
Arick sengaja membuka pintu sepelan mungkin, ingin mengintip kira-kira istrinya sedang apa. Kata papa Mardi Jihan masuk kamar belum lama, bisa dipastikan jika saat ini Jihan belum tertidur.
"Kenapa ngintip-ngintip Mas?"
"Astagfirulahalazim." Arick memegangi dadanya, niat hati ingin mengintip malah ia sendiri yang terkejut.
Dilihatnya Jihan duduk di sofa sambil memegang sebuah buku, Arick menghampiri.
"Kamu pakai baju siapa Mas?" tanya Jihan penasaran, pasalanya kini Arick mengenakan baju yang berbeda dari tadi pagi saat berangkat kerja. Tadi pagi suaminya ini mengenakan kemeja merah maroon, lalu kini ia pulang menggunakan kaos hitam. Ya, tidak mungkin Jihan salah ingat.
"Ini baju Jodi sayang, aku tadi mandi di Cafe. Ini baju kotorku." Jelas Arick sambil menunjukkan kantong plastik bawaannya.
Jihan mengambil kantong itu, memeriksanya dan ternyata benar, ini baju yang dikenakan suaminya tadi.
Sesaat keduanya sama-sama terdiam, sampai akhirnya Arick yang mulai buka suara terlebih dulu.
"Ji," ucap Arick, yang dipanggil menoleh hingga kini tatapan keduanya bertemu.
"Maafkan aku."
Jihan tersenyum, kata maaf, terima kasih dan tolong memang sering sekali mereka ucapkan. Dan ajaibnya, ketiga kata itu selalu membuat hubungan keduanya semakin membaik.
"Maafkan aku juga Mas, sebenarnya kemarin aku tidak sengaja melihat pesan Mas dan Jodi, aku tahu di Cafe sedang ada masalah gara-gara aku," lirih Jihan, diam-diam ia tahu masalah yang sedang dialami oleh sang suami.
"Bukan sayang, itu bukan salah mu." Arick mencium pipi Jihan sekilas, benar-benar tidak ingin membuat Jihan merasa bersalah.
"Bagaimana keadaan Zayn sekarang? aku sangat ingin melihat dia."
"Badannya sudah tidak panas Mas, tapi obatnya tetap diminum sampai 5 hari ke depan, harus diminum sampai habis, karena ada antibiotik nya." Jihan menggenggam tangan sang suami dan dibawanya ke pangkuan.
"Ayo kita ke kamar ibu, kita lihat Zayn," ajak Jihan dan Arick memgangguk.
"Sekalian kita ambil Zayn ya, aku ingin tidur dengannya."
"Iya Mas."
Keduanya bangkit dan menuju kamar tamu, Mardi masih setia di depan televisi.
"Kalian mau kemana?" tanyanya, ia menoleh melihat anak dan mantunya yang sedang lewat.
"Mas Arick pengen liat Zayn Pa," jawab Jihan.
"Lihat saja, jangan dipindah-pindah, malam ini Papa juga mau tidur dengan Zayn."
"Iya Pa." Jihan menarik lengan Arick untuk mengikuti langkahnya, mencegah suaminya ini berdebat dengan sang ayah, dilihatnya wajah Arick yang mulai cemberut.
"Papa tidak setiap hari tidur dengan Zayn Mas." Jelas Jihan dan Arick tidak peduli, ia masih merasa kesal.
Setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk oleh Sofia, kini Jihan dan Arick sudah berada di kamar.
Arick berulang kali menciumi wajah Zayn, juga memeriksa suhu tubuh sang anak. Mulai dari dahi, leher hingga telapak kaki.
Ia merasa lega ketika dirasa semuanya sudah kembali normal.
Dengan perasaan tak rela, akhirnya Arick mengajak Jihan untuk kembali ke kamar, tanpa membawa Zayn untuk ikut bersama mereka.
Semenjak masuk trisemester kedua kehamilan Jihan, Zayn tidak pernah menyusu langsung pada sang ibu. Jihan selalu memompa ASInya dan Zayn meminum dari dot.
Jika dirasa Zayn masih lapar meski sudah makan dan meminum ASI, Jihan juga memberinya susu Formula sebagai tambahan.
"Mas, kok mukanya masih cemberut gitu?" tanya Jihan, kini keduanya sudah kembali masuk ke dalam kamar mereka, kembali duduk di sofa.
"Mas tadi darimana?" tanya Jihan lagi karena Arick hanya terdiam.
Mendapati pertanyaan itu, Arick langsung tersingkap, ingat jika ia tidak memberi tahu Jihan kenapa hari ini ia pulang hingga larut malam.
Bahkan tadi ia tidak sempat membalas pesan sang istri.
Dengan gerakan cepat, Arick memeluk Jihan erat. Dagunya ia letakkan di pundak sang istri.
"Maafkan aku sayang, aku tadi tidak membalas pesanmu." Arick mengecup sekilas pipi Jihan, kemudian mendaratkan kembali dagunya di pundak.
"Aku tadi ke pasar bersama Jodi, karena itulah sekarang aku memakai baju ini. Bajuku kotor dan bau," jelas Arick apa adanya.
"Sampai tidak bisa membalas pesanku?" tanya Jihan, terdengar seperti gadis kecil yang sedang merajuk dan memojokkan lawan bicaranya.
"Itulah salahku, maafkan aku ya?" Arick sadar, percuma membela diri, meminta maaf adalah keputusan yang paling tepat.
Jihan mengangguk lemah, masih sedikit merasa kesal.
Dengan perlahan, Arick mengelus perut sang istri.
"Bagaimana si kembar? apa hari ini dia merepotkan ibunya?" tanya Arick, ingin mengalihkan kekesalan sang istri dengan hal yang lain.
"Tidak Mas, mereka memang aktif menendang, tapi tidak sampai membuatku sakit."
Arick kembali mencium pipi Jihan, "Terima kasih sayang, karena kamu sudah berjuang untuk mengandung anak-anak kita."
"Kodratnya wanita memang seperti ini Mas."
"Tapi tetap saja, aku ingin mengucapkan banyak terima kasih."
Jihan menoleh, kemudian mengecup sekilas bibir sang suami yang berada tepat di hadapannya.
"Kalau begitu, mulai sekarang Mas harus lebih percaya padaku. Aku bisa dan baik-baik saja."
Tatapan keduanya terkunci, kini giliran Arick yang mencium sekilas bibir sang istri.
"Baiklah, tapi apapun yang terjadi tetap beritahu aku. Jangan sampai aku tahu dari orang lain."
Jihan tersenyum, kemudian mengangguk dan memeluk erat tubuh sang suami.
Sangat nyaman dan damai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, Arick kembali bekerja seperti biasa.
Tiap pagi ritual peluk memeluk, cium mencium, selalu menjadi pemandangan romantis di halaman rumah ini.
Asih yang belum terbiasa melihat kedekatan suami istri itu merasa sedikit tak nyaman, merasa tak enak hati, karena ia menggendong Zayn dan menyaksikan semuanya dengan jelas.
"Ayo Sih, masuk," ajak Jihan ketika dilihatnya mobil sang suami sudah mulai tak nampak.
Dengan canggung Asih mengangguk, kemudian berjalan lebih dulu dan mulai masuk ke dalam rumah.
Asih menyerahkan Zayn pada Sofia, karena Sofia ingin hari ini ia yang mengasuh Zayn.
Merasa tidak ada pekerjaan, Asih melipir ke dapur, membantu mbak Puji membereskan meja makan sehabis sarapan dan mencuci piring.
"Bu Jihan beruntung sekali ya Bude," ucap Asih, membuka obrolan dengan Puji.
Asih bagian mencuci piring dan Puji yang membilas.
"Beruntung gimana?"
"Ya beruntung, punya suami seperti pak Arick, juga punya mertua seperti nyonya Sofia dan Tuan Mardi."
Puji tersenyum, merasa jika ucapan Asih memang benar. Jihan sangat beruntung berada didalam keluarga ini, karema semua orang sangat menyayanginya dengan tulus.
"Begitulah Sih, orang baik pasti akan dijodohkan dengan orang-orang baik pula," jawab Puji dan Asih mengangguk.
"Kamu kalau mau minta jodoh, minta sama Allah. Jangan minta di sosial media." ledek Puji dan Asih mencebik.
Tak lama terdengar suara tawa renyah khas Puji di dapur itu, hahahaha.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dukung penulis dengan like dan komen ya, hadiah juga boleh 🌹🌹