
Yuna memesan 2 porsi makanan untuk dirinya sendiri. Hal itu membuat Nitha dan Farah geleng-geleng kepala melihat nafsu makan Yuna yang setiap harinya semakin bertambah.
Keduanya belum pernah hamil, jadi sedikit heran melihat nafsu makan Yuna. Melihat Yuna makan saja sudah membuat mereka kenyang.
"Yakin bakal muat di perut kamu Yun.?" Tanya Nitha ragu.
Yuna mengangguk cepat, dia masih lahap menyantap makanannya.
"Tentu saja muat, kan mereka berdua juga ikut makan." Sahutnya.
"Mereka berdua.? Maksudnya.?" Nitha menatap dengan dahi berkerut. Kaget bercampur bingung setelah mendengar jawaban Yuna.
"Wahh,, Mba Yuna mungkin hamil kembar Mba Nit,,," Seru Farah pada Nitha.
Seketika wajah Yuna berubah panik. Dia tidak sadar mengatakan hal itu pada Nitha karna reflek begitu saja.
"Bu,,bukan begitu,,, maksudku makanan ini untuk di makan berdua. Aku sama debay,," Ucap Yuna gugup.
Dia takut mereka berdua mengetahui kehamilan kembarannya. Sedangkan mereka dan Mama Rena hanya tau kalau di dalam perutnya hanya ada satu kehidupan.
"Ayo buruan makan, jangan ngeliatin aku makan doang, nggak bakal kenyang." Yuna mengalihkan perhatian, dia juga kembali fokus pada makanannya tanpa menghiraukan Nitha dan Farah yang terlihat tidak puas dengan jawabannya.
"Sebenernya liat kamu makan juga udah kenyang Yun," Celetuk Nitha. Yuna hanya terkekeh kecil.
Mereka kemudian fokus menghabiskan makanan masing-masing.
"Udah nih mau langsung pulang.?" Tanya Yuna begitu mereka selesai makan.
"Pulang ajalah, aku udah cape nih. Weekend enaknya quality time di kasur." Nitha menyengir kuda.
"Emang dasar kamu tuh muka bantal.!" Cibir Yuna.
"Kaya Farah dong, mukanya masih semangat gitu." Godanya.
"Jangan salah Mba, ini sih covernya doang. Aslinya juga kaya Mba Nitha, udah pengen nempel kasur juga." Farah terkekeh geli, disusul dengan tawa Nitha yang pecah karna ada yang satu frekuensi dengannya.
"Kamu doang kayaknya yang masih semangat Yun, padahal lagi bunting." Tutur Nitha.
"Ayo pulang,," Nitha beranjak dari kursi lebih dulu.
Yuna hanya menggelengkan kepala dan mengikuti kemauan mereka untuk segera pulang.
Sepanjang keluar dari restoran ketiganya terus bercanda, sesekali diselingi obrolan serius.
"Nit, kamu sama Farah pulang duluan aja deh. Aku kelupaan, masih ada yang harus di beli."
Yuna menghentikan langkah, begitu juga dengan Nitha dan Farah yang ikut berhenti setelah mendengar perintah Yuna.
"Terus kita harus biarin bumil sendirian di mall.?"
"Gimana kalau ada apa-apa sama kamu, bisa-bisa tante sama suami kamu nyalahin kita." Jawab Nitha.
"Memangnya kamu mau beli apa lagi.? Ayo kita anter, asal jangan keliling kaya tadi. Udah cape kita."
Tawar Nitha. Dia tidak mau mengambil resiko meninggalkan Yuna sendirian ditempat umum dengan kondisi Yuna yang tengah hamil muda.
"Kamu tuh lebay banget sih, emangnya aku anak kecil.!" Sahut Yuna.
"Aku bisa jaga diri, nggak usah khawatir."
"Kalian pulang aja kalau udah cape."
Nitha langsung menggelengkan kepalanya, dia benar-benar tidak berani membiarkan Yuna sendirian.
"Aku nggak mau ambil resiko Yun, ayo aku anter. Kita harus pulang bareng,," Tolak Nitha.
"Mba Nitha benar, aku juga nggak tenang kalau Mba Yuna disini dan pulang sendirian." Farah juga ikut mencemaskan Yuna.
"Ya ampun kalian perhatian banget sih," Yuna mencubit gemas pipi keduanya bersamaan.
"Udah sana pulang, aku bisa jaga diri." Yuna mendorong mereka berdua ke arah lift.
"Tapi Yun,,
"Nitha aku bukan anak kecil." Potong Yuna penuh penekan.
"Bye,,, Hati-hati di jalan." Yuna melambaikan tangan dan beranjak pergi meninggalkan mereka berdua.
Yuna tersenyum lebar, sorot matanya menatap tajam ke salah satu restoran. Dia berjalan tegap penuh percaya diri masuk kedalam restoran itu dan mendekat ke salah satu meja.
Di sana tampak sepasang suami-istri yang tengah tertawa bahagia, entah obrolan apa yang membuat keduanya terlihat begitu bahagia.
"Mas Barra, Mba Cindy,," Sapa Yuna dengan senyum tulus.
Kedatangan Yuna seketika menghentikan tawa keduanya. Mereka terlihat kaget melihat Yuna ada di sana.
"Maaf, apa aku menganggu.?" Tanyanya kemudian. Barra dan Cindy masih diam, beberapa kali terlihat saling pandang.
Ada kepanikan dan kebingungan dalam sorot mata Barra. Baru kali ini berada di tempat umum bersama kedua istrinya.
"Yuna,, kamu sapa siapa.?" Cindy mengarahkan pandangannya ke sekitar. Dia sedikit takut Yuna datang bersama seseorang.
"Aku sendirian Mba." Sahutnya.
"Mas," Panggil Yuna lembut. "Aku boleh ikut duduk sebentar.?" Tanyanya. Senyum di bibir Yuna tak kunjung memudar, menatap Barra dengan wajah berbinar.
Barra mengangguk, dia menarik kursi untuk Yuna di sampingnya.
"Kenapa kamu pergi sendiri.?" Nada bicara Barra terdengar panik. Yuna terlihat menghiraukan pertanyaan Barra, dia malah fokus menatap bekas makanan pasangan suami istri itu dan beberapa barang belanjaan mahal di atas atas meja.
"Kalian sudah selesai makan.?" Tanya Yuna. Dia lebih menatap ke arah Cindy, namun Barra yang justru menanggapi ucapan Yuna.
"Apa kamu belum makan.?" Tanyanya. Yuna mengangguk cepat.
"Itu sebabnya aku kesini, kebetulan sekali bertemu kalian. Aku pikir bisa makan bersama, tapi kalian sudah makan." Yuna meletakkan paper bag miliknya di atas meja. Gerakannya mendapat perhatian dan Barra dan Cindy, keduanya terlihat penasaran dengan isi di dalamnya.
"Kamu mau makan apa.? Biar aku pesan kan." Tawar Barra.
"Mas Barra habis makan apa.? Aku mau juga makanan seperti ini." Yuna menunjukan bekas piring Barra.
"Steak." Jawab Cindy singkat.
Yuna menganggukkan kepala dua kali dengan bibir yang membentuk huruf O.
"Ya, aku mau makan steak." Seru Yuna kemudian.
"Minumnya juga sama seperti Mas Barra, kelihatannya enak." Yuna mengusap perutnya berulang-ulang.
"Jadi semakin lapar." Tuturnya.
Cindy hanya menanggapi dengan senyum tipis.
Barra langsung memanggil pelayan, dia memesankan makan dan minuman untuk Yuna.
"Aku ke toilet sebentar,," Pamit Cindy. Dia beranjak dari tempat duduknya. Perut buncit Cindy menarik perhatian Yuna. Dia menatapnya tanpa kedip.
"Euumm,, i,,ini,," Cindy terlihat bingung harus menjelaskan apa pada Yuna yang terlihat kaget melihat perut palsunya.
"Santai saja Mba, aku mengerti kok." Potong Yuna. Dia tersenyum pada Cindy.
Cindy mengangguk lega, setelah itu bergegas pergi ke toilet.
Yuna merogoh ponsel dan mulai sibuk dengan ponselnya.
"Yuna,,," Panggil Barra. Sejak tadi dia ingin bicara pada Yuna namun selalu ragu dan hanya bisa menatapnya dari samping.
"Ya, kenapa Mas.?" Sahut Yuna antusias. Dia langsung menatap Barra dan menyimpan kembali ponselnya.
"Kenapa kamu pergi sendiri.? Bagaimana kalau,,
"Kalau terjadi sesuatu dengan kehamilanku.?" Potong Yuna cepat. Dia sudah hapal rangkaian kalimat yang selalu di ucapkan Barra ketika mencemaskan dirinya. Selalu dan selalu, kehamilan Yuna yang Barra khawatirkan.
Yuna tersenyum lebar.
"Aku bukan anak kecil Mas, aku bisa menjaga mereka dengan baik." Ucap Yuna.
"Mas Barra tenang saja, mereka berdua akan baik-baik saja dan aku pastikan salah satu dari mereka bisa ikut Mba Cindy." Tuturnya lembut.
Barra seketika diam, ucapan dan ketulusan Yuna telah mengaduk-aduk perasaannya.
Selalu teringat dengan niat jahat yang pernah dia lakukan pada Yuna. Untung saja Yuna bisa memaafkannya dan mau mempertahankan pernikahan meski harus jadi yang kedua.