Turun Ranjang

Turun Ranjang
Extra chapter 24


Ivan masih sibuk dengan berkasnya. Saat menjadi direktur utama rumah sakit dia tidak sesibuk ini. Setidaknya masih ada waktu untuk mengunjungi pasiennya. Tapi sekarang, menjadi seorang CEO sungguh sangat menyita waktunya. Ivan berpikir menyesalkan keputusannya untuk menyanggupi permintaan papanya mengurus perusahaan adiknya.


Tok tok tok


"Masuk!" Titah Ivan.


Cklek


"Tuan muda." Panggil pria itu cemas, asisten kepercayaan Ivan.


"Ada apa?" Ivan mendongak menatap wajah asistennya.


"Dokter Johan. Pingsan. Dan nona memutuskan untuk menggugurkan kandungannya atas permintaan suaminya." Beri tahu sang asisten.


"Apa! Brengsek kau Johan." Umpat Ivan segera mengambil jasnya yang diletakkan di sandaran kursinya.


"Siapkan mobil!"


"Siap tuan muda." Jawab sang asisten langsung menghubungi sopirnya yang sedang menunggu di bawah jika sewaktu-waktu dibutuhkan seperti sekarang ini.


"Apa papa sudah tahu?" Tanya Ivan saat mereka berjalan turun ke lobi.


"Tuan Ramon menghubungi kalau beliau sedang menuju bandara.


"Dimana mereka sekarang?" Tanya Ivan bersamaan dengan pintu lift terbuka pertanda sudah sampai lantai bawah. Ivan tak menghiraukan pegawainya yang menyapa saat berpapasan dengannya.


"Ruangan dokter Mira."


"Sial. Apa kita masih sempat?" Tanya Ivan cemas dan di kejauhan dekat lobi, sopirnya sudah membuka pintu mobil penumpang di belakang.


"Saya sudah berusaha menghubungi dokter Mira tapi tidak diangkat." Beri tahu pria muda asisten Ivan.


"Hubungi Ryan!"


"Baik tuan muda." Jawabnya sambil menekan nomor ponsel Ryan setelah masuk ke dalam mobil di samping sopir.


Sopir segera melajukan mobilnya dengan kecepatan agak tinggi karena dia tetap mengutamakan keamanan atasannya meskipun titahnya untuk mengendarai dengan cepat.


"Bagaimana?" Tanya Ivan tidak sabaran.


"Tidak diangkat tuan muda." Jawab sang asisten dengan penuh penyesalan.


Hingga setengah jam kemudian mobil Ivan sampai di rumah sakit yang dituju. Ivan langsung keluar tanpa menunggu pintunya dibukakan oleh sopir maupun asistennya dia harus mengejar waktu.


Flashback on


Beberapa hari lalu, Ivan menemui papanya sesaat sebelum berangkat ke negara asalnya untuk mengurus pekerjaannya disana. Ivan yang baru mempunyai waktu untuk menemui papanya karena sibuk dengan pekerjaannya segera masuk ke dalam mansion. Sebenarnya dia membatalkan sebagian jadwalnya karena kabar sang papa yang akan pergi kembali ke negara asalnya membuat Ivan bergegas dibuatkan janji untuk bertemu sang papa karena penting.


"Dimana papa Paman?" Tanya Ivan melihat Ramon dari dapur dengan membawa secangkir kopi.


"Selamat datang tuan muda pertama." Ivan hanya mengangguk menunggu jawaban dari pertanyaannya.


"Tuan besar ada di dalam ruang kerjanya. Beliau sedang menunggu anda." Jawab Ramon sopan.


"Oke." Ivan bergegas masuk ke dalam ruang kerja setelah mengetuk pintu dan tanda masuk sudah didengarnya.


Cklek


"Oh Ivan. Masuklah!" Titah Dokter Nathan berdiri dari kursi kerjanya duduk di sofa tunggal.


"Ada apa?" Tanya Dokter Nathan.


Dan mengalirlah cerita Ivan tentang keluhan yang dirasakan Karina pada sang papa. Berharap mendapatkan solusi untuk pasangan tersebut. Namun bukan jawaban yang memuaskan yang didapat Ivan. Papanya bahkan terlalu cuek dan acuh dengan urusan adiknya.


"Kita lihat saja sampai mana mereka bertahan." Jawaban Dokter Nathan membuat Ivan kecewa. Bahkan dia berpikir apa papanya masih belum merestui pernikahan mereka?


"Kalau kau tahu sebenarnya Karina sudah dinyatakan sembuh total oleh dokter Albert. Hanya saja saat dokter Albert mengatakannya karena tidak ada." Jawaban Dokter Nathan sedikit membuat lega Ivan.


"Benarkah?" Tanya Ivan tersenyum bahagia. Dia merasa lega mendengar kenyataan bahagia tersebut.


"Begitulah." Jawab Dokter Nathan.


Flashback off


Setelah itu Ivan tidak mencemaskan hubungan keduanya. Sesuai ucapan papanya, Ivan tak ingin mencampuri urusan pernikahan mereka. Biarkan mereka berusaha sendiri. Kalau keadaan menjadi darurat dia akan bertindak seperti sekarang ini.


Siapa yang ingin disalahkan Ivan, dirinya, papanya atau pasangan suami istri itu. Dengan mengambil keputusan asal akan menggugurkan keponakannya yang sedang tumbuh di dalam perut itu. Ivan berkali-kali mengumpat kesal saat perjalanan menuju ruang kerja dokter Mira.


.


.


Setelah Johan dinyatakan Ryan baik-baik saja. Dan mualnya sudah mulai berkurang hanya di pagi hari saja dia merasakan mual dan setelah itu baik-baik saja. Hanya saja masih harus menghindari makanan dengan bau menyengat karena hormon kehamilan.


Johan dan Karina pun memutuskan untuk menyetujui menggugurkan kandungan calon anak mereka demi kesehatan istrinya. Dipertahankan belum tentu keduanya selamat atau salah satunya. Jika digugurkan salah satu jalan untuk keselamatan istrinya. Mereka pun rela, memilih untuk tidak mempunyai anak.


Mereka masuk ke dalam ruang tindakan dekat ruang periksa dokter Mira dan dipersiapkan segalanya oleh perawat asisten dokter Mira yang saat ini masih sibuk membantu proses kelahiran bayi sungsang di ruang operasi.


"Mas yakin, tidak akan menyesal?" Tanya Karina saat dirinya sudah berbaring di ranjang.


"Demi keselamatan kalian mas tidak akan menyesal."


"Mas tidak akan menikah lagi suatu hari nanti?" Johan terdiam menghembuskan nafas kasar menatap istrinya dalam.


"Kau adalah satu-satunya istri mas sampai maut memisahkan kita. Meski tidak ada anak diantara kita, asal bersamamu mas akan setia selalu berada di sisimu. Kalau perlu mas juga akan memakai kontrasepsi." Ucap Johan yakin karena dia memang sangat mencintai istrinya.


"Tapi mas, entah kenapa aku ragu." Ucap Karina sambil mengigit bibirnya menatap Johan lekat.


"Mas akan selalu berada di sampingmu."


"Mas janji tak akan pergi kan?"


"Omong Kosong apa ini?" Teriakkan Ivan saat masuk di ruang tindakan tempat bersiap Karina untuk melakukan proses pengguguran kandungan membuat keduanya tersentak kaget mendengar seruan kencang kemarahan Ivan.


"Kakak."


"Dokter Ivan."


Ivan mendengus kesal melihat keduanya bergantian.


"Batalkan semua ini!" Titah Ivan tak mau dibantah.


"Tapi kak?" Ucap Karina menatap Ivan nanar.


"Kalian ini benar-benar... Cepat ganti bajumu Karin, Johan. Kalian temui kakak di ruang direktur. Sekarang!" Tegaa Ivan, keluar lagi dari ruang tindakan dokter Mira.


Keduanya saling menatap tak mengerti kenapa kakaknya mencegah mereka untuk melakukan pengguguran kandungannya.


.


.


TBC