Turun Ranjang

Turun Ranjang
BAB 80


Karena kedatangan Jasmin dan Selena, Arick terpaksa mandi di kamar tamu. Kamar dan istrinya benar-benar sudah diambil alih oleh kedua wanita itu.


Sehabis magrib, tamu mulai berdatangan. Danni dan Yuda yang merupakan sahabat almarhum Arend pun ikut datang kesini, Arick yang mengundangnya.


Jam 7 tepat, acara syukuran dimulai, mulai dari pembukaan oleh pembimbing acara lalu pembacaan kalam ilahi, Arick sebagai ayah Anja dan Jani membacakan secara langsung surat lukman dari ayat 13-18.


Semua orang hanyut dalam alunan ayat-ayat yang dilantunkan oleh Arick.


Setelah itu, Mardi memberikam sambutan, mengucapkan banyak terima kasih atas kehadiran para tamu undangan. Mardi juga mewakili Arick untuk mengesahkan nama kedua cucunya, Anja dan Jani.


Diambil dari kata Anjani yang memiliki makna seseorang yang bersikap ulet. Anak yang memiliki nama ini diharapkan kelak tumbuh menjadi pribadi yang gigih dan pantang menyerah. Sama saat mereka berjuang hidup saat dilahirkan waktu itu.


Jam setengah 9 malam, serangkain acara syukuran dan aqiqah Anja Jani sudah selesai. Kini Jasmin, Selena, Puji dan Santi berdiri diambang pintu, sedang membagikan bingkisan untuk para tamu yang sudah mulai pulang.


"Sayang, sini ku bantu." Bisik Jodi yang tiba-tiba berdiri di samping Jasmin.


Ternyata Jodi tidak datang sendiri, Haris dan Kris juga ikut datang membantu membagikan bingkisan itu.


Jam 9 malam tepat, barulah acara benar-benar selesai, semua tamu undangan sudah pulang. Hanya menyisahkan sahabat-sahabat Arick dan Jihan.


Mereka duduk lesehan di ruang tamu beralaskan karpet tebal, baby ZAJ sudah tidur dijaga oleh Sofia. Melisa dan Asih membantu membereskan rumah dilantai 1.


"Terima kasih ya, kalian semua sudah menyempatkan datang kesini." ucap Arick dengan wajah serius, sungguh-sungguh mengatakan kata terima kasih itu.


"Tidak perlu berterima kasih Rick, lagipula kami kesini bukan karena mu. Tapi karena baby ZAJ." jawab Kris tak kalah serius, wajahnya datar saat mengatakan itu.


Makin membuat orang yang melihatnua tertawa terbahak.


Arick berdecak kesal, susah sekali bicara serius dengan mereka.


"Dengar-dengar sebentar lagi Selena dan Kris akan menikah, apa benar?" tanya Mardi yang ikut berkumpul dengan pemuda-pemuda itu.


"Benar Om." jawab Kris yakin sedangkan Selena mengulum senyumnya malu-malu.


"Setelah Kris dan Selena, Jodi dan Jasmin juga akan segera menikah Pa." terang Jihan yang ingin sekalian bercerita.


"Wah bagus itu, menikah itu ladang ibadah, mencegah zinah. Jadi Om akan sangat mendukung langkah kalian untuk segera menikah." jelas Mardi, ia lalu melirik ke arah satu pemuda yang hanya diam dan sedikit menunduk.


"Kalau Haris bagaimana?" tanya Mardi dan semua orang lagi-lagi tergelak.


"Jangan ditanya Pa, kasihan." jawab Arick mewakili, tawa itu kembali pecah. Malang betul nasib Haris yang belum bisa menikahi sang kekasih, Dira.


Tak lama, Mardi lalu pamit untuk beristirahat. Sementara para pemuda ini masih memutuskan untuk duduk disini.


"Apa tidak terlalu cepat kalian menikah tanggal 2 september?" tanya Arick pada Kris, pasalnya tidak sampai sebulan lagi tanggal 2 itu akan sampai, lebih tepatnya 15 hari lagi.


"Tidak Rick, sebenarnya kami sudah cukup lama mempersiapkan acara itu, surat-surat persyaratan nikah juga sudah selesai. Hanya tinggal menyebar undangan saja yang belum." jelas Kris.


"Setelah menikah, aku akan keluar dari hotel, Selena juga. Aku akan melanjutkan usaha mebel milik keluarga. Kalian tahu kan, ayah sekarang sudah sering jatuh sakit." jelas Kris lagi dan Selena angguk-angguk kepala.


Kris adalah anak tertua dan anak laki-laki satu-satunya, sejak dulu Kris sudah bertekad akan menjaga dan merawat kedua orang tuanya. Selena dengan ihklas menerima itu, ia tak keberatan sedikitpun untuk tinggal bersama mertua bahkan merawat mereka.


Arick yang mendengar itu merasa ada yang aneh dihatinya, perasaan bersalah pada Mardi dan juga Sofia. Sudah sejak lama Mardi memintanya untuk melanjutkan perusahaan namun selalu di tolak.


Sofia pun sudah berulanh kali membujuknya untuk kembali ke rumah ini namun dia selalu enggan.


Arick bahkan dengan egoisnya malah mengajak sang istri untuk keluar dari rumah ini.


Arick sedikit menunduk, perasaan bersalah itu makin besar dan menutupi semua relung hatinya, ia benar-benar merasa seperti anak yang durhaka.


Apa aku harus menunggu papa dan ibu sakit dulu baru akan berbakti kepada mereka? Astagfirulahalazim.


"Yah, tinggal aku dan Jasmin saja yang bertahan di hotel. Ah, apa jangan-jangan setelah menikah dengan Jodi kamu juga akan keluar dari hotel?" tanya Haris menggebu, ia merasa sedih ditinggalkan sendirian.


"Tentu saja, aku akan keluar dan menggantikan posisi A_"


"Iya, Jasmin akan keluar." Potong Jodi cepat, ia lalu memberi isyarat pada kekasihnya untuk diam.


Jodi merasa, jika Arick belum memberitahu semua keluarganya tentang keputusan itu. Tak ingin mendahului, ia secepat kilat menghentikan ucapan Jasmin.


"Jasmin akan keluar dari hotel, karena aku tidak ingin dia terlalu sibuk." timpal Jodi yang ingin memecah kecanggungan yang ia buat sendiri.


"Hem, benar-benar hanya aku yang tersisa," keluh Haris merana.


Mereka terus berbincang hingga waktu menunjukkan pukul 10 malam, Jodi dan yang lainnya memutuskan untuk pulang.


Arick dan Jihan ikut keluar ke halaman rumah, melihat kepulangan mereka.


Mobil Jasmin ditinggal di rumah ini, ia pulang diantar menggunakan mobil Jodi. Sedangkan Selena diantar oleh Kris.


"Tunggu dulu." Haris buka suara, melihat teman-temannya berpasangan seperti ini membuat ia merasa kedinginan sendiri.


"Sini Jas kunci mobilmu, aku ingin pulang menggunakan mobil. Biar motorku tinggal disini saja." ucap Haris sambil mengulurkan tangannya pada Jasmin, minta kunci.


Tanpa babibu, Jasmin langsung menyerahkan kunci mobilnya.


"Besok langsung ke hotel saja, sore baru kita ambil motormu." jelas Jasmin dan Haris menganggukkan kepala.


"Sayang, aku tidak mau kamu pergi berdua dengan Haris. Sekarang aku mulai cemburu." Jelas Jodi dan Jasmin berdecak kesal, ia tahu Jodi hanya menggodanya saja.


"Hi, aku juga tidak mau pergi hanya berdua dengan Jasmin. Aku akan minta Selena untuk ikut juga." jelas Haris buru-buru.


"Kenapa kamu tidak ingin pergi berdua denganku? hah?" tanya Jasmin kesal.


"Kamu terlalu galak dan mengerikan. Aku saja heran, kenapa Jodi bisa menyukaimu." jujur Haris dan Selena langsung tertawa terbahak.


Selena bahkan mengangkat tangannya, Toss dengan Haris.


Jihan dan Arick hanya geleng-geleng kepala saja melihat pemandangan itu.


"Sudah sana, cepat pulang. Aku ingin segera menutup pintu." Arick buka suara dan teman-temannya langsung berdecak kesal.


"Baiklah pria tangguh, kami pulang," ledek Kris sambil membuka pintu mobil.


Jodi dan Haris terbahak sementara Jasmin, Selena dan Jihan bingung tak tau apa-apa.


Tawa kedua pria itu terhenti, takkala ada sebuah mobil pick up masuk ke halaman rumah Mardi.


Siapa? tanya mereka semua dalam hati.


Pasalnya ini sudah sangat larut malam, acara aqiqah juga sudah selesai daritadi.


Mobil terhenti dan semua pasang mata menatap kearah mobil itu.


Seorang wanita dan pria turun, berjalan dengan ragu-ragu menghampiri sang tuan rumah, Arick dan Jihan.


"Bu Jihan, Pak Arick." sapanya lirih dan bergetar.


"Lila?" desis Jihan.