
Hari ini Celine akan mencoba cara ekstrim untuk merayu bosnya seperti keinginan Ambar juga. Entah berhasil atau tidak, jika kali ini dia berhasil dia akan membuat dia bertekuk lutut padanya meski harus menghalalkan segala cara.
Celine sudah bersiap untuk makan malam di mansion Ambar bersama dengan putrinya. Dan tentu saja Ambar juga mengundang putranya itu meski awalnya menolak. Akhirnya Johan mengiyakan undangan makan malam ibunya meski dia tahu maksud ibunya untuk pulang ke mansionnya.
Pikirannya masih melanglang buana saat melihat wanita berhijab yang diyakini adalah istrinya dan yang membuatnya tak habis pikir. Istriku dipeluk oleh pria lain. Johan ingin mengejar namun dia sudah kehilangan mobil itu. Sejak pulang dari restoran dia tidak terlihat bersemangat, bahkan pembahasan tentang meeting proyek sama sekali tidak masuk dalam otaknya yang berkelana jauh memikirkan istrinya.
Apa yang ibu katakan itu benar? Istrinya bahagia dengan pria lain? Kumohon semoga yang kulihat salah ya Allah. Aku masih mencintaimu sayang. Batin Johan berkecamuk antara percaya dan tidak percaya. Istrinya sejak dulu selalu menjaga jarak dan hatinya untuk pria lain manapun. Bahkan sebelum menjadi istrinya dia benar-benar menjaga pandangannya pada dirinya yang notabene adalah adik iparnya.
Dan tadi, dia memergoki istrinya dipeluk pria lain.
Apa istriku benar-benar sudah melupakanku? Batin Johan membuat Edo menggeleng, melihat tuannya tidak konsentrasi pada meeting.
"Tuan." Panggilan Edo sekali belum dijawab oleh Johan.
Semua orang yang berada di ruang meeting yang terdiri dari bawahannya mulai bisik-bisik membicarakan direkturnya yang terlihat melamun dengan tatapan mata sendu, namun masih terlihat datar dan dingin.
"Tuan." Johan masih tak bergeming.
"Tuan."
"Eh? Ya?" Johan baru menjawab setelah ketiga kalinya Edo memanggilnya membuat Johan tersentak kaget bagai orang linglung. Dan dia pun baru sadar kalau dia sedang memimpin meeting membuat Johan merasa bersalah dan menatap semua orang yang juga menatapnya.
"Meeting kita lanjutkan besok!" Ucap Johan mengakhiri meeting yang belum diputuskan membuat semua orang bubar saat Johan sudah berdiri dari duduknya dan keluar dari ruang meeting.
"Ada apa tuan?" Tanya Edo merasa cemas.
"Tidak." Jawab Johan terus melanjutkan langkahnya menuju ruangannya.
.
.
"Nona Celine!" Panggil Edo saat melihat Celine sedang membersihkan meja kerjanya bersiap untuk pulang.
"Ya?" Jawab Celine mendongak menatap Edo yang muncul di hadapannya dengan wajah cemas.
"Bisa minta tolong?" Pinta Edo penuh harap dengan raut wajah yang masih terlihat cemas.
"Tentu." Jawab Celine yakin.
"Bisa jemput direktur?" Edo sambil melirik jam tangannya kembali menatap Celine lagi. "Ada meeting yang harus saya hadiri? Bisa kau jemput direktur di club XX?" Pinta Edo kembali melirik jam tangannya terlihat tergesa.
Sebenarnya Edo terpaksa minta tolong pada Celine. Dia sudah menghubungi Riko tapi tidak tersambung entah kemana dia. Dan meeting yang harus dihadirinya ini adalah meeting bernilai milyaran. Dan Johan sang direktur tidak bisa datang dan tidak mungkin dibatalkan. Dan syukurnya Edo bisa mewakilinya tanpa harus dibatalkan.
"Tentu tuan." Jawab Celine menganggukkan kepalanya sopan dan tak ada yang menyadari senyum smirk terukir di bibirnya.
Bukankah ini kesempatan? Seolah Tuhan membantunya dengan memberi jalan untuk memuluskan jalannya. Batin Celine semakin menunjukkan senyum seringainya melihat Edo menjauh meninggalkan lantai ruang direkturnya.
"Kau akan menjadi milikku." Bisik Celine lirih.
.
.
Satu jam kemudian Celine tiba dengan taksi di depan club XX sesuai yang dikatakan Edo. Dia pun berjalan menuju gedung dengan lampu kerlap kerlip tersebut. Seolah dia sudah terbiasa memasuki tempat haram itu. Godaan dari para lelaki hidung belang yang mencoba merayunya tak dihiraukannya meski dia terlihat biasa. Karena memang keseharian Celine tidak asing dengan yang namanya club malam.
Celine menatap sekeliling ruang club lantai satu yang terlihat remang dengan suara hingar bingar musik disco tidak membuatnya patah arang untuk mencari seseorang yang diincarnya. Hingga akhirnya menemukan sosok yang dicarinya sedang mabuk dan digoda beberapa wanita ja*lang yang mulai menggerayangi tubuhnya.
Tentu saja hal itu membuat Celine marah, dia saja sulit untuk menyentuhnya langsung bagaimana bisa wanita-wanita ja*lang itu berani menyentuh incarannya. Celine segera bergegas dan langsung menghentak kencang tangan dua wanita ja*lang yang memakai pakaian kurang bahan itu.
"Dia milikku." Klaim Celine menatap kedua wanita itu garang, tentu saja siapapun yang mengenal Celine merasa nyalinya menciut dan segera meninggalkannya dengan tatapan kesal. Siapa yang tidak mau pada pria seperti Johan yang memiliki tubuh nyaris sempurna meski terlihat datar dan dingin.
"Kenapa kau tak pulang sayang?" Guman Johan yang bisa didengar Celine.
"Tuan!" Panggil Celine yang hanya ditatap acuh oleh Johan yang sedang mabuk, terlihat wajahnya memerah karena mabuk kebanyakan minum alkohol.
"Mas." Bisik Celine sensual membuat tubuh Johan menegang sempurna merespon panggilan Celine membuat Celine ingin bersorak kegirangan namun tak mungkin dia lakukan.
"Mas." Panggil Celine lagi.
"Karin." Balas Johan lembut menoleh menatap Celine yang dikiranya istrinya yang telah kembali.
"Ya mas." Jawab Celine kesal meski tetap dengan nada lembut demi melancarkan rencananya. Johan sontak menangkup kedua pipi Celine menatap lekat wajah yang selalu membayanginya setiap saat setiap waktu.
"Sayang, kemana hijabmu? Kenapa kamu tak memakainya? Bukannya itu untuk menutup auratmu?" Ucap Johan diantara hingar bingar musik disco. Ucapan Johan seketika membuat Celine membeku. Dia pun merutuki kebodohannya karena mengingat kalau istri pria di hadapannya seorang wanita dengan berhijab syar'i yang tertutup.
"Aku... ingin melayanimu, makanya aku membukanya." Jawab Celine yakin tak kehabisan akal demi melancarkan rencananya.
"Benarkah? Kamu sudah sembuh? Kumohon, tetaplah di sisiku, jangan pergi lagi sayang!" Pinta Johan semakin melantur dengan angan-angannya, tak peduli siapa yang sebenarnya di hadapannya ini. Seketika Johan menoleh sekeliling membuat Celine tersentak kaget berharap Johan tak menyadari sesuatu karena mabuknya sangat parah.
"Ayo kita pergi! Banyak yang melihat tubuhmu. Kamu tidak boleh menunjukkan pada semua orang kecuali diriku. Kamu tahu?" Ucap Johan tentu saja tetap melantur seperti orang mabuk sambil menyampirkan jas kerjanya yang diletakkan di kursi sebelahnya duduk. Hingga dia berusaha berdiri dari duduknya dengan memapah Celine.
Namun seketika itu pula Johan langsung sempoyongan hendak jatuh karena dirinya mabuk. Seputus asa itu dirinya saat ini karena telah melihat istrinya tadi dipeluk pria lain membuatnya melarikan diri pergi ke club dan tanpa sengaja dia bertemu sahabatnya di tempat itu.
"Siapa kau?" Suara pria dari arah belakang yang menginterupsi Celine seketika membuatnya menegang. Karena saat itu Celine bersiap memapah Johan untuk segera pergi dari sana.
"Saya..." Celine merasa gagap seketika melihat seseorang bertanya padanya.
"Mau kau bawa kemana sahabatku?" Tanya pria itu terlihat mengintimidasi.
Tadinya dia tidak berminat untuk minum, karena dia kesana untuk menghadiri acara rekannya dan kebetulan melihat Johan sahabatnya yang biasanya anti terhadap minuman beralkohol membuat pria itu mengernyit melihat sahabatnya dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Apalagi sudah tersisa botol Vodka dengan kualitas alkohol hampir sembilan puluh empat persen alkohol. Tentu saja hal itu membuat pria itu tersentak kaget melihat sahabatnya sudah teler dan mabuk. Karena melihat keadaan sahabatnya tidak baik-baik saja membuat pria itu berinisiatif untuk mengantar pulang sahabatnya.
Dia belum mendengar tentang perginya istri sahabatnya itu. Dia hanya mengira istrinya sedang berobat karena pernah mendengar istri sahabatnya itu terkena kista di rahimnya.
Dia pun pergi untuk pamit pada rekannya untuk pamit namun tidak diizinkan. Dia pun menghubungi Edo melalui ponsel Johan dan Edo menyanggupinya dan dia pun hendak kembali ke meja Johan tiba-tiba seorang wanita sudah hendak memapahnya.
"Saya sekretaris tuan Johan. Saya diminta tuan Edo, asisten tuan Johan untuk menjemput beliau karena tuan Edo sedang menghadiri meeting penting yang tidak bisa diwakilkan." Jawab Celine lancar dengan dada berdegup kencang berharap pria di hadapannya percaya.
Pria itu terlihat memicing memindai wanita dihadapannya itu memastikan kalau yang dikatakan wanita itu benar.
"Siapa namamu?" Tanya pria itu akhirnya. Dia tahu nama sekretaris dan asisten Johan meski belum pernah bertemu.
Dan pertanyaan itu membuat Celine bertanya dalam hati masih dengan dada berdegup kencang karena kebohongan takut ketahuan.
"Celine." Ucap Celine spontan.
"Siapa aku?" Tanya pria itu lagi.
"Eh?" Tanya Celine masih tak paham dengan ucapan pria asing di hadapannya ini.
"Bukannya kau datang kesini untuk menjemputnya diminta Edo?" Tanya pria itu lagi menatap curiga.
"Ah iya, apa anda yang namanya dokter Ryan? Sahabat direktur kami?" Jawab Celine membuat pria yang ternyata dokter Ryan yang saat itu menemui rekannya yang juga disitu.
"Baiklah. Hati-hati bawanya? Kau bawa mobil?" Tanya dokter Ryan lagi yang terlihat cemas.
"Tidak. Tapi saya bisa menyetir. Saya bisa mengendarai mobil tuan kami nanti ." Bujuk Celine berharap semoga dokter Ryan segera pergi. Dokter Ryan terlihat terdiam sejenak kembali menatap Celine memindai tubuhnya.
"Baiklah. Bawa dia pulang, hati-hati!" Ucap dokter Ryan akhirnya karena saat itu bersamaan dia dipanggil rekannya yang lain membuat Celine menyeringai.
.
.
TBC