Turun Ranjang

Turun Ranjang
Chapter 146


"Kau yakin baik-baik saja?" Tanya Ivan menatap Karina cemas. Karena sejak pulang dari restoran tanpa sengaja bertemu dengan Johan, Karina hanya diam tak bergeming meski dia bertanya keadaannya.


"Aku baik-baik saja kak." Jawab Karina memaksakan senyumnya sambil menatap Ivan, tak mau membuat cemas kakaknya. Namun bukan ketenangan yang didapatkan Ivan, dia malah terlihat cemas.


"Kau ingin menemuinya?" Tanya Ivan menjeda ucapannya, Karina menatap Ivan diam. "Untuk minta penjelasan mungkin. Kau sudah disini hampir sebulan, dan kau belum menemuinya sama sekali. Setidaknya kau harus minta kejelasan tentang hubungan kalian." Saran Ivan penuh perhatian.


"Aku ingin pulang kak, aku mohon!" Pinta Karina mulai berkaca-kaca. Di benaknya masih banyak pikiran tentang pemandangan yang dilihatnya tadi, suaminya bersama dengan seorang wanita dan entah siapa dia. Wanita itu terlihat cantik dan elegan. Dia bisa menebaknya kalau wanita itu pasti bukan wanita sembarangan. Seketika Karina merasa insecure dari wanita yang bersama suaminya tadi.


Apa mereka sudah lama berhubungan? Apa mereka sudah bersama sejak aku pergi. Mereka terlihat akrab, bahkan mas Johan tidak pernah seakrab itu dengan wanita manapun selama kami bersama. Apa dia mempunyai seseorang di belakangku. Karina terlihat menggelengkan kepalanya tak percaya mencoba menepis prasangka buruknya. Ya Allah, jika kami berjodoh tolong dekatkan kami, jika kami hanya berjodoh sampai disini. Berikan jalan yang terbaik Ya Allah. Batin Karina berkecamuk.


"Kau tak apa-apa? Apa kau merasa pusing?" Tanya Ivan melihat Karina melamun sambil menggeleng-gelengkan kepalanya membuat Ivan semakin cemas.


"Aku baik-baik saja kak, sungguh!" Ucap Karina meyakinkan Ivan, membuat Ivan terdiam menghela nafas panjang.


Mobil yang ditumpangi mereka sudah berhenti di halaman mansion papanya. Keduanya pun turun dengan dibantu Ivan memapah Karina meski sang adik menolak karena merasa baik-baik saja. Namun saat keluar dari mobil Karina tampak terhuyung refleks Ivan memegang adiknya dengan tatapan kesal dan cemas.


"Katakan tidak baik-baik saja jika memang tidak baik Karin!" Sentak Ivan dengan raut wajah cemas. Ivan sontak membopong tubuh Karina meski Karina meronta untuk diturunkan, namun Ivan tetap pada pendiriannya tak mau dibantah.


"Papa." Suara gadis kecil membuat keduanya tersentak membuat wajah Karina memerah dan tak jauh dari gadis kecil itu berdiri ada Alicia menatap keduanya merasa cemburu meski dia tidak berhak namun dia sangat marah melihat hal itu. Selama mereka menikah, Ivan, mantan suaminya tak pernah memperlakukan dirinya dengan lembut seperti itu.


"Tunggu papa sayang!" Ucap Ivan membuat Alicia dan putrinya Cecil menatap Ivan.


"Baik papa." Ivan bahkan tak melirik pada Alicia sama sekali. Dia terus melangkah menuju kamar adiknya.


"Siapa dia ma?" Tanya Cecilia setelah sang papa masuk membopong Karina.


"Entahlah! Mungkin mama barumu." Jawab Alicia asal, dia sendiri merasa penasaran dengan wanita yang dibopong oleh suaminya yang diperlakukan lembut itu. Dia pun segera masuk ke dalam dengan menggandeng tangan putrinya.


"Istirahatlah!" Saran Ivan setelah menyelimuti adiknya.


"Aku baik-baik saja kak, sungguh?" Bujuk Karina menatap Ivan.


Dia sungguh sangat bahagia diperlakukan lembut dan baik oleh kakak satu-satunya yang telah lama berpisah. Namun dia juga bukan anak kecil lagi yang harus dimanja. Dia sangat malu saat dilihat gadis kecil dan wanita yang dikenalinya sebagai mantan istri kakaknya juga putrinya yang itu artinya gadis kecil itu adalah keponakannya.


"Setelah ini kakak akan selalu bersamamu, setiap saat setiap waktu kemana pun kamu pergi." Putus Ivan menatap Karina tegas.


"Tapi kak..."


"Tidak ada penolakan Karin. Kau baru saja sembuh. Kau harus bed rest. Aku tak mau terjadi sesuatu denganmu. Apalagi sampai kau berpikiran buruk. Kau juga tak mau meminta penjelasan padanya. Ku harus tegas Karin." Tegas Ivan membujuk adiknya.


"Aku... aku takut kak... aku takut dia akan mengatakan kalau dia sudah melupakanku karena aku telah pergi meninggalkannya. Aku takut kak. Hiks...hiks..." Air mata yang dibendungnya sejak tadi membuat Karina tak mampu lagi menahannya.


Dia sungguh sangat mencintai suaminya. Sebelumnya dia juga yakin kalau suaminya pasti akan menunggunya dan setia padanya. Namun setelah melihat kejadian tadi, kepercayaannya dipatahkan oleh yang dilihatnya pagi tadi. Suaminya bersama wanita lain yang berbincang akrab dan terlihat dekat.


Ivan mendekap tubuh adiknya merasa kasihan. Dia hanya mengelus punggungnya untuk menghiburnya.


"Istirahatlah dulu! Kita pikirkan nanti. Kau harus rileks dan tenang. Aku tak mau kau sakit lagi. Okay?" Ivan menatap adiknya penuh kasih membuat Karina merasa terlindungi dan akhirnya menganggukkan kepalanya menuruti ucapan kakaknya untuk berbaring dan istirahat.


"Aku harus menyapa putrimu kak?" Ucap Karina kembali membuka matanya mengingat ada orang lain di mansion papanya yang biasanya hanya maid.


"Kau bisa melakukan lain kali. Kau harus istirahat, mengerti?" Ucap Ivan lagi.


"Maaf merepotkan kakak." Ucap Karina.


"Aku menyayangimu Karin, aku ingin menebus semuanya setelah perpisahan kita. Aku tak mau kehilangan kau lagi. Kau lah satu-satunya saudaraku." Ucap Ivan.


Cklek


"Papa." Sapa Cecil mengejutkan Ivan seketika menoleh menatap putrinya.


Blam


Ivan menutup pintu kamar Karina rapat. Tak mau adiknya mendengar suara yang mungkin mengganggu tidurnya.


"Hai, putri papa." Sapa Ivan membungkukkan badannya menyamakan tinggi badan putrinya.


"Aku kangen papa." Ucap Cecil sambil memeluk tubuh Ivan yang dibalas dekapan erat Ivan penuh kasih sayang.


"Papa juga merindukanmu sayang." Jawab Ivan sambil menggendong putrinya menuju ruang keluarga tak jauh dari kamar Karina.


"Kau tidak sekolah?" Tanya Ivan saat mereka sudah duduk di sofa ruang keluarga. Dia bahkan tak melirik ataupun menyapa Alicia yang sejak tadi juga ada disana membuat Alicia geram dan marah merasa diacuhkan.


"Siapa dia mas?" Suara Alicia membuat keduanya terdiam dan sontak menatap Alicia. Sejak perceraian mereka memang Ivan jarang bicara dengan Alicia atau sekedar menyapa jika mereka tak sengaja papasan. Dia ramah hanya karena ada putri mereka meski Ivan tahu Cecil bukan putri kandungnya. Namun dia berusaha menyayangi gadis kecil tak bersalah dan tak tahu apa-apa itu.


"Iya pa, siapa aunty tadi? Apa dia sakit sampai papa menggendongnya. Bahkan papa tak pernah menggendong mama dulu." Ucapan Cecil membuat Alicia tersenyum seringai, dia merasa terwakilkan dengan pertanyaan putrinya.


"Dia..." Ivan tidak melanjutkan ucapannya menatap putrinya yang menatapnya polos sambil mengedip-ngedipkan matanya. Alicia menajamkan pendengarannya.


"Kak." Suara seseorang menginterupsinya untuk menoleh ke arah suara yang dikenalinya.


"Ryan?" Jawab Ivan melihat dokter Ryan, adik beda ibu memanggilnya. Dia datang bersama istri dan bayi berusia tujuh bulanan yang digendong oleh baby sitternya.


"Kakak juga disini?" Tanya dokter Ryan jarang melihat kakaknya di mansion papanya. Karena kakaknya selalu tinggal di apartemennya. Dia akan pulang jika mengundangnya untuk makan malam.


"Kenapa?" Tanya Ivan dengan wajah datar.


"Papa mengundangku kemari untuk makan malam hari ini." Jawab dokter Ryan menoleh menatap mantan kakak iparnya juga ada disana. Awalnya dokter Ryan mengira hanya bersama dengan Cecil saja karena Cecil memang sering berkunjung ke mansion untuk menemui kakaknya.


"Benarkah?" Tanya Ivan mengernyitkan keningnya.


"Ya, kak Ibra juga sedang menyelesaikan pekerjaannya untuk makan malam juga." Jawab dokter Ryan membuat Ivan kembali mengernyit bertanya-tanya apa tujuan papanya mengumpulkan semua keluarga untuk makan malam.


"Baiklah kak, kami ke kamar dulu. Putriku pasti capek, kami istirahat dulu sebelum makan malam." Pamit dokter Ryan sambil melirik mantan kakak iparnya.


"Baiklah."


"Hai kakak ipar." Sapaan dokter Ryan pada Alicia membuat Alicia besar kepala karena masih dianggap kakak iparnya oleh adik iparnya.


"Hai." Alicia membalas basa-basi sapaan dokter Ryan.


"Ryan." Suara dingin Ivan membuat dokter Ryan bergidik.


"Hanya bercanda kak haha...ha.." Canda dokter Ryan memilih pergi dari sana sebelum melihat kakaknya murka. Meninggalkan keluarga kecil yang sudah tidak bersama-sama itu lagi.


.


.


TBC