Turun Ranjang

Turun Ranjang
Chapter 144


Pertemuan kerja sama dengan Alensio grup terus meningkat. Proyek Johan semakin berkembang merambah ke luar negeri. Dan tentu saja pertemuan itu selalu dihadiri oleh Hana dari pihak Alensio grup selaku sekretaris dia ternyata adalah istri dari pengusaha sukses Michael yang mewakili setiap pertemuan tersebut.


Dan tentu saja hal itu membuat Johan dan Hana semakin akrab dan membuat Johan tidak canggung lagi saat membahas kerja sama itu berdua saja. Selain karena Edo sibuk mengurus proyek lainnya. Johan mau tak mau harus melakukan pertemuan meeting mereka yang hampir melibatkan langsung Johan selaku pemilik sementara juga Presdir perusahaan.


"Ini pembahasan terakhir proyek sebelum kunjungan ke lokasi. Mungkin setelah ini kita akan jarang bertemu. Dan kau pun harus menghabiskan waktu lebih banyak ke luar negeri untuk mengawasi pembangunan proyek." Ucap Hana siang itu dan lagi-lagi di restoran tempat Johan makan siang menunggu keberadaan istrinya muncul. Sejak sebulan yang lalu Johan masih belum menyerah dan berharap bertemu secara kebetulan dengan istrinya.


"Apa harus aku yang ke luar negeri langsung mengawasi?" Tanya Johan terlihat keberatan meninggalkan tanah air, entah karena apa.


"Tentu saja, karena saat pembahasan proyek ini hanya kita yang terlibat dan kau yang lebih paham tentang semua itu. Meski aku yakin asistenmu tidak akan mengecewakan. Tapi percayalah, suamiku lebih suka bertemu secara langsung dengan pemilik perusahaan ketimbang asisten atau yang mewakilinya dan lagi pula ini adalah langkah awal perusahaannmu go internasional." Jelas Hana panjang lebar. Johan terdiam sejenak tampak berpikir dan menimang-nimangnya. Dia menyetujui pendapat Hana tapi dia juga ingin fokus sambil mencari istrinya di tanah air.


"Akan kupikirkan lagi, tapi tetap kuusahakan." Jawab Johan terdengar ambigu.


"Kau harus yakin kalau ingin berhasil. Bukankah kau dulu tak pernah meragukan keputusan yang mau pilih?" Ucap Hana lagi sambil memesan makan siang.


"Entahlah, ada sesuatu yang membuat ingin tetap bertahan disini." Jawab Johan masih terdengar ragu sambil menghela nafas panjang.


"Kau pikirkan dulu matang-matang. Masih sekitar sebulan lagi proyek ini akan dikunjungi. Kuharap kau bisa mengambil keputusan yang tepat." Saran Hana yang diangguki Johan bersamaan dengan pesanan makan siang mereka datang.


"Silahkan!" Hana tersenyum mulai menyuapkan makanannya diikuti Johan.


.


.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Ivan yang melihat wajah Karina pucat.


Meski dia menuruti keinginan sang adik berangkat sendiri dari mansion, namun nyatanya hal itu tak mampu membuat Ivan melepas adiknya begitu saja. Dia pun memutuskan untuk mengikutinya dengan mobilnya sendiri. Karina yang baru saja keluar dari mobil menggelengkan kepalanya menghela nafas panjang.


"Kenapa kakak masih mengikutiku?" Tanya Karina tak percaya, padahal ada sopir dan beberapa bodyguard yang mengikutinya tapi sang kakak masih posesif dan overprotektif mengikutinya dengan mobilnya sendiri.


"Kau hanya bilang akan keluar sendiri dengan sopir dan mobil sendiri. Kau tak mengatakan kalau aku tidak boleh ikut." Jawab Ivan beralasan.


Sungguh Ivan belum serela itu melepas adiknya dengan mobil sendiri meski masih ada sopir dan bodyguard. Apalagi jika sewaktu-waktu adiknya kambuh atau pingsan lagi, Ivan tak serela itu membayangkan adiknya dibopong oleh pria lain yang bukan muhrimnya.


"Kakak hanya beralasan." Jawab Karina melanjutkan langkahnya namun seketika dia oleng dan langsung ditangkap Ivan.


"Karin." Seru Ivan tanpa sadar, Karina memegang kepalanya yang tiba-tiba berdenyut nyeri.


"Aku.. tak apa kak." Jawaban Karina membuat Ivan marah namun dia berusaha mengendalikannya karena tak mau berteriak hingga menaikkan nada bicaranya pada adiknya tersayang.


"Kau terlihat pucat Karin? Apa yang kau rasakan? Apa ada bagian yang sakit?" Tanya Ivan merasa cemas dengan raut wajah khawatir.


"Sungguh, aku baik-baik saja kan, hanya pusing." Jawab Karina masih memegangi kepalanya sambil bersandar pada mobilnya. Namun pandangan mata Karina seketika membuatnya shock, suaminya datang dari arah depannya berjalan tidak tapi memegang pinggang seorang wanita cantik dengan posisi sang wanita dibawahnya seolah tak sengaja jatuh dan ditangkap oleh suaminya.


"Ayo kita pulang! Kau tidak baik-baik saja Karin." Titah Ivan namun Karina hanya terdiam sambil memandang ke arah depan dengan tatapan nanar. Ivan yang menyadari hal itu mengikuti arah pandang adiknya. Dan sekarang Ivan tahu kalau adiknya sedang shock dengan wajah pias.


Johan, bagaimana pun juga dia masih suaminya. Dia juga masih suaminya sampai sekarang secara hukum meski secara agama entahlah. Nanti dia akan mencari tahu kedepannya. Dua kali dia memergoki suaminya dengan wanita cantik berhijab syar'i seperti dirinya. Dan itu dengan wanita yang sama.


Awalnya pikiran Karina ingin berpikir positif mungkin hanya rekan bisnis. Namun ini sudah kedua kalinya dia memergoki dan dengan kondisi mesra meski keduanya masih terlihat canggung, bukannya setidaknya seharusnya dia tidak seakrab itu dengan wanita lain saat statusnya masih seorang suami.


Ah, mungkin Johan sudah berpikir bahwa dirinya adalah seorang duda karena tidak diurus kebutuhan batin juga kebutuhan lahirnya selama hampir setahun kepergiannya. Dan Johan merasa bebas untuk bertemu dengan wanita manapun.


Bagaimana pun juga Johan adalah lelaki normal yang butuh dipuaskan kebutuhan batinnya dan saat itu Karina tak mampu memberikannya dan lagi-lagi dia merasa bersalah lagi karena meninggalkan suaminya tanpa pamit.


Wanita macam apa dirinya. Batin Karina merasakan sesak di dadanya setelah kembali menelaah, kesalahan terletak pada dirinya yang kabur dari rumah. Karina tak henti-hentinya mengutuk dirinya berkali-kali dan merasakan rasa bersalah yang sangat.


"Kau baik-baik saja? Kau tak bertanya padanya dulu?" Tanya Ivan.


"Kita pulang saja kak." Jawab Karina sambil masuk ke dalam mobil.


"Kau bisa saja salah paham?" Ucap Ivan lagi karena bagaimanapun dia juga tak yakin hubungan keduanya tidak akrab.


"A-aku takut mendengar jawabannya kak, ayo kita pulang saja!" Desak Karina dengan mata yang mulai berkaca-kaca menatap Ivan penuh harap hampir saja menangis dan hal itu membuat Ivan tidak sanggup untuk menolak permintaan adiknya.


"Baik, kita pulang!" Ucap Ivan menuntun adiknya masuk ke dalam mobil Karina di kursi belakang dengan sopir yang menyetir untuk mobilnya dia akan mengurusnya nanti.


Tangis Karina tak mampu dibendung. Niat hati siang nanti dia ingin menemui suaminya berharap dapat diterima kembali dengan lapang dada. Namun melihat keakraban suaminya dengan wanita lain tadi membuat Karina urung.


Dadanya tiba-tiba merasa sakit dan sesak membuat Karina tak mampu mempertahankan tangisannya. Dia pun menangis dalam diam sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya, isak tangis pun mulai terdengar meski pelan. Ivan memeluk adiknya kasihan, sambil mengelus punggung berharap adiknya sedikit tenang.


"Karin!" Seru Johan dari kejauhan sambil berlari saat melihat seseorang yang ditebaknya adalah istrinya dan istrinya berpelukan dengan seorang pria. John tak melanjutkan langkahnya berisi mencerna akal sehatnya yang melihat istrinya berdekatan dengan seorang pria.


Apa dia melupakannya? Apa dia sudah bersama pria lain? Ah, apa istrinya tidak pulang jika sudah terlihat muncul dimanapun? Batin Johan berkecamuk.


Tadi, setelah keluar dari restoran, Hana tidak sengaja terpeleset membuat Johan spontan memegangnya hingga keduanya terlihat intim sambil berpelukan. Meski akhirnya merasa bersalah dan canggung. Dia merasa seperti sedang melakukan kesalahan berdekatan dengan wanita lain yang bukan muhrimnya.


Meski langsung melepaskan mereka langsung menuju mobil Hana dan Johan membukakan pintu untuk Hana. Baru kemudian pamit setelah Hana melajukan mobilnya meninggalkan parkiran restoran.


Saat hendak kembali ke mobilnya sendiri mata Johan tertuju pada mobil dan wanita yang dikenalinya mobil yang ditumpangi istrinya beberapa waktu lalu saat dia mengejarnya hingga dia selalu makan siang di restoran tersebut berharap bertemu dengan istrinya. Dan hari ini dia benar-benar bertemu lagi tanpa sengaja tapi... istrinya dipeluk oleh laki-laki lain di dalam mobil tersebut. Seketika membuat Johan shock dan kaget.


"Siapa itu Karin? Kuharap bukan seseorang yang menggantikanku untuk berada di sisimu selama ini?" Guman Johan menghela nafas panjang dan berat.


.


.


TBC