Turun Ranjang

Turun Ranjang
Chapter 126


"Boleh kita bicara?" Pinta dokter Nathan berdiri tepat di hadapan Karina. Sontak hal itu membuat Karina langsung mendongak melihat seseorang yang berdiri menjulang di hadapannya.


"Assalamualaikum dok." Sapa Karina mengingat siapa yang ada di hadapannya ini, dia sontak berdiri mengucap salam sambil menangkupkan kedua tangannya di dada berusaha bersikap sopan.


Terakhir dia di selamatkan saat jatuh dari ranjang kamar perawatan Karina hanya mampu menatap wajah pria paruh baya itu dari kejauhan karena brankarnya di dorong masuk ke dalam ruang tindakan sambil masih meringis kesakitan. Meski samar-samar dia bisa melihat jelas wajah pria paruh baya yang menolongnya itu.


Setelah sadar dari operasi tindakan itu, Karina mencoba mencari tahu tentang siapa yang menolongnya saat itu. Dan hanya pada perawat yang ikut membantu di ruang tindakan yang bisa ditanyainya.


Bahkan Johan tak tahu tentang kejadian tersebut. Yang dia ketahui adalah dokter Ivan yang menolong istrinya saat itu.


"Suster." Sapa Karina setelah selesai diperiksa saat masih dirawat di ruang perawatan.


"Ya nona." Jawab perawat itu ramah. Saat itu dia sedang sendirian, suaminya sedang bicara dengan dokter Ivan tentang hasil operasinya.


"Siapa yang menolong saya saat jatuh dari ranjang kemarin?" Tanya Karina menatap penasaran pada perawat yang terus tersenyum ramah tersebut.


"Oh, dokter Nathan yang menolong anda nona. Dokter Nathan juga yang langsung memanggil dokter Ivan. Dan dokter Nathan juga yang mendesak dokter Ivan yang notabene adalah direktur utama di rumah sakit milik dokter Nathan." Jelas perawat itu ramah. Memang tak banyak yang tahu selain petinggi rumah sakit kalau dokter Ivan adalah putra sulung dari dokter Nathan.


Dokter Ivan yang sengaja merahasiakannya karena tak mau menilai semua pekerjaannya hanya karena dia sebagai seorang anak pemilik rumah sakit. Dia ingin diakui sebagai direktur rumah sakit juga sebagai dokter yang memang memiliki kemampuan yang dicapainya sendiri.


"Dokter Nathan?"


"Iya nona."


"Dokter Nathan pemilik rumah sakit?" Tanya Karina sekali lagi tak percaya dengan yang didengarnya.


Karina merasa tak memiliki urusan dengan dokter paruh baya tersebut apalagi dia selaku pemilik rumah sakit. Bahkan dia tak mengenal baik dirinya. Namun entah kenapa dalam sudut hati Karina dia merasa familiar dengan dokter Nathan tersebut. Dan menatap wajahnya entah kenapa dia merasa nyaman dan terlindungi.


"Apa suster tahu seperti apa wajahnya?" Tanya Karina meski sebenarnya dia sudah ingat wajah dokter Nathan meski samar, dia ingin memastikan sesuatu, apa sama dengan wajah yang dalam pikirannya. Mungkin dia harus mendatangi sang dokter untuk berterima kasih karena menolongnya saat itu meski itu adalah kebetulan. Namun dokter Nathan tak mungkin masuk ke ruang perawatannya kalau dia tidak ada urusan dengan orang yang ada di ruang perawatannya.


Apakah beliau ingin bertemu dengan suamiku? Bagaimana pun dulu suaminya pernah bekerja di rumah sakit ini? Ya, pasti ingin bertanya dan bertemu dengan suamiku. Batin Karina merasa memecahkan rasa penasarannya.


Perawat itu mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu di penelusuran pencarian mengetik nama dokter Nathan.


"Ini dia nona, dia langsung muncul saat saya mengetik namanya di kotak pencarian." Ucap perawat tersebut menunjukkan tampilan layar ponselnya pada Karina. Karina pun meraih ponsel perawat tersebut menatap lekat wajah dokter Nathan yang terpapang jelas di layar ponsel itu yang terasa familiar dengan senyuman ramah dokter Nathan di layar ponsel itu.


"Terima kasih sus." Ucap Karina saat sudah lama memegang ponsel perawat itu.


"Sama-sama nona." Jawab perawat itu ramah.


"Bagaimana cara agar saya bisa menemuinya? Ah, saya ingin berterima kasih karena beliau sudah menolong saya." Ucap Karina berusaha tersenyum ramah menekan rasa penasarannya.


"Oh saya kurang tahu, dokter Nathan jarang datang ke rumah sakit kalau tidak sedang ada urusan tentang rumah sakit. Apalagi posisinya sekarang sudah digantikan oleh dokter Ivan. Coba nona bertanya pada dokter Ivan, mungkin beliau bisa membantu." Saran perawat tersebut.


"Terima kasih suster." Jawab Karina.


"Baiklah nona, saya permisi dulu."


.


.


Saat ini, Karina sedang duduk di kantin rumah sakit. Setelah pamit pada bodyguard yang menjaganya jika sewaktu-waktu suaminya menanyakan keberadaannya meski salah satu diantara mereka memaksa untuk mengikutinya, Karina terpaksa mengiyakan bagaimana pun juga bodyguard itu hanya mengikuti perintah tuannya.


"Saya sangat berterima kasih atas pertolongan anda saat itu dokter." Ucap Karina memecah keheningan karena sudah lebih dari sepuluh menit mereka terdiam belum ada yang memulai pembicaraan. Dokter Nathan tak henti-hentinya menatap wajah Karina dengan tatapan mata sendu dan penuh kerinduan. Dan hal itu membuat Karina merasa tak nyaman ditatap seperti itu.


Apalagi tatapan itu sangat tajam membuat Karina sedikit ngeri meski tak sepenuhnya takut. Namun Karina sendiri masih ingin dan betah berlama-lama dengan pria paruh baya itu.


Diam, itulah respon dokter Nathan saat Karina menyampaikan maksud ucapannya. Namun dia masih betah menunggu dokter paruh baya tersebut menjawab ucapannya.


"Dokter!" Panggil Karina namun dokter Nathan masih diam sibuk dengan lamunannya yang terus menatap dirinya intens.


"Dokter Nathan!" Seru Karina lebih kencang membuat dokter Nathan tersentak kaget mendengar seruan Karina yang duduk di hadapannya terhalang meja kantin.


"Ah, maaf. Saya melamun. Oh ya, anda bicara apa?" Tanya dokter Nathan merasa bersalah.


"Terima kasih atas pertolongan anda saat saya jatuh dari ranjang perawatan beberapa waktu lalu." Ucap Karina lagi membuat dokter Nathan menganggukkan kepalanya mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Saat itu dia ingin bertemu dengan Karina yang diyakini sebagai putrinya yang sudah meninggal dulu.


"Saya refleks saat itu, saya pun akan melakukan hal yang sama pada orang lain." Jawab dokter Nathan masih berusaha tenang meski dirinya ingin melepas rindu pada putrinya yang ada di hadapannya ini. Yang mempunyai wajah mirip istrinya saat masih muda dulu dan masih hidup.


"Tidak." Ucap Karina lagi membuat dokter Nathan mengernyit tak mengerti apa maksud ucapan Karina.


"Maksud saya, apa anda ingin bertemu dengan seseorang sehingga anda masuk ke dalam ruang perawatan saya saat itu?" Ucapan Karina membuat dokter Nathan tertegun dan seketika dia tertawa kecil mendengarnya.


Ah, memang dia putriku. Mungkin wajahnya mirip almarhum istriku, tapi sifat tegasnya pasti menurun dariku. Tapi...


"Sayang, kenapa kamu pergi tak menungguku?" Suara bass seseorang membuyarkan keduanya dan keduanya menoleh bersamaan menatap ke arah suara. Johan tak suka melihat istrinya duduk berdua dengan pria lain meski dokter Nathan adalah pria paruh baya yang lebih pantas menjadi ayah dari istrinya tersebut. Dia sudah tak memperdulikan meski dokter Nathan dulu adalah atasannya saat dirinya menjadi dokter dulu.


"Dokter Johan, apa kabar?" Tanya dokter Nathan berdiri dari duduknya bersamaan dengan Karina yang ikut berdiri saat suaminya mendekati meja mereka. Karina hanya diam tak menyapa atau menjawab ucapan suaminya.


"Saya baik." Jawab Johan sambil mendekati tubuh istrinya melingkarkan tangannya di pinggang istrinya posesif menunjukkan kepemilikannya setelah menjabat tangan dokter Nathan. Mata dokter Nathan tak lepas dengan arah tangan Johan yang terlihat posesif pada istrinya. Sudut bibir dokter Nathan terlihat tersenyum tipis meski tak ada yang menyadari karena dia segera menunjukkan wajah datarnya.


"Apa yang anda inginkan pada istri saya?" Tanya Johan posesif.


"Kami sudah selesai berbincang dengan istri anda. Saya juga sedang ada urusan beberapa jam lagi. Kalau begitu saya permisi." Dokter Nathan pamit sambil menatap pada Johan hingga kemudian beralih menatap wajah Karina dengan tatapan rindu. "Terima kasih sudah berbincang dengan pria tua seperti saya nak Karina." Ucap dokter Nathan tersenyum ramah menatap Karina dengan tatapan sendu.


"Terima kasih sekali lagi dokter Nathan." Dokter Nathan hanya menganggukkan kepalanya dan pergi meninggalkan keduanya.


.


.


TBC