Turun Ranjang

Turun Ranjang
Bab 26


Anin sedang sibuk berkutat di dapur untuk menyiapkan makan siang untuk mereka berdua. Setelah pertempuran pagi kemarin Dimas dan Anin banyak menghabiskan waktu di kamar,  jangan tanya apa yang mereka lakukan karena Dimas melakukannya kembali dimalam hari hingga Anin dibuat kelelahan olehnya, jika Anin protes ia hanya bilang " saya sudah puasa begitu lama" alasan klise untuk Anin.


Anin yang mahir memasak langsung menyiapkan segala bahan-bahan, hari ini ia akan memasak menu special untuk suami tercintanya itu, Dimas yang menunggu di ruang tv akhirnya ikut terjun kedapur membantu Anin. Membantu Anin? Tidak lebih tepatnya menggoda Anin, Dasar Dimas!


"Mau masak apa " tanya Dimas melingkarkan tangannya di perut Anin.


"Rahasia, Mas duduk aja biar Anin masak dulu," ucap Anin melepaskan tangan Dimas di perutnya.


"Mas bantuin ya biar cepet selesai," ucap Dimas masih melingkarkan tangannya di perut Anin.


"Nggak gak boleh, yang ada bukannya bantuin tapi ngerecokin!" ucap Anin sambil mencuci sayuran


"Hmm yaudah, ehh Nin gimana kalau kita main di sini, Mas pernah nonton mereka bercinta di dapur," goda Dimas di telinga Anin.


"Mas, Dapur itu buat masak bukan dipake buat kawin!" protes Anin yang kemudian membalikan badannya menghadap Dimas.


"Ya gapapa kan coba-coba lebih hot kayaknya nanti kita beresin dapurnya," ucap Dimas masih melingkarkan tangannya.


"Mas kenapa jadi otak mesum gini sih,  emaren udah dua kali kita ngelakuinnya, sekarang Anin mau masak dulu Mas mending duduk aja nonton tv." ucap Anin kemudian membalikan lagi badannya.


"Kalau istrinya cantik sama hot gini gimana gak tahan coba apalagi situasi mendukung harusnya kita tempur seminggu penuh," ucap Dimas.


Anin tak menjawab ucapan Dimas ia hanya fokus memasak tanpa menghiraukan Dimas dibelakangnya.  Tiba-tiba terbesit ide nakal di kepala Dimas untuk menggoda Anin, sepertinya memang benar otak Dimas sudah dipenuhi adegan mesum bersama Anin hingga rasanya ia tak mau melewatkan kesempatan bersama Anin, Anin seperti Magnet yang menariknya hingga membuatnya ingin terus menempel di badan Anin tentunya.


Dimas mendekatkan badannya dibelakang Anin, ia menghembuskan nafasnya di telinga Anin yang membuat Anin merasa geli, namun Anin tetap diam ia tahu Dimas sedang berusaha menggodanya. 


Tak habis akal Dimas terus meniup telinga Anin dan ia mencium teluk leher Anin yang membuat Anin merasakan geli Dimas benar-benar berusaha menggodanya. Anin masih berusaha santai meskipun sebenarnya ia menikmati sentuhan lembut Dimas yang membuatnya mabuk kepayang.


"Mas Dimas!" protes Anin.


"Apa?" tanya Dimas.


"Anin lagi masak ih, jangan ngegoda nanti masakannya gagal," ucap Anin.


" siapa yang ngegoda? Mas dari tadi diem," ucap Dimas acuh.


"Mas udah duduk sana kalau di gangguin gak bakalan selesai masaknya!" ucap Anin kesal.


"Tapi Mas mau kamu," ucap Dimas ditelinga Anin sambil memeluk Anin dari belakang.


Sontak suara lembut Dimas membuat sekujur tubuhnya merinding, tidak Anin tidak mau tergoda dengan Dimas hari ini ia sedang memasak dan bukankah sudah cukup kemarin mereka bermain berulang kali.


"Mas Anin capek, Anin mau masak aja ya," ucap Anin lembut.


"Dosa lho kalau nolak suami." ucap Dimas.


Anin memejamkan matanya mendengar jawaban Dimas,  benar-benar Dimas membuatnya ingin marah apakah kemarin tidak cukup baginya? Bukannya Anin tidak menikmati permainan kemarin ia sangat menikmatinya karena Dimas membuatnya klimaks tapi hari ini ia tak mau sibuk mandi keramas kembali karena Dimas.


"Oke-oke kayaknya masih capek,  yaudah besok aja," ucap Dimas melepas pelukannya.


"Mas bukan maksud Anin nolak, duhh gimana yaa Anin juga takut dosa," ucap Anin mengigit ibu jarinya.


"Sudah Anin gapapa, Mas tadi bercanda aja, udah kamu lanjut masak." ucap Dimas tersenyum.


Anin menatap wajah Dimas yang tersenyum ke arahnya yang membuatnya merasa tak enak juga karena sudah menolak suaminya, meskipun ia bilang hanya bercanda namun ia bisa melihat wajah Dimas yang sedikit kecewa.


Tanpa berpikir lama Anin mendekatkan wajahnya pada Dimas dan sedetik kemudian Anin mencium bibir Dimas dengan lembut, Dimas yang terkejut dengan tingkah Anin tak mau melewatkan kesempatan ia membalas ciuman Anin dengan lebih dalam sambil menarik punggung Anin hingga beberapa menit keduanya melepaskan ciuman mereka.


"Maafin Anin." ucap Anin.


"Sudah gapapa, kamu masak dulu Mas udah lapar," ucap Dimas kemudian mengelus puncak kepala Anin.


Anin mengangguk sambil melanjutkan aktivitas memasaknya yang sempat tertunda karena gangguan dari Dimas. Sedangkan Dimas kembali duduk diruang tv menunggu masakan Anin selesai dimasak.


*-*-*-*-*


Malam ini Dimas mengajak Anin pergi berjalan-jalan keliling Bandung, mereka tidak pernah menghabiskan waktu berdua seperti ini sejak menikah. karena Dimas sibuk bekerja di kantor dan Anin juga sibuk mengurus Afifa, ia tahu pernikahan mereka sudah mendapat bonus Afifa yang menjadi pusat perhatian utamanya dan Anin juga sangat bertanggung jawab mengurus anak alm.kakaknya itu.


Setelah selesai berkeliling alun-alun Bandung, Dimas dan Anin berhenti di depan tukang dagang Bakso favorit Dimas, biasanya ia sering kesini bersama Gilang dan Rendra, ahh sudah lama Dimas merindukan berkumpul dengan kedua sahabat karibnya itu sayangnya sekarang hanya Rendra yang bisa ia temui karena Gilang sepertinya masih menahan rasa kesalnya terhadap Dimas, mereka sudah putus kontak.


"Kamu mau Bakso gak?" tanya Dimas masih duduk di motor.


"Boleh, udah lama Anin gak makan bakso," jawab Anin membuka helmnya.


"Udah lama gak makan bakso?  Perasaan dua hari yang lalu beli bakso yang lewat di depan rumah," ucap Dimas meledek.


"Itu bakso malang ih beda!"


"Sama aja sayang, yaudah Mas pesenin kita makan di sini aja ya." ucap Dimas turun dari motor dan melepas helmnya.


Anin hanya tersenyum sambil menunggu Dimas memesan bakso, ia melihat Dimas yang berbincang dengan Mang tukang bakso yang tampak akrab dengannya.


Anin hanya tersenyum meledek pantas saja Dimas memberhentikan motornya di depan tukang bakso ternyata ia mencari makanan yang tidak terlalu mahal dan ia kebetulan ia akrab dengan tukang dagangnya.


Pikir Anin saat Dimas mengajaknya berjalan keluar ia akan mengajaknya pergi berkencan seperti pasang-pasangan lainnya, makan malam direstoran dengan lagu romantis dan lilin yang menyala dan memberi setangkai mawar merah.


Anin hanya berharap lebih atau terlalu banyak menonton drama korea, memangnya mereka adalah sepasang kekasih? Mereka pasangan orangtua yang sedang menikmati waktu berdua karena anak mereka sedang menginap di rumah neneknya. Anin harus mencatat kata itu sepetinya.


"Anin kenapa melamun? Baksonya udah selesai dibuat tuh," ucap Dimas membuyarkan lamunan Anin.


"Eh iya Mas maaf," ucap Anin tersadar kemudian membuka helm dan turun dari motor Dimas.


Mereka berdua menikmati semangkok bakso dengan lahap terutama Dimas yang tampak sangat menikmati bahkan ia meminta menambah baksonya kembali.


Satu hal yang Anin tahu dari Dimas meskipun ia dulunya orang kaya dan bos besar namun ia tetap mencintai kesederhanaan bahkan ia tak malu untuk makan di pinggir jalan seperti ini, Anin salut dengan Dimas makanya ia percaya meskipun sekarang Dimas tidak lagi mengurusi perusahaan namun Anin bersyukur karena Dimas bukan sosok pria arogan dengan kesombongan. Ia berharap Tuhan dapat membalikan lagi keadaannya ia semoga saja karena Allah maha adil.


Selesai makan mereka memilih untuk kembali kerumah karena udara malam makin terasa dingin. sebelum pulang mereka membeli sekoteng yang mangkal di depan komplek. Kini Anin yang memilih turun untuk memesan dan Dimas yang duduk di motor menunggunya.


"Mang beli 2 ya di bungkus," pesan Anin.


Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Anin dengan pelan dan membuat Anin terkejut, sontak ia menengok kebelakang ia pikir yang menepuknya adalah Dimas.


"A'Gilang?" ucap Anin terkejut.


"Eh iya, a'Gilang beli juga? " tanya Anin


"Iya saya sering beli sekoteng,eh iya apa kabar udah lama gak ketemu ya" ucap Gilang menyodorkan tangannya.


"Alhamdulillah baik a, iya a'Gilang hilang kayak di telan bumi sih," ucap Anin menyalami Gilang.


"Hehe iya lagi ada kerjaan yang harus diurusin juga sih, kamu ke sini sendirian?" tanya Gilang.


"Enggak sama Mas Dimas lagi nunggu di motor." ucap Anin yang kemudian membayar pesanannya.


"Oh iya-iya" ucap Gilang tersenyum kecil sambil menatap ke arah Dimas yang menatap ke arah jalan dan memunggungi mereka.


"Mas Dimas." teriak Anin yang sontak membuat Dimas membalikan badan ke arahnya.


"A'Gilang itu Mas Dimas," ucap Anin kemudian mengajak Gilang mendekati Dimas.


Dimas yang terkejut saat melihat Anin bersama Gilang, dengan perasaan tak karuan karena mereka baru bertemu kembali, Dimas mencoba bersikap ramah meskipun ia tahu hubungannya dengan Gilang belum membaik karena Gilang yang menghilang juga memblokir nomornya setelah bangku hantam beberapa bulan lalu. 


"Apa kabar?" tanya Gilang menyodorkan tangannya.


"Sehat." jawabDimas singkat menerima jabatan Gilang.


"Kalian udah lama gak ketemu juga?" tanya Anin.


"Lumayan." ucap Gilang tersenyum canggung pada Anin.


Anin menatap Gilang dan Dimas bergantian, sepertinya keduanya sangat canggung bahkan keduanya sama-sama membungkam sangat berbeda dengan dulu yang sering Anin lihat mereka berdua sering tertawa lepas dengan guyonan dan obrolan.


Anin melihat Gilang yang kini nampak lebih berisi dengan otot kekar yang tampak jelas terlihat di baju kaos yang ia kenakan, gaya rambutnya sekarang lebih rapih ditambah kumis tipis dan brewok yang tumbuh membuatnya sedikit pangling karena Gilang berpenampilan begitu menarik dan tampan, hanya saja tubuhnya tidak seputih dulu mungkin karena ia sering berjemur di bawah sinar matahari.


"A'Gilang mau mampir?" tanya Anin.


"Kapan-kapan mungkin, sekarang saya harus pulang," ucap Gilang.


"Kalau gitu nanti mampir ajak a Rendra juga ya kalian udah lama jarang lihat kumpul bertiga." ucap Anin tersenyum pada Gilang.


Gilang menangguk dan membalas senyum Anin, Dimas hanya memasukan tangannya ke dalam saku tanpa memberikan ekspresi apapun pada keduanya, dirasa hatinya ia masih merasakan sedikit kecewa juga dan merasa bersalah karena ia tak pernah tahu kalau Gilang selama ini menyukai Anin dan sekarang terlihat keduanya sedang melontarkan senyum, mungkin jika Kirana masih hidup apakah Gilang bersama Anin dan mereka menikah?


"Kalau gitu saya pulang dulu Nin,  Dim gue balik," pamit Gilang.


"Oke hati-hati" jawab Anin.


Anin menatap punggung Gilang yang sudah berjalan jauh dari mereka,  sedangkan Dimas ia masih dihantui rasa bersalah namun apalagi mereka belum berdamai sampai saat ini, karena ini pertemuan pertama mereka kembali meskipun beberap hari yang lalu Dimas melihat Gilang namun mereka belum bertatap muka secara langsung seperti saat ini.


"Mas kenapa melamun, ayo kita pulang," ajak Anin yang langsung menaiki motor Dimas.


"Udah dibayar sekotengnya?" tanya Dimas.


"Udah Mas, Anin gak pikun kok." ucap Anin kemudian melingkarkan tangannya diperut Dimas.


Dimas tersenyum kecil ke arah Anin meskipun perasaan hatinya menjadi tak enak sejak bertemu kembali dengan Gilang, apalagi Anin tak tahu menahu tentang masalah yang mereka berdua hadapi kalaupun tahu mungkin Anin akan merasa paling bersalah dan ia tidak mau itu terjadi karena sekarang Dimas sudah mencintai Anin.


*-*-*-*-*


Dimas dan Anin menikmati sekoteng yang mereka beli tanpa percakapan apapun, bahkan Dimas sejak pulang tadi tak banyak bicara ia hanya terdiam sambil mengunyah isi sekoteng yang masih hangat itu.


"Mas kenapa? Sekotengnya gak enak ya?" tanya Anin.


"Enak, kayaknya Mas udah kenyang," ucap Dimas kemudian menaruh sekotengnya di meja.


"Mas sama a'Gilang lagi ada masalah" tanya Anin tiba-tiba.


"Enggak gak ada apa-apa,"


"Sebenernya Anin gak tahu apa yang terjadi sama kalian berdua, kelihatan dari sorot mata kalian berdua kayak canggung gitu, kalian berantem ya?"


"Enggak Anin kita gak berantem, Mas tadi cuman kaget aja karena udah lama ketemu dia," elak Dimas.


"Beberapa minggu yang lalu a'Gilang telepon Anin, dan dia juga minta maaf karena gak bisa dateng dinikahan kita." ucap Anin.


"Dia telepon kamu?" tanya Dimas.


"Iya, Mas Dimas masih sering kontekan kan sama dia? Tapi dia ganti nomor juga sih soalnya teleponnya pakai nomor baru," ucap Anin.


"Dia bilang apa?"


"Cuman tanya kabar aja sama katanya ingin main ke rumah, tapi tadi pas ketemu diajak main ke rumah malah nolak aneh," ucap Anin.


"Kamu sering kontekan sama dia?" tanya Dimas serius.


"Enggak, cuman telepon sekali itu aja terus gak ada lagi, Anin juga gak berani mau telepon dia lagian sekarang Anin udah nikah gak baik kan kalau telepon sama lelaki lain tanpa izin suami," ucap Anin.


"Kalau kamu mau kontekan sama Gilang Mas gak larang, asal jangan berlebihan." ucap Dimas.


"Mas tahu tentang a'Gilang?" tanya Anin.


"Lumayan, kita sahabat dari SMA jadi lumayan tahu, memang kenapa?" tanya Dimas.


"Anin baru ketemu lagi sama a'Gilang dia kelihatan beda banget, lebih berisi juga tapi alhamdulillah sih dia sehat, Anin pikir dia bakalan marah dan benci sama Anin tapi tadi dia nyapa Anin," ucap Anin.


"Kenapa mesti marah dan benci?"


"Anin belum cerita ya, waktu Mas ngelamar Anin dia ngajak Anin ketemuan di Caffe dan dia tanyain tentang kita yang mau nikah dan pas Anin jawab dia tiba-tiba berubah jadi dingin,  a'Gilang juga langsung pergi padahal Anin belum selesai makan." ucap Anin yang kemudian menikmati sekotengnya kembali.


Dimas yang mendengar penuturan Anin pun merasa khawatir dan makin tidak enak hati, karena setelah lamaran itu Gilang mengajak bertemu dan terjadilah baku hatam diantara mereka berdua. 


Tidak ada maksud Dimas untuk merebut Anin dari Gilang karena mereka berdua belum menjalin hubungan hanya saja ia tahu Gilang sudah mendekati Anin dua tahun sebelum Kirana meninggal dan iapun tahu Gilang tulus mencintai Anin dan berharap lebih, namun Dimas juga tak bisa berbuat apa-apa karena Alm istrinya yang meminta agar mereka menikah bukan Dimas yang ingin mengambil Anin tapi takdir yang memintanya.


Dan kini entah mengapa sejak Gilang muncul kembali rasa hatinya takut,  apalagi Gilang dan Anin masih terlihat akrab ia takut Anin direbut Gilang meskipun tidak mungkin,  hanya ia tahu kini Gilang bukan lagi sahabat karibnya dan bisa saja ia berbuat nekat untuk kembali mendapatkan Anin.