Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 99


Chandra membukakan pintu untuk Yuna. Ketakutan dan amarah masih jelas terlihat di wajahnya yang sembab. Yuna masih tak habis pikir dengan apa yang baru saja menimpanya. Barra tega melecehkannya demi menggagalkan pernikahannya bersama Chandra.


Yuna semakin bisa merasakan betapa egoisnya Barra. Menjerat dirinya dalam lingkaran pernikahan yang sudah lama usai. Membatasi ruang gerak dan kebahagiaannya, sedangkan Barra dan Cindy bisa menikmati hidup mereka sesuai apa yang mereka inginkan.


Seolah-olah hanya mereka berdua yang berhak menentukan hidup. Menjadikan Yuna sebagai boneka yang bisa mereka mainkan sesukanya.


"Ibu bisa memarahiku kalau lihat kamu seperti ini." Chandra mengusap lembut pipi Yuna. Wajah sendunya tidak bisa ditutupi. Mama Rena pasti akan kecewa jika melihat Yuna datang bersama Chandra dalam keadaan seperti itu. Sedangkan Chandra sudah berjanji tidak akan membuat Yuna menangis.


"Coba mana senyum manisnya,," Dia lalu menarik kedua pipi Yuna bersamaan agar wanita cantik itu tersenyum.


Yuna tersenyum geli, sesaat lupa dengan apa yang baru saja terjadi padanya.


Cara dan ekspresi wajahnya saat sedang membujuk, membuat Yuna tersentuh. Dia tidak pernah melihat Chandra melakukan hal seperti ini. Pemimpin yang tegas dan dingin itu berubah 180 derajat saat sedang membujuknya. Terlihat cemas dan takut.


"Good girl,," Chandra mengacak lembut rambut Yuna. Dia pikir sudah berhasil membujuk Yuna tersenyum dengan caranya, padahal Yuna sedang menertawakan sesuatu yang berbeda dalam dirinya.


"Makasih,," Ucap Yuna tulus.


"Kalau saja Mas Chandra nggak datang tepat waktu,,


"Ssstttt,,,"


Chandra meletakkan jarinya di bibir Yuna sembari menggelengkan kepala.


"Jangan mengingatnya lagi. Ayo masuk,," Dia menggandeng tangan Yuna dan membawanya masuk kedalam rumah.


Yuna terus menatap Chandra dengan mata yang berbinar. Mungkin memang Chandra pria yang ditakdirkan untuk memberikan kebahagiaan padanya. Sosok pria yang akan mengobati luka dan mengisi cinta di dalam hidupnya.


Yuna mulai menaruh harapan pada hubungannya bersama Chandra, berharap kebahagiaan akan selalu menyertai keluarga kecilnya. Tidak ada lagi air mata, tidak ada lagi goresan luka yang harus dia rasakan setiap harinya.


"Kenapa pulang lagi Yun.? Ada yang ketinggalan.?" Tanya Mama Rena dari ruang keluarga. Dia sedang menyuapi Ara dan Zie yang terlihat baru selesai mandi.


"Nak Chandra juga belum ke kantor.?" Mama Rena juga menyapa calon menantunya yang datang bersama Yuna di jam kantor.


"Yuna bilang sedang tidak enak badan, jadi saya ke ruko dan mengantarnya pulang." Ujar Chandra.


"Mas,,," Tegur Yuna lirih, dia juga menatap bingung pada Chandra.


"Sebaiknya kamu istirahat saja, jangan ke ruko lagi sampai acara pernikahan kita. Jangan terlalu lelah."


"Lagipula tinggal beberapa hari lagi. Pekerjaan di ruko biar karyawan kamu saja yang mengurusnya."


Chandra menatap teduh, dia juga memberikan kode pada Yuna agar menuruti ucapannya.


Yuna mengangguk patuh, kemudian tersenyum lebar pada Chandra. Laki-laki itu tidak mengatakan yang sebenarnya pada Mama Rena. Jika Mama Rena tau, dia pasti akan sangat kecewa dan terluka dengan perlakuan buruk Barra pada Yuna.


"Kamu sakit nak.? Kenapa nggak bilang sama Mama.?" Mama Rena langsung beranjak dari duduknya, ekspresi wajahnya berubah cemas. Takut terjadi sesuatu pada Yuna karna memang sejak bercerai dari Barra, Yuna bekerja sangat keras untuk usahanya.


"Yuna baik-baik saja Mah, hanya kecepean." Tutur Yuna dengan seulas senyum untuk menenangkan Mama Rena.


"Ya sudah sebaiknya kamu istirahat saja."


"Nak Chandra benar, sebaiknya kamu di rumah saja sampai acara pernikahan nanti." Ujar Mama Rena dengan wajah cemas. Tentu saja dia tidak ingin sesuatu terjadi menjelang pernikahan putrinya.


"Kalau begitu aku ke kantor lagi." Ucap Chandra sembari melirik arlojinya.


"Aku ada meeting pagi ini." Tuturnya. Dia mengusap lembut pucuk kepala Yuna dan menatapnya teduh. Setelah itu beralih menghampiri twins untuk menyapa mereka sebelum kembali ke kantor.


...*****...


Yuna mengukir senyum tipis. Senyum itu mungkin terlihat biasa saja, namun mengandung kebahagiaan dan harapan besar di dalamnya.


Yuna merasa terlahir kembali dengan tampilan dan suasana hati yang jauh lebih baik dari sebelumnya.


Beberapa menit lagi pernikahannya dengan Chandra akan di langsungkan. Sebagian tamu undangan bahkan sudah mengisi ballroom yang di dekor dengan hiasan megah nan mewah.


Mungkin pernikahan ini akan menjadi pernikahan yang pernah di impikan oleh Yuna beberapa tahun silam.


"Nak,,," Mama Rena berdiri di samping putrinya, mengusap lembut punggung putrinya dan mentaap lekat wajah cantik itu.


Yuna menoleh, mendongakkan kepala untuk menatap Mama Rena.


"Mama mungkin tidak bisa memberikan apapun di hari pernikahan kamu, tapi do'a akan selalu menyertai langkah kamu dimanapun kamu berada."


"Semoga pernikahan kamu dan nak Chandra diberi kelancaran. Mama harap pernikahan kali ini akan memberikan banyak kebahagiaan untuk kamu dan anak-anak." Ucap Mama Rena dengan suara yang bergetar menahan tangis.


Dia tidak menginginkan apapun didunia ini selain kebahagiaan anak dan kedua cucunya. Mama Rena yang paling tau bagaimana kehidupan berat Yuna selama ini. Sudah saatnya Yuna bahagia. Bisa tertawa lepas seperti beberapa tahun silam sebelum Papanya memberikan luka di hati.


"Terimakasih Mah,," Yuna mendekap erat tubuh Mama Rena. Sama halnya dengan harapan sang Mama, Yuna juga menginginkan hal yang sama. Dia sudal lelah menjalani kehidupan yang berat dan menyedihkan sepama bertahun-tahun lamanya.


Suasana di ballroom mulai terasa khidmat. Acara pernikahan itu sudah didepan mata. Chandra dan Yuna sudah bersanding di depan penghulu dan beberapa saksi serta wali.


Daddy Hendra bahkan menjadi saksi untuk pihak mempelai wanita.


Mommy Sonya beserta Sisil duduk tak jauh dari sana. Keduanya terlihat bahagia sekaligus sedih. Sedih karna memikirkan perasaan Barra saat ini.


Laki-laki itu bahkan hadir dalam acara ini karna ingin ikut mendampingi twins yang merayakan ulang tahun mereka yang ke 2.


Barra duduk dari kejauhan. Raut wajahnya terlihat putus asa. Harapannya untuk membuat Yuna kembali padanya kini telah pupus. Dia benar-benar akan kehilangan wanita cantik itu.


Wanita yang telah memberikannya 2 orang anak. Wanita yang telah mengambil sebagian hatinya.


Barra mengakui dia egois karna melepaskan ibu dari anaknya, tapi akan jauh lebih egois jika melepaskan Cindy yang sudah berusaha untuk memberikan kebahagiaan padanya.


Posisi sulit ini yang akhirnya menghancurkan dirinya sendiri. Dia tidak berdaya menghadapi persoalan yang tidak pernah dia inginkan sebelumnya.


Chandra mengucapkan ijab kabul dengan suara tegas dan lantang. Pria gagah dan tampan itu benar-benar sudah siap mengarungi bahtera rumah tangga bersama Yuna dan twins yang kini telah menjadi anaknya.


Rona bahagia terpancar di wajah keduanya. Yuna meraih tangan Chandra, mencium punggung tangannya dan dibalas dengan kecupan di keningnya.


Pemandangan itu membuat hati Barra terasa panas dan hancur tak tersisa. Dia beranjak dari duduknya, memilih keluar dari ballroom untuk mendinginkan hati dan pikirannya.


Dulu memang berniat untuk menceraikan Yuna setelah mendapatkan anak, tapi kini kehilangan Yuna membuatnya seperti kehilangan arah.


"Oppa,,,"


Barra menoleh, menatap tangan adiknya yang diletakkan di pundaknya. Laki-laki itu menyeka sudut matanya sebelum menatap wajah Sisil.


Barra mengulas senyum tipis padanya.


"Pengorbanan terbesar dalam mencintai adalah melihat orang yang kita cintai bahagia dengan orang lain."


"Kalau Oppa benar-benar mencintai kak Yuna, ikhlaskan dia. Biarkan dia bahagia dari pada membuatnya terluka." Ucap Sisil lembut. Dia tersenyum, memberikan kekuatan pada kakaknya agar bisa menerima semua ini.


Barra hanya diam saja, dia mengalihkan pandangan lurus kedepan dengan tatapan menerawang.


Mungkin memang benar yang dikatakan oleh Sisil.


Cinta yang tulus pasti bisa merelakan orang yang kita cintai bahagia meski kita sendiri yang harus terluka.