Turun Ranjang

Turun Ranjang
Extra Chapter 19


"Kau sudah pulang sayang?" Tanya istri Ryan yang juga ada disitu saat anaknya berteriak kegirangan karena papanya pulang.


"Apa kabar sayang?" Ryan mengecup kening istrinya penuh kasih.


"Kau yakin sahabatmu itu baik-baik saja jika kau tinggal pulang?" Tanya istri Ryan yang memang tahu sedekat apa hubungan mereka. Bahkan kadang dirinya harus mengalah.


"Orang yang kau sebut sahabatku itu juga sekarang menjadi kakak iparmu. Dan kurasa masa bersamaku mungkin akan segera berakhir." Ucap Ryan santai.


"Apa dia sedang sekarat Mas?" Tanya istri Ryan kaget.


"Hush... Hati-hati dengan ucapanmu!" Peringat Ryan juga kaget dengan respon istrinya yang salah paham.


"Kamu yang bilang kalau ini kebersamaanmu segera berakhir. Bukankah itu artinya dia sedang kritis mungkin?" Ucap istri Ryan berpendapat.


"Tapi ya bukannya sekarat lah."


"Lalu apa dong?"


"Dia sudah bertemu dengan istrinya dan aku yakin setelah ini mereka tak akan terpisahkan."


"Jadi mereka akhirnya bertemu?"


"Hmm." Ryan hanya mengangguk.


"Sulit sekali hubungan mereka. Padahal jelas-jelas mereka sepasang suami istri, kenapa papa begitu kejam memaksa mereka berpiah?" Ucap istri Ryan berpendapat dengan nada emosi.


"Entahlah, mungkin ini cobaan untuk hidup mereka. Dan papa terlalu bahagia menemukan putrinya yang dikiranya sudah meninggal berpuluh tahun yang lalu dan sekarang di hadapkan kenyataan kalau putrinya masih hidup. Dan lagi kehidupan putrinya yang jarang sekali bahagia membuat pap emosi dan merasa bersalah hingga beliau bingung harus melampiaskan pada siapa, apalagi dalang utama di balik ketidak bahagiaan mbak Karin adalah ibu mertuanya yang tak lain tak bukan adalah ibu kandung menantunya yang juga besannya." Cerita Ryan panjang lebar.


"Mungkin papa belum rela berpisah lagi dengan putrinya. Karena bagaimanapun mbak Karin adalah satu-satu putrinya yang dimiliki, apalagi wajahnya sangat mirip dengan mendiang istri pertama papa." Cerita Ryan yang hanya ditanggapi diam oleh istrinya.


"Pasti papa kesepian. Dan dia pasti sangat menyayangi mbak Karin."


"Tentu saja."


.


.


"Ayo!" Johan menarik jemari tangannya yang bertautan dengan tangan istrinya.


"Untuk apa kita ke rumah sakit mas?" Tanya Karina menatap gedung rumah sakit yang katanya milik papanya juga tempat kerja suaminya dengan perasaan yang berkecamuk.


"Hanya memeriksa kesehatanku. Aku hanya ingin tahu kenapa aku masih saja mual dan muntah di pagi hari." Jawab Johan dengan tenang.


Setelah kemarin mereka pulang ke mansion milik Johan, besok paginya Johan sengaja mengajak istrinya untuk memeriksakan lagi kesehatannya karena pagi hari tadi masih mual dan muntah padahal semalam dia sudah baik-baik saja saat terus bersama istrinya. Sungguh semalaman dia tidak melepaskan istrinya di atas ranjang meski mereka hanya tidur dan tidak melakukan apapun.


Namun pagi itu Johan kembali mual dan muntah hebat hingga dia lemas tak bertenaga. Hanya dengan memeluk istrinya perasaannya kembali baik. Dan sungguh Johan sudah merasa candu dengan aroma tubuh istrinya itu.


Mereka menemui dokter Mira selaku dokter kandungan terbaik di rumah sakit itu. Dan juga dokter itu wanita. Johan berharap istrinya mau diperiksa meski dia sendiri tidak yakin.


"Dokter Johan! Selamat pagi." Sapa perawat yang membantu dokter Mira di ruangannya.


"Selamat pagi sus." Jawab Johan ramah yang entah kenapa membuat wajah Karina langsung cemberut. Biasanya dengan siapapun Johan bicara meski itu seorang wanita pun Karina biasa saja tapi sekarang entah kenapa Karina merasa marah dan tak rela suaminya bicara dengan wanita.


"Dokter Johan, apa ini tidak terlalu pagi?" Tanya dokter Mira.


"Lebih cepat lebih baik." Jawab Johan singkat. Dia merasakan aura dingin dari wajah istrinya tidak seperti biasanya.


"Mari, silahkan duduk!" Ucap dokter Mira lagi.


.


.


"Maaf sebelumnya, boleh saya bertanya?" Tanya dokter Mira setelah dia melakukan pemeriksaan kepada Johan.


"Ya dok?" Johan yang menjawab, Karina sejak tadi hanya diam. Dan sikapnya sangat dingin meski tetap dengan senyum dan tutur kata lembutnya saat ditanya tadi.


"Apa istri anda sedang hamil dok?" Tanya dokter Mira menatap Johan dan Karina bergantian.


"Tidak." Bukan Johan yang menjawab tapi istrinya dan sontak kedua dokter itu tersentak langsung menoleh pada Karina dengan tatapan penuh tanya. Karina pun balik menatap keduanya bergantian.


"Sayang." Ucap Johan sambil menggenggam jemari tangan istrinya meski sejak tadi sudah digenggamnya bahkan sekarang istrinya lebih mengeratkannya.


"Kalau sudah kita pulang mas, lebih baik mas banyak istirahat. Pasti karena kecapekan." Ucap Karina dengan nada lembut menatap suaminya.


Dokter Mira hanya diam tak mu ikut campur pembicaraan pasangan suami istri itu. Dia pun tak keberatan misal mereka tidak mau menjawab pertanyaannya.


"Mas!" Panggil Karina lagi pada suaminya yang hanya terdiam.


"Baiklah." Johan pun mengalah tak mau memaksa istrinya. Mereka pun berpamitan setelah menyelesaikan prosedur pemeriksaan.


.


.


Dalam perjalanan di dalam mobil, keduanya tidak ada yang bicara. Sama-sama saling diam, bahkan Karina memilih memejamkan mata pura-pura tidur demi menghindari suaminya. Untuk saat ini dia masih ingin diam. Membicarakan masalah kehamilan dan anak untuk saat ini membuat Karina sedikit sensitif. Dan dia tak mau berdebat hingga emosi pada suaminya.


Dia sendiri akhir-akhir ini entah kenapa sangat sensitif dan mudah menaikkan emosi. Berulang kali bibir Karina melirihkan istigfar demi menjaga kestabilan emosinya.


Saat tiba di mansion bahkan Karina turun dari mobil tanpa mengatakan apapun. Johan menghela nafas panjang. Sepanjang mengenal Karina dan menjadi suaminya, baru kali ini istrinya sedikit berbeda. Biasanya wajahnya selalu teduh dan tenang. Tapi, setelah pulang dari villa tempat istrinya 'disekap', istrinya sedikit berbeda. Dan hal itu dimulai saat pembahasan tentang kehamilan.


"Kau kenapa sayang? Apa kau setrauma itu dengan kehamilan?" Guman Johan sambil menghela nafas dan keluar dari dalam mobil.


"Tuan!" Panggil bibi maid di mansionnya.


"Ya bi?"


"Mau makan siang sekarang?" Tanya bibi hati-hati, pasalnya tadi dia dijawab oleh nonanya untuk bertanya pada Johan.


"Coba bibi tanyakan pada istriku?" Jawab Johan ramah.


"Tapi non Karin tadi meminta bibi untuk bertanya pada anda tuan?" Jawab bibi yang dibuat bingung oleh kedua majikannya dan bibi berpikir, apa pasangan suami istri itu sedang bertengkar? Namun hal itu hanya mampu diucapkan bibi dan dalam hati.


"Oh, begitukah? Lalu dimana sekarang istriku?' Tanya Johan.


*Pasti bertengkar? Batin bibi.


.


.


TBC*