga karena merasa dirinya sedang pusing.
"Ehm... biar tuan besar yang menjelaskan nona. Saya tidak punya kuasa untuk mengatakannya karena saya juga tidak tahu. Tadi dokter sudah memeriksa nona dan dokter langsung menuju ruang kerja tuan besar." Jawab bibi sambil meletakkan nampan berisi bubur yang baru saja dibuatnya sesuai saran dokter empat jam setelah pingsan perkiraan dokter menebak Karina siuman.
"Papa disini?" Tanya Karina mengernyit menatap bibi.
"Iya non, setelah bibi melihat nona pingsan, bibi panik dan bingung harus menghubungi siapa. Akhirnya bibi menghubungi tuan besar." Jawab bibi sambil hendak menyuapi Karina namun ditolak oleh Karina karena dia merasa lebih baik untuk makan sendiri.
"Dimana... aw.." Keluh Karina saat merasakan kepalanya berdenyut pusing.
"Nona, nona harus banyak istirahat." Ucap bibi dengan raut wajah panik langsung meletakkan mangkuk buburnya dan membantu Karina untuk kembali berbaring.
"Aku mau bertemu papa bi?" Pinta Karina memelas tapi menuruti sang bibi membaringkan tubuhnya di ranjang karena memang tak kuat untuk berbaring sendiri.
"Tapi nona belum baik-baik saja. Nona harus istirahat dan memulihkan tenaga jika ingin menemui tuan besar." Saran bibi menyelimuti Karina hingga ke pinggang karena Karina yang memintanya dengan kode gerakan tubuh.
"Baiklah." Ucap Karina pasrah dan menerima suapan bubur dari bibi.
"Ada yang anda inginkan nona?" Tanya bibi karena bubur masih tersisa setengah dan Karina sudah menolaknya karena merasa kenyang.
"Tidak bi, terima kasih." Tolak Karina dengan nada lembut.
"Minumlah nona!" Ucap bibi menyodorkan obat yang didapatkan dari resep dokter tadi. Karina menatap obat itu dan mengernyitkan dahi seolah bertanya obat apa.
"Ini tadi resep dari dokter nona, untuk memulihkan kondisi tubuh nona." Jawab bibi yang seolah bisa menebak isi pikiran Karina.
Karina menurut dan meminumnya dengan sekali teguk dengan air hangat yang disiapkan bibi juga.
"Apa sudah bisa bertemu papa bi?" Pinta Karina seperti anak kecil yang sudah melakukan apa yang harus dilakukan dan setelahnya menuntut sebuah permintaan.
"Biar saya beri tahu tuan besar saja nona. Anda masih lemah untuk berdiri." Saran bibi akhirnya tak mampu menolak keinginan sang nona yang membuat Karina tersenyum cerah mendapatkan apa yang diinginkan.
"Terima kasih bi." Jawab Karina tersenyum.
Karina menatap langit-langit kamar tidur yang ditempatinya hampir satu bulan ini. Pertemuan dengan papanya terakhir kali bertemu saat dirinya baru pulang dari mansion suaminya. Setelah itu, malam itu juga dia diantar orang kepercayaan papanya entah kemana. Saat itu Karina pasrah dibawa oleh orang-orang itu. Dan ternyata dia dibawa kembali ke villa milik keluarganya, villa Sangrila, villa kesayangan mendiang ibu kandungnya.
"Apapun asal tidak dengan perceraian." Jawab Karina tegas membuat dokter Nathan menatap tajam putrinya yang hanya menundukkan wajahnya.
"Kau bilang apapun kan?" Ucap dokter Nathan sedikit kesal tapi tidak terlalu menunjukkannya.
"Maaf papa. Bukannya Karin tidak mau menepati janji. Tapi kehidupan rumah tangga Karin sepenuhnya adalah hak suami Karin. Selama keadaan rumah tangga kami baik-baik saja. Karin tidak mau mengajukan gugatan perceraian. Karena hal itu sangat dibenci oleh Allah. Karin meninggalkan rumah Karin tanpa izin suami saja itu sudah dosa besar bagi Karin. Jika menolak pun Karin tahu kalau papa akan memaksa." Karina menjeda ucapannya menatap papanya dengan raut wajah masih santai.
"Untuk itu Karin menuruti keinginan papa tapi tidak dengan perceraian. Setidaknya Karin berusaha menepati janji karena papa yang tidak menyukai kami bersama." Jelas Karina masih tetap dengan nada lembut dan sopan. Semarah apapun Karina, dia bukan seorang yang akan berteriak dengan tidak sopan santun apalagi yang dihadapi adalah papa kandungnya meski mereka sudah lama terpisah.
Dokter Nathan terdiam mendengar ucapan putrinya. Meski sesakit dan separah apa dulu mendiang ibu mertuanya menghina, mencaci makinya, memukulnya. Karina yang dia tahu tetap diam tanpa mampu melawan. Bukan tidak bisa melawan tapi dia memang tidak bisa melawan pada ibu dari pria yang menjadi suaminya.
Pria yang dicintai dan dihormatinya. Meski perlakuan mendiang ibu mertuanya tidak baik tapi dokter Nathan tidak memungkiri kalau kedua suami Karina memperlakukan dengan baik dan hangat seolah sangat-sangat mencintainya bukan seolah tapi memang benar-benar sangat mencintainya. Bisa saja kedua suaminya menegur ibu mereka namun Karina lah yang melarang karena tak mau timbul perselisihan diantara keluarga mereka.
Karina yakin suatu saat dapat meluluhkan hati mendiang ibu mertuanya. Namun hal itu terjadi saat-saat terakhir mendiang ibu mertuanya itu meninggal seolah karma menghampiri mendiang ibu mertuanya itu tapi hal itu tidak membuat Karina membenci ibu mertuanya yang sudah terlalu jahat padanya. Sebegitu baiknya putrinya itu pada orang bahkan pada orang yang sudah memperlakukan buruk pun, putrinya sangat baik. Seolah tahu, karma itu ada.
"Masuklah ke kamarmu!" Titah dokter Nathan berdiri dari duduknya melangkah menuju jendela kaca ruang kerjanya menatap keluar tak melihat wajah putrinya. Bukan tak mau tapi tak mampu melihat wajah polos dan lugu putrinya seolah semuanya akan baik-baik saja.
"Assalamualaikum pa." Pamit Karina berdiri dari duduknya untuk keluar dari ruang kerja papanya. Sebelum membuka hendel pintu Karina kembali berbalik.
"Terima kasih papa. Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh." Ucap Karina lagi masih terdiam menunggu sang papa menjawab salamnya karena dia belum mendengar jawaban yang biasanya akan selalu dijawab oleh papanya yang seorang non muslim. Seiring dengan menegaskan lagi ucapan salam dengan lengkap.
"Wa'alaikum salam." Jawab dokter Nathan setelah menghela nafas berat merasa sedikit kesal karena putrinya menolak untuk bercerai dengan suaminya. Namun saat mendengar ucapan lemah lembut dan salam lengkap untuk kedua kalinya dari putrinya membuat pertahanannya luluh. Putrinya memang istimewa. Dia jadi ragu untuk melakukan niatnya. Dan hal itu diucapkan tanpa menatap putrinya.
Karina hanya tersenyum melihat papanya menjawab salam tanpa berbalik menatapnya tapi dia sudah cukup puas mendapatkan jawaban salamnya. Itu artinya papanya tidak benar-benar marah padanya, hanya sedikit waktu lebih lama untuk papanya menerima dirinya dan suaminya sebagai menantunya.
"Kau sudah sadar?" Suara bariton membuyarkan lamunannya, membuat dia menoleh ke arah suara dimana pintu kamarnya terbuka.
Senyum manis tersungging di bibir Karina menatap papanya muncul membuat dokter Nathan terdiam teringat senyum mendiang istrinya yang persis sama hingga membuat dada Nathan mencelos.
Dia merasa sangat bersalah melihat putrinya yang sengaja dipisahkan dari suaminya itu. Dia sungguh sangat menyesal. Dia hanya menginginkan senyuman itu terus ada di bibir putrinya yang cantik di wajah yang sama mendiang istrinya.
"Assalamualaikum pa." Ucap Karina dengan senyuman indah terus terpatri di bibir pucat serupa dengan wajahnya.
.
.
.