
Selesai makan siang bersama, Arick dan Jihan memutuskan untuk langsung pulang ke rumah. Zayn bahkan sudah tertidur dipangkuan Arick saat sedang makan siang tadi.
Bocah kecil ini sudah kelelahan.
25 menit kemudian, akhirnya mereka semua sampai di rumah. Saat turun, Arick buru-buru mengambil Zayn yang masih tertidur di pangkuan Asih. Arick ingin ia sendiri yang menidurkan sang anak di kamarnya.
Melihat itu, Jihan terus tersenyum, bersyukur karena kasih sayang Arick pada Zayn tidak pernah berubah, meski kini sudah hadir Anja dan Jani.
Sampai di kamar baby ZAJ, Anja dan Jani ternyata juga sedang tetidur, jam 1 siang memang jadwal tidur mereka.
Tak ingin mengganggu, Arick dan Jihan pun memutuskan untuk keluar dan ke kamar mereka sendiri.
Arick langsung melaksanakan shalat dzuhur, sementara Jihan memompa Asi.
"Assalamualaikum warohmatullahiwabarokatu." gumam Arick salam, pertanda shalatnya telah usai.
Selesai berzikir sejenak, ia lalu memanjatkan doa. Doanya selalu dipenuhi oleh nama sang istri, anak-anak dan kedua orang tuanya. Sementara untuk dirinya sendiri, tidak ada.
Selesai membaca doa, masih bersimpuh diatas sajadah, Arick berbalik, melihat ke arah sang istri.
Dilihatnya Jihan masih belum selesai memompa Asi, sementara kedua tangannya asik berselancar di ponsel. Bahkan sesekali Jihan tersenyum saat melihat ponsel itu.
Arick mengeryit, sebenarnya apa yang sedang dilihat oleh istrinya itu.
Dengan rasa penasarannya, Arick lalu bangkit dan menghampiri Jihan. Duduk disebelahnya dan mengintip isi ponsel itu.
"Pesan dari siapa?" tanya Arick menyelidik.
Jihan menoleh, saking dekatnya sang suami menempel, nyaris saja membuat mereka berciuman.
"Jasmin dan Selena, Mas. Besok mereka mau ajak aku fitting baju. Seragam untuk nikahan Selena." jelas Jihan apa adanya, memang itulah yang ia lakukan sedari tadi.
Berbalas pesan dengan Jasmin dan Selena.
Arick mengeryit bingung.
"Untuk apa kamu buat seragam seperti mereka. Kamu kan sudah menikah, harusnya berpasangan denganku." jawab Arick lugas, lebih terdengar seperti perintah daripada jawaban.
Jihan tak langsung menanggapi, ia nampak berpikir.
Iya juga ya? Batinnya.
"Tapi aku sudah bilang iya, Mas." jawab Jihan takut-takut.
"Berikan ponselmu."
Jihan menurut, ia mengulurkan ponselnya pada sang suami.
Jihan: Fitting baju sendiri, jangan ajak Jihan, dia akan berpasangan denganku dan anak-anak. Kami akan fitting sendiri.
Setelah pesan itu terkirim, Arick lalu mengembalikan ponselny pada sang istri. Dikecupnya sekilas bibir sang istri.
Lalu bangkit, melepas peci dan menuju lemari pakaian, mengganti baju kokonya kini dengan kaos santai.
Sementara Jihan melepas alat pompa Asi dan membereskannya. Meletakan begitu saja ponsel yang terus bergetar.
Jasmin: Dasar posesif, Jihan bukan hanya istrimu tapi juga sahabat kami.
Selena: Pelit, bahkan di hari spesialku tetap saja pelit. Jihan itu bridesmaid, mana bisa berseragam denganmu. Kamu itu pakai Jas, apa mau pakai warna senada dengan Jihan? hih, dasar bucin.
Jasmin: Bucin akut!!
Selena: Menyebalkan!
Jasmin: Hei! dimana kalian? Jihan? Arriiiick!
Selena: Biarkan saja Jas, kita tetap buat baju untuk Jihan, Anja dan Jani senada dengan kita. Arick, Zayn, Jodi, dan Haris pakai Jas, seperti Kris.
Jasmin: Ya, kamu benar, untuk apa memperdulikan si bucin itu. Ayo Toss!
Selena: Toss!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tadi sebelum kembali ke kamar, Jihan meminta Asih dan Melisa untuk ikut tidur siang seperti anak-anak. Kedua babysisternya itu sudah berusaha keras, mereka juga berhak untuk istirahat.
Tak ingin mengganggu keduanya, karena itulah Jihan kini memanggil Puji.
"Mbak, jangan pergi dulu. Ada yang mau saya bicarakan." ucap Arick yang datang tiba-tiba dari arah kamar mandi.
Jihan tak ta apa-apa, tapi mendengar permintaan sang suami, Jihan meminta mbak Puji untuk duduk disampingnya.
Kini, ketiga orang ini duduk di sofa kamar.
"Eneng opo to Mas?" tanya Puji langsung, Arick dan Jihan mengerti bahasa jawa, hanya tak bisa melafalkannya saja.
"Mau kasih hadiah, Mbak Puji mau minta apa?" jawab Arick, sekaligus bertanya.
Puji mengeryit bingung, tiba-tiba dapat hadiah, sementara ia tidak melakukan apa-apa. Apa majikannya ini sedang mengerjai? pikirnya suudzon.
"Hadiah apa to Mbak?" tanyanya pada Jihan, mencoba mencari jawaban.
"Hadiah karena mbak Puji sudah merawat istri saya dengan baik, selama 2 minggu saya di rumah sakit kemarin." jawab Arick sebelum Jihan buka suara.
Puji terenyuh, tak menyangka, niat baiknya dihargai lebih.
"Saya ihklas Mas, tidak mau hadiah apa-apa." jawab Puji apa adanya, memang inilah yang ia rasa. Matanya berembun, merasa dihargai dan disayang oleh sang majikan.
"Jangan nangis Mbak." lirih Jihan sambil mengelus punggung Puji, ia paling tak tega melihat orang yang menangis. Ia jadi ikut sedih.
"Apa mbak Puji tidak mau minta suaminya untuk kerja disini?" tawar Arick dengan senyum menyeringai.
Sektika itu juga mata Puji membelakak, Benarkah?
Batinnya.
"Ya mau Mas, mau banget." jawab Puji antusias, dan wajahnya langsung sumringah.
Arick terkekeh, pun Jihan yang ikut tersenyum melihat tingkah mbak Puji.
"Suami Mbak Puji bisa bawa mobil tidak?" tanya Arick dan Puji langsung menekuk wajah.
"Yah Mas, nggak bisa. Dia cuma kuli, tidak pernah bawa mobil. Apalagi bisa nyetir." jawabnya lesu.
"Tapi di rumah ini yang sedang dibutuhkan supir, biar ada yang gantikan pak Amir. Kasihan pak Amir kalau cuma sendirian." jelas Arick sungguh-sungguh, ia memang hendak mencari supir pribadi 1 lagi. Berharap jika suami mbak Puji lah orang itu.
Tapi sayang, suami Puji tidak bisa membawa mobil.
"Jadi gagal nih Mas?" tanya Puji kecewa dan Arick mengangguk.
"Nanti ya, kalau ada lowongan di perusahaan saya panggil suami mbak Puji. Cocok kalau kerja disana, ya kan?" ucap Arick mencoba membuat Puji tidak terlalu kecewa.
"Iya juga sih Mas, suami saya kan Kuli bangunan, cocoknya kerja di tempat konstruksi, buat-buat bangunan. Bukan jadi supir pribadi." Jawab Puji yang sudah mencoba ihklas.
"Maaf ya Mbak, gagal bawa suaminya kesini." goda Arick.
Jihan memukul lengan suaminya pelan, dan Arick makin terkekeh dibuatnya.
"Hadiahnya lain saja ya, saya kirim sembako ke rumah di Bengkulu." jelas Arick dan Puji tersenyum sumringah.
"Terima kasih Mas, terima kasih Mbak." jawab Puji penuh rasa syukur.
Setelah pembicaraan itu, Puji langsung keluar. Keluar dengan wajah yang berseri. Menggambarkan kebahagiaannya.
"Jadi Mas mau cari supir?" tanya Jihan dan Arick mengangguk.
Sepasang suami istri ini sudah berbaring diatas ranjang, berniat untuk tidur siang sejenak.
"Tanya pak Amir saja Mas, siapa tahu dia punya kenalan."
"Iya, nanti aku tanya. Sini, tidur dilenganku." titah Arick dan Jihan menurut, ia mendekat dan berbaring di lengan hangat sang suami. Kehangatan yang langsung menjalar sampai ke hati.
Tak lama, keduanya benar-benar terlelap. Hanya tidur ya, reader jangan berharap ada apa-apa. hihi.