Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 69


Yuna menghentikan langkah, begitu juga dengan Barra yang tadi ikut keluar dari ruang kerjanya untuk menyusul Yuna.


Sudut bibir Yuna terangkat, dia tersenyum tipis pada wanita yang tengah berdiri di depan ruangan kerja itu.


"Bagaimana keadaan Mba Cindy.? Aku ikut sedih atas meninggalnya anak angkat kalian." Ucap Yuna tulus. Meski kecewa pada sikapnya, tak lantas membuat Yuna menertawakan kesedihan dan penderitaan yang di alami oleh Cindy.


Sebagai sesama perempuan, Yuna berusaha untuk mengerti bagaimana perasaan Cindy.


"Terimakasih, aku baik-baik saja." Sahut Cindy lirih.


"Mom bilang kalian ada disini, jadi aku menyusul."


"Aku senang karna baby girl masih hidup." Cindy mengulas senyum tipis.


"Tolong jangan bercerai dari Barra, Kenzie dan Kinara butuh kalian."


"Aku yang akan mundur. Kalian berempat berhak untuk bahagia." Ucapnya tanpa keraguan sedikitpun. Cindy terlihat siap untuk melepaskan Barra.


Dia sudah merenungi dan menyadari kesalahannya. Cindy juga merasa jika dirinya hanya menjadi penghalang untuk kebahagiaan Barra, Yuna serta baby twins.


Cindy yakin jika dirinya melepaskan Barra, Yuna bisa memaafkan Barra dan mau melanjutkan pernikahan demi baby twins.


Cindy tau betul seperti apa Yuna. Wanita itu tidak akan mungkin tega untuk melukai perasaan orang lain. Itu sebabnya Yuna bersikeras untuk tetap bercerai dari Barra.


"Kamu itu bicara apa.! Aku nggak akan menceraikan kamu." Barra menatap Cindy dengan sorot mata tajam. Dia benci kata-kata itu keluar dari mulut Cindy. Kekurangan yang dimiliki oleh Cindy, tak akan pernah membuat Barra mencampakkan istri yang bertahun-tahun mengisi hatinya.


Selama itu, Cindy sudah seperti separuh nyawanya. Hidup yang dia jalani hanya untuk Cindy, lalu bagaimana bisa dia melepaskan Cindy begitu saja.


"Tapi Kenzie dan Kinara membutuhkan orang tua kandungnya. Kebahagiaan kamu sudah lengkap dan sempurna, sudah cukup aku merasakan menjadi wanita yang beruntung karna memiliki suami sepertimu. Mungkin memang sampai disini takdir kita." Mata Cindy berkaca-kaca. Bukan hal yang mudah untuk menentukan keputusan seberat ini. Mungkin diluar sana tidak akan ada laki-laki sebaik Barra yang tulus mencintainya dengan segala kekurangan yang dia miliki.


"Berhenti omong kosong Cindy.! Kita tidak akan bercerai." Tegas Barra lagi. Dia tetap bersikeras mempertahankan Cindy disisinya. Melepaskan Cindy hanya akan membuat separuh nyawanya hilang.


Yuna menarik nafas dalam. Perdebatan suami istri itu membuat pikirannya semakin terbebani. Rasanya ingin menghilang ke suatu tempat yang dipenuhi ketenangan dan kedamaian.


"Kalian saling mencintai, kenapa harus saling menyakiti seperti ini.?" Ucap Yuna heran. Dia menatap keduanya secara bergantian.


"Mba Cindy nggak perlu mundur karna aku nggak akan berubah pikiran. Aku ingin tetap bercerai, kalian masih bisa hidup bahagia seperti sebelumnya. Begitu juga denganku, aku ingin bahagia dengan kehidupan yang nyata. Sudah cukup menjalani kehidupan semu."


"Kenzie dan Kinara masih bisa mendapatkan kasih sayang dari papanya, karna aku tidak akan menghalangi Mas Barra atau Mba Cindy untuk bertemu dengan mereka."


"Kalian bahkan boleh membawa untuk menginap disini."


"Jadi aku mohon pada kalian,,," Yuna menatap penuh harap, dia terlihat sudah sangat lelah menjalani semua ini.


"Aku mohon akhiri permasalahan ini, aku sudah lelah. Tolong biarkan aku bernafas lega." Pinta Yuna memohon. Yuna lalu meninggalkan Barra dan Cindy, dia kembali ke ruang keluarga.


"Bagaimana, apa sudah ada kesepakatan bersama.?" Tanya Mommy Sonya, dia terlihat tidak sabar mendengar keputusan rumah tangga putranya.


"Sudah Mom, keputusan saya tetap sama."


"Mas Barra hanya perlu menyetujuinya saja." Sahut Yuna. Dia duduk di samping Mama Rena, lalu meminta Kinara dari gendongan Mama Rena.


Kedatangan Cindy dan Barra menjadi pusat perhatian semua orang. Keduanya duduk bersebelahan, sorot mata Barra terus mengarah pada Yuna. Barra terlihat bingung dan kacau.


"Yuna tetap meminta untuk bercerai, Mom dukung keputusannya. Bagaimana dengan kamu dan Cindy.?" Tanya Mommy Sonya pada anak dan menantunya.


"Aku ingin,,


Cindy tidak meneruskan ucapannya lantaran Barra memegang tangannya dan memotong ucapannya.


"Sebelum Yuna menemukan laki-laki yang bisa mencintai dia dan baby twins, aku tidak akan menceraikan Yuna.!" Tegas Barra. Keputusan Barra membuat Yuna kecewa, dia menatap Barra dengan mata yang berkaca-kaca. Ketenangan dan kebahagiaan seakan tidak mau berpihak padanya.


Jika Mommy Sonya dan Daddy Hendra menyetujui keputusan Barra, maka rasa sakit itu harus ditelan kembali oleh Yuna. Dia harus kembali berpura-pura. Menjalani hidup dengan cover yang indah, namun tidak berbentuk di dalamnya.


"Setidaknya selama itu aku masih bisa menjamin kehidupan mereka."


Keduanya orang tuanya nampak berfikir keras, menimbang dan memikirkan baik-baik pendapat Barra.


"Aku rasa tidak harus seperti itu, karna sama saja Mas Barra memaksaku untuk tetap bertahan."


"Mas Barra bilang sampai aku menemukan laki-laki lain.? Aku bahkan tidak berfikir untuk memulai hubungan lagi."


"Sudah cukup,,,,


"Yuna,, Mom setuju dengan keputusan Barra."


"Kalau kamu ingin cepat-cepat berpisah dengan Barra, maka berusahalah untuk menyembuhkan hati kamu dan membukanya untuk pria lain." Mommy Sonya mendekat dan menggenggam tangan Yuna. Mommy Sonya memberikan senyum pada Yuna, senyum yang seolah di penuhi dengan kekuatan dan dukungan penuh untuknya.


"Mom.!" Tegur Barra. Dia terlihat tidak setuju dengan nasehat Mommy Sonya pada Yuna.


"Kenapa.? Bukannya kamu sendiri yang bilang seperi itu.? Mom hanya ingin menyampaikan lebih detail saja pada Yuna." Mommy Sonya mengulas senyum tipis. Mungkin kali ini dia akan berpihak pada Yuna untuk membuat Barra bisa lebih baik lagi kedepannya dalam bertindak dan mengambil keputusan.


"Tapi Mom,,


"Sudah.! Dad anggap permasalahan ini selesai." Daddy Hendra mengakhiri pembicaraan mereka.


"Dengarkan Dad baik-baik.! Kamu yang memutuskan untuk menjalani dua pernikahan sekaligus, jangan membuat kami semakin kecewa. Kamu harus adil, dan ingat dengan keputusan kamu.!"


"Lepaskan Yuna kalau dia sudah menemukan laki-laki yang baik dan tepat untuknya.!"


Daddy Hendra beranjak dari duduknya, dia mengajak Mommy Sonya untuk pulang.


Keduanya berpamitan pada semua orang yang ada di sana, lalu membawa Kevin yang masih tertidur pulas. Kedua orang tua Kevin bahkan belum kembali.


"Ayo nak, kita juga harus pulang." Ajak Mama Rena. Sejak tadi Mama Rena hanya diam dan menyimak keputusan mereka, meski tidak setuju jika Yuna dan Barra tetap bersama, tapi kedua cucunya masih bayi itu juga membutuhkan ayahnya.


Yuna menarik nafas dalam sebelum beranjak dari duduknya. Rasanya percuma saja bersikeras meminta cerai pada Barra, karna Barra terlihat tidka ada niatan untuk menceraikannya.


Yuna akan mengikuti ucapan Mommy Sonya, menyembuhkan luka dan membuka hati untuk pria lain.


"Mba Cindy sudah sehat.? Aku akan mengijinkan Kenzie menginap disini kalau Mba Cindy sudah bisa beraktivitas." Tutur Yuna. Dia membuat mata Cindy berkaca-kaca.


"Kamu serius,,?" Tanya tak percaya.


Yuna mengangguk pelan.


"Aku sudah bilang akan membebaskan kalian untuk bertemu dan ikut merawat mereka."


"Kenzie dan Kinara juga anak Mas Barra, jadi kalian juga punya hak untuk merawatnya."


Yuna menatap Mama Rena, mengisyaratkan Mama Rena untuk memberikan Kenzie pada Cindy.


"Aku juga sudah menyiapkan asinya untuk 2 hari ke depan. Mba Cindy bisa menyimpannya di freezer dan menghangatkannya sebelum diberikan pada Kenzie."


Yuna mengambil tas yang berisi perlengkapan milik Kenzie. Dia memang sudah menyiapkan semuanya. Meski bersikeras untuk bercerai dari Barra, namun bukan berarti Yuna ingin memutuskan hubungan darah seorang anak dengan ayah kandungnya.


Cindy menangis saat Mama Rena meletakkan Kenzie dalam gendongannya. Dia terus menatap lekat wajah Kenzie dengan penuh haru dan cinta di dalamnya.


"Kalau begitu kami pulang dulu, tolong antar Kenzie padaku setelah 2 hari."


"Hubungi aku jika ada yang ingin Mba Cindy tanyakan." Ucap Yuna.


"Terimakasih, aku akan menjaga dan merawat Kenzie dengan baik." Sahut Cindy sungguh-sungguh. Yuna tersenyum tipis dan menganggukkan kepala. Dia lalu beranjak dari sana.


Barra yang sejak tadi diam tertegun, terdengar pamit pada Cindy untuk mengantarkan Yuna pulang.


...****...


...Jangan lupa vote 🥰...