Turun Ranjang

Turun Ranjang
Chapter 147


"Apa papa mengatakan sesuatu bi?" Tanya Ivan setelah meminta putrinya untuk istirahat di kamar dan terpaksa mengizinkan Alicia juga menemani putrinya.


"Ah, tuan besar membatalkan makan malam keluarga hari ini tuan, ada keperluan mendesak sekarang. Jadi dia meminta semua putranya untuk tetap menginap disini. Makan malam akan diganti besok, juga sarapan bersama besok pagi." Jelas maid yang bertanggung jawab di mansion dokter Nathan. Ivan terdiam, dia sudah tidak melihat papanya dua minggu ini, katanya sedang mengurus sesuatu yang penting. Itulah sebabnya dia diminta untuk menjaga adiknya pasca kesembuhannya berharap tak ada yang mengganggu pikiran adiknya itu.


Dan dokter Nathan juga mengizinkan putra sulungnya itu untuk sementara waktu tidak bekerja mengurus rumah sakit selama menjaga adiknya.


"Okay." Jawab Ivan meninggalkan dapur meraih ponselnya berniat menghubungi papanya. Namun sudah dicoba tiga kali ponsel papanya tidak aktif membuat Ivan mengernyitkan keningnya bingung dan bertanya-tanya.


"Papa." Panggilan putrinya membuat Ivan meletakkan ponselnya di meja dan menghampiri putrinya yang diikuti Alicia di belakangnya juga sudah mandi dan berganti pakaian. Dan entah dari mana dia mendapatkan pakaian ganti itu. Ivan tak mau memikirkannya.


"Sudah cantik putri papa." Ivan mendekati putrinya dan menggendongnya ke meja makan untuk mulai makan malam.


"Kak." Panggilan Ryan membuat Ivan berbalik menatap dokter Ryan menuruni tangga bersama istrinya. Putrinya bersama dengan pengasuhnya.


"Katanya makan malam batal karena papa ada urusan mendadak?" Tanya Ryan berjalan menuruni tangga sambil menggandeng jemari tangan istrinya mesra.


"Hmm."


"Padahal aku sudah membatalkan janjiku dengan dokter lain untuk acara di club." Ucap Ryan lagi.


"Kau bisa pergi setelah makan malam. Papa mau kau tetap disini, besok pagi mungkin papa pulang." Ucap Ivan.


"Baiklah. Terima kasih kak." Jawab Ryan tersenyum sumringah.


.


.


"Kita jadi pergi?" Tanya Reva istri Ryan yang sudah bersiap duduk di dalam mobil.


"Tentu saja." Jawab Ryan enteng mulai menyalakan mobil.


Tak sampai satu jam, mobil mereka berhenti di club XX tempat mereka janji dengan para dokter di rumah sakit kota. Mungkin merayakan keberhasilan operasi yang dilakukan tim dokter dan mengajak mereka bersenang-senang di club.


"Kau datang?" Ucap para dokter dan beberapa perawat juga mengenal mereka.


"Iya, acara makan malam keluarga di tunda besok." Jawab Ryan dan istrinya duduk di kursi kosong dan mulai bersenang-senang.


.


.


"Hei, bukannya itu dokter Johan?" Ucap salah satu dari mereka saat melihat seorang pria mabuk sendirian dengan digoda wanita ja*lang yang ada di club itu. Ryan yang mendengar hal itu sontak menoleh ke arah rekannya menunjuk. Ryan tersentak kaget melihat sahabatnya sudah terkulai lemah mabuk di meja bar dekat barista.


"Aku akan kesana!" Jawab Ryan membuat semua orang mengiyakan.


"Hai." Sapa Ryan menepuk pundaknya. Johan yang sudah mabuk menoleh menatap wajah di sampingnya yang menyapanya itu. Ryan tak percaya kalau sahabatnya mabuk-mabukan seperti ini. Setahunya setelah dia menikah Johan paling anti dengan minuman keras karena istrinya seorang wanita berhijab syar'i. Namun sepertinya berita tentang istrinya yang pergi darinya itu benar.


Dan mungkin hari ini adalah hari dimana hati Johan sudah meledak karena rasa sakit setelah ditinggalkan istrinya. Padahal saat masa jatuhnya ditinggal istrinya, Johan tetap bertahan untuk tidak minum-minuman beralkohol. Tapi sekarang, Ryan merasa kasihan dengan sahabatnya itu.


"Kau baik-baik saja kawan?" Tanya Ryan meski dia tahu Johan tak akan menjawabnya karena sudah terlalu mabuk.


"Hmm."


"Kau tahu minuman beralkohol tidak baik untuk tubuh kan?" Tanya Ryan.


"Kau tidak takut, hal ini justru akan membuat istrimu enggan kembali padamu?"


"Hahaha..." Tawa Johan terdengar getir membuat Ryan merasa kasihan, dia tahu benar bagaimana perasaan sahabatnya itu pada istrinya. Bahkan dia sudah berusaha melupakan istrinya saat dulu masih menjadi kakak iparnya. Dia berusaha menahan perasaan cintanya yang baru pertama kali dirasakan dalam hidupnya meski dulu sering bergonta-ganti pacar saat kuliah di luar negeri.


"Dia... bersama pria lain." Ucapan Johan mampu membuat Ryan tersentak.


"Kau yakin?" Johan menganggukkan kepalanya yakin dengan yang dilihatnya tadi.


"Mereka berpelukan." Ucap Johan lagi, tidak, bukan berpelukan tapi istrinya dipeluk oleh seseorang dari samping di dalam mobil.


"Kau mungkin salah mengenalinya?" Ucap Ryan mencoba menghibur.


"Aku... yakin dia...istriku..." Bisik Johan tertawa getir terus menenggak alkohol dalam gelas itu.


"Jangan minum lagi, kau mabuk!" Ryan mengambil gelas itu membuat Johan tiba-tiba tertelungkup di meja bar.


"Huff... Kasihan sekali kau kawan." Ryan meraih ponselnya menghubungi seseorang namun dia mengurungkan niatnya karena tak punya nomer ponsel asisten Johan. Kemudian Ryan merogoh saku Johan mengambil ponselnya.


"Ya tuan." Suara pria si seberang menjawab panggilannya.


"Edo, benar?" Tanya Ryan.


"Ya? Anda siapa? Kenapa ponsel tuan saya anda pegang?" Tanya Edo cemas.


"Tuanmu sedang mabuk. Dia ada di club XX. Aku tak bisa mengantarnya karena bersama istriku. Aku teman Johan, dokter Ryan. Kami bertemu disini." Ucap Ryan yang diiyakan oleh Edo akan segera menjemputnya.


Ryan menatap Johan yang sudah tidak sadarkan diri karena mabuk. Kehilangan wanita yang dicintainya membuat Johan seperti orang lain yang kehilangan separuh jiwanya.


"Semoga kau cepat menemukan istrimu. Dan menyelesaikan masalah kalian." Guman Ryan meninggalkan Johan sebentar menuju meja istri dan rekan-rekannya.


Hingga dia melihat Johan hendak dipapah oleh seorang wanita membuat Ryan mengernyit dan bergegas menghampiri Johan mencegah untuk tidak dibawa pergi oleh seorang wanita ja*lang mungkin.


"Kau siapa?" Tanya Ryan membuat wanita yang hendak membopong tubuh Johan pergi. Ryan menilik pakaian wanita itu tidak seperti ja*lang di club ini. Malah seperti seorang wanita pekerja seperti seorang sekretaris mungkin?


"Saya Celine. Saya sekretaris tuan Johan. Tuan Edo sedang meeting, jadi saya yang menggantikannya." Jawab wanita yang bernama Celine itu terlihat gugup.


"Siapa aku?" Tanya Ryan membuat Celine mengernyit bingung.


"Eh?"


"Anda dokter Ryan kan? Teman tuan Johan yang menelpon tadi?" Jelas Celine membuat Ryan pun mempercayakan Johan pada Celine.


"Baiklah. Aku akan membantumu." Tawar Ryan yang diangguki Celine.


Hingga akhirnya Celine melajukan mobil Johan menuju rumah tuannya. Senyum smirk tak henti-hentinya terukir di bibirnya.


Seperti keberuntungan ada di pihakku. Tanpa susah payah menyusun rencana membuatku mudah mendapatkannya. Dan aku tidak akan melewatkan malam ini. Batin Celine tersenyum seringai.


.


.


TBC