
"Johan!" Panggil Ryan pelan saat tiba di ruang kerja Johan.
Saat ini Johan memang dirawat, terlihat infus tertancap di lengan kirinya. Matanya terpejam erat meski Ryan bisa menebaknya kalau Johan tidak benar-benar tidur. Meski tubuhnya lemah dan lelah, Johan mengalami insomnia parah setelah ditinggal istrinya bukan ditinggal lebih tepatnya dipaksa berpisah oleh ayah mertuanya.
"Hmm." Jawab Johan malas sambil tetap terpejam matanya.
"Huff... aku harus mengatakannya. Meski aku sendiri tidak yakin juga belum meyakinkan dengan bukti. Tapi aku tetap akan mengatakannya meski hanya tebakan saja. Tapi entah kenapa firasatku kali ini benar." Ucap Ryan ragu.
"Jangan bertele-tele!" Ucap Johan masih dengan mata terpejam malam menanggapi sahabatnya yang setiap hari tidak capek mengomelinya.
"Istrimu hamil." Ucapan Ryan membuat Johan masih terdiam masih masa bodoh dengan semua ucapannya hingga kata-kata istri muncul membuat Johan sontak membuka matanya terkejut.
Tanpa memperdulikan tubuhnya yang lemah, Johan langsung terduduk meski merasakan kepalanya sangat pusing karena tiba-tiba duduk.
"Apa yang kau katakan tadi?" Ryan mendengus. Baru mendengar kabar tentang istrinya, Johan langsung bersemangat tak peduli dengan tubuhnya.
"Mungkin, itu masih kemungkinan dan itu hanya tebakan meski aku belum yakin tapi sepertinya itu kebenaran." Ucap Ryan.
"Ck... ck... jadi benar tadi aku salah dengar." Jawab Johan lemas, bahunya langsung luruh karena pendengarannya mulai bermasalah. Entah kenapa setiap saat dia mendengar istrinya disebut-sebut.
"Tapi kemungkinan itu benar. Istrimu sedang hamil." Ucap Ryan lagi menatap Johan tajam, merasa kesal karena Johan meremehkannya.
"Jangan membuatku terbang tinggi jika kau ingin menjatuhkannya lagi!" Ucap Johan malas bergerak miring memunggungi Ryan.
Johan sendiri sebenarnya berharap hal itu adalah benar, namun dia juga sedikit ragu. Pasalnya penyakit kista yang diderita istrinya menjadikannya sulit hamil hanya dua puluh persen kemungkinan hamil. Tapi Johan tak mu menyerah, masih ada Tuhan yang dipercaya akan memberikan anugerah itu jika Dia berkehendak. Tapi dia tak mau kecewa saat ada kabar yang mungkin belum tentu kebenarannya.
"Bagaimana jika itu benar?" Tanya Ryan menepuk pundak Johan pelan.
"Sudahlah!"
"Kau mual dan muntah, hampir setiap pagi dan makan pun harus keluar lagi. Suka manis-manis dan asam-asam. Dan... " Johan melotot tanpa berbalik mencerna semua ucapan Ryan karena yang dialaminya benar-benar seperti apa yang Ryan ucapkan.
"Dan sampel darahmu ternyata negatif, normal, tak ada penyakit yang berarti apapun. Itu mungkin saja kehamilan simpatik. Hanya beberapa orang yang mengalami morning sickness pada suami saat istrinya sedang hamil" Ryan menjeda ucapannya.
Johan sendiri mulai menghitung mual dan muntah yang dialaminya dan itu tepat saat istrinya berada bersamanya saat itu. Dan seminggu saat istrinya bersamanya mereka memang melakukannya setiap saat setiap waktu seolah Johan seperti seorang hiper.
Johan sontak duduk tanpa mempedulikan keadaannya. Bahkan infus di tangannya langsung dicabutnya membuat Ryan panik dan cemas.
"Apa yang kau lakukan? Jangan sembarangan! Tubuhmu masih lemah." Seru Ryan mengikuti langkah Johan yang sempoyongan memaksakan diri untuk pergi.
"Aku harus pergi. Aku harus mencari istriku. Ada anak... anakku... ada anakku disana Ryan, aku akan jadi ayah... aku akan punya anak." Johan meracau bahagia sambil tertawa membuat Ryan ikut tertawa bahagia juga. Apalagi melihat keadaan Johan kembali baik-baik saja dan bersemangat.
.
.
.
"Tuan." Johan langsung berlutut di depan dokter Nathan yang hendak keluar dari mansion. Tanpa pikir panjang Johan datang menemui ayah mertuanya yang masih belum menganggapnya menantu.
"Johan." Seru Ryan membantu Johan menyangga tubuhnya yang hampir oleng karena spontan berlutut. Wajahnya masih pucat pasi karena belum sembuh benar dengan mual dan muntahnya. Dan tubuh kurusnya terlihat sekali tulangnya di leher. Namun hal itu tidak menyurutkan niat Johan untuk datang pada ayah mertuanya.
"Apa ini?" Suara bas dokter Nathan membuat Johan sedikit merinding tapi dia tetap tidak akan menyerah demi istri dan calon anaknya.
"Apa yang harus aku lakukan demi bersama dengan istri dan calon anakku tuan?" Ucap Johan lemah dengan tatapan mata berkaca-kaca. Dia memohon menatap dokter Nathan memelas. Sesaat mata dokter Nathan bergetar karena terkejut soal kehamilan putrinya yang diketahui Johan.
"Apa maksudmu?" Suara bas dokter Nathan menatap Johan tajam dan dingin.
"Hukum aku tuan, jangan pisahkan kami. Anda bisa menghukum saya apapun asal jangan pisahkan kami. Kami saling mencintai. Apalagi ada anak diantara kami. Apa anda setega itu memisahkan kami? Apa anda tega melihat calon anakku tidak mendapat kasih sayang papanya? Apa anda ingin calon cucu anda bernasib sama seperti istriku?" Ucap Johan penuh permohonan menyindir dokter Nathan dan hal itu hampir saja membuat dokter Nathan murka namun ucapan Johan tidak salah.
Dia tahu betul bagaimana perasaannya saat terpaksa dipisahkan dengan putrinya satu-satunya.
"Tuan, kumohon!" Ucap Johan lagi mendongak menatap dokter Nathan yang juga menatapnya tajam dan dingin. Johan sudah menangkupkan kedua tangannya di dada penuh permohonan.
Saat melihat Johan pupil mata dokter Nathan bergetar. Dia ingat saat penculik putrinya dulu membuatnya terduduk berlutut memohon pada sang penculik untuk menunjukkan dimana putrinya berada. Dan penculik itu dengan tega tidak memberitahukan dimana putrinya.
Dokter Nathan pun menghela nafas panjang dan berat. Seolah sedang memutuskan sesuatu hal yang sangat besar. Hingga dia pun menghembuskan nafas panjang
"Apa jaminan yang kau berikan jika kau menyakiti putriku lagi?" Ucapan dokter Nathan membuat Johan membelalak tak percaya.
"Nyawaku. Akan kuberikan nyawaku untuk anda ambil jika aku berani menyakitinya lagi." Ucap Johan langsung. Ryan terharu mendengar ucapan sahabatnya.
"Huff... Aku pegang kata-katamu." Tegas dokter Nathan pergi, sebelumnya dia melirik Ramon yang sejak tadi ada di belakangnya, seolah memberi kode untuk memberi tahu pada Johan dimana putrinya.
"Dokter Johan." Ucap Ramon sebelum Johan hendak menyusul dokter Nathan yang sudah masuk ke dalam mobilnya.
"Ya?" Johan dan Ryan menyimak ucapan selanjutnya Ramon.
"Nona muda ada di villa Sangrila." Beri tahu Ramon pada keduanya dan langsung pergi menuju mobil dokter Nathan untuk mengikuti dokter Nathan sebagai orang kepercayaannya seperti biasanya.
"Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih ayah mertua." Seru Johan berteriak bahagia dengan senyuman binar kebahagiaan.
"Syukurlah! Sudah kukatakan, ini cara Tuhan membuka hati papa." Ucap Ryan antusias. Johan pun menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Ryan.
.
.
.
"Berani sekali dia memanggilku seperti itu. Aku belum mengizinkannya." Namun senyum tipis tersungging di bibir dokter Nathan membuat Ramon hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan majikannya. Dan Ramon yakin, majikannya itu merasa bahagia.
.
.