Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 70


"Biar aku antar." Terdengar suara Barra yang sedikit memohon ketika Yuna akan menutup pintu apartemen. Yuna menatap datar, memaki tidak ada perasaan apapun yang dia miliki untuk Barra, tapi rasanya sulit untuk bersikap biasa saja padanya.


Dia merasa wajib untuk menghindar dan menjaga jarak dengan Barra. Melihat bagaimana Barra begitu mencintai Cindy, Yuna pikir harusnya Barra bisa melepaskan dirinya tanpa harus mengikatnya seperti ini dan membuatnya semakin merasa tertekan.


"Ada Mama, kami bisa pulang sendiri."


"Mas Barra temani Mba Cindy saja, bantu dia jaga Kenzie." Tolak Yuna halus.


"Kami pulang." Pamit Yuna. Dia beranjak dari sana, Barra juga tidak mencegahnya lantaran mempertimbangkan ucapan Yuna.


Keadaan Cindy memang sedang buruk, dia perlu di temani. Apalagi ada Kenzie di dalam.


Barra hanya menjabat tangan Mama Rena, berulang kali meminta maaf pada Mama mertuanya. Setelah itu menitipkan Yuna padanya dan berpesan untuk mengabarinya jika Yuna dan baby twins membutuhkan keperluan.


...*****...


"Kamu nggak jadi anterin Yuna pulang.?" Tanya Cindy saat melihat suaminya kembali lagi dan ikut duduk di sampingnya. Kedua tangan Barra langsung meraih Kenzie dari gendongan Cindy.


Barra menggeleng pelan, dia lalu tersenyum setelah menatap lekat wajah Kenzie.


"Dia semakin mirip denganmu dan Yuna," Komentar Cindy setelah ikut menatap lekat wajah Kenzie dan membandingkannya dengan Barra.


Barra menoleh dan hanya mengulas senyum teduh. Dia tidak mau mengiyakan karna takut menyinggung perasaan Cindy.


"Aku simpan asi dulu, sepertinya Kenzie juga haus." Cindy beranjak dari duduknya, mengambil tas yang di bawakan oleh Yuna dan pergi ke dapur.


Cindy kembali setelah menyimpan asi dan membawakan asi sebotol penuh untuk Kenzie.


Dia menyodorkannya pada Barra, kemudian duduk kembali di sampingnya.


"Harusnya kamu membiarkan aku pergi, Kenzie dan Kinara pasti akan bahagia jika kedua orang tuanya tinggal bersama."


"Saat ini mereka memang belum mengerti, tapi suatu saat mereka pasti akan menanyakan hal ini. Aku rasa akan mengganggu perkembangan psikis mereka jika dewasa."


Barra langsung melirik Cindy dengan tatapan tajam. Dia terlihat menarik nafas dalam.


"Tidak akan ada yang pergi kemanapun.!" Tegas Barra. Dia kemudian kembali fokus memegangi botol susu milik Kenzie.


"Tapi ini nggak mudah untuk di jalani."


"Kalau kamu membiarkan aku pergi, kalian bisa hidup tenang dan bahagia. Keluarga kalian sudah sangat lengkap dan sempurna, aku hanya akan menjadi penghalang." Nada bicara Cindy sedikit tercekat. Siapa yang ingin berada di posisinya saat ini, merasa tidak berguna dan sempurna menjadi seorang istri. Sedangkan sudah ada Yuna yang memiliki segala kelebihan.


"Kenapa bicara seperti itu.? Kamu bukan penghalang siapapun untuk bahagia, justru menjadi sumber kebahagiaanku sebelum mereka hadir." Barra menatap lekat, dia amat memahami bagaimana perasaan Cindy. Istrinya itu telah banyak berkorban demi kebahagiaannya. Jika bukan karna keinginan Cindy, mungkin sampai saat ini dia tidak akan merasakan bagaimana bahagianya memiliki anak.


"Aku mohon jangan bicarakan hal seperti ini lagi." Pinta Barra.


"Lebih baik fokus merawat dan membesarkan Kenzie dan Kinara sama-sama."


Barra mungkin bisa mengatakan semua itu dengan mudah pada Cindy, karna dia dan Cindy memiliki cinta yang kuat untuk tetap bertahan dalam keadaan apapun.


Namun tidak akan mudah di terima jika Barra mengatakan hal itu pada Yuna.


...****...


Dua hari tanpa Kenzie memang bukan hal yang mudah bagi Yuna. Selama ini Kenzie selalu bersamanya, tidur di sampingnya. Kini terasa ada yang kurang walaupun ada Kinara.


Namun Yuna merasa lega karna baik Cindy maupun Barra tidak ada yang menghubunginya. Itu artinya mereka bisa merawat dan mengurus Kenzie tanpa kendala yang berarti.


Setelah memastikan Kinara tidur di box baby, Yuna bergegas turun untuk melanjutkan pekerjaan.


Setelah lebih dari 1 bulan, akhirnya Yuna mulai bisa membesarkan usahanya lagi walaupun tak lebih dari 30 persen. Tapi paling tidak kerja keras dan usaha mereka telah membuahkan hasil.


Perlahan tapi pasti, usaha itu akan besar lagi seperti sebelumnya.


Karna saat ini hanya terkendala soal uang saja, membuat Yuna tidak bisa memperbanyak produksinya.


"Loh kamu malah turun lagi." Ujar Nitha saat melihat Yuna datang ke meja kerjanya.


"Mendingan ikut tidur aja Yun, kamu juga butuh istirahat."


"Akhir-akhir ini kamu keliatan kurang fit, pasti gara-gara kurang tidur."


"Lagipula pekerjaan masih bisa di handle sama aku dan Farah, Tante juga selalu bantuin packing kok."


Nitha menyerocos tanpa jeda. Tidak memberikan Yuna kesempatan untuk bicara. Sekarang dia malah mendorong pelan bahu Yuna agar segera kembali ke kamar untuk istirahat.


"Ya ampun Nit, jangan berlebihan deh. Aku sehat, masih punya tenaga buat kerja." Seru Yuna meyakinkan.


"Iya sekarang kamu ngerasa begitu, tapi lama-lama kamu bisa drop kalau begini terus."


"Inget sekarang kamu udah punya 2 anak, kamu harus mementingkan kesehatan kamu."


"Kalau kamu sampai sakit, kasian Kenzie dan Ara."


Lagi-lagi Nitha menyerocos. Kali ini ucapannya terlihat sedang di pikirkan baik - baik oleh Yuna.


Apa yang di katakan oleh Nitha memang benar, apapun masalahnya, apapun kondisi dan keadaannya, sebagai seorang ibu yang memiliki balita harus di tuntut untuk tetap sehat agar anak-anak bisa terurus dengan baik.


"Kamu benar." Yuna membenarkan dengan senyum tulus. Dia merasa beruntung memiliki Nitha di sampingnya. Sahabat yang amat peduli dan mengerti keadaannya.


"Kalau gitu aku tidur dulu sebentar." Ucapnya.


"Makasih Nit, kamu memang,,,


"Udah ah,, cape aku kalau disuruh nangis bareng lagi." Nitha memotong ucapan Yuna lantaran melihat mata Yuna yang mulai berkaca-kaca. Kalau dibiarkan bicara, sudah dipastikan Yuna akan mengajak menangis berjamaah.


"Sana istirahat." Nitha menepuk pundak Yuna, lalu kembali melanjutkan pekerjaan.


"Awas kamu yah,,,!" Seru Yuna kesal, tapi setelah itu dia terkekeh geli dan beranjak ke lantai atas.


...****...


Pukul 4 sore, Barra masuk begitu saja ke dalam ruko. Dia membawa Kenzie yang diletakan dalam stroller.


Kedatangannya hanya di lihat oleh Mama Rena yang sedang membereskan sisa orderan yang belum sempat di packing.


"Sore Mah,," Sapa Barra sopan. Mama Rena mengulas senyum tipis. Dia meninggalkan pekerjaannya dan langsung menghampiri cucunya. Bukan hanya Yuna saja yang merasa kehilangan saat tidak ada Kenzie, Mama Rena pun merasakan hal yang sama.


"Cucu Oma,,," Ucap Mama Rena. Dia langsung mengeluarkan Kenzie dari stroller dan menggendongnya.


"Yuna dan Kinara ada dimana Mah.?" Tanya Barra.


"Di kamarnya, Kinara baru selesai di mandikan." Jawabannya dengan sekilas melirik Barra. Mama Rena terlalu senang karna bisa menggendong Kenzie lagi setelah 2 hari tidak bisa melihat dan menggendongnya.


"Saya ke atas dulu." Pamit Barra. Mama Rena mengangguk. Dia sedang asik mengajak Kenzie bicara walaupun Kenzie hanya senyum-senyum saja.


Barra mengetuk pintu, dia masuk setelah di ijinkan masuk oleh Yuna.


"Ya ampun, Mas Barra,,!" Pekik Yuna kaget. Dia langsung berbalik badan membelakangi Barra karna saat ini sedang menyusui Kinara.


Yuna pikir bukan Barra yang akan masuk ke kamarnya, itu sebabnya dia menyuruhnya masuk begitu saja.


"Kenapa nggak bilang.! Aku pikir Mama." Protes Yuna kesal. Dia langsung menyudahi kegiatannya dan merapikan kancing piyamanya.


"Aku masih suami kamu, Yuna,,," Ucap Barra dengan suara lembut namun menegaskan kalimatnya.


"Nggak masalah kalau aku lihat, lagipula sudah sering,,,


"Dimana Kenzie.? Mas Barra membawanya pulang kesini kan.?" Yuna langsung memotong ucapan Barra, dia beranjak dari ranjang sembari menggendong Kinara dan berjalan ke arah pintu.


"Kenzie dibawa, sedang di gendong sama Oma nya."


"Disini saja, Kinara sepertinya masih haus." Barra menahan Yuna yang hendak keluar dari kamar.


"Aku mau turun Mas, aku harus liat Kenzie sekarang." Ucap Yuna. Dia sudah sangat merindukan putranya. Dua hari tanpa Kenzie membuatnya sulit untuk tidur nyenyak.


"Yuna,," Panggil Barra lembut. Dia menatap dengan sorot mata teduh.


"Biarkan Kinara selesai minum asinya dulu," Pintanya. Yuna juga tidak bisa berkutik lagi karna Kinara menangis. Memang baru beberapa menit yang lalu dia menyusui Kinara, pasti belum membuat perutnya kenyang.


...****...


Rekomendasi novel author pemula, Judul "Terjebak Perjodohan" Karya LinsNH_