
Hari ini Yuna dan Mama Rena akan pindah ke rumah baru yang di beli oleh Barra 2 hari lalu. Rumah itu sudah siap huni dengan semua perabotan dan furniture yang lengkap. Mereka hanya memindahkan baju-baju saja dan barang pribadi mereka. Jadi ruko itu hanya di tempati oleh Nitha dan 2 orang lainnya yang pindah ke lantai atas.
Yuna sengaja ingin pindah ke rumah itu di saat pagi hari, setidaknya Barra tidak akan muncul karna berada di kantor.
Entah kenapa selalu ingin menghindar dari Barra dan membatasi interaksi ataupun komunikasi dengannya. Padahal tidak merasakan apapun saat berhadapan dengan Barra, hanya saja merasa takut mendapatkan cibiran.
Yuna merebahkan tubuhnya di ranjang dan langsung memejamkan mata. Badannya terasa remuk karna sejak kemarin sudah maraton mengemasi baju kedalam koper dan barang-barang twins yang lumayan banyak.
Di tambah dari pagi sampai siang mengurus kepindahan dan tentunya menata baju-baju kedalam lemari meski belum semuanya.
Yuna membuka mata saat teringat dengan twins. Kedua anaknya itu tengah di suapi oleh pengasuhnya di ruang keluarga. Yuna beranjak dari ranjang dan keluar kamar untuk melihat twins yang sejak pagi jarang dia gendong karna sibuk.
Bahkan mereka belum meminum asi dari sumbernya langsung. Hanya meminum asi yang kemarin di pompa oleh Yuna.
Mama Rena yang melihat putrinya berjalan lemas, langsung menghampiri Yuna.
Kalau cape tidur saja nak, Zie dan Ara juga nggak rewel." Ucapnya.
"Sebentar lagi juga mereka tidur karna kekenyangan." Mama Rena melirik ke arah cucunya yang tengah duduk di baby chair.
"Iya Mah, badan Yuna juga pada pegel semua." Keluhnya.
"Kalau gitu nanti minta tolong sama Bu Minah buat pindahin ke kamar ku kalau Zie dan Ara sudah tidur." Pinta Yuna. Dia tidak jadi menghampiri twins karna takut mereka akan menangis dan minta di gendong kalau muncul di hadapan mereka.
"Iya tenang saja. Sudah sana istirahat saja. Jangan sampai kamu sakit, kasian anak-anak." Mama Rena mengusap kepala putrinya dengan lembut.
Bukannya kembali ke kamar, Yuna justru memeluk Mama Rena. Momen-momen seperti ini yang selalu membuatnya sedih sekaligus bahagia.
Yuna bersyukur masih memiliki Mama Rena di sampingnya. Entah apa jadinya jika dia harus menghadapi semua ini sendirian. Menjadi single parent dengan 2 orang anak yang masih balita.
Rasanya tidak akan sanggup walau hanya berdiri tegak.
"Makasih Mama selalu ada buat Yuna."
"Maafin Yuna kalau selama ini hanya menjadi beban pikiran untuk Mama."
"Mama pasti sedih melihat anak satu-satunya harus mengalami semua ini." Tutur Yuna sendu. Dia bisa membayangkan bagaimana perasaan Mama Rena, karna saat ini dia juga sudah menjadi seorang ibu.
Jika itu terjadi pada Ara, Yuna mungkin tidak akan sekuat Mama Rena yang selalu tegar di depannya. Padahal jelas-jelas hatinya terluka sebagai seorang ibu.
"Jangan bicara seperti itu, anak itu anugerah terbesar yang diberikan oleh Tuhan. Tidak semua wanita di beri anugerah seorang anak, kamu juga tau itu."
"Jadi jangan pernah berfikir menjadi beban untuk Mama. Kamu justru sumber kekuatan Mama. Alasan Mama ingin tetap hidup hanya karna kamu. Mama ingin selalu berada di samping kamu sampai kamu benar-benar bahagia."
Ungkapan mengharukan itu berhasil membuat Yuna menangis. Dia bersyukur telahir dari rahim Mama Rena dengan hatii dan jiwa yang besar.
...*****...
Yuna terperanjat saat membuka mata dan melihat jam sudah menunjukkan pukul 3 sore.
Dia sudan tidur selama 3 jam dan sampai saat ini Mama Rena tidak membangunkannya sama sekali.
Yuna keluar dari kamar karna langsung teringat dengan twins.
"Mah,," Yuna menghampiri Mama Rena yang tengah membereskan mainan twins di ruang keluarga.
"Dimana Zie dan Ara.? Kenapa nggak ada di kamarku.? Apa mereka belum tidur sampai sekarang.?"
Yuna langsung memborong pertanyaan pada Mama Rena.
"Mereka ada kamar sebelah nak, baru saja tidur 1- jam yang lalu." Jawab Mama Rena. Dia menatap Yuna sekilas sembari membereskan mainan.
"Aku pikir mereka belum tidur juga." Gumam Yuna.
"Yuna mau liat mereka dulu Mah,," Yuna berjalan cepat menuju kamar yang akan di jadikan kamar twins.
"Nak,, tapi di dalam ada Barra,," Seru Mama Rena, tapi Yuna tidak mendengarnya karna sudah jauh.
Saat membuka pintu, Yuna langsung tertegun. Dia mencium aroma parfum yang sangat dia kenali.
Pandangan matanya langsung tertuju pada ranjang besar itu yang sudah di pasang pembatas disetiap sisinya.
Yuna melangkah masuk, semakin dekat dan mulai melihat sosok itu di ranjang.
Dua balita mungil itu tengah tertidur pulas, di tambah dengan bayi besar yang juga ikut tertidur dalam posisi menyamping. Menghadap ke arah twins.
Yuna reflek mengulas senyum, merasa lucu dengan pemandangan di depan matanya. Pasalnya posisi tidur mereka sangat mirip, di tambah wajah ketiganya yang juga memiliki kemiripan.
Karna Yuna tau semua ini tidak akan baik jika terus dilakukan.
"Mba Cindy,," Gumam Yuna pelan. Tiba-tiba saja teringat dengan Cindy. Entah bagaimana hubungan rumah tangga Barra dan Cindy saat ini.
Yuna sedikit cemas mengingat Eva yang terlihat bersikeras mengajukan gugatan cerai Cindy untuk Barra. Walaupun kecewa pada mereka, Yuna selalu berharap Cindy dan Barra bisa bahagia dan selalu bersama.
...****...
Yuna baru saja selesai mandi dan bersiap untuk pergi ke ruko. Dia ingin melihat keadaan ruko karna sejak pagi sudah berada di rumah ini dan belum sempat kesana.
Sebelum keluar rumah, Yuna pamit pada Mama Rena lebih dulu. Dia juga berpesan untuk menelponnya jika nanti twins bangun.
Yuna memakai motor karyawannya yang tadi pagi dia pakai.
Menang jaraknya sangat dekat, hanya 3 menit jika di tempuh menggunakan sepeda motor. Tapi cukup jauh jika harus berjalan kaki.
Dari kejauhan Yuna sudah menyipitkan matanya saat melihat mobil Chandra terparkir di depan ruko.
Yuna tidak tau kenapa Chandra jadi sering datang menemuinya sejak bertemu di Paris 2 minggu lalu.
Begitu Yuna memarkirkan sepeda motornya, Chandra langsung keluar dari ruko dan berjalan menghampiri Yuna.
"Pak,," Yuna tersenyum kaku. Berbeda dengan Chandra yang sudah mengembangka senyum sejak keluar dari ruko.
"Kamu pindah kemana.?" Tanpa basa-basi, Chandra langsung menanyakan tempat tinggal baru Yuna.
Yuna bisa menebak kalau Nitha yang memberitahukan hal ini pada Chandra.
"Di dalam pak,," Jawab Yuna singkat.
Chandra menatap ke arah jalan utama memasuki kawasan perumahan itu sembari mengangguk paham.
"Maaf, Pak Chandra ada apa datang ke ruko lagi.?" Yuna akhirnya berani bertanya meskipun sbenarnya tidak enak pada Chandra.
"Tentu saja mau bicara sama kamu," Sahut Chandra cepat.
"Apa kamu sibuk malam ini.?" Tanyanya.
"Saya harus menjaga anak-anak." Sahut Yuna. Secara tidak langsung menjawab kalau dia sibuk.
"Tidak apa, aku bisa datang ke rumahmu nanti." Balas Chandra. Yuna langsung bungkam, tidak tau lagi harus menjawab apa.
"Kalau begitu aku pergi dulu." Chandra melempar senyum tipis sebelum masuk kedalam mobil.
Yuna hanya diam dan menatap heran. Banyak pertanyaan yang terus muncul sejak kedatangan Chandra pertama kali ke ruko ini.
...******...
..."GIVE AWAY ke 8"...
Hadiah untuk 4 orang pemenang, masing - masing mendapatkan pulsa 20K.
Wajib ikuti syarat & ketentuan di bawah👇
Syarat & Ketentuan :
Yang mau ikut wajib follow akun noveltoon "Clarissa Icha dan akun Ratna Wullandarrie" (Tidak follow otomatis diskualifikasi kalau keluar nomor undiannya.)
Komen di bab ini (komen apa aja terserah)
Cukup komen 1 kali
Tiap komentar akan diberi nomor urut untuk di undi nanti.
pengumuman tanggal 3
Yang sudah dapat di give away sebelumnya, tidak bisa ikut lagi. (Biar yang lain kebagian) ☺
Follow juga ig baru othor @r.wulland1
Jangan di nilai dari hadiahnya, ☺ buat seru - seruan aja.