Turun Ranjang

Turun Ranjang
Bab 27


Dalam hubungan rumah tangga Dimas dan Anindira sudah melewati berbagai rintangan. Dari mulai turun ranjang, nikah terpaksa, mencoba jatuh cinta dan sekarang ujian dalam karier Dimas namun Dimas tak mau menyalahkan keadaan yang sudah terjadi atas dasar skenario yang sudah Tuhan tulis untuk perjalan hidup umatnya masing-masing.


Hari ini Anin sibuk membuat brownis dengan berbagai varian rasa,  ia hanya membuat tiga rasa coklat, pandan dan keju saja sebagai pemula di bantu Dimas yang ikut mengaduk adonan dengan sempurna. Rencananya ia akan mencoba menjualnya lewat pesanan online dulu.


Awalnya Dimas tidak terlalu setuju dengan ide Anin untuk membuka usaha dirumah apalagi untuk membuat brownis tidak mudah memakan waktu dan resiko kegagalan dalam rasa dan tingkat kematangan juga perlu diperhitungkan ditambah lagi mengurus Afifa sudah pasti Anin akan kerepotan, namun Anin membujuk Dimas agar membantunya juga karena tak ada salahnya jika membuat usaha di rumah sebagai bahan percobaan.


"Gimana rasanya?" tanya Anin.


"Pandan sama coklat enak, tapi yang keju rasanya masih kurang," ucap Dimas yang mencicipi.


"Masa sih? Anin coba," ucapnya mengambil potongan brownis.


"Gimana kurang pas kan?" tanya Dimas.


"Enak ih, emang gini tau rasanya," ucap Anin.


"Masa sih,tapi kok di mulut Mas rasanya ada yang kurang?" ucap Dimas.


Anin tak peduli, ia masih mencicipi brownis buatannya yang rasa keju itu, dan ia menawarkannya pada Dimas namun bukannya memakan brownis yang disuapi Anin ia malah mencium bibir tipis Anin dengan cepat dan lembut membuat Anin terkejut dan memukul dada bidang Dimas.


"Mas ih orang disuruh nyobain malah cium-cium," ucap Anin kesal


"Ternyata lebih enak rasanya dari mulut kamu." ucap Dimas sambil tersenyum.


Anin hanya terdiam sambil tersenyum malu dengan gombalan Dimas yang semakin hari membuatnya hampir jantungan. Dimas sering menciumnya dengan tiba-tiba dan membuatnya menahan nafas dalam-dalam ditambah Dimas membuatnya ikut terhanyut mereka berdua benar-benar seperti pengantin baru saja. 


"Mas rencananya mau cari kerjaan lain gimana " tanya Dimas.


"Gimana Mas aja, sambil cari kerja sambil bantu juga buat usaha di rumah ya," ucap Anin sambil memberi topping pada brownisnya.


"Rencananya Mas mau buka usaha baru lagi, tapi modalnya lebih besar jadi Mas mau investasi di usaha travel dulu aja kebetulan juga ada temen yang ngaja join dan modalnya gak terlalu besar," ucap Dimas.


"Travel apa?" tanya Anin.


"Travel Umrah sama HJ lagipula kita juga bisa ikut sekeluarga buat ke Mekkah, Mas belum pernah ngajak keluarga bareng-bareng buat Umrah." ucap Dimas.


"Anin setuju aja asalkan halal kenapa enggak? Anin juga belum pernah ke Mekkah," ucap Anin tersenyum.


"Inshaallah kita akan kesana secepatnya," ucap Dimas.


Dimas mengelus kepala Anin sambil tersenyum dan mencium keningnya ia tahu Anin akan selalu menyetujui apapun yang ia pilih selama itu masih hal baik.


*-*-*-*-*


Hari ini mereka akan menjemput Afifa agar pulang ke rumah karena sudah seminggu Afifa menginap dirumah Neneknya itu dan membuat Anin merasa kesepian. Dimas juga merasa tidak enak karena Ibunya bersikeras untuk membawa anaknya menginap padahal usianya belum genap satu tahun.


Setelah pulang dari rumah Ibu mereka singgah supermarket untuk membeli bahan-bahan membuat brownis karena Anin sudah mendapatkan dua pesanan untuk besok.


Anin sudah berencana akan terus mengembangkan usahanya membuat brownis rumahan sedangkan usaha membuat miniatur ia berhentikan dulu sementara waktu, terlebih karena terlalu banyak memakan waktu dan juga karena tidak terlalu banyak pesanan beberapa waktu belakangan ini, ia pun tidak masalah jurusan kuliah dengan sekarang berbanding terbalik lagipula ia sudah pernah merasakan bekerja menjadi arsitek di Djogja dan itu sudah cukup memuaskan untuknya.


"Udah cukup bahan-bahannya Nin?" tanya Dimas mendorong trolli.


"Sudah Mas, eh sama beli susu Afifa sama popoknya," ucap Anin yang menggendong Afifa.


"Ya udah kalau gitu kamu tunggu di mobil biar Mas sekalian bayar," ucap Dimas.


Aninpun memilih menunggu Dimas di mobil karena Afifa juga sudah tertidur sejak mereka pulang. Tak lama Dimas datang dengan tangan menentang belanjaan mereka yang cukup banyak.


"PakDimas.., maksud saya Dimas sedang apa di sini?" ucap Friska yang menghampiri Dimas.


"Habis belanja," ucap Dimas datar.


"Sama Anin?" tanya Friska.


"Iya nunggu di mobil," jawab Dimas .


"Oh gitu, aku mau bicara sama kamu sebentar boleh?" tanya Friska.


"Ada apa?" tanya Dimas sambil berjalan ke arah mobil dan memasukan belanjaan ke belakang mobil.


"Perusahaan kamu beneran di jual?" tanya Friska.


Dimas menutup pintu mobilnya dan kemudian menarik nafasnya,  sebenarnya masih ada rasa kecewa setiap kali bertemu dan melihat Friska.


"Bukankah sudah jelas dan kamu lihat sendiri saya menjualnya?" ucap Dimas menatap Friska tajam.


"Aku tahu, tapi bukankah Pak Arya itu kakak kamu?" tanya Friska.


"Dari mana kamu tahu?" tanya Dimas.


"Aku sudah tahu Dimas, aku gak tahu kamu benar-benar jual saham kamu atau cuman ganti pemegang saham aja"


"Apa mau kamu?" tanya Dimas langsung.


"Dimas aku gak minta apa-apa, aku cuman mau bilang kalau cara kamu salah, kamu jual saham sama kakak kamu dan ngangkat sekretaris kamu jadi manager pasti banyak yang curiga," ucap Friska sambil menyelipkan rambutnya.


Dimas menatap Friska sejenak sebelum akhirnya menatap ke kaca mobilnya melihat Anin yang melihat ke arahnya dan Friska.


"Perusahaan saya memang gagal ada orang yang ingin menghancurkannya dan kemungkinan ada campur tangan orang dalam, saya pikir kalau pemagang saham di alihkan akan lebih mudah mencari pelakunya,"


Friska terdiam sejenak, ia menatap mata hitam Dimas sejenak sebelumnya akhirnya menatap ke arah mobil Dimas dan ia melihat Anin yang tersenyum ke arahnya.


"Sebenarnya menurut aku cara kamu ini salah, karena orang yang mau ngancurin itu kemungkin bukan hanya ngancurin karir kamu tapi hidup kamu Dim," ucap Friska.


"Maksud kamu?" tanya Dimas.


"Meskipun kamu gak di perusahaan kemungkinan orang itu tetap incar kamu Dim, aku rasa orang itu mungkin dendam sama kamu, aku cuma ingetin kamu aja Dim," ucap Friska.


Dimas terdiam sejenak, perkataan Friska ada benarnya juga mungkin saja orang itu memang mengincar dirinya bukan perusahaannya, tapi mengapa? Dimas merasa ia tak pernah punya musuh selama ini dan ia juga tak pernah membuat masalah dengan orang lain.


"Sepertinya kamu buru-buru Dim,  ya sudah aku sudah selesai bicara dengan kamu, semoga kamu bisa jaga diri dan juga jaga keluarga kamu."


"Terimakasih." 


"Oh iya kamu masih berhubungan sama Gilang? Sudah beberapa kali lihat dia ke kantor," ucap Friska


"Ke kantor? Ngapain?" tanya Dimas heran.


"Aku juga gak tahu, coba kamu tanya dia siapa tahu mau ketemu kamu." ucap Friska kemudian pamit berjalan ke arah supermarket.


Dimas mengernyit heran karena sudah lama Gilang tak pernah ke kantornya dan sekarang setelah ia mendapat kabar Gilang datang ke kantornya? Untuk apa?


Dimas memilih masuk ke mobilnya, sedangkan Anin menatap Dimas yang masih tercenung di kursi kemudinya membuat ia binggung apa yang Dimas dan Friska bicarakan. Selama perjalanan Anin dan Dimas saling diam, kali ini Anin tak mau bertanya ia lebih memilih bertanya saat ditiba dirumah.


"Ada apa Mas kelihatan cemas gitu?" tanya Anin menghampiri Dimas.


"Gapapa Nin," ucap Dimas.


"Tadi sama teh Friska ngobrolin apa?  Kayaknya serius banget,"


"Masalah kantor." jawab Dimas.


"Ada masalah di kantor punya Mas dulu?" tanya Anin


"Gak Nin, tadi dia bilang sekarang kantor sudah lebih baik dan berjalan normal lagi," ucap Dimas tersenyum.


"Alhamdulillah kalau gitu berarti kantor udah lebih baik," ucap Anin tersenyum ke arah Dimas.


Dimas membalas senyum Anin sekilas kemudian ia membaringkan kepalanya di paha Anin dan menonton melihat ke arah televisi sedangkan Anin mengelus rambut Dimas yang hitam pekat itu.


"Apakah sesulit menyukai dan memiliki wanita cantik." gumam Dimas yang terdengar jelas di telinga Anin.


Anin pura-pura tak mendengar apapun, ia tahu Dimas sedang banyak pikiran apalagi sejak bertemu dengan Friska. Anin pun tak mau banyak bertanya karena jika Dimas tak menceritakannya ia takkan memaksa, namun gumaman Dimas itu membuat hatinya merasa sesak. Apakah yang ia ucapkan adalah tentang dirinya?  Apakah Dimas sedang dalam masalah karena dirinya?


*-*-*-*-*


Sudah seminggu lebih Anin sibuk mendapat pesanan brownis, untung saja diantar dekat dengan daerah rumahnya dan Dimas gampang mengantar meskipun ia sibuk juga mengurus bisnis barunya namun ia mengusahakan untuk mengantar pesanan dan sekarang Dina juga ikut membantu bisnis Anin, ia mempromosikannya pada teman-temannya dan pesananpun meningkat sejak itu dan membuat Ibu juga terkadang ikut membantu membuatnya.


"Mas hari ini gak bisa nganterin pesanan soalnya mau ada pertemuan sama rekan bisnis Mas, nanti antar sama Dina aja gimana?" ucap Dimas.


"Iya Mas gapapa sama Anin aja diantarnya lagian dekat kok bisa naik motor sebentar, Dina juga ada kelas siang kasihan kalau dia harus nganterin dulu," ucap Anin.


"Kamu mau naik motor atau mobil?" tanya Dimas mengenakan kemejanya.


"Naik motor aja Mas biar cepet sama Anin juga mau ngambil lagi dus brownisnya soalnya udah habis," ucap Anin sambil membantu Dimas mengancingi kemeja.


"Hati-hati bawa motornya apalagi kamu bawa Afifa jangan ngebut-ngebut,"


"Siap pak bos." ucap Anin mengangkat jempolnya.


Dimas pun pamit pergi sedangkan Anin yang baru saja memandikan Afifa langsung memberi makan dan membuatkan susu formula untuk di bawa nanti, sebenarnya ia tak ingin membawa Afifa untuk mengantarkan pesanan namun ia juga tak enak jika menitipkan Afifa bersama Ibu mertuanya karena itu hanya membuat Anin merepotkan mertuanya.


Anin mengendarai motor dengan kecepatan standar, sambil mengendong Afifa di depan tangannya menenteng pesanan brownis.


Anin menekan bel rumah..


"Pesanan saya ya," ucap Pria dipintu rumahnya.


"A'Gilang?" ucap Anin.


"Jadi kamu yang jualan brownis? Saya gak tahu, jadi berapa semuanya?" ucap Gilang mengambil brownis ditangan Ani.n


"Delapam puluh ribu." ucap Anin.


"Oke saya ambil uang dulu, kamu masuk dulu kasihan Afifa juga kayaknya kecapekan," ucap Gilang.


"Gapapa tunggu di sini aja mau langsung pulang."


"Ya sudah saya ambil dulu uangnya kamu duduk dulu," ucap Gilang kemudian masuk ke dalam.


Anin memilih duduk di kursi luar sambil memberikan empeng pada Afifa yang sedang menatap sekeliling rumah Gilang.


"Nih Nin, kembaliannya buat Afifa aja," ucap Gilang memberikan uang seratus.


"Wah makasih banyak a," ucap Anin tersenyum.


"Kamu nganter sendiri Nin pesanannya sambil bawa Afifa?"


"Iya, biasanya sama Mas Dimas cuman sekarang lagi pergi jadi sama Anin," ucap Anin.


"Afifa udah berapa bulan?" tanya Gilang yang duduk disebelah Anin.


"Mau masuk 8 bulan a" ucap Anin.


"Wah udah besar aja, udah lama gak ketemu sama Om ya," ucap Gilang sambil mencubit pipi Afifa.


"Om nya sih hilang," ucap Anin.


"Lamu gimana sama Dimas?" tanya Gilang.


"Alhamdulillah baik-baik aja."


"Syukurlah aku pikir Dimas belum bisa lupain kakak kamu soalnya dia cinta banget sama Alm Kirana."


"Mas Dimas masih cinta sama teh Kirana karena bagaimanapun dia Ibu kandung Afifa,"


"Kamu bahagia Nin?"


"Alhamdulillah bahagia, apalagi lihat Afifa sekarang udah makin pinter dan aktif,"


"Bener juga, Nin aku mau foto bareng sama kamu sama Afifa dong buat kenang-kenangan," ucap Gilang.


"Oh iya boleh." ucap Anin.


Gilang mengeluarkan ponselnya dan mengambil potretnya bersama Anin dan Afifa dan Gilang pun memposting foto tersebut di akun facebooknya.


"Anin pamit pulang dulu ya, makasih ya udah order," ucap Anin.


"Iya makasih juga ya udah nganterin ke sini, nanti kapan-kapan kalau saya pesan biar saya aja yang ambil." ucap Gilang.


"Iya boleh a, oh iya nanti kirimin ya foto yang tadi ke whatsapp Anin." ucap Anin.


"Oke saya kirimin sekarang," ucap Gilang.


Anin pun mengangguk seraya pamit dari rumah Gilang. Anin memilih mengambil pesanan dus brownisnya sebelum pulang.


Sedangkan itu..


Friska sedang beristirahat dan makan siang bersama teman kantornya, ia membuka facebooknya dan melihat postingan terbaru Gilang yang mengupload foto bersama Anin dan Afifa ia pun penasaran mengapa Gilang bisa bersama Afifa? 


Friska pun melihat facebook Gilang dan album fotonya ada beberapa foto Gilang bersama Anin dua tahun lalu bahkan foto Anin menggunakan kebaya dan Gilang menggunakan jas sepertinya foto saat pernikahan Dimas dan Kirana dulu.


"Apa dulu Gilang sama Anin dekat?" tanya Friska.


Ia melihat pertemanan Gilang ternyata ia tak berteman dengan Dimas lagi? Aneh padahal facebook mereka dulu berteman tapi ia cari tidak ada teman yang sama hanya ada Rendra saja, apa Gilang memblokir Dimas atau sebaliknya? Atau mereka ada konflik? Ada apa sebenarnya?  Karena kemarin saat Friska bertanya pada Dimas tentang Gilangpun ia sedikit terkejut. Friska harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.