
Bruk
"Mas." Seru Karina panik melihat tubuh Johan pingsan di lantai setelah mereka melepaskan pelukannya. Meski Karina sudah berusaha menyangga tubuh berat suaminya yang terlihat tirus. Karina tetap saja tidak mampu melakukannya karena tubuh kecilnya.
"Mas, bangun mas bangun... Hiks.." Karina mendekap kepala Johan yang matanya terpejam erat seperti orang tidur tapi terlihat jelas raut wajahnya yang terlihat penuh kelegaan dan puas. Seolah apa yang dicemaskan selama ini meluapkan segala perasaan resah gelisah dalam dirinya karena perasaan kerinduan yang bertumpuk di dalam dirinya.
"Ya Allah, ada apa non?" Tanya bibi maid yang mendengar jeritan Karina tadi karena saat itu dia hendak turun ke lantai satu setelah melakukan sesuatu di lantai dua.
"Bi, hubungi dokter! Sekarang! Cepat! Mas Johan tiba-tiba pingsan dan dia... dia terlihat tidak baik-baik saja bi! Tolong bi!" Seru Karina cemas tanpa sadar memberi perintah pada maid yang lebih tua darinya itu sedikit bersuara kencang karena kepanikannya.
"I-iya non." Jawab bibi langsung berlari menuju telpon villa.
"Saya juga akan memanggil mang Diman membantu nona memapah tuan." Peringat bibi yang diangguki Karina masih menatap penuh penyesalan melihat raut wajah suaminya tersiksa selama dia tidak ada di sisinya. Dan hal itu membuat Karina sungguh merasa sangat bersalah.
"Maafkan aku mas. Maaf. Seharusnya aku lebih mempertahankan kamu saat itu. Maaf sudah menjadi istri yang durhaka mas. Semoga Allah memaafkan semua kesalahanku padamu mas." Lirih Karina menatap wajah Johan yang masih terpejam seolah mati.
.
.
.
"Bagaimana keadaannya dok?" Tanya Karina setelah dokter keluarganya memeriksa Johan yang masih tetap memejamkan matanya seolah tidur.
"Beliau baik-baik saja. Dia hanya kurang tidur dan kecapean. Apalagi tidak ada sama sekali asupan makanan yang diterimanya dengan baik-baik akhir-akhir ini." Jelas dokter tersenyum ramah pada Karina. Dia menjeda ucapannya karena memberikan waktu pada Karina untuk mencerna ucapannya. Dia juga memang memasang infus untuk pengganti asupan makanan yang diterima Johan.
"Dia akan baik-baik saja kan dok? Tidak ada penyakit serius lainnya kan?" Tanya Karina dengan nada cemas yang tidak dibuat-buat.
"Saya sudah memberikan infus sementara untuk pengganti asupan makanan. Setelah habis nanti usahakan untuk makan-makanan yang bergizi. Sepertinya asam lambungnya kembali naik karena makan dan tidur yang tidak teratur." Jelas dokter itu lagi yang hanya diangguki oleh Karina mengerti apa yang dikatakan dokter.
"Sepertinya sebelum kemari dia sempat dirawat terlihat bekas infus di tangan kirinya yang belum sempat dilepas paksa." Ucap dokter itu lagi.
Karena saat dia mencari nadi untuk dipasang infus dia sangat kesulitan karena terlihat bekas tangannya terdapat beberapa bekas tusukan jarum yang belum lama yang itu artinya tidak sekali dua kali pria itu diinfus. Mungkin hari ini adalah pingsannya yang sudah kesekian kalinya.
Dan dia tak menemukan penyakit serius selain kurang makan dan kurang tidur alias kecapean. Dan asam lambungnya yang memiliki sedikit riwayat meski tidak parah. Dan dokter itu pernah melihat Johan di suatu tempat tapi dia lupa, mungkin faktor usia yang mulai mendekati kepala enam.
"Terima kasih dok." Ucap Karina tersenyum sopan setelah mendengar penjelasan dokter.
"Kalau begitu saya permisi. Sepertinya beliau juga seorang dokter pasti saat infus habis nanti beliau tahu harus melakukan apa. Tapi jika memang butuh bantuan saya, silahkan menghubungi saya lagi." Ucap dokter tersebut tersenyum ramah dan sopan.
"Baik dok. Terima kasih. Suami saya memang mantan dokter." Jawab Karina tersenyum meski sekarang pandangannya tidak beralih dari suaminya yang terlihat lemah tapi raut wajahnya terlihat lega dan nyaman sehingga mirip orang tidur.
Dokter tadi pun menganggukkan kepalanya dan pergi dari kamar dan diantar bibi maid yang sejak tadi hanya diam menyimak di dekat meja di kamar Karina sesuai permintaan Karina juga. Dan juga ikut pergi mengantar dokter keluar.
"Kenapa bisa seperti ini mas? Seharusnya mas bisa menjaga diri baik-baik selama aku tidak ada. Maafkan aku mas maaf... Aku sungguh bukan istri yang baik." Sesal Karina mengucap lirih sambil menggenggam jemari tangan suaminya yang terbebas dari infus namun ada bekas plester rumah sakit bekas infus juga menurut Karina sendiri.
.
.
.
"Karin!" Seru Johan membuka matanya terkejut dan langsung menatap sekeliling kamar dan tatapan matanya berhenti saat mendapati wajah istrinya terlelap pulas di sisinya di ranjang yang sama tempatnya berbaring.
Seketika perasaan lega dan nyaman menghampirinya melihat wajah istrinya benar-benar nyata ada di sisinya. Tadi dia bermimpi bertemu dengan istrinya setelah beberapa waktu terpisah. Dan wajah itu sedikit demi sedikit menghilang dan mengabur membuat Johan berteriak sedih dan sakit merasa semua yang dialaminya hanyalah mimpi.
Hingga tanpa sadar dia berteriak memanggil nama istrinya dan langsung membuka matanya terkejut dan takut ditinggalkan istrinya lagi. Namun dia kembali lega melihat wajah istrinya ada di sisinya di ranjang yang sama sambil menggenggam jemari tangannya tertidur pulas seolah tidurnya selama ini tidak nyenyak dan tidak baik-baik saja.
"Kau benar-benar nyatakan?"
"Kau benar-benar ada di depan mataku kan?"
"Jangan tinggalkan aku lagi!"
"Aku tak sanggup jauh lagi darimu."
"Hari ini kuharap terakhir kali terpisah lagi. Kuharap kita selalu bersama setelah ini selamanya."
Johan tersenyum mendengar ucapannya sendiri sambil menatap wajah istrinya penuh cinta kasih dan sayangnya.
"Aku mencintaimu sayang. Sangat mencintaimu." Ucap Johan lagi sambil mengelus lembut wajah istrinya agar tidak membangunkan istrinya yang sedang terlelap.
"Aku juga mencintaimu mas." Johan sedikit tersentak mendapat jawaban istrinya yang serak-serak basah yang memang awalnya dia terlelap merasa nyaman dengan elusan jemari tangan suaminya.
"Maaf menganggu tidurmu?" Bisik Johan tersenyum sensual dan lembut di dekat telinga istrinya membuat wajah Karina merona memerah karena malu. Bagaimana pun mereka baru bertemu setelah sekian lama.
Karina mendekap jemari tangan suaminya yang menempel di pipinya seolah enggan jika jemari tangan itu dipindah. Dia memang merindukan sentuhan suaminya ini. Bahkan dia tak berani mengungkapkannya kerinduan serta keinginannya untuk bertemu dengan istrinya karena papanya tidak mengizinkan.
"Aku pun juga merindukanmu. Aku juga ingin bertemu denganmu mas." Bisik Karina memejamkan matanya merasakan sensasi sentuhan lembut suaminya yang jemarinya digerakkan Karina lembut di pipinya yang otomatis membuat Johan merasakan hatinya menghangat bahagia.
Cup
Kecupan di kening Karina sedikit lama membuat hati Karina lagi-lagi menghangat bahagia. Dia bersyukur mendapatkan sentuhan lembut itu lagi dari suaminya. Padahal dia tak berani menginginkan karena mengingat peringatan papanya.
Aku tidak akan mengizinkan kalian bersama.
Suara papanya kembali terngiang dan sontak membuat Karina tertegun sesaat membayangkan apa yang dilakukan suaminya datang kemari takutnya akan membuat papanya marah dan mungkin saja mereka akan dipaksa berpisah lagi.
"Mas."
"Ya?"
"Bagaimana mas bisa kesini? Papa? Papa pasti akan marah melihatmu disini menemuiku." Ucap Karina panik membuat Johan tersenyum bahagia mendengar kecemasan istrinya padanya dan hal itu membuat Karina menatap aneh pada suaminya.
"Mas, bawa aku pergi mas! Ayo kita pergi! Bagaimana pun setelah menikah aku adalah milik suamiku. Dan aku akan ikut kemanapun kamu pergi mas. Ayo pergi bawa aku mas!" Ucap Karina antusias dengan cemas dan panik. Johan tersenyum lagi dan meraih Karina masuk ke dalam dekapannya.
"Tidak usah cemas."
"Tapi papa..."
"Papa yang memberi tahuku kamu disini." Ucap Johan membuat Karina terdiam masih mencerna ucapan suaminya. Dia masih lemot karena panik. Otaknya langsung loading saat mengingat kata suaminya menyebutkan papa. Dan itu bukanlah papa Johan yang diketahuinya sudah lama meninggal.
*Kalau bukan papanya apa itu maksudnya papanya, dokter Nathan?
Tunggu! Mas Johan menyebut papa, apa itu artinya papanya sudah merestui mereka dan menerima suaminya sebagai menantunya. Dan mereka tidak akan terpisahkan lagi kan*?
"Maksud mas papa?" Meski begitu Karina memilih untuk bertanya lagi tak mau salah paham sendiri.
"Papamu sayang, ayah mertua. Beliau yang memberi tahu dimana kamu berada." Jawab Johan lagi seolah tahu apa yang didengar istrinya tak percaya karena bagaimana pun papa mertuanya membuat mereka terpisah seperti ini.
"Alhamdulillah... wa syukurilah. Benar itu mas?" Tanya Karina terlihat raut wajah bahagia menatap Johan antusias.
"Iya sayang." Jawab Johan dengan anggukan kepala yakin.
"Alhamdulillah." Karina pun menghambur memeluk suaminya erat. Seolah bebannya selama ini terangkat sudah. Perasaannya bergejolak bahagia merasa senang.
.
.
.