
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Johan menatap perut istrinya yang masih rata. Tangannya pun mengelus lembut calon anaknya.
"Apa maksudmu mas?" Karina balik bertanya dan menatap arah tangan suaminya yang mengelus lembut perut ratanya.
"Tentu saja anak kita. Calon anak kita." Ucap Johan yakin tersenyum sumringah sambil masih mengelus perut rata istrinya juga menatapnya dengan penuh damba.
Karina terdiam mencerna ucapan suaminya yang begitu yakin kalau dirinya benar-benar hamil. Padahal tidak ada yang memberi tahunya tentang kehamilan itu. Karina sendiri tidak yakin karena dia pernah mendengar vonis dokter saat memeriksa kesembuhan penyakitnya beberapa waktu lalu.
"Kenapa aku merasa lapar sekali ya bi, padahal aku baru saja sarapan?" Suara bibi maid beberapa hari lalu terngiang lagi di telinganya.
Memang akhir-akhir ini nafsu makan Karina sangat besar. Bahkan belum ada dua jam waktu sarapan pagi, Karina sudah lapar lagi. Dan tubuhnya terasa sedikit berisi dari pada sebelumnya. Padahal dia masih begitu tertekan karena dipisahkan dengan suaminya. Karina berdiri di depan cermin seluruh badan di kamarnya. Johan sampai mengernyit bingung melihat tingkah istrinya yang tidak menjawab pertanyaannya.
"Kenapa?" Johan mendekap tubuh istrinya dari belakang saat istrinya menatap dirinya di dalam cermin. Tak lupa Johan juga mengecup pundak istrinya, menghirup aroma yang sangat dirindukannya selama ini.
"Jadi... aku hamil mas?" Ucap Karina masih dengan keterkejutannya yang tidak percaya. Karina menatap wajah suaminya yang mendongak menatap ke arah cermin juga. Mereka saling menatap dalam bayangan cermin.
"Apa kau tidak tahu? Atau..." Belum selesai Johan meneruskan kalimatnya, Johan membalik tubuh istrinya menghadapnya dengan lembut meski rasa terkejut masih ada.
Apa perkiraan Ryan salah? Atau aku hanya masuk angin biasa? Sebenarnya ada apa ini? Batin Johan menatap dalam mata istrinya dengan lembut meski raut wajah sendu juga terlihat tapi segera menetralisir dirinya sendiri.
"Kita periksa! Okey?" Ucap Johan lembut penuh kasih sambil mengelus lembut pipi istrinya yang memang sedikit berisi dari pada terakhir dia melihatnya. Wajah Karina menyiratkan kekecewaan juga keraguan dengan pernyataan suaminya.
"Aku lapar mas." Ucap Karina mengalihkan pembicaraan. Johan terdiam, entah kenapa dia merasa istrinya menyembunyikan sesuatu namun Johan tak mau mendesaknya. Mungkin istrinya butuh waktu untuk mengatakan padanya.
"Aku juga. Ayo!" Johan meraih jemari tangan istrinya dan menautkan dengan jemarinya pergi ke meja makan.
Karina bahkan masih diam seribu bahasa saat Johan mendudukkannya di kursi makan dan meminta bibi maid untuk menyiapkan makanan untuk mereka meski jam makan belum tiba. Tapi mendadak nafsu makan Johan datang lagi setelah sekian lama mual dan muntah karena efek hormon kehamilan istrinya.
Dokter pernah mengatakan kalau dia sulit hamil sehingga hal itu mempengaruhi pikiran Karina. Dia tentu saja mengharapkan kehamilan itu karena kodratnya sebagai seorang wanita adalah menjadi seorang ibu setelah menjadi istri. Hal itu tentu saja hal yang sangat diinginkan Karina.
Setelah beberapa waktu yang lalu pernah keguguran dan lagi penyakit yang pernah dideritanya meski sekarang dokternya menyatakan kesembuhannya. Namun dokter bilang kalau dia akan sulit hamil meski kemungkinan hanya dua puluh lima persen. Karina tidak langsung percaya pada dokter namun keyakinannya sebagai makhluk Tuhan dia percaya keajaiban itu pasti ada meski dia tidak terlalu berharap sepenuhnya namun dia tetap berusaha untuk yakin kalau dia mampu.
Sentuhan lembut di jemarinya membuat Karina tersentak dan menatap suaminya masih dengan lamunannya.
"Makanlah sayang!" Ucap Johan lembut dengan senyum manisnya menatap istrinya penuh cinta.
"Mas?" Panggil Karina ragu.
"Ya?" Johan menoleh menatap wajah istrinya.
"Ehm..itu.. a-apa... maksudku.. apa mas akan kecewa jika ternyata aku tidak hamil?" Tanya Karina menatap Johan intens dengan raut wajah sendu namun dia balut dengan senyumannya.
Jadi ini yang kamu pikirkan sejak tadi sehingga kamu banyak diam dengan tatapan mata kosong? Batin Johan masih dengan senyuman terukir di bibirnya.
"Tentu saja. Dan itu artinya kita harus berusaha lebih keras lagi." Goda Johan menatap istrinya mesum.
"Mas.." Wajah Karina memerah yang malah digoda suaminya. Padahal suasana tadi begitu tegang. Jawaban suaminya mampu membuat Karina kembali sedikit rileks.
"Masih banyak kesempatan untuk kita berusaha untuk memiliki anak. Apapun yang terjadi aku akan selalu setia bersamamu. Jadi, jangan cemaskan apapun!" Ucap Johan lembut menghibur istrinya sambil menggenggam erat jemari tangan istrinya.
Karina terdiam, hatinya menghangat bahagia namun lagi-lagi dia harus dipatahkan tentang ucapan papanya saat itu.
"Apa kau yakin akan bertahan dengan rumah tanggamu saat tidak ada anak diantara kalian? Suamimu... suamimu tentu saja akan menginginkan anak. Darah dagingnya. Kau yakin rumah tangga kalian akan bertahan tanpa anak. Kau tidak lupa kan apa yang dikatakan dokter?" Wajah Karina mencelos. Meski sekarang dia yakin suaminya akan selalu setia bersamanya sampai maut memisahkan.
Tapi soal anak atau keturunan tentu hal itu adalah yang utama bagi seorang pria. Dan dia tak bisa memberikan keturunan pada suaminya. Tidak menutup kemungkinan suatu saat suaminya pasti merindukan momen-momen saat ada anak diantara mereka.
"Huff." Suara hembusan nafas panjang terdengar di telinga Karina yang sontak menatap wajah suaminya yang menatapnya penuh tanda tanya berharap dia tahu apa yang dipikirkan istrinya sekarang karena lagi-lagi dia melamun dan menatap ke depan dengan tatapan mata kosong.
"Ah, maaf mas. A-aku akan makan." Ucap Karina merasa bersalah dan langsung makan meski tidak terlalu menikmati. Johan hanya terdiam menatap perilaku istrinya yang sedang menyembunyikan sesuatu lagi.
Helaan nafas lirih masih dilakukan Johan demi untuk meredam rasa penasaran dan juga mengendalikan perasaannya untuk tidak emosi karena ingin tahu isi pikiran istrinya.
Keduanya pun melanjutkan makannya dengan saling diam tanpa pembicaraan apapun. Baik Johan maupun Karina memilih untuk diam seolah menikmati makanan mereka meski sebenarnya dalam benak keduanya berkecamuk memikirkan entah apa.
.
.
.