
Di kamar Lila.
Sepasang suami istri ini sudah merebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang.
"Apa perutmu sakit?" tanya Hasan perhatian, saat ini Lila sedang hamil dengan usia kandungan 6 bulan.
"Sedikit tegang." jujur Lila, dengan cepat Hasan lalu bergerak menghadap sang istri dan mulai mengelus lembut perut Lila.
"Sayang, yang kuat ya, hari ini kita perjalanan jauh, besok juga kita kembali pulang. Adek yang sabar ya." cicit Hasan, berbicara dengan anaknya yang masih di dalam perut.
Lila hanya mampu tersenyum, tak bisa berkata-kata.
"Aku tidak menyangka, jika keluarga Bos mu ini sangat kaya." jujur Hasan sambil terus mengelus perut sang istri.
Tatapan keduanya saling terkunci.
"Bahkan kamar tamu ini sangat besar, lebih besar daripada kamar kita di rumah." decaknya kagum, ia lalu mengedarkan pandangannya, memindai tiap sudut ruangan.
"Harusnya dulu kamu tidak berulah, mungkin mereka akan lebih banyak memberimu uang."
Senyum Lila langsung menghilang, diingatkan lagi atas kesalahannya yang lalu membuat rasa bersalah itu kembali bersarang. Apalagi kini Arend sudah meninggal. Makin membuat ia sengsara karena mengusik orang yang sudah mati.
"Mas, apa yang kamu bicarakan? kenapa malah mengharapkan uang yang bukan milik kita?" desis Lila, ia berucap pelan dengan mata yang sayu.
"Aku malah malu tiap kali menerima uang itu."
"Jangan asal bicara La, kita masih sangat membutuhkan uang mereka. Apalagi sebentar lagi kamu lahiran, sementara kerjaku masih harian," sanggah Hasan cepat, tak ingin munafik, ia memang masih sangat membutuhkan uang bulanan itu.
Lila hanya terdiam, ombak dihatinya yang makin membesar.
Hening, bahkan kini tangan Hasan sudah tertarik tak lagi mengelus perut sang istri.
"Bagaimana kalau aku meminta pekerjaan dengan mereka, pasti aku akan diberikan pekerjaan yang layak dengan gaji yang besar," ucap Hasan menggebu, matanya berbinar menerawang masa depannya yang akan menjadi lebih baik.
Lain halnya dengan Lila, ia malah menutup matanya, kecewa. Baru diperlihatkan kemewahan seperti ini saja sang suami mulai khilaf mata.
Mulai melihat keatas, tak sadar diri dimana posisi berada.
"Mas, istigfar." Lirih Lila, bingung bagaimana cara mengatakannya, akhirnya ia hanya meminta suaminya itu untuk mengingat Allah.
Seketika itu juga kesadaran Hasan pulih, dengan kasar ia mengusap wajahnya sendiri.
"Astagfirulahalazim, maafkan aku sayang." ucap Hasan benar-benar merasa bersalah.
Ia mendekat dan memeluk Lila masuk ke dalam dekapannya.
"Maafkan aku ya, aku salah." ucapnya lagi sambil mencium pucuk kepala sang istri berulang.
"Aku sudah pernah melakukan kesalahan pada keluarga ini Mas, aku tidak mau mengulanginya lagi."
"Iya iya aku tau, maafkan aku." jawab Hasan cepat.
Sebelum menikahi Lila, Hasan sudah tahu semua kisah hidup sang calon istri. Hasan bahkan menyayangkan, jika dulu Lila sempat ingin merusak rumah tangga orang lain.
Namun niat menikah untuk ibadah, akhirnya Hasan memutuskan menerima Lila apa adanya. Pun Lila yang melakukan hal yang sama. Bagaimanapun keadaan Hasan, ia akan terima.
Selama pernikahan mereka, Lila selalu berkata bahwa ia ingin segera meminta maaf, Hasan sangat tahu akan penyesalan sang istri itu.
Namun saat sudah sampai disini dan melihat betapa mewahmya kehidupan mereka, Hasan jadi tergiur.
"Maafkan aku ya." desis Hasan dan Lila mengangguk didalam dekepan.
Lama mereka saling mendekap, hingga lambat laun keduanya sama-sama terlepap, tidur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Subuh menjelang.
Selesai shalat, Lila dan Hasan berniat langsung pulang. Lila meminta Puji untuk dipanggilkan sang tuan rumah. Bukan Arick ataupun Jihan, melainkan Mardi dan Sofia.
"Lila." sapa Mardi saat ia dan sang istri sudah sampai di ruang tamu.
Tanpa menunggu sang tuan rumah duduk, Lila langsung bangkit, menghampiri Mardi dan Sofia lalu mencium punggung tangan kedua orang tua ini takzim.
Disusul oleh Hasan.
"Nyonya, maafkan saya, saya benar-benar meminta maaf atas kesalahan saya di masa lalu. Maafkan saya karena baru sekarang saya berani menemui Nyonya dan Tuan." ucap Lila tergesa, ingin buru-buru menyampaikan maksudnya datang kesini sebelum kembali di curigai.
Sofia menyelidik, menatap lekat Lila yang sekarang. Tubuhnya terlihat lebih kurus dan perutnya membuncit. Melihat itu Sofia tahu, jika kini Lila sedang hamil. Nalurinya sebagai seorang ibu muncul begitu saja, ia terenyuh.
Perlahan, tangannya terulur untuk mengelus lengan Lila dengan sayang.
"Sudahlah Nak, ibu sudah memaafkanmu," jawab Sofia lembut, tak ada lagi kebencian disana.
Mendengar itu Lila langsung menangis haru, tak menyangka jika Sofia yang dulu sangat membencinya kini semudah itu memafkan dirinya.
"Terima kasih Nyonya," jawab Lila sambil menghapus air matanya sendiri.
Bahagia, usahanya kesini tidak sia-sia.
Mardi yang milihat itu mulai tersenyum, akhirnya bisa bernapas lega. Ia pikir sang istri akan kembali marah-marah, bahkan masih mencaci maki seperti dulu kala.
"Apa dia suamimu?" tanya Mardi yang mulai buka suara.
Dengan tersenyum, Lila lalu menceritakan semuanya. Tak ada lagi batu yang mengganjal di hati, kini Lila bisa tersenyum tanpa ada rasa bersalah lagi.
Lila juga menceritakan kabar kedua orang tua dan adiknya di Lampung. Awalnya Hamid sang ayah ingin ikut, namun apa daya, kendaraan mereka tidak mendukung untuk itu.
Tak sampai lama, Hasan lalu berpamitan untuk pulang. Sofia yang tak tega melihat Lila nail mobil pick up itu meminta Amir untuk mengantar Lila dan Hasan pulang ke Lampung menggunakan mobil Mardi.
Sementara mobil pick up ini akan mereka antar dengan supir bayaran.
Lila tak bisa menolak, karena Sofia yang memaksa.
"Kamu tidak ingin bertemu dengan Jihan dulu?" tanya Sofia saat mereka sudah berada di depan rumah.
Lila menggeleng, dengan senyum yang terus mengembang.
"Tidak Nyonya, biar ibu Jihan beristirahat. Saya titip salam saja untuk beliau."
"Baiklah," Jawab Sofia sambil mengangguk.
Akhirnya subuh itu Lila pulang ke Lampung. Pulang dengan perasaan lega dan hati yang sangat bahagia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di kamar atas.
Suami istri ini masih betah saling menghangatkan. Bahkan setelah Arick shalat subuh, ia kembali menarik selimut dan menutupi tubuh keduanya.
Jihan terkekeh geli, saat sang suami meletakan kedua tangannya yang dingin di ketiak Jihan.
"Hahaha, Mas dingin ih," keluh Jihan sungguh-sungguh.
"Dingin kan? aku memang kedinginan Ji, bagaimana ini?" tanya Arick bertubi, bahkan kini ia menenggelamkan wajahnya diantara dada sang istri.
Lagi-lagi Jihan terkekeh, sebenarnya mereka sudah tidak mengantuk. Tapi entah kenapa masih betah untuk berbaring disini.
"Matikan AC nya Mas." Solusi Jihan.
"Bukan."
"Lalu?"
Arick tak menjawab dengan kata-kata, ia malah menyeringai, mencurigakan.