Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 135


Semua orang sudah berkumpul di bandara. Anak-anak terlihat antusias karna akan liburan ke Bali. Mereka belum tau kalau kepergian ke Bali kali ini tak hanya untuk berlibur saja. Yuna sudah menyuruh semua orang untuk merahasiakan pernikahannya dengan Barra pada anak-anak untuk memberikan kejutan pada mereka. Walaupun dia sudah pernah mengatakan rencana pernikahannya pada Brian saat di makam Chandra, namun Brian sama sekali tak curiga jika pernikahan itu akan dilangsungkan dalam waktu dekat.


Bahkan sepertinya Brian belum sempat memberi tahu twins tentang rencana pernikahan itu. Karna jika Brian memberi tahu twins, Kinara pasti orang pertama yang akan menanyakan kebenarannya pada Yuna.


"Sini biar aku bawakan,," Barra menghampiri Yuna dan mengambil alih troli di tangannya yang berisi tumpukan koper milik Yuna dan anak-anak.


"Tidak apa, aku bisa bawa sendiri." Yuna hendak memegang troli itu lagi, namun Kinara melarangnya.


"Biar Papa saja Mah, itu kan berat." Tuturnya.


"Papa perhatian sekali sama Mama, biar bisa dapatin hati Mama ya Pah.?" Kini Kinara beralih menggoda Barra.


Yuna terlihat menggelengkan kepala mendengar celotehan putrinya yang sudah remaja itu.


Sedangkan Barra terlihat salah tingkah pada Yuna karna ucapan Kinara.


"Anak Papa paling pintar bicara." Barra mengusap gemas pucuk kepala Kinara.


"Jangan terlalu mendengarkan Aunty mu, kamu masih dibawah umur." Tuturnya memperingatkan. Barra tak mau putrinya tau banyak hal tentang urusan orang dewasa.


"Oppa,, kenapa bicara seperti itu.? Aku tidak pernah mengatakan macam-macam pada Ara." Tiba-tiba Sisil datang memberikan pembelaan.


"Tapi Ara tau banyak hal gara-gara kamu." Sahut Barra.


"Sudah tidak usah di bahas, lagipula Ara tidak pernah berbuat yang aneh-aneh,," Yuna meminta Barra dan Sisil mengakhiri pembahasan. Selagi sikap Ara tak melenceng dan masih dalam batas wajar usianya, Yuna tak mempermasalahkan hal itu.


"Mama memang yang terbaik." Kinara langsung memeluk Yuna karna merasa mendapat pembelaan darinya.


"Sudah sana jalan sama Aileen saja." Yuna menyuruh Kinara untuk bergabung dengan Aileen dan Oma Opanya. Remaja itu menurut, dia bergegas menghampiri Aileen.


"Apa sampai sekarang anak-anak belum tau kalau Kak Yuna dan Oppa akan menikah.?" Tanya Sisil lirih, takut suaranya terdengar oleh mereka.


Yuna dan Barra kompak menggelengkan kepala.


"Ya ampun, aku rasa mereka akan syok melihatnya. Pasti mereka bahagia kalian bersatu." Ujar Sisil. Yuna mengulas senyum tipis menanggapinya.


...*****...


Setelah menempuh perjalanan lebih dari 2 jam, mereka sampai di resort. Resort yang di kelilingi tembok tinggi itu memiliki 3 bangunan yang terpisah.


Sisil, Nicho dan Kevin serta kedua orang tuanya, memilih untuk tinggal bersama. Hanya Aileen saya yang tinggal terpisah karna ingin tidur bersama Kinara. Mereka satu resort dengan Barra, Kenzie dan Brian.


Sementara itu, Yuna hanya tinggal berdua dengan Mama Rena.


Setelah menata koper masing-masing dan istirahat sejenak, mereka keluar untuk makan malam bersama di restoran.


Mereka menyewa satu ruangan khusus untuk malam malam bersama. Suasana cukup ramai dengan anggota keluarga yang berjumlah 12 orang itu. Rona kebahagiaan terpancar dari wajah mereka, tak terkecuali anak-anak meski mereka belum tau kalau besok pagi Barra dan Yuna akan menikah.


Interaksi mereka terlihat begitu hangat. Tak ada pembatasan di antara mereka meski dulu pernah ada masalah. Sikap bijak Mom Sonya dan Dad Hendra, serta kebaikan Yuna yang tak pernah membatasi hubungan twins dengan keluarga Barra, membuat kedekatan mereka tetap terjaga meski sudah bertahun-tahun lamanya. Sekalipun dulu Yuna sudah menikah lagi.


Tak hanya itu, Yuna bahkan tak pernah menceritakan pada twins bagaimana tujuan Barra menghadirkan mereka ke dunia ini. Enggan membuat kedua anaknya salah paham pada Papa kandungnya sendiri.


"Mom, kita akan berapa lama di sini.?" Tanya Aileen pada Sisil.


"Sudah aku bilang, satu minggu." Potong Kinara yang duduk di samping Aileen.


"Selama itu.? Tapi kita harus sekolah." Ujar Aileen tak yakin.


"Memangnya siapa yang bilang satu minggu.? Kota hanya 4 hari disini, yang satu minggu itu pengantinnya." Seru Sisil. Semua orang langsung menatap ke arahnya, terutama Yuna dan Barra yang terlihat kaget.


"Pengantin.? Memangnya siapa pengantinnya.?" Tanya Kinara.


Sisil terlihat gelagapan karna salah bicara, apa lagi melihat tatapan semua orang tua yang sedikit melotot padanya.


"Tidak, tidak ada pengantin. Maksud Aunty, satu minggu itu kebanyakan untuk pengantin baru yang honeymoon disini." Elaknya. Beruntung Kinara langsung mengangguk percaya dan pembahasan itu tak di lanjutkan lagi.


Sebagian penghuni resort sudah bangun pukul 6 pagi, kecuali anak-anak yang memang sengaja belum di bangunkan.


Saat ini Yuna bahkan sedang di make up. Dekorasi di halaman belakang resort juga mulai di pasang.


Persiapan sudah 90 persen, tinggal menunggu Yuna selesai make up dan memakai gaun. Sedangkan Barra hanya perlu mengganti baju saja dengan setelan jas. Setelah itu membangunkan anak-anak untuk bersiap dan memakai seragam yang sudah disiapkan tanpa sepengetahuan mereka.


"Kakak ipar cantik sekali." Puji Sisil.


"Oppa bisa pingsan nanti kalau masuk kesini." Godanya.


"Kamu ini ada-ada saja." Kata Yuna sembari tersenyum. Sisil memang selalu berlebihan jika mengekspresikan dan mengungkapkan sesuatu.


"Aku serius Kak, kita lihat saja nanti bagaimana reaksi Oppa." Katanya yakin. Yuna merespon dengan senyum tipis.


"Lihat, Oppa datang." Seru Sisil sembari menoleh ke arah pintu masuk. Yuna hanya bisa menatap dari pantulan cermin karna rambutnya sedang di rapikan.


Barra sudah memakai setelah jas lengkap, wajahnya hanya perlu diberi polesan tipis dan rambutnya harus di tata agar rapi.


"Kalau begitu aku bangunkan anak-anak dulu agar siap-siap." Sisil beranjak dari duduknya. Dia menghentikan langkah di depan Barra.


"Kak Yuna sangat cantik, Oppa pasti tidak sabar menyeretnya ke kamar kalau melihat Kak Yuna seperti itu." Ucapnya setengah berbisik.


"Kalau kak Yuna tidak mau, Oppa bisa pakai obat itu, aku dan Nicho siap membelikannya untuk Oppa."


"Tidak akan masalah kan.? Kalian sudah halal nanti malam." Sisil terus menggoda Barra. Membuat Kakaknya itu melotot kesal.


"Kamu itu berisik sekali.! Sudah sana bangunkan anak-anak." Barra mendorong pelan bahu Sisil agar bergegas pergi dari ruangan itu.


Barra berjalan mendekati tempat make up karna sudah waktunya dia siap-siap.


Langkah kan terlihat lambat, tatapan matanya terus tertuju pada pantulan cermin besar yang menampakkan wajah cantik calon istrinya.


Walau tak lagi muda, Yuna tetap memancarkan aura kecantikannya yang sempurna.


"Maaf Pak, bisa duduk di sini." Asisten MUA itu menyuruh Barra untuk duduk disebelah Yuna. Dia sudah menunggu sejak tadi, tapi Barra malah menghentikan langkah dan bengong dibelakang Yuna.


"Terimakasih." Ucap Barra sembari duduk di kursi.


Keduanya saling diam. Sesekali Barra melirik Yuna dari pantulan cermin besar di depannya.


"Maaf, saya mau minum." Ucap Yuna pada MUA yang merapikan rambutnya. Badannya sedikit maju untuk mengambil botol air mineral di depannya.


Setelah itu kembali ke posisi semula dengan duduk tegap.


Yuna terlihat kesulitan membuka botol air mineral itu, membuat Barra langsung mengambilnya dari tangan Yuna dan membukakan botol itu.


Yuna memperhatikan Barra yang sedang membukakan botol itu tanpa mengatakan apapun, dia lalu menerima air mineral itu saat Barra menyodorkan padanya.


"Makasih." Ucap Yuna. Barra mengulas senyum dan menganggukan kepala.


Begitu selesai minum dan akan meletakkan botol di atas meja, Barra langsung mengambilnya dari tangan Yuna. Membuka botol itu dan meneguk habis sisa air mineral yang tadi di minum oleh Yuna.


Yuna tampak bengong melihatnya.


"Kenapa minum yang itu.? Di depan Mas Barra masih banyak yang baru." Ucap Yuna setelah melihat bekas minumannya di habiskan oleh Barra.


"Minuman kamu terlihat lebih enak." Jawab Barra.


Yuna hanya diam saja dengan gelengan kepala.