Turun Ranjang

Turun Ranjang
Bab 20


Anin menatap ke arah jendela kamarnya, tiba-tiba saja ia merasa kepikiran dengan rumah tangganya yang baru saja ia jalani.


Sudah hampir 2 bulan rumah tangganya dengan Dimas dan selama itu juga ia berusaha bersikap layaknya seorang istri meskipun ia tahu bukan keinginannya menjadi istri secepat ini bahkan ia baru saja di Wisuda beberapa bulan lalu.


Anin belum pernah jatuh cinta sebelumnya, ia memang pernah mengagumi teman sekelasnya dulu tapi hanya sebatas kagum saja tidak lebih, Anin memang cantik banyak lelaki yang mendekatinya dan menaruh hati bahkan mereka berlomba-lomba mencari simpatik wanita cerdas itu namun Anin tak pernah menghiraukannya.


"Nin, saya harus ke kantor dulu sekarang," ucap Dimas terburu-buru mengambil jaketnya.


"Kenapa Mas? Sekarang kan libur," ucap Anin.


"Ada yang harus saya kerjakan dulu, maaf ya gak bisa ajak kamu jalan-jalan nanti saya makan di luar aja," ucap Dimas langsung pergi mengambil kunci mobilnya.


Belum sempat Anin menjawab, Dimas sudah berjalan cepat menuju mobil, entah ada masalah apa hingga ia harus segera pergi ke kantornya padahal baru saja ia mengantarkan Friska dan anaknya.


*-*-*-*-*


Dimas mengendarai mobil dengan cepat, setelah mengantarkan Friska tadi ia mendapat telepon dari satpam ada yang menyeludup masuk ke kantornya dan lebih tepatnya masuk keruangannya, Dimas mengecek kembali ponselnya untuk melihat cctv yang ia pasang dan di sambungkan pada ponselnya.


Tak butuh waktu lama Dimas sampai dikantornya, dua satpam tampaknya sedang menunggu Dimas dengan cemas, Dimas memang sengaja meminta satpamnya untuk tidak langsung menangkap pelakunya , ia hanya ingin menangkap pelakunya dengan tangannya sendiri meskipun dibantu oleh Satpam agar berjaga-jaga takutnya ia dicelakai pelaku.


*-*-*-*-*


Anin mendapat telepon dari Mamahnya secara mendadak, sejak orangtuanya pindah ke Bogor tak sekalipun orangtuanya mengabarinya meskipun Anin sudah bertanya via whatsapp namun orangtuanya akan membalasnya beberapa hari kemudian.


"*Hallo Mah?"


"Nin, bagaimana kabarmu*?" tanya Mamahm


"Alhamdulillah baik, ada apa Mah tiba-tiba telepon," tanya Anin.


"Papah kamu Nin,.." ucap Mamah terdengar gemetar.


"Papah kenapa?" tanya Anin waswas.


"Papah kamu kecelakaan sekarang dirawat di rumah sakit." ucap Mamah.


Anin terdiam sejenak tak menjawab ucapan Mamahnya ia masih terdiam antara syok dan tak percaya dengan berita yang Mamahnya sampaikan.


"Nin.." tanya Mamah lembut.


"Iya Mah," jawab Anin tersadar kembali.


"Kamu bisa ke sini kan?" tanya Mamah.


"*Iya nanti Anin sama Mas Dimas langsung ke sana Mah,"


"Mamah kirim alamatnya sekarang ya*," ucap Mamah mematikan teleponnya.


Anin masih syok dengan kabar yang Mamahnya sampaikan, apa yang sebenarnya terjadi sampai Papahnya terkena musibah kecelakaan? Bukan Anin tak sedih, ia tahu kedua orangtuanya itu memang sibuk bekerja dari dulu, Papahnya juga sibuk menjadi penjabat daerah begitu juga Mamahnya yang ikut bekerja menjadi PNS yang bekerja di Instansi yang sama dengan Papahnya.


Anin menelepon Dimas, ia harus segera pergi ke Bogor menemui Papahnya, beberapa panggilan masuk tidak terjawab Dimas tidak mengangkat teleponnya sama sekali bagaimana ini?


*-*-*-*-*


Sementara itu Dimas sudah menyelinap masuk ke perusahaannya, ia menyuruh Satpam berjaga di luar dan yang satunya lagi ikut bersamanya, Dimas masuk keruangannya dengan jalan belakang, ia memiliki ruangan pribadi yang tertutup rak buku, ia sengaja buat untuk jalan pintas utama jika ada sesuatu yang terjadi.


Dimas melihat dua orang pria yang memakai pakaian hitam dan topeng ninja sedang menggeladah lacinya dan satu lagi sedang mencari berkas-berkas di raknya, Dimas sempat terkejut dengan mereka berdua, dengan nekat Dimas langsung menghampiri mereka berdua.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Dimas.


Keduanya langsung menghentikan kegiatannya dan menatap ke arah Dimas, mereka mengeluarkan senjata yang mereka simpan di balik saku celana, dan membuat Dimas terkejut.


"Siapa kalian? Mengapa menyelinap masuk di tempat saya?" tanya Dimas.


Mereka berdua tidak menjawab, mereka berjalan ke arah Dimas, dengan cekatan Dimas langsung mengambil kursi besinya untuk menghindari kedua pencuri, Satpam yang bersamanya pun mengeluarkan pistolnya mengarah ke arah mereka, namun dengan cepat satu pelaku menendang satpam itu hingga tersungkur.


Dengan keringat bercucuran Dimas berlarian keluar ruangannya, ia mengambil ponselnya dan kebetulan Anin meneleponnya ia pun menjawab Anin untuk meminta tolong agar datang ke kantor.


"Hallo Mas," ucap Anin.


"Anin tolong datang ke kantor sekarang darurat." ucap Dimas sambil berlarian.


"Mas ada apa?" tanya Anin.


"Tolong sekarang Anin!" ucap Dimas dengan nafas terengah-engah.


"Mas jangan buat Anin Khawatir, Anin telepon polisi sekarang," ucap Anin.


"Arrrrgggghhhh" teriak Dimas.


"Mas Dimas, Mas." teriak Anin ditelepon namun tak ada jawaban apapun.


Anin bertambah panik ketika Dimas menyuruhnya datang, Ia baru saja hendak menelepon Dimas dan Dimas menjawabnya dengan meminta tolong tanpa berpikir panjang Anin langsung menggendong Afifa yang sedang bermain dan membawanya untuk ikut bersamanya.


Baru sampai luar pintu, Ibu tiba-tiba datang bersama Bapak dan Dina membuat Anin makin terkejut saja, Anin yang panik langsung memeluk Ibu.


"Bu tadi Mas Dimas nelepon Anin dan minta Anin datang ke kantornya sekarang Anin takut ada apa-apa" ucap Anin.


"Iya Anin tadi Ibu juga dapat telepon, kamu sekarang kesana di antar Dina ya, biar Afifa sama Ibu," ucap Ibu.


"Iya Bu, Anin pergi dulu Bu, Pak." ucapnya pamit.


*-*-*-*-*


Sesampainya di kantor terlihat sepi tidak ada orang, membuat Anin menjadi binggung ia pun menelepon Dimas karena takut sesuatu terjadi dengannya, namun nomor telepon yang ia tuju tidak aktif.


"Teteh coba masuk ke dalam dulu, Dina nanti nyusul mau parkir dulu mobil," ucap Dina.


Anin mengangguk ia pun langsung masuk kedalam kantor, ia pertama kalinya ia menginjakkan kaki di kantor Dimas, bahkan selama mereka menikah Anin tak pernah meminta Dimas untuk mengajaknya ke kantor.


Ia menatap ruangan gedung bertingkat itu yang tampak kosong karena hari ini hari minggu tidak ada yang bekerja selain Dimas yang tiba-tiba terburu-buru datang ke kantor.


"Mas Dimas?" panggil Anin menyadari ruangan sangat gelap.


"Mas Dimas dimana, Mas?" teriak Anin.


Bodoh, Anin merutuki dirinya bagaimana bisa ia berteriak mencari Dimas sini sedangkan ruangan kerja Dimas saja bertingkat mana mungkin terdengar, Anin harus segera mencari ruangan Dimas tapi ia tidak tahu dimana.


"Dina ruangan Dimas dimana?"


"Teteh ke lantai 11, ruangan Mas Dimas di sana*." ucap Dina.


"Kamu dimana temanin teteh,"


"Tunggu sebentar," ucap Dina mematikan telepon.


Anin masih takut karena kantor Dimas begitu sepi, ia juga takut naik lift sendiri, tapi bagaimana Dimas ia takut terjadi seuatu pada suaminya itu.


"Ayo teh kita naik Lift." ajak Dina.


"Kamu yakin Mas Dimas di sana?" tanya Anin.


"Seenggaknya kita cek dulu Mas Dimas diruangannya," ucap Dina langsung memencet tombol.


Tak butuh waktu lama mereka sampai di lantai 11, Anin dan Dina langsung berjalan keruangan Dimas yang masih jauh, baru saja hendak mencari ruangan Dimas, ada seseorang yang membekap mulut Dina yang berjalan di belakang Anin. Anin yang sadar langsung menyelamatkan Dina namun mereka berjalan begitu cepat hingga tak terkejar.


"Ya Allah ada apa ini, Dina di culik mas Dimas gak bisa di hubungi," ucap Anin cemas.


Anin memilih mencari Dina mengikuti arah penculik tadi, Anin berjalan dengan was-was dan sampai diruangan yang pintunya terbuka sedikit, Anin mengintip apakah Dina di sekap di sini ia melihat orang yang berpakaian hitam tadi membelakanginya dan Anin makin takut tapi ia harus menyelamatkan Dina terlebih dulu sebelum Dimas, Anin mengumpulkan keberanian ia membuka pintu dengan kencang.


"Surprise....." teriak mereka serentak.


"Mas Dimas" ucap Anin tak percaya.


"Happy birthday to you..." ruang riuh dengan nyanyian happy birthday.


"Selamat ulang tahun Anin," ucap Dimas memberikan bolu berlilin itu.


"Tadi bukannya Mas, dan Dina tadi?" ucapnya masih binggung.


"Teh selamat ulang tahun," ucap Dina tertawa.


"Kalian ngerjain?" ucap Anin kesal.


"Terus tadi yang nyulik Dina?" tanya Anin kembali.


"Ini gue Nin," ucap Rendra membuka topeng.


Anin makin tak percaya mereka kompak mengerjainya bahkan sampai membuatnya panik bukan kepalang, sial Anin bahkan tak ingat sekarang hari ulang tahunnya mereka mengerjain Anin sampai membuatnya mati ketakutan.


"Mas, kenapa ngerjain Anin kayak gini, Anin benar-benar takut," ucap Anin hingga matanya sudah memerah menahan tangisnya.


"Maaf, ini rencananya Dina sebenarnya, saya cuman ikut jadi pemeran," ucap Dimas.


"Maaf teh, Dina mau nguji aja cintanya teteh sama Mas Dimas dengan cara Mas Dimas minta tolong apa teteh bakal langsung nolongin atau minta bantuan " ucap Dina.


"Terus akhirnya?" tanya Dimas.


"Teh Anin langsung nolongin tanpa minta bantuan ke Ibu sama Dina, dia tadi langsung mau berangkat ke sini sama Afifa untung Ibu keburu datang jadi Afifa gak ikut dramanya." ucap Dina langsung memeluk Anin yang masih syok.


Anin masih mengerucutkan bibirnya karena kesal dengan mereka yang tega mengerjainya,sungguh ini bukan kejutan yang ia harapkan tapi Dina hanya ingin menguji tanda cintanya, dan tentu saja berhasil karena Anin begitu khawatir pada Dimas saat ia meminta bantuannya.


"Trrimakasih semuanya, lain kali kalau bikin kejutan jangan sampai sport jantung gini gimana kalau saya jantungan!" ucap Anin kemudian make a wish sebelum tiup lilin.


"Selamat ulang tahun Anin," ucap Dimas mengelus pucuk kepala Anin.


"Makasih Mas." ucap Anin tersenyum.


Seiring itu semua orang di dalam ruangan ikut menyalami Anin dan mendoakannya, termasuk 2 satpam yang sudah berjaga dan 2 maling yang ternyata satu Hendra sekretaris Dimas dan Rendra sahabat Dimas yang ikut membuat drama.


"Oke karena misi berhasil gimana kalau sekarang kita Makan-makan?" ucap Rendra semangat.


"Yokkk !!!" ucap mereka berteriak.


*-*-*-*-*


Dina duduk bersama Rendra dan yang lainnya, sebenarnya Dimas memang tidak punya rencana untuk ulang tahun Anin terlebih karena hubungan mereka belum ada tahap perubahan masih dalam tahap saling mengenal dan memahami saja.


Jujur Dimas memang terpesona dengan aura kecantik Anin yang begitu memikat namun dalam hatinya belum terselip nama Anin ia masih mencintai Kirana yang telah melahirkan anaknya meskipun sudah 6 bulan berlalu ia belum bisa melupakan Kirana.


"Mas terimakasih kejutannya," ucap Anin tersenyum.


"Terimakasih sama Adek kamu tuh Dina yang udah bikin semuanya," ucap Dimas.


"Teteh beneran udah cinta sama Mas Dimas kan?" tanya Dina berbisik.


"Kenapa memangnya?" tanya Anin berbisik pula.


"Adek bakalan seneng banget kalau teteh udah cinta sama Mas Dimas " ucapnya kemudian pergi.


Anin menatap ke arah Dina yang sedang tertawa bersama Rendra dan yang lainnya meskipun pesta perayaannya tidak terlalu mewah dan dirayakan hanya beberap orang namun Anin bersyukur masih ada yang ingat ulang tahunnya, ia menatap ruangan kerja Dimas dan berjalan ke arah meja kerjanya, sedangkan Dimas masih sibuk dengan ponselnya.


"Apa benar aku sudah jatuh cinta sama Mas Dimas?" tanyanya dalam hati.


Anin melihat beberapa foto berfigura di mejanya yaitu foto wisuda Dimas, foto Afifa dan yang terakhir foto pernikahannya bersama Kirana dulu.


Anin menatap foto pernikahan Dimas bersama kakaknya itu terlihat senyum sumringah pada keduanya, mengapa saat pernikahan keduanya bersama Anin, Dimas tidak terlihat begitu bahagia? Anin tersadar Dimas memang hanya mencintai kakaknya saja lagipula Anin hanya sebagai pemeran pengganti untuk anaknya bukan? Entah mengapa rasanya hati Anin merasa sakit tatkala melihat ruangan kerja Dimas tanpa memajang foto dirinya bersama Dimas apakah pernikahan turun ranjang ini tidak berarti bagi Dimas?.


Tiba-tiba telepon Anin berdering di meja yang Dimas tempati.


"Nin, ada telepon dari Mamah," ucap Dimas .


"Ya Allah Anin lupa" ucapnya langsung berlari kearah Dimas mengambil teleponnya.


"Ada apa Nin?" tanya Dimas khawatir.


"Papah masuk rumah sakit kecelakaan tadi siang Mamah telepon, beliau minta Anin ke Bogor," ucap Anin.


"Apa?" semua ikut terkejut.


"Ya sudah Mas sekarang berangkat ke Bogor," ucap Dina.


Dimas dan Anin saling bertatap kemudian mereka pamit dari ruangan dan langsung ke rumah untuk mengambil barang-barang sebelum akhirnya mereka berangkat ke Bogor.