
"Ayo Jas kita pulang," ajak Selena, ia menghampiri Jasmin di meja kerjanya.
Yang diajak pulang tidak bergeming, terus mengetikan sesuatu di komputer yang tepat berada didepan mata.
"Jas." Selena mulai duduk, sedikit ia tahu tentang kegundahan hati sang sahabat, bisa ia tebak, jika pertemuanya dengan Jodi tadi pagi pasti tidak berjalan dengan lancar.
"Apa kata Jodi?" tanya Selena, sebenarnya ia ingin sekali membantu Jasmin, ingin membantu mengatakan pada Jodi tentang perasaan Jasmin padanya. Namun Jasmin melarang, Jasmin tak ingin seperti anak kecil yang butuh mak comblang.
"Jangan diam saja, jawab pertanyaanku." Selena mulai kesal, karena Jasmin benar-benar bersikap seolah Selena tak ada.
Mendapati sang sahabat yang mulai kesal, Jasmin pun mengalihkan tatapannya pada layar komputer, kini ia melihat kearah Selena, dengan tatapan sendu, seperti orang yang ingin menangis.
"Apa kata Jodi?" tanya Selena lagi.
"Dia malah menanyakan apa aku benar-benar sudah melupakan Arick," lirih Jasmin.
Mendengar itu, Selena menghembuskan napasnya setengah kecewa.
"Sudah ku bilang sedari dulu dulu, jangan selalu menjadikan Arick sebagai alasan untuk kamu menemui Jodi," Selena kini benar-benar kesal. Akhirnya yang ia duga-duga terjadi juga.
"Kalau aku jadi Jodi, aku juga akan merasa hanya menjadi pelarian mu. Jodi tidak akan pernah merasa bahwa dia itu penting buat mu, karena saat bersama dia yang kamu sebut hanya Arick Arick Arick terus."
Selama ini Jasmin selalu menggunakan nama Arick untuk dijadikannya sebagai alasan agar ia bisa dekat dengan Jodi, agar ia selalu punya alasan untuk menemui Jodi.
Jasmin terdiam, sedikit membenarkan ucapan Jasmin itu.
"Tapi selama ini aku hanya dekat dengannya saja, bahkan tiap hari kami selalu berbalas pesan. Apa Jodi tidak bisa merasakan perasaan ku padanya?" jawab Jasmin menggebu.
Ia pun rasanya ingin sekali berteriak mengatakan "Jodi aku mencintaimu" tapi bayang-bayang cinta bertepuk sebelah tangan membuatnya bertahan diam, ingin Jodi yang terlebih dulu menyatakan cinta.
"Sabodolah, mau sampe lebaran monyet juga kalian bakal gini gini terus." Kesal Selena, ia bangkit dan hendak pulang.
"Kamu mau pulang atau tidak? kalau tidak aku akan pulang sendiri," ancam Selena, Jasmin pun akhirnya menurut, dengan gerakan malas-malasan ia mematikan komputer, membereskan barang-barangnya dan ikut pulang bersama Selena.
Sampai di lobby, mendadak kaki Jasmin terhenti berjalan. Tatapannya lurus menatap sesosok pria yang berdiri tepat di dekat pintu keluar masuk hotel.
Jodi? lirihnya dalam hati.
Selena yang ikut terhenti pun mengikuti arah tatapan Jasmin, disana Jodi berdiri seorang diri.
"Ada apa Jodi kesini?" gumam Selena dan didengar oleh Jasmin.
Saat Selena hendak melangkah, buru-buru Jasmin mencegah.
"Tunggu, tunggu," ucap Jasmin cepat.
"Ada apa?"
"Biar aku sendiri yang menemui Jodi, kamu pulang setelah kami pergi, ya ya ya?" tawar Jasmin dengan wajah memelas, jika Jodi melihat Selena juga pasti obrolannya akan lain, bukan tetang kisah Jodi dan Jasmin lagi.
"Hih! ya sudah sana!" kesal Selena, ia mendorong cukup kuat badan Jasmin untuk segera berlalu menemui Jodi.
Sedangkan Selena ikut beegabung di meja resepsionis bersama 2 karyawab disana.
Dengan langkah cepat, Jasmin mulai menghampiri Jodi.
Ada apa Jodi kesini? bahkan dia tidak memberi tahuku.
Apa dia akan melarangku untuk ikut kencan buta itu?
Atau dia akan menyatakan cintanya langsung padaku?
Ah yang mana, kata Jihan kemarin, Jodi sering bercerita tentang aku pada Arick.
Kata Jihan kemarin, Jodi sebenarnya sudah mencintaiku.
Lalu kenapa hingga kini ia diam saja.
Ya Allah, hamba mohon, jadikanlah Jodi jodoh hamba.
Jasmin terus berjalan dengan banyak pikiran dikepala, hingga tak terasa kini ia sudah berdiri tepat dihadapan Jodi.
"Jodi," sapa Jasmin lirih.
Kedua mata mereka bertemu, cukup lama seolah dengan tatapan itu keduanya saling mengungkapkan cinta.
Jodi menarik lengan Jasmin hingga mendekat padanya, hampir saja Jasmin tersenggol troli koper hotel.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Jodi, jantung keduanya berdetak lebih kencang ketika dalam posisi dekat seperti ini.
Dengan canggung, Jasmin melerai dekapan Jodi, hingga ia kembali berdiri sendiri.
"Aku baik-baik saja," jawab Jasmin, ia sedikit menunduk dan menyelipakan beberapa helai rambut ke telinga.
Selena yang memperhatikan keduanya diujung sana hanya mencebik-cebik merasa geli sendiri.
Udah pada tua, gegayaan kayak anak SMA. Gerutunya dalam hati.
Selena kemudian melambai pada karyawan yang membawa troli koper tadi.
"Kerja bagus," ucap Selena sambil mengacungkan kedua jempolnya pada karyawan itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam 5 sore, Arick sudah sampai di rumah, buru-buru ia menemui Jihan yang berada di dalam kamar.
"Sayang," ucap Arick serentak dengan ia yang membuka pintu.
Di lihatnya Jihan yang sedang mengeringkan rambut di bantu oleh mbak Puji.
Jihan dan Puji menoleh, keduanya terlihat bingung ketika melihat Arick yang datang dengan ngos-ngosan.
"Mas habis lari?" tanya Jihan, Arick masuk dan duduk disisi ranjang.
"Sedikit, ada yang ingin aku katakan."
"Waduh, mau ngomong apa Mas? apa mbak Puji harus keluar dulu," tanya Puji yang tak enak hati.
"Tidak usah Mbak, Mbak dengar juga tidak apa-apa. Nanti sehabis magrib, aku minta anak-anak untuk makan malam disini, tidak apa-apa kan sayang?" tanya Arick, anak-anak yang dimaksud adalah para sahabatnya, Jodi, Kris, Haris, Jasmin dan Selena.
"Tidak apa-apa Mas, memangnya ada acara apa?" tanya Jihan penasaran.
"Biasalah, Jodi cari-cari alasan untuk membuat Jasmin tidak mengikuti kencan buta. Alasannya, bayi kembar kita ingin melihat mereka semua."
Jihan dan Puji terkekeh, demi cinta anak yang belum lahir pun dijadikan alasan.
"Mbak Puji tidak usah masak, aku tadi bawa makanan dari Cafe. Sudah ku letakkan di meja makan, tinggal disusun."
"Oke Mas," jawab Puji antusias.
"Zayn dimana?" tanya Arick sambil melepas sepatu kerja.
"Sama Asih Mas, di taman belakang," jelas Jihan, Arick kemudian berjongkok, mengelus perut Jihan dan menciumnya sekilas.
Kemudian segera berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
Selesai mandi, ia tak lagi mendapati mbak Puji di dalam kamar. Hanya terlihat sang istri yang sedang mengambil baju di lemari.
Arick bisa tahu, jika baju itu untuknya, ia mendekat dan memeluk Jihan dari belakang.
"Sayang, aku bisa ambil baju sendiri," ucap Arick tepat ditelinga Jihan.
Arick bisa mencium dengan jelas aroma wangi tubuh sang istri.
"Cuma ambilin baju Mas, bukan kerja keras. Aku tidak akan merasa capek," jawab Jihan, ia menutup pintu lemari karena semua yang ia cari sudah didapatkan.
Tapi sang suami masih memeluknya erat, tidak ada tanda-tanda akan melepaskan.
"Mas," tegur Jihan, yang ditegur tidak peka, malah menciumi tengkuk sang istri.
"Mas, sebentar lagi Magrib," ucap Jihan dengan suara lirih, lebih terdengar melenguh ditelinga Arick.
"Kita buat jalan untuk anak-anak kita yuk sayang," ajak Arick dan Jihan langsung memukul lengan suaminya cukup keras.
"Buat jalan itu lama Mas, mana kita harus pelan-pelan mainnya. Nanti keburu magrib, temen-temen sudah pada dateng, taunya belum sampe puncak, belum mandi, belum_"
"Iya iya iya, tidak jadi tidak jadi," potong Arick cepat, buru-buru ia mengambil baju ditangan sang istri dan mulai memakainya.