Turun Ranjang

Turun Ranjang
BAB 92


Saat kembali ke ballroom hotel, Jihan merasa canggung, seolah baru saja melakukan hal yang tidak-tidak. Meski tidak ada yang memperhatikannya, tetap saja ia merasa malu.


Lain halnya dengan Arick yang malah tersenyum lebar, berjalan seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa.


Jam 9 malam, Arick dan Jihan memutuskan untuk pamit pulang. Sementara teman yang lainnya masih tinggal, karena acara ini selesai sampai jam 12 malam.


Anja dan Jani sudah terlelap sedari tadi, sementara Zayn sudah mengantuk tapi matanya masih setia terjaga.


25 menit perjalanan, akhirnya mereka semua sampai di rumah. Zayn juga sudah terlelap selama diperjalanan tadi. Setelah mengantar baby ZAJ ke kamarnya, Arick dan Jihan juga memutuskan untuk ke kamar mereka sendiri dan beristirahat.


"Aku pompa Asi dulu ya, Mas."


"Ganti baju dulu, pakai baju yang longgar, cuci muka baru pompa Asi."


Jihan mengangguk, lalu bergerak menuruti semua perintah sang suami. Sementara Arick memeriksa ponselnya, membuka layanan Gmail untuk memeriksa beberapa pesan yang masuk.


"Mas, sana cuci muka dulu," ucap Jihan, saking sibuknya melihat ponsel, Arick sampai tak sadar saat sang istri sudah keluar dari dalam kamar mandi dan bahkan berdiri tepat di hadapannya.


Arick mendongak dan menatap sang istri yang kelewat cantik, ditatapnya wajah Jihan yang bersih tanpa riasan apapun. Bahkan bibirnya merah alami seperti buah cherry.


Ia tersenyum, lalu bangkit dan mengecup sekilas bibir itu.


Kenapa masa Nifas kali ini terasa begitu lama sekali. Batinnya.


"Sana pompa Asi, aku akan cuci muka. Sehabis pompa Asi kita langsung tidur ya?" tanya Arick dan Jiha mengangguk mengiyakan.


Arick langsung beranjak ke kamar Mandi, niat awalnya memang hanya ingin cuci muka. Namun akhirnya ia memutuskan untuk mandi, mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin agar hasratnya mereda.


Jihan di luar sana mengeryit bingung, "Kenapa mas Arick mandi?" gumamnya pelan.


Dengan pikiran yang bingung itu, ia lalu mengangkat bajunya dan mulai memompa Asi.


Seketika itu juga wajahnya memanas, mendadak merona kala melihat banyak tanda merah dikedua dadanya.


Bayangan yang terjadi di ballroom hotel tadi tergambar jelas dibayangannya. Bahkan ia sempat mendesah meski kecil. Sambil berdiri, tapi sang suami itu mampu membuatnya meremang.


Selesai memompa Asi, selesai pula Arick dari dalam kamar mandi. Rambutnya basah, sampai ada air mengalir dari sela-sela rambut itu.


Masih menggunakan jubah mandi, sang istri lalu menarik tangannya dan mendudukkan Arick disisi ranjang.


Arick tak suka jika mengeringkan rambut menggunakan hairdryer, panas katanya.


Akhinya dengan pelan-pelan, Jihan mengusap rambut basah itu dengan handuk.


Arick tersenyum, Jihan yang tetap perhatian meski dengan mengomel justru membuatnya gemas sendiri. Malah semakin ingin membuat istrinya itu jadi kesal.


"Aku keramas gara-gara kamu." jawab Arick dengan wajah murung.


"Kenapa jadi gara-gara aku?" tanya Jihan cepat, kedua tangannya berhenti menghusap dan matanya menatap netra sang suami lekat.


"Kamu selalu membuatku ingin tapi tidak pernah selesai."


Plak!


"Aw! Sakit sayang." Rengek Arick, tangannya reflek mengusap-ngusap lengannya yang habis dipukul oleh Jihan.


"Mas, sih. Mesum." jawab Jihan sambil menatap tajam sang suami.


Arick mengulum senyumnya dan Jihan kembali mengeringkan rambut sang suami.


"Iya iya, maaf." ucap Arick, ia menarik Jihan lebih dekat dan memeluk perutnya dengan lembut.


"Aku mencintaimu, Ji." ucap Arick, ia menyembunyikan wajahnya diantara dada sang istri.


Mendengar itu, Jihan tersenyum. Jadi ingat masa lalu saat mereka sering mengucapkan kata cinta.


"Kenapa diam saja? kamu sudah tidak mencintaiku?" tanya Arick manja, ia bahkan menggerak-gerakkan kepalanya diantara kedua dada Jihan, seperti kucing butuh perhatian.


Jihan tak langsung menjawab, ia malah jadi terkekeh hingga membuat Arick mendongak dan menatap curiga.


"Aku mencintaimu, Mas." jawab Jihan langsung dengan mengulum senyum.


"Kalau begitu cium." ucap Arick yang wajahnya masih menampakkan kekesalan.


Jihan menurut, ia menurunkan kepalanya dan menjangkau bibir sang suami. Menyesapnya lembut atas dan bawah. Bahkan tanpa segan, Jihan memainkan lidahnya, mencari celah untuk masuk lebih dalam.