
"Mbak ... Karin?" Dokter Ryan tersentak kaget saat mendapati Karina duduk di kursi meja makan di mansion papanya. Semua orang yang sudah duduk dan tinggal menunggu dokter Ryan yang sedikit terlambat bangun karena acara tadi malam.
Istrinya padahal sudah ada disana meski juga tak lama dia menyusul. Semua orang termasuk dokter Nathan menatap dokter Ryan dengan pandangan tak terbaca. Dokter Ivan hanya memberi kode dengan tatapan mata menyuruh dokter Ryan untuk diam dan duduk di kursi meja makan yang disediakan untuknya.
Wanita berhijab syar'i yang dikenali dokter Ryan memang Karina, istri sahabatnya dokter Johan. Meski sekarang profesi utamanya bukan menjadi dokter, mereka tetap menjadi sahabat meski jarang bertemu setelah Johan beralih profesi menjadi pengusaha demi meneruskan jejak almarhum kakaknya untuk mengurus perusahaan sang kakak. Bukan hanya perusahaan yang diteruskan oleh sahabatnya itu tapi istrinya juga.
Dokter Ryan tertawa miris membayangkan tentang hal yang menimpa sahabat baiknya itu. Bahkan dia semalam melihat terpuruknya sang sahabat karena merindukan sang istri. Dan dia bilang semalam melihat istrinya berpelukan dengan pria lain.
Jangan-jangan? Tidak... itu tidak mungkin kan? Batin dokter Ryan melirik Karina dan Ivan sang kakak yang memperlakukan Karina lembut seperti menanyakan tentang makanan. Mata tajam dokter Ryan memperhatikan mereka sambil tersenyum sinis mengumpat keduanya dalam hati.
Ingin rasanya Ryan meninggalkan meja makan meski merasa lapar karena rasa laparnya telah menguap entah kemana melihat kedekatan sang kakak yang dikaguminya dengan istri sahabatnya yang sudah lama menghilang dan ternyata... Ryan tak habis pikir melihat hal itu. Kalau saja dia tak menghormati dan menghargai sang papa, Ryan pasti benar-benar akan pergi meninggalkan meja makan.
"Itu terlalu pedas, makanlah ini!" Ucap Ivan melihat Karina mengambil lauk yang terlihat banyak cabainya. Ryan lagi-lagi hanya berani mengumpat dalam hati melihat perhatian kakaknya yang biasanya banyak diam dengan tatapan wajah datar dan dingin kini menunjukkan ekspresinya bahkan pada mantan istrinya dulu dia tidak memperlakukannya sampai seperti itu.
Johan pasti menangis melihat ini. Huff... dia pasti merasa terpukul dan shock melihat pemandangan di depannya ini. Batin Ryan hanya mengaduk-aduk sarapannya tanpa minat karena melihat pasangan yang entahlah... Ryan hanya mampu menyuarakan isi hatinya dalam hati. Karena merasa tak berhak mencampuri urusan kakaknya.
Dokter Nathan, selaku sang papa tidak tampak keberatan dengan perlakuan Ivan terhadap Karina karena dia sudah mempercayakan putrinya untuk diurus sepenuhnya oleh Ivan. Dia masih tetap santai menikmati sarapan paginya yang sempat tertunda demi mengumpulkan semua keluarganya. Yang ada dirinya dan ketiga putranya.
Dokter Ibra pun merasa aneh dengan kedekatan keduanya. Dia juga hanya diam tak berani menyuarakan isi hatinya selain tak ada hubungan apapun, dia juga tidak merasa dirugikan. Hanya saja hal itu sudah bukan ranahnya untuk ikut campur. Ivan sang kakak yang dihormati sudah dewasa untuk menentukan hidupnya.
"Kau sudah selesai?" Pertanyaan Ivan pada Karina membuat semua orang melirik keduanya yang dengan lembut Ivan bertanya pada Karina, tentu saja kecuali dokter Nathan. Dia juga ingin memberi perhatian pada putri semata wayangnya yang sangat mirip dengan almarhum istri pertamanya.
"Iya." Jawab Karina singkat sambil mengusap bibirnya dengan serbet yang telah disediakan di pangkuannya.
Dia sendiri merasa tidak enak hati dan canggung melihat semua orang berkumpul di meja makan. Saat melihat kemunculan dokter Ryan dia pun juga tersentak kaget. Selama tinggal di mansion papanya dia belum pernah melihat keberadaan dokter Ibra, dokter Ryan beserta istri selain dokter Nathan sang papa hanya dokter Ivan yang selalu menemaninya di mansion besar itu.
"Habiskan susunya!" Titah dokter Ivan menyodorkan segelas susu yang tinggal setengah itu lebih dekat dengan piring Karina.
"Aku... sudah kenyang kak." Lirih Karina lemah lembut tersenyum tipis. Telinga tajam Ibra dan Ryan serta istrinya sempat mendengar panggilan 'kak' yang diucapkan Karina membuat semua orang mengernyit. Kecuali dokter Ryan yang masih merasa kesal pada keduanya, pikirannya terlanjur diisi dengan pikiran negatif pada kakaknya Ivan dan Karina.
Sarapan pun selesai, tak ada yang berani berdiri dari kursinya karena dokter Nathan pun belum beranjak dari kursinya meski sarapannya juga sudah selesai sejak tadi. Aturan di mansion itu, siapapun tidak boleh meninggalkan kursinya sebelum kepala keluarga yaitu dokter Nathan selaku papa mereka beranjak. Dan itu artinya masih ada hal yang ingin dibahas.
Semua orang masih menunggu Karina yang dibujuk Ivan untuk menghabiskan segelas susu meski sebenarnya Karina sudah merasa sangat kenyang.
"Kau harus habiskan susunya!" Titah Ivan masih dengan nada lembut membuat Ryan hendak muntah mendengar kata lemah lembut dari kakaknya. Benar-benar tidak seperti image dokter Ivan selama ini.
"Jangan dipaksa Ivan, mungkin dia benar-benar sudah kenyang!" Sela dokter Nathan membuat Ivan menghela nafas panjang. Dia tahu adiknya tidak begitu menyukai susu, namun itu demi kesehatannya. Sesuai saran dokter Albert sahabatnya. Untuk memaksa sang adik jika makannya hanya sedikit.
"Kau minum nanti setelah merasa ingin minum lagi!" Saran dokter Nathan menatap Karina lembut.
"Baik." Jawab Karina sambil menundukkan kepalanya sopan.
"Aku sudah..."
"Duduklah Ryan!" Titah dokter Nathan menyela ucapan dokter Ryan yang hendak pergi dari kursinya. Ryan sudah merasa muak melihat mereka bertiga. Dan menunggu sang papa menyampaikan sesuatu mengapa mereka dikumpulkan.
"Aku tidak akan berbasa-basi lebih lama lagi. Aku tahu kalian sibuk. Seharusnya aku menyampaikan semalam. Namun karena semalam ada pekerjaan yang tidak bisa kutinggalkan jadi terpaksa aku menundanya pagi ini." Ucap dokter Nathan memulai kalimatnya.
Dokter Nathan menatap Karina, dokter Ibra juga dokter Ryan serta istrinya melihat reaksi mereka. Semuanya hanya diam, menunggu dokter Nathan bicara lagi yang tentu saja hal itu membuat semuanya penasaran kecuali Ivan yang sudah tahu niat papanya untuk apa mengumpulkan mereka.
"Mulai hari ini kau pun harus bisa menghormati Karina sebagai kakak kamu." Ucap dokter Nathan membuat dokter Ryan, dokter Ibra serta istri Ryan tersentak kaget.
"Papa." Ryan menyuarakan isi hatinya yang menunjukkan ketidak setujuan.
"Bagaimana pun juga sekarang Karina adalah putri papa juga, kau pun harus bisa menghormati dia sebagaimana seorang kakak." Ucap dokter Nathan membuat Ryan sekali lagi merasa terkejut karena sang papa lebih membela dan merestui Karina sebagai kakaknya juga.
"Apa..?" Ibra terlihat ragu untuk melanjutkan suaranya yang langsung ditatap semua orang yang ada di meja makan.
"Apa mereka sudah menikah?" Pertanyaan Ibra mewakili pertanyaan dokter Ryan juga istrinya dan kembali menatap dokter Nathan bersama-sama. Sementara Karina, Ivan juga dokter Nathan tersentak kaget mendengar kesalah pahaman mereka.
"Sejak tadi apa yang sedang kalian simak?" Bukan jawaban yang diberikan dokter Nathan tapi malah pertanyaan pada Ibra juga beralih menatap Ryan.
"Bukankah mereka sedang menjalin hubungan? Papa juga meminta kami memanggilnya kakak? Dan yang kutahu dia.." Ryan menunjuk pada Karina dengan telunjuknya bermaksud merendahkan. "Bukankah dia belum bercerai dengan suaminya meski sudah pergi meninggalkannya hampir setahun lebih. Dan aku bisa menebaknya kalau wanita itu belum berani pulang karena sudah menjalin hubungan dengan kak Ivan. Sungguh memalukan!" Hina Ryan menatap dokter Ivan dan Karina jijik.
"Hentikan Ryan!" Ivan berteriak menatap Ryan tajam. Karina hanya terdiam menundukkan kepalanya merasa bersalah.
"Kenapa? Kau sekarang menjadi seorang pebinor setelah bercerai dengan istrimu. Kukira ada apa, tenyata acara membanggakan seseorang sebagai pebinor. Huh.." Kesal Ryan hendak meninggalkan kursinya.
"Karina putri kandung papa yang telah hilang dua puluh lima tahun yang lalu." Suara bariton yang memenuhi mansion membuat Ryan menghentikan langkahnya. Ryan sontak berbalik menatap Ivan yang berteriak tadi. Dokter Nathan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya kalau Ryan salah paham tentang berita yang dibawanya.
"Apa katamu kak?"
"Ya. Karena adalah adik kandungku yang kami kira sudah meninggal terbakar di dalam mobil mama dua puluh lima tahun yang lalu." Ucap dokter Ivan lagi menatap dingin pada Ryan yang mulai surut amarahnya mencoba mencerna ucapan kakaknya.
"Papa?" Ryan menatap dokter Nathan meminta penjelasan.
"Yang dikatakan kakakmu benar. Karina putri kandung papa. Yang juga adik kandung Ivan, juga kakak beda ibu untuk kalian." Jawab dokter Nathan menatap Ryan yakin serta beralih menatap dokter Ibra yang sudah memahami berita dari sang papa.
Semuanya, dokter Ryan, dokter Ibra juga Reva istri Ryan menatap Karin lekat. Seolah sedang menilai kemiripannya dengan semua anggota keluarga terutama Ivan dan sang papa.
"Maaf. Membuat kalian salah paham." Ucap Karina merasa diperhatikan semua orang.
"Ayo, kuantar kau istirahat di kamar!" Ajak Ivan sambil membantu Karina berdiri.
"Aku bisa sendiri kak." Jawab Karina menatap papanya.
"Aku ke kamar dulu pa." Dokter Nathan hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan.
"Kalau ada pertanyaan kalian bisa menanyakan pada kakakmu." Dokter Nathan mengakhiri bicaranya dan pergi dari mansion. Ramon sudah menunggunya untuk melanjutkan pekerjaannya. Ryan dan Ibra saling menatap masih belum mempercayai apa yang didengarnya.
.
.
TBC