Turun Ranjang

Turun Ranjang
BAB 63


Bulan lalu Jodi selalu kulu kilir Jakarta Bandung untuk memeriksa pembangunan Cafe rooftop di Villa Jaya.


Bulan ini giliran Arick, sedikit was-was karena Jihan akhir-akhir ini sering mengalami kontraksi palsu, padahal kini Jihan baru memasuki usia kehamilan 8 bulan.


"Aku tidak usah pergi sajalah, biar Jodi lagi yang pergi kesana," ucap Arick ketika hendak berangkat kerja.


"Mas kok ngomongnya gitu, bukannya kalian sudah sepakat untuk bergantian memeriksa pembangunan Cafe disana? kamu tidak boleh egois Mas, Jodi mungkin mengorbankan beberapa hal agar tetap bisa profesional dalam bekerja."


Arick terdiam, membenarkan ucapan sang istri. Tapi ia benar-benar merasa tak enak hati untuk meninggalkan rumah hari ini.


"Aku baik-baik saja Mas, percayalah."


Akhirnya dengan sedikit keraguan Arick mengangguk, pagi ini ia langsung ke Bandung, agar mempercepat waktu kerjanya ia tidak mendatangi Cafe terlebih dahulu.


Selepas kepergian Arick, Jihan kembali masuk ke dalam rumah. Ia mengelus-ngelus perutnya dengan sayang.


"Lahirnya sesuai jadwal ya sayang, jadi ayah pas di rumah," ucapnya lembut, sambil terus berjalan masuk.


"Mbak Ji."


Jihan berhenti dan menoleh ke arah sumber suara, Puji memanggilnya.


"Ada apa Mbak?"


"Ini ponselnya tadi ketinggalan di meja makan."


Jihan tersenyum lalu mengambil uluran ponsel itu, "Terima kasih Mbak. Dimana Zayn?"


"Mandi sama Asih Mbak."


Jihan mengangguk, lalu berpamitan pada Puji untuk melihat Zayn di kamar mandi.


Langkah Jihan terhenti, ketika dirasa kontraksi itu datang lagi. Tangan kanannya memegangi perut dan tangan kirinya bersandar pada dinding kamar.


Ia teringat ucapan dokter Diah beberapa saat lalu, bahwa bayi kembar memang akan lahir lebih cepat. Tapi dokter Diah juga mengatakan jika prediksi lahirnya adalah akhir bulan ke 8, ketika hendak masuk ke bulan 9.


Tapi sedari tadi saat jam 3 dini hari, Jihan merasa mulai ada kontraksi. Pikirnya itu hanya kontraksi palsu, sama seperti hari-hari sebelumnya.


Jihan kembali berpikir disela-sela rasa sakit di perut. Kontraksi hari ini terjadi secara teratur, tiap 15 menit sekali kontraksi itu datang lagi.


"Apa hari ini waktunya ya Allah?" lirih Jihan, ia menghampus peluh didahinya sendiri.


"Mbah Ji!" Puji kaget melihat keadaan Jihan itu, ia berlari cepat dan menghampiri sang majikan.


Puji membantu menahan tubuh Jihan.


"Mbak kontraksi lagi?" tanyanya dengan cemas dan Jihan mengangguk lemah. Wajahnya sudah terlihat sedikit pucat.


"Ayo ayo kita masuk ke kamar, biar saya telepon ibu Sofia."


Dengan perasaan cemas, Puji membimbing Jihan untuk masuk ke dalam kamar dan membantu Jihan merebahkan diri di ranjang.


"Telepon ibu pakai ponsel saya saja Mbak." ucap Jihan dan Puji mengangguk.


Tanpa basa basi lagi Puji langsung menghubungi Sofia, menceritakan keadaan Jihan sedari tadi subuh. Mendengar cerita Puji, Sofia langsung memerintahkannya untuk menyiapkan semua barang-barang Jihan.


Sofia berkata akan segera datang dan membawa Jihan ke rumah sakit, ia yakin jika hari ini si kembar akan lahir.


Dari arah kamar mandi Asih datang dengan menggendong Zayn, mendadak cemas ketika melihat majikannya berbaring di ranjang, bersama Puji dan wajah cemasnya.


"Ibu kenapa?" tanya Asih, ia mendekat dan dapat melihat dengan jelas wajah Jihan yang memucat.


"Ya Allah, ibu mau lahiran?" tebaknya dan Puji yang menjawab, Iya.


Asih cemas sendiri, buru-buru ia mengurus Zayn dan menyiapkan semua barang-barang Zayn.


15 menit kemudian Sofia dan Mardi datang, membawa 2 mobil sekaligus ke rumah Jihan.


"Tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja sayang. Ayo sekarang kita ke rumah sakit." ajak Sofia, ia dan Puji lalu memapah Jihan untuk keluar. Sedangkan Mardi dan sang supir Amir membawa tas-tas, sedangkan Asih menggendong Zayn.


Keluarga besar ini berlalu segera menuju rumah sakit.


"Bu, sakit." lirih Jihan.


"Iya iya sayang, sabar ya. Pa, dengar ibu tidak, coba hubungi Arick. Semoga saja dia belum terlalu jauh."


"Duh Bu, ponsel papa ketinggalan, gara-gara tadi terlalu terburu-buru." jawab Mardi takut-takut dan membuat Sofia mendesah kesal.


"Ibu saja yang telepon," timpal Mardi.


"Ponsel ibu juga ketinggalan." jawab Sofia dan Mardi langsung tersenyum kecut.


"Bu sakit." lirih Jihan lagi, selain perutnya yang sakit kini ia juga merasa kedinginan.


"Sabar ya sayang, sebentar lagi kita sampai."


Sebentar itu tapi terasa sangat lama bagi Jihan, rasa-rasanya ia sudah tak kuat menahan sakit ini. Rasa sakit ini lebih dasyat dibanding saat kelhiran Zayn kala itu.


"Bu ... "


"Sabar sayang. Pa, agak cepat dong bawa mobilnya."


"Sabar Bu, sekarang jam padat orang berangkat kerja. Jalanan sangat ramai, kita harus berhati-hati."


"Ya pinter-pinter Papa lah bagaimana caranya agar kita bisa sampai di rumah sakit dengan cepat dan selamat."


Mardi tidak menjawab, hanya memaki Arick didalam hati. Harusnya kini Arick lah yang di maki-maki, tapi kenapa malah dirinya.


"Bu ..." Lirih Jihan lagi, rasanya ia ingin terus mengeluh, rasanya jika ia mengeluh rasa sakit ini sedikit berkurang.


"Sabar sayang sabar." Hanya kata sabar itulah yang bisa Sofia ucapkan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Drt drt drt


Ponsel Jihan bergetar, buru-buru Puji melihat siapa yang memanggil. Semua tas memang berada di mobil ini, mobil yang dikendarai Amir.


Puji dan Asih duduk dibelakang, dengan Asih yang memangku Zayn.


Mbak Jasmin. Batin Puji ketika melihat siapa yang menelpom ponsel Jihan.


Dengan sedikit ragu ia langsung menjawab panggilan itu.


"Assalamualaikum Ji."


"Walaikumsalam Mbak, ini Puji mbak, sekarang mbak Jihan sedang menuju rumah sakit, sepertinya hari ini mbak Jihan akan lahiran." Jelas Puji panjang lebar dan Jasmin sangat terkejut.


Pasalnya beberapa jam lalu Arick menghubunginya dan meminta untuk selalu menanyai kabar Jihan. Arick mengatakan jika hari ini dia ke Bandung, namun merasa tak tenang, takut-takut jika Jihan akan segera lahiran.


Dan ternyata kecemasan itu terjadi juga.


"Ya Allah, rumah sakit mana Mbak? tempat dokter Diah?"


"Iya Mbak."


"Ya sudah, saya kesana sekarang."


Panggilan itu terputus, masih memegang ponsel Jihan, Puji dilanda kebingungan.


"Telepon pak Arick tidak ya Sih?" tanya Puji pada Asih.


"Telepon saja Bu, siapa tahu bapak masih bisa pulang." jawab Asih dengan yakin.


Tanpa babibu lagi, Puji langsung mencari nama Arick di ponsel itu namun tidak ia temukan.


"Kok nama pak Arick tidak ada ya?" tanya Puji dengan cemas.


"Ya masa nomor suami disimpen pak Arick Bude. Coba cari Suamiku." jelas Asih dan Puji menurut.


Dan benar saja, ada nama Suamiku disana, dengan cepat Puji menekan tombol panggil.