
"Ada yang anda butuhkan lagi nona?" Tanya maid yang melayani Karina di villa Sangrila.
"Tidak bi terima kasih. Aku sudah mulai kenyang." Jawab Karina sambil tersenyum sopan dengan tangan memegangi perutnya yang merasa kekenyangan padahal dia tidak pernah makan banyak seperti itu.
"Katakan kalau nona ingin makan apa, saya akan berusaha menyiapkannya non!" Tawar bibi maid tersenyum bahagia melihat nona yang dilayaninya begitu baik dan sopan padanya meski dirinya hanyalah seorang pelayan.
"Iya bi. Tapi..." Ucap Karina menjeda ucapannya ragu untuk mengatakannya.
"Apa nona?"
"Entah kenapa akhir-akhir ini makanku banyak sekali juga tubuhku sedikit lebih berisi." Curhat Karina terdengar mirip keluhan tapi dia berusaha untuk tetap tersenyum bahagia.
Deg
Bibi maid tersenyum salah tingkah mendengar curahan hati sang nona yang dilayaninya. Ingin sekali mulutnya itu bicara kalau nona hamil, tapi semua kata-katanya hanya mampu ditelan kembali tanpa mampu diucapkannya. Tapi pesan tuan besarnya terngiang terus di benaknya.
"Yang penting sehat non." Nasehat bibi maid yang bingung harus mengatakan apa.
"Iya bi." Jawab Karina tersenyum sambil menyeruput teh manis teman minum camilannya.
Ting tong
Suara bel pintu villa berbunyi, keduanya sontak saling menatap karena villa tempat Karina berada sekarang jarang ada tamu datang selain para pekerja di villa tersebut atau paling tidak papa Karina. Dan tentu saja semua orang itu tidak perlu menekan bel pintu. Dan sekarang bel pintu berdenting tanda ada tamu yang datang.
"Biar saya lihat non, non lanjutkan makannya saja." Karina menganggukkan kepalanya karena dia masih baru saja meneguk teh hangatnya.
.
.
.
"Dia benar-benar ada disini kan?" Tanya Johan untuk kesekian kalinya karena dia masih tidak percaya akan segera bertemu dengan istrinya.
Hampir sebulan lebih mereka dipisahkan dan selama itu pula Johan dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Selain karena kondisi mual dan muntahnya yang diduga karena kehamilan simpatik. Johan juga tidak bersemangat untuk makan dan tidur dengan baik. Sungguh istrinya berperan penuh pada kehidupannya. Tak ada istrinya dirinya bagai hidup tanpa jiwanya.
"Mau bicara berapa kali kamu dengan pertanyaan yang sama?" Jawab Ryan kesal menatap sahabatnya itu.
Dia tahu kalau sahabatnya itu sedang bahagia. Dulu lebih dari satu tahun dia dipisahkan dan sekarang lebih dari satu bulan dia dipisahkan lagi. Pasti dia setengah percaya akan bertemu lagi dengan istrinya apalagi dalam keadaan hamil anak mereka yang mereka tunggu selama pernikahan mereka.
"Aku takut ini semua hanya mimpi." Jawab Johan membuat Ryan memutar bola matanya jengah karena setiap pertanyaan yang diajukan Ryan jawaban Johan selalu sama dan seperti itu lagi.
"Ayo!" Ryan mendorong tubuh Johan yang sejak tadi hanya diam di depan pintu villa ragu untuk menekan bel pintu.
"Sebentar! Bagaimana denganku? Apa aku masih terlihat tampan dan rapi? Aku tak mau membuat istriku kecewa dengan penampilanku setelah sebulan ini berpisah." Ucap Johan dengan nada gugup dan tubuh sedikit gemetar karena bahagia yang hendak meluap.
"Kau akan tetap tampan dan rapi meski semrawut apapun keadaanmu jika itu Dimata istrimu. Wanita yang mencintaimu." Jawab Ryan asal sambil menekan bel pintu yang langsung ditarik Johan cepat karena dia menginginkan untuk menekan bel nya.
"Biar aku saja!" Ucap Johan semangat setelah menghembuskan nafas panjang.
Cklek
"Ah." Wajah Johan terlihat kecewa karena bukan istrinya yang muncul namun bibi maid langsung mengenali Ryan yang masih majikannya di mansion utama.
"Tuan muda." Sapa bibi maid.
"Apa kabar bi?" Sapa balik Ryan basa-basi dengan senyum manisnya.
"Baik tuan. Anda..." Bibi maid tersenyum pada Ryan dan beralih menatap Johan yang terdiam seolah merasakan kekecewaan. Johan hanya diam berdoa semoga ayah mertuanya tidak sedang berbohong padanya.
"Mbak Karin ada bi?" Tanya Ryan langsung karena Johan seperti tak segera menjawab.
"Ada tuan muda. Mari masuk! Silahkan!" Ucap bibi maid membuka pintu lebar meminta Ryan dan Johan masuk. Mendengar ucapan bibi maid kalau istrinya ada membuat senyum Johan kembali melebar dan langsung masuk dengan antusias.
"Beliau sedang makan tuan..."
"Johan. Dia suami mbk Karin bi, bibi baru lihat ya?" Ryan yang menjawabnya karena Johan hanya diam membisu karena merasa bahagia bisa bertemu dengan istrinya dan ayah mertuanya benar-benar tak membohonginya.
"Biarkan dia masuk bi, antar dimana mbak Karin berada. Mbak Karin kan sedang hamil harus banyak-banyak istirahat kan?" Ucap Ryan membuat senyum Johan semakin lebar.
"Baik tuan muda. Beliau ada di meja makan." Jawab bibi diikuti Johan yang masih terdiam tapi senyumannya terus melebar karena bahagia. Dia hanya mengangguk-angguk antusias.
"Kalau begitu aku pulang." Pamit Ryan membuat Johan sontak berbalik menatap Ryan.
"Tapi..."
"Aku tak mau melihat kalian mesra-mesraan, aku juga merindukan istriku yang lama kutinggal karena mengurusmu." Sarkas Ryan yang kembali mengatupkan mulutnya karena tak bisa mengelak apa yang diucapkan Ryan itu benar.
"Terima kasih." Ryan hanya melambaikan tangannya tanpa membalikkan tubuhnya pergi meninggalkan villa Sangrila.
.
.
.
"Dimana non Karin San?" Tanya bibi maid pada rekan maidnya yang lebih muda.
"Beliau kembali ke kamar bi, katanya mengantuk karena kekenyangan." Jawab maid yang bernama Santi itu.
"Aku akan kesana sendiri. Dimana kamarnya?" Tanya Johan inisiatif.
"Oh baiklah tuan muda... dekat tangga sebelah kanan. Pintu pertama." Jawab bibi maid.
"Terima kasih bi." Jawab Johan tersenyum bahagia membuat bibi balas tersenyum karena melihat kedua pasangan akhirnya bersatu. Itu artinya hati tuan besarnya sudah merestui keduanya karena bibi maid tahu bagaimana cerita mereka.
Tok tok tok
Pintu kamar Karina diketuk padahal dia hampir saja hendak memejamkan matanya karena mengantuk. Entah kenapa Karina juga sering sekali mengantuk apalagi setelah makan dengan kenyang.
"Siapa?" Guman Karina berdiri dari ranjang sembari memakai hijab instannya.
Cklek
Keduanya terdiam seolah tidak percaya dengan apa yang berdiri di depan mereka.
"Mas Johan." Karina yang pertama mengeluarkan suaranya sambil menutup mulutnya tak percaya kalau suaminya sekarang berada di depannya.
"Sayang." Ucap Johan segera meraih istrinya kedalam pelukannya.
"Aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu." Guman Johan dalam pelukan istrinya.
"Hiks...hiks... a-aku juga mas, aku sangat merindukanmu... hiks...hiks..." Isak tangis Karina terdengar tenggelam dalam pelukan dada bidang suaminya.
Entah karena apa dia akhir-akhir sering kali menangis karena perasaannya yang sedikit sensitif. Dan Johan menyadari hal itu karena hormon kehamilannya. Meski bukan dokter kandungan, Johan tetaplah seorang dokter. Dia juga tahu arti kesensitifan seorang wanita hamil. Istrinya yang selalu kuat dan tersenyum sekarang menangis terisak-isak di dekapannya.
"Maaf... maafkan aku baru bisa menjemputmu sayang." Jawab Johan mengeratkan pelukannya seolah tak mau terpisahkan lagi bagaimana pun caranya.
"Hiks... hiks...hiks..." Karina hanya bisa menangis sesenggukan tanpa menjawab apapun.
.
.
.