Turun Ranjang

Turun Ranjang
Chapter 154


Karina berkali-kali menghembuskan nafas panjang dan perlahan. Terlihat bebannya terasa berat, kini dia berada di pesisir pantai tempat villa milik keluarga Mulia berada. Setelah sadar dari pingsannya, permintaannya untuk berlibur langsung dituruti oleh kakaknya. Namun tempat yang ditunjuk harus berdasarkan tujuan yang ditentukan sang kakak.


Meski sebenarnya Karina keberatan akhirnya dia menerimanya meski dengan berat hati. Hingga setelah dua minggu kemudian dia diizinkan pergi setelah dokter yang merawatnya menyatakan kesembuhannya. Hanya saja harus benar-benar bed rest total. Dan itu diangguki mantap oleh Karina demi lancarnya liburannya. Dan karena ada urusan yang mendesak, kakaknya batal untuk ikut dengannya meski banyak pengawal yang mengikutinya untuk mengawasinya saat liburan.


Namun Karina mau tak mau menuruti keinginan sang kakak. Toh semua itu demi kebaikannya juga.


Karina berhenti menatap di ujung barat warna jingga yang menandakan matahari terbenam di sore hari yang begitu indah membuatnya mengulas senyumnya. Kekecewaan yang dirasakan tentang yang terjadi pada suaminya membuat Karina menyerah untuk memperjuangkan rumah tangganya. Toh tak ada anak diantara mereka.


"Semoga kau bahagia dengan pilihanmu mas? Akan ku kenang semua kebersamaan ini." Ucap Karina menatap sendu ke arah pandangan matahari terbenam itu. Tanpa sadar air matanya menetes deras meski tanpa isakan.


Karina baru menyadarinya terasa sakit dan sesak di dadanya saat mendengar kabar yang mengejutkan itu dari papanya, apalagi kakaknya membenarkan hal itu. Saat itu dunia Karina seolah runtuh dan hancur. Cinta tulus yang selalu diperuntukkan oleh sang suami saat perpisahan mereka sungguh tak ada artinya lagi sekarang.


"Aku.... merindukanmu mas." Bisik Karina.


"Kukira akan selamanya, tapi ternyata kau tetap memilih menuruti keinginan ibumu lagi." Ucap Karina terdengar helaan nafas panjang.


.


.


"Kau yakin akan bercerai?" Tanya Rian saat bertemu tanpa sengaja dengan Johan sahabatnya di cafe sore itu.


Awalnya Ryan berniat membeli pesanan untuk istrinya setelah pulang dari rumah sakit. Namun saat melihat sahabatnya sedang berdiri melamun sendirian di cafe tempat pesanan istrinya membuat Ryan untuk memesan memilih untuk menghampiri sahabatnya yang terlihat bengong seperti orang linglung.


"Melamun aja." Sapa Ryan menepuk pundak Johan yang langsung tersentak kaget.


"Hmm." Jawaban tidak semangat yang didengarnya membuat Ryan mengernyit bingung.


Setelah dilihat lebih jelas, sahabatnya itu tampak kurusan. Pipinya tirus, tubuhnya kurus, wajahnya tak terurus pula. Rambutnya mulai gondrong, dan Ryan ingat dulu saat sahabatnya berwajah seperti itu. Ah, saat kuliah di London. Bahkan sempat menjadi ketua preman atau gengster pada jamannya dulu.


"Ada masalah?" Tanya Ryan merasa simpati dengan keadaan sahabatnya. Dia pun duduk di kursi depannya. Johan diam, dia kembali meneguk jus buah yang dipesannya tadi.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Ryan lagi merasa tak ada jawaban.


"Kami akan bercerai?"


Deg


Dada Ryan mencelos mendengar pernyataan sahabatnya. Dia tahu sebesar apa perasaannya pada istrinya itu. Bahkan baru kali itu Ryan melihat sahabatnya itu begitu mencintai seorang wanita. Bahkan dulu banyak yang mengejarnya namun tak pernah ada satu pun yang diterima oleh sahabatnya itu.


"Kau sudah bertemu dengannya?" Tanya Ryan. Johan hanya menggeleng.


"Lalu? Bagaimana kau tahu dia ingin bercerai juga?" Tanya Ryan penasaran, setahunya istrinya masih tinggal di mansion papanya beberapa hari yang lalu saat dia mengunjungi mansion itu atas undangan papanya.


"Pengacaranya yang datang. Dan dia... menolak untuk bertemu." Jawab Johan putus asa.


"Kalau begitu kau bisa menolaknya kan?" Johan menggeleng lagi.


"Aku tak mungkin membuat dia kembali susah karena kelakuan ibuku lagi. Bahkan pengacara mengatakan akan memperkarakan ibuku jika aku menolak untuk menyetujui perceraian kami." Jawab Johan lemah, merasakan jalan buntu dengan yang dialaminya.


"Kau menyerah semudah itu?" Tanya Ryan malah kesal melihat sahabatnya menyerah.


"Jika hal ini dapat membahagiakan dirinya, aku rela." Ryan mengepal kuat, entah marah pada siapa.


Dia juga kesal atas perlakuan papa dan kakaknya. Dia tahu hal itu tidak diketahui oleh Karina. Dan hal ini semua diurus oleh papanya. Karena Ryan tahu betul seposesif apa sang papa pada orang-orang yang disayanginya. Apalagi Karina adalah putri dari mendiang istri pertama papanya yang telah lama hilang.


Dan mendengar perlakuan buruk dari ibu sahabatnya tentu saja hal itu tidak akan membuat sang papa diam saja sebelum membalas dengan setimpal. Tapi, tidak harus mengorbankan perasaan kedua pasangan suami istri yang masih sangat saling mencintai ini kan?


"Jika bisa, bolehkah aku menolaknya? Aku mencintainya Ryan, kau tahu hal itu kan?" Ucap Johan terdengar putus asa.


"Seharusnya kau memperjuangkannya."


"Aku bahkan tak bisa menemukan keberadaannya dimana sekarang. Bahkan lebih dari setahun aku gagal menemukannya. Seolah memang ada orang yang sengaja menyembunyikan semua tentang dirinya." Curhat Johan menatap Ryan serius, tanpa sadar air matanya kembali menetes.


"Mau kuantar pulang?" Tawar Ryan setelah lama terdiam memikirkan masalah sahabatnya.


"Aku bawa mobil sendiri."


"Baiklah. Aku senang kau tidak melampiaskan di club." Ucap Ryan setelah pamitan.


Namun Ryan kembali marah, dia merasa harus melakukan sesuatu untuk menolong sahabatnya.


.


.


Johan berlarian menyusuri lorong rumah sakit. Nafasnya tersengal-sengal karena berlarian karena merasa cemas dengan kabar dari asisten rumah tangga ibunya. Kalau ibunya mengalami serangan jantung.


"Bagaimana keadaan ibu bi?" Tanya Johan pada wanita yang mulai udzur saat dia mendapatinya di depan ruang UGD rumah sakit.


"Masih ditangani dokter tuan." Jawab bibi menatap Johan cemas dan khawatir.


"Bagaimana itu bisa terjadi bi?" Tanya Johan cemas.


"Tadi..."


Cklek


Belum selesai bibi menjelaskan pada Johan, pintu ruang UGD terbuka membuat Johan urung mendengar penjelasan asisten rumah tangga ibunya.


"Keluarga ibu Ambar?" Tanya dokter dengan wajah kusut.


"Bagaimana keadaan ibu saya dok?" Tanya Johan terlihat raut wajah cemas.


"Ibu anda mengalami serangan jantung, syukurlah segera dibawa ke rumah sakit. Beliau sudah melewati masa kritis, sekarang masih dirawat intensif di ruang ICU. Dan semoga segera sadar. Sambil menunggu hasil laboratorium keluar." Jelas dokter itu tersenyum ramah.


"Syukurlah. Terima kasih dok." Jawab Johan merasa lega ibunya berhasil melewati masa kritis meski harus dirawat intensif.


Johan kembali menghampiri bibi untuk mendengarkan penjelasan yang menimpa ibunya.


Sang asisten rumah tangga itu menjelaskan kalau sebelum Ambar pingsan sambil memegang dadanya. Ada beberapa orang datang ke rumah untuk menyita mansionnya karena perjanjian pembayaran pinjaman yang disepakati telah lewat satu bulan. Dan hal itu membuat Ambar mengelak dan melarang para petugas yang sedang menjalankan tugas itu.


Namun karena sudah menandatangani kesepakatan Ambar tak bisa lagi mengelak hingga akhirnya dia pun pingsan saat barang-barangnya dibuang ke jalanan. Hingga berakhir di rumah sakit sekarang ini.


Johan terdiam, dia merasa menjadi seorang anak yang tidak berguna karena tidak dapat membantu ibunya. Ibunya memang sempat datang padanya untuk meminta bantuan. Namun dia tak memiliki uang sebanyak itu. Apalagi sekarang dia sudah tidak menjabat sebagai presiden direktur utama di perusahaan yang almarhum kakaknya bangun.


Bahkan tabungannya tidak sebesar itu. Yang lainnya dia tidak bisa menggunakan tanpa persetujuan istrinya yang entah kemana. Seperti rumah mereka, deposito dan tabungan masa depan mereka atas nama keduanya. Yang artinya jika tidak ada keduanya, semua itu tidak bisa dicairkan tanpa salah satunya.


.


.


TBC