
POV AUTHOR
Arick kembali mendekat dan mencium bibir Jihan, mendapati Jihan yang membalas ciumannya membuat hatinya tenang.
Tangan kanan Arick bergerak, menahan tengkuk Jihan dan memperdalam ciuman mereka. Decapan-decapan itu terdengar jelas, hingga sang bayi yang berada dalam gendongan ibunya menggeliat, merasa terganggu.
"Mas," ucap Jihan dengan napa terengah.
Arick belum mau berhenti, berulang kali mencium melepas mencium melepas dan terakhir menggigit bibr Jihan.
Jihan terkekeh.
"Mas," tegurnya lagi dan Arick mulai ihklas.
Dengan lembut, Arick menghapus sisa-sisa salivanya dibibir sang istri yang sedikit membengkak dan merah merona.
"Aku menciummu terlalu kuat ya?" tanyanya dan Jihan mengangguk.
"Tidak apa-apa, aku suka," jawab Jihan tanpa malu.
Arick merasa terpancing dan kembali mendekat, namun buru-buru Jihan menahan dada sang suami.
"Mas, nanti Zayn bangun sayang. Kasihan, dia pasti capek habis bermain tadi."
Arick terdiam, tidak mundur dan tidak maju, ia ingin membuat kesepakatan.
"Nanti malam?"
Jihan mengangguk, tahu maksud sang suami.
Dengan senyum mengembang, Arick kembali duduk dengan sempura dikursinya sendiri.
Akhirnya mobil mereka kembali melaju pulang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah mengantar Jihan, Arick langsung menuju Cafenya, dihari Sabtu seperti ini Cafe sangat ramai pengunjung.
Sibuk seharian bekerja, sorenya Arick pulang untuk menjemput sang istri. Malam ini Arick dan Jihan sudah berencana untuk malam malam di Cafe dan menghabiskan malam minggu diluar.
Sehabis magrib, Arick mengajak Jihan dan Zayn untuk pergi ke Cafe. Jangan lupakan mbak Puji, dia juga dengan setia selalu ikut.
Malam ini rencananya Arick dan semua teman-temannya juga akan berkumpul, sekedar melepas penat dan bertukar cerita.
Diam-diam Jihan juga sudah bertukar pesan dengan Jasmin dan Selena, mereka bertiga janjian menggunakan baju yang senada, warna peach adalah warna pilihan mereka.
"Kamu kelihatannya senang sekali Ji?" tanya Arick penasaran, sedari tadi keluar dari rumah dan kini mobil berhenti di parkiran Cafe, Jihan selalu mengulum senyumnya. Seolah ada sesuatu yang membuatnya sangat bahagia.
"Seneng dong Mas, kan ini diajak malam mingguan," jawab Jihan sumringah.
Arick pun ikut bahagia melihat kebahagiaan yang terpancar di raut wajah sang istri.
Mereka semua turun dari mobil, Zayn langsung diambil alih oleh sang ayah untuk digendong masuk ke dalam keramaian Cafe.
Arick sudah mengosongkan 3 meja khusus untuk ia dan semua sahabatnya berkumpul. Dilihatnya semua orang sudah berkumpul.
Selena berlari, menyambut dan kemudian merebut Zayn dengan semangat.
"Adududu, anak mommy." ucap Selena sambil menggendong dan menciumi pipi Zayn. Kini Zayn sudah bisa duduk dan Selena sudah mulai berani menggedong.
Jihan duduk disamping Jasmin.
Dengan kecupan kecil di pucuk kepala sang istri, Arick pamit untuk memerika keadaan Cafe terlebih dulu.
"Ah ampun!" Teriak Kris, dia gemas sendiri melihat keromantisan Arick dan Jihan.
"Nasib nasib, sepertinya kita semua sudah waktunya menyusul Arick, menikah dan memiliki anak," timpal Haris dengan wajah memelas.
Jodi belum ikut berkumpul, masih sibuk di dapur. Malam minggu seperti ini ia memang lebih sibuk. Banyak pesanan yang harus ia siapkan sendiri. Seperti pesanan untuk acara-acara penting, pesanan makanan untuk ulang tahun, lamaran, ataupun perayaan-perayaan lainnya.
Arick berkeliling, memastikan bahwa semua pelanggan mendapatkan pelayanan yang terbaik.
Drt drt drt
Ardi?
Senyum Arick terukir. Tanpa mengulur waktu, ia menjawab panggilan itu.
"Asslamualaikum Ar." jawab Arick antusias.
"Walaikumsalam, aku sudah di depan cafemu. Apa semua pesananku sudah siap?" tanyanya berbisik-bisik, seolah tidak ingin orang lain mendengar pertanyaannya.
Arick terkekeh, ia tahu kenapa Ardi bersikap seperti itu. Ia pasti tidak ingin istrinya tahu tentang kejutan yang akan dia berikan.
"Sudah, masuklah, aku yakin istrimu akan sangat bahagia," jawab Arick, kemarin Ardi sang sahabat semasa SMA menghubungi, jika ia ingin merayakan ulang tahun sang istri di cafe ini.
Ardi banyak sekali berpesan, tidak boleh ini dan itu. Istrinya sedang hamil, dan mendadak sangat sensitif.
Dengan kekehan akhirnya Arick memutus sambungan telepon itu.
Karena sudah sangat lama tidak bertemu, Arick memutuskan untuk menjemput Ardi dan sang istri.
Di lihatnya arah pintu masuk, sang sahabat masuk dengan menggandeng istri tercinta.
Dengan senyuman, Arick menyapa keduanya.
"Ar," panggil Arick, yang dipanggil menoleh dan langsung tersenyum sumringah. Sudah lama sekali kedua sahabat ini tidak bertemu.
Mereka berpelukan sejenak, memukul pelan bahu satu sama lain.
"Alhamdulilah, bisa ketemu lagi kita Rick," ucap Ardi, ia menarik lembut tangan sang istri kemudian memeluk pinggangnya.
"Kenalkan, ini istriku Alya." Alya tersenyum ramah, kemudian mengukurkan tangannya dan berkenalan.
"Alya."
"Arick."
"Ayo, aku antar kalian ke meja," ajak Arick antusias.
"Dimana istrimu Rick? ku dengar-dengar bahkan sekarang kamu sudah memiliki anak." tanya Ardi disela-sela perjalanan mereka, tangannya terus setia menggandeng sang istri.
"Iya, anak pertamaku berumur 8 bulan. Sekarang ibunya hamil lagi 2 bulan," jawab Arick dengan bangga. Ardi dan Alya terkekeh merasa lucu.
"Kamu semangat sekali ya?" tanya Ardi menggoda, dan mereka semua tertawa.
Dan kini sampailah mereka semua pada meja yang dituju.
Meja yang berada didekat jendela kaca, hingga bisa melihat keindahan kota Jakarta di malam hari. Meja itu juga sudah dihias dengan sangat cantik dengan sebuket bunga mawar putih yang dihias cantik.
"Silahkan duduk," ucap Arick ramah, benar-benar ingin memperlakukan sahabatnya ini dengan baik.
"Terima kasih Rick."
"Sama-sama, 5 menit lagi pesanan istimewa akan sampai," jelas Arick, "Aku tinggal dulu ya Ar?" pamitnya dan Ardi mengangguk.
Dengan senyuman, Arick meninggalkan sepasang suami istri yang sedang dimabuk cinta itu. Bergegas menemui Jodi dan memberi tahu jika Ardi sudah sampai. Jodi sendirilah yang akan melayani semua pesanan Ardi.
Selesai dengan urusan Cafe, Arick kembali menghampiri sang istri, dilihatnya Jihan yang sedang tertawa lepas bersama Jasmin dan yang lain-lainnya. Entah apa yang mereka tertawakan.
Arick duduk disebelah Kris dan langsung jadi bahan tertawaan.
"Kalian membicarakan aku?" Tebak Arick, dan semua orang mengangguk.
"Kenapa?" tanyanya penasaran.
"Tidak ada apa-apa Rick, Kris hanya penasaran, apa nama obat kuat mu dulu itu. Sampai-sampai Jihan hamil anak kembar," ucap Haris dengan terkekeh.
"Bibitmu hebat sekali, jadi langsung 2," timpal Kris dan semua orang makin tertawa.
Padahal Arick tidak meminum sedikitpun obat waktu itu. Dia diam saja, kalaupun ia berkata jika dia tidak meminumnya pasti akan semakin menjadi bulan-bulanan.
Jam 9 Zayn sudah tertidur, Jihan dan mbak Puji pamit ke kamar Arick. Sementara yang lain masih menikmati waktu kebersamaan mereka.