
"Mas.! Lepas.!" Bentak Yuna sembari menepis tagan Barra. Sedangkan Cindy terlihat diam saja mencerna ucapan Chandra.
Cindy mengakui kalau Barra juga mencintai Yuna. Mungkin benar Barra akan merasa menderita karna sakit hati jika Yuna hidup dengan laki-laki lain.
"Mas Barra nggak punya hak untuk mencampuri urusan pribadiku.! Tolong jangan lagi berbuat sesuka hati sepeti dulu.! Aku bukan istri Mas Barra lagi." Seru Yuna tegas.
"Apapun yang aku lakukan, siapapun yang sedang dekat dneganku, itu bukan urusan Maa Barra."
Yuna menatap jengah. Dia tidak suka melihat Barra yang masih sering nmencampuri urusan pribadinya, seolah-olah dia masih bisa di gerakan dalam genggaman Barra.
"Hubungan kita hanya sebatas untuk merawat dan membesarkan twins sama-sama, bukan untuk mencampuri urusan pribadi masing-masing."
"Tolong jaga batasan.!" Pinta Yuna dengan tatapan tajam.
"Yuna, aku hanya ingin kamu tau kalau Chandra tidak sebaik yang kamu lihat." Ujar Barra.
Mendengar hal itu, Chandra langsung mengepalkan kedua tangannya. Barra tidak tau apapun tentang is hatinya, tapi berani menyimpulkan hal buruk di depan Yuna.
"Lalu siapa yang baik.? Mas Barra begitu.?!" Yuna tersenyum kecut. Jengkel pada Barra yang menuduh Chandra tanpa mau berkaca lebih dulu.
"Yuna, Barra, sudah,," Tegur Cindy lirih.
"Tidak enak kalau di dengar Ibu, nanti jadi panjang masalahnya."
Yuna menghela nafas kesal.
"Masuklah, Zie dan Ara sudah siap di dalam." Yuna menyuruh Barra dan Cindy untuk masuk tanpa menatap keduanya lagi. Yuna lebih memilih membuang pandangan ke arah lain untuk menghindari luapan emosi yang sulit di bendung jika sudah melihat wajah Barra.
"Ayo,," Cindy menggandeng dan menarik tangan Ba6 agar mau masuk ke dalam. Dia juga tidak mau terjadi keributan yang berkepanjangan. Cindy memikirkan Mama Rena yang pasti akan sedih jika melihat Yuna dan Barra masih bermasalah.
"Jangan percaya ucapannya, aku tidak punya niat seperti itu." Ucap Chandra. Ekspresi wajahnya terlihat cemas, takut kalau Yuna akan terpengaruh ucapan Barra dan tidak mau berhubungan baik dengannya lagi.
"Aku mengerti." Sahut Yuna dengan senyum tipis. Dia tidak terpengaruh sedikitpun dengan ucapan Barra karna bisa menilai sendiri bagaimana sikap Chandra yang sebenarnya.
Chandra tersenyum lega. Dia tau Yuna tidak akan mudah terprovokasi hanya dengan sebuah ucapan tanpa bukti. Wanita itu sangat pemikir dan sangat hati-hati.
"Makasih,,," Chandra mengusap lembut kepala Yuna sambil terus menatap wajahnya.
"Aku berangkat dulu. Jaga kesehatan, jangan terlalu sibuk dengan perkerjaan." Kini tangannya berpindah ke pundak Yuna dan memberikan tepukan pelan.
Yuna memang semakin sibuk setiap harinya. Badannya bahkan sedikit lebih kurus dari 1 tahun yang lalu.
Yuna mengangguk patuh dengan seulas senyum.
"Hati-hati di jalan." Ucapnya.
Dia masih berdiri di teras sampai Chandra masuk kedalam mobil dan menjauh dari pandangan.
Saat masuk ke dalam, suasana di ruang tamu sudah riuh. Barra dan Cindy sedang berinteraksi dengan twins. Mengajak mereka berbicara dan sesekali bercanda.
Di sana juga ada Mama Rena dan Bu Minah.
Yuna pamit ke kamarnya untuk mandi. Dia bergegas pergi tanpa menunggu jawaban dari mereka dan sempat berpesan untuk tidak pulang terlalu malam saat mengajak twins pergi.
...****...
Selama 2 minggu, Yuna selalu mendapat telfon dari Chandra hampir setiap hari. Melakukan panggilan vidio untuk bicara dengannya dan juga twins.
Yuna bisa merasakan ketulusan Chandra untuk menjalin bhubungan serius dengannya serta menjadi Papa sambung untuk twins. Hanya saja hatinya belum siap untuk menerima kehadiran Chandra dan belum siap jika suatu saat harus terluka lagi.
Meskipun begitu, Yuna sudah mulai terbiasa dengan kehadiran dan perhatian yang selalu diberikan padanya dan juga twins.
Sosok Chandra semakin hangat dan semakin terlihat ingin melindungi dia dan anak-anak.
Yuna menarik nafas dalam. Sejak tadi berdiri di atas balkon dengan menatap langit yang semakin menggelap.
Dia dilema, ingin membuka hatinya untuk Chandra namun merasa takut melakukanya. Takut akan kembali melakukan kesalahan karna salah dalam mengambil keputusan seperti sebelumnya.
Disisi lain, dia tidak nyaman dengan posisinya.
...****...
3 hari berlalu,,
Sore itu Yuna sedang menyuapi twins di taman belakang. Sudah lebih dari 1 minggu Barra maupun Cindy tidak datang ke rumah. Yuna tidak mempermasalahkan hal itu, dia justru senang jika tidak melihat mereka.
"Mama,, num mama,," Kenzie menarik tangan Yuna yang sedang menyuapi Ara. Yuna menoleh dan tersenyum pada putranya.
"Kenzie mau minum.?" Tanya Yuna.
"Iyah,," Kenzie menganggukkan kepala.
Yuna mengambil minum milik Kenzie dan memberikan padanya.
"Ara mau minum juga.?" Tawar Yuna pada putrinya yang sedang memperhatikan Kenzi minum.
Putri cantiknya itu mengangguk, Yuna tersenyum gemas dan memberikan minum pada Kinara.
Momen-momen seperti ini yang selalu membuat Yuna bahagia. Kebersamaan dengan twins membuat semangat dan energinya bertambah.
Mereka adalah sumber kekuatan dan kebahagiaan untuknya.
"Kalian disini,, Papa cari di kamar tidak ada."
Yuna langsung menoleh, seketika raut wajahnya berubah melihat kedatangan Barra. Moodnya jadi menurun seketika.
Laki-laki itu berjalan menghampiri mereka dengan senyum yang mengembang sempurna. Masih dengan setelan jas lengkap, dia membawa 3 paper bag di tangannya.
Yuna langsung berdiri dari duduknya saat Barra berjongkok di depan kursi taman. Berjongkok di depan twins yang duduk sebelahan.
"Papa,, papa ulang,," Kinara langsung kegirangan melihat kehadiran Barra. Begitu juga dengan Kenzie yang ikut memanggil Papanya.
"Iya sayang, Papa pulang."
"Ara dan Zie sudah selesai makannya.?" Tanya Barra lembut.
"Lihat Papa bawa mainan,,," Barra meletakkan paper bag di bawah, mengambil salah satunya dan mengeluarkan mainan didalamnya.
"Ini untuk Ara." Barra memberikan barbie pada Ara.
Entah sudah berapa banyak koleksi barbie milik Ara di kamarnya.
Ara langsung tersenyum lebar dan mengoceh sendiri sembari menggerakkan kotak itu di tangannya.
"Dan ini untuk kakak Zie." Barra mengambil 1 paper bag lagi. Dia memberikan figur dinosaurus pada Zie.
Yuna hanya bisa menggelengkan kepala melihat Barra yang selalu memanjakan anak-anak dengan mainan. Padahal mainan mereka sudah hampir mengisi sebagian kamar. Namun Yuna tidak pernah menegur atau melarang Barra karna takut menyinggung perasaannya. Mungkin saja dengan memberikan mainan pada anak-anak, Barra merasa bahagia.
"Aku kedalam dulu." Pamit Yuna tanpa menatap Barra. Dia berlalu begitu saja. Tapi langkahnya terhenti saat pergelangan tangannya di genggam erat.
"Disini saja." Pinta Barra begitu Yuna menoleh. Yuna menatap Barra sekilas, setelah itu mengalihkan pandangan pada tangannya yang di genggam oleh Barra. Bukannya di lepas, Barra malah semakin erat menggenggam dan menarik tangan Yuna agar duduk di kursi taman.
"Mereka pasti senang kalau bermain dengan Papa dan Mamanya." Ujar Barra lembut.
"Ini untukmu,," Barra menyodorkan paper bag pada Yuna.
Sejak tadi Yuna hanya diam dan menuruti semua perkataan Barra. Duduk dan menerima paper bag dari Barra. Dia menahan diri untuk tidak menegur Barra di depan twins.
Entah apa maksud dan tujuan Barra memberikan hadiah untuknya, setelah beberapa minggu lalu ikut campur dengan urusan pribadinya bersama Chandra.
Tatapan mata Barra juga semakin tidak biasa. Semakin teduh dan rasa itu terlihat semakin besar.
Yuna tau bahwa hingga detik ini Barra masih menyimpan rasa itu untuknya. Tapi semua itu tidak berarti dan tidak berpengaruh apapun untuknya.
...**...
...Jangan lupa vote 😊...