Turun Ranjang

Turun Ranjang
Extra Chapter 26


Setelah semuanya jelas, kini keduanya, Karina dan Johan pulang ke mansion memutuskan untuk beristirahat dan karena waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Setelah selesai melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim sholat isya Karina ikut berbaring di sisi suaminya yang masih lemas efek pingsannya beberapa waktu lalu.


Wajah bahagia tergambar jelas di wajah keduanya. Johan menatap penuh cinta pada istrinya yang kini ikut berbaring di sisinya. Johan langsung mendekap erat tubuh istrinya seolah tak mengizinkan istrinya pergi dari sisinya.


"Akumencintaimu sayang." Bisik Johan lirih di dekat telinga istrinya.


"Aku juga mencintaimu mas." Jawab Karina ikut membalas pelukan suaminya.


"Semua sudah selesai kan?" Bisik Johan mengecupi kepala istrinya yang sudah tidak berhijab lagi.


"Semoga saja mas." Johan melepas dekapannya mendongakkan dagu istrinya, menatap lembut dan intens seluruh wajah istrinya yang beberapa hari ini diacuhkannya meski dia sendiri yang tersiksa.


"Maafkan aku sayang. Maaf." Karina langsung mengecup bibir suaminya untuk menghentikan ucapan maaf suaminya yang lagi-lagi diucapkannya dengan nada sendu.


"Semua sudah berlalu mas, kita sudah berjanji untuk mulai lagi dari awal lagi kan?" Ucap Karina tersenyum menatap suaminya penuh cinta. Johan terdiam merasa terharu dengan ucapan istrinya yang selalu tulus dan penuh cinta padanya.


"Kau tahu?"


"Hmm?"


"Jangan tinggalkan aku dulu! Apapun yang terjadi jangan pernah tinggalkan aku!" Pinta Johan dengan mata yang mulai memanas tampak berkaca-kaca berkedip sebentar saja pasti akan luruh air matanya.


Karina menatap lekat suaminya yang terlihat rapuh itu. Karina mendekap leher suaminya erat memberikan kenyamanan tanpa mengatakan apapun. Sesaat kemudian terdengar isakan lirih hingga sesenggukan yang membuat hati Karina merasa terenyuh dan semakin mengeratkan dekapannya.


.


.


Johan membuka matanya saat sinar matahari masuk melalui celak korden kamarnya dan membuatnya mau tak mau membuka matanya karena merasa silau. Hingga akhirnya matanya semakin terbuka lebar merasakan ranjang di sisinya tidak mendapati istrinya disana.


Cklek


Suara pintu kamar terbuka membuat Johan juga mengalihkan tatapannya pada pintu kamar yang menampilkan wajah istrinya yang sudah terlihat segar dan cantik.


"Selamat pagi sayang!" Sapa Karina tersenyum melihat suaminya menatapnya lekat seolah seperti melihat hantu.


Johan bangun dari ranjang dan duduk bersandar di dashboard ranjang menatap setiap gerakan istrinya yang masih sama saat dulu mereka masih pengantin baru yang tinggal di apartemennya.


"Masih mual mas?" Tanya Karina setelah meletakkan nampan berisi makanan dan minuman untuk sarapan di meja dekat sofa di kamar. Dan kemudian dia pun melangkah ke jendela untuk membuka kordennya.


Sontak Johan menutup mata merasa silau karena mendapat sinar matahari yang langsung mengenainya.


Dia masih diam menatap istrinya dan kemudian melirik jam dinding kamarnya menunjukkan pukul sembilan pagi dan ini sungguh pertama kalinya Johan bangun sesiang ini selama menjadi suami karina seolah semua beban yang menghimpitnya selama ini hilang. Dan kelegaan juga tergambar jelas di wajahnya, apalagi melihat istrinya juga kembali ceria seolah semua masalah-masalah kemarin tak pernah ada.


"Masih mual?" Tanya Karina yang kini duduk di sisi suaminya berhadapan yang masih menatap tanpa bicara apapun. Tatapan kagum dan penuh cinta Johan dilabuhkan di matanya yang menatap lekat istrinya.


"Mas!" Panggil Karina dengan nada lembut dengan senyum tak lepas dari bibirnya sejak tadi.


Cup


Dikecupnya kening istrinya lama dan beralih mengecup bibirnya.


Cup


"Aku mencintaimu." Wajah Karina sontak memerah mendapat perlakuan manis suaminya yang menatapnya lembut sejak tadi.


"Kau tak bangunkan aku tadi?" Tanya Johan yang masih mendekap tubuh istrinya.


"Kamu terlihat nyenyak dan lelah jadi aku tak berniat mengganggumu." Jawab Karina sambil memainkan jemarinya di dada bidang suaminya yang selalu tidur bertelanjang dada.


"Hentikan!" Johan mendekap jemari tangan istrinya yang bermain di dadanya tadi.


"Kenapa?" Tanya Karina mendongak polos menatap suaminya penuh tanya. Johan juga menunduk menatap istrinya.


"Kau membangunkan yang lainnya." Jawab Johan menatap lekat istrinya yang juga menatapnya. Keduanya saling menatap intens penuh cinta hingga tatapan Johan berganti hasrat karena lagi-lagi istrinya memang sengaja menggodanya terlihat ganti jemari tangan lainnya mengusap lembut dadanya.


"Kumohon sayang, kau tahu aku belum berani menyentuhmu sampai dokter menyatakan kehamilanmu baik-baik saja." Jelas Johan dengan nada suara serak menahan hasratnya.


"Kita sarapan ya?" Pinta Karina memilih menurut pada suaminya hendak melepaskan pelukannya.


"Sebentar lagi." Bukannya melepasnya, Johan malah semakin mengeratkan pelukannya namun sesuatu yang mengganjal di paha Karina membuat Karina mengernyit dan mendongak lagi menatap suaminya.


"Apa?" Tanya Johan melihat istrinya menatapnya.


"Ayo sarapan! Sepertinya adik kecil mas ikut terbangun." Ucap Karina sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain malu-malu membuat Johan terkekeh geli mendengarnya.


Cup


Cup


Cup


"Hahaha..Geli mas." Ucap Karina yang diserang suaminya dengan ciuman bertubi-tubi di seluruh wajahnya.


Hingga keduanya pun terbahak di dalam kamar.


.


.


.