
Yuna tak bisa menolak ajakan ketiga anaknya yang memaksanya untuk ikut ke apartemen Barra.
Setelah menyiapkan makanan, dia bergegas pergi ke kamar untuk mengganti baju.
Setelah itu pergi bersama anak-anak yang juga sudah siap.
Tak hanya membawa makan malam dan buah, Yuna juga membawa kado yang sudah berhari-hari tersimpan di dalam laci. Mungkin memang dia sendiri yang harus memberikannya pada Barra.
"Ara kasian sama Papa, saat sakit seperti ini Papa malah sendirian di apartemen." Tutur Ara yang duduk berseberangan dengan Yuna.
"Kamu boleh menginap sampai Papa sembuh nanti." Sahut Yuna.
"Tapi aku tidak bisa melakukan apapun Mah, jadi percuma sama menginap. Menyiapkan makanan saja tidak bisa, bagaimana bisa mengurus Papa.?"
"Kenapa Mama tidak sekalian menginap.? Jadi besok Mama bisa buatkan sarapan untuk Papa." Kinara terlihat antusias mengajak Yuna untuk menginap di apartemen.
"Iya, sebaiknya Mama menginap juga, kasian Papa kalau tidak ada yang mengurusnya." Kenzie ikut mendukung permintaan Kinara. Hal yang membuat Yuna kembali tidak bisa menolak keinginan mereka karna takut membuat mereka kecewa padanya.
"Baiklah, Mama akan menginap." Yuna tampak pasrah.
"Tapi besok setelah sarapan, Mama akan pulang. Mama harus ke kantor." Jelasnya. Anak-anak mengangguk, mereka tidak masalah jika Yuna pulang pagi-pagi, yang terpenting sudah mau menginap.
...****...
Mereka langsung masuk ke dalam apartemen Barra tanpa harus menekan bel dan menunggu di bukakan pintu karna anak-anak sudah hapal dengan kode akses nya.
Keadaan ruang tamu sedikit berantakan, bantal sofa yang tidak tertata rapi dan beberapa majalah bisnis yang berserakan di atas meja dibiarkan begitu saja.
Bahkan ada gelas di sana.
"Ya ampun, kenapa rumah Papa berantakan sekali." Gumam Kinara. Tak biasanya apartemen ini berantakan, apalagi sampai gelas bekas minum dibiarkan di atas meja ruang tamu.
"Papa kalian lagi sakit, wajar kalau berantakan."
"Sebaiknya kalian temui Papa dulu, biar Mama yang bereskan semua ini." Yuna meletakkan bekal yang dia bawa di atas meja, lalu mulai merapikan majalah yang ada di sana.
"Kalau begitu kita ke kamar Papa dulu Mah,," Kinara berlalu dari ruang tamu, di susul Kenzie dan Brian di belakangnya. Mereka pergi ke kamar Barra untuk melihat kondisi Papa mereka.
"Papa,,," Seru Kinara sembari mengetuk pintu kamar Barra.
"Buka saja, tidak di kunci." Barra terdengar berteriak.
Kinara langsung membuka pintu dan berjalan cepat menghampiri Barra yang tengah bersender di kepala ranjang. Kinara bahkan langsung menghambur ke pelukan Barra.
"Papa kenapa.?" Tanyanya cemas.
"Ck,,,! Kau itu seperti anak kecil saja." Cibir Kenzie yang melihat saudara kembarnya menghambur ke pelukan sang Papa.
"Memangnya tidak boleh kalau aku memeluk Papa.? Kak Zie saja berani memeluk wanita di sekolah.!" Seru Kinara kesal. Dia jadi keceplosan mengatakan hal itu. Barra langsung menatap putranya dengan tatapan mengintimidasi.
"Apa itu benar Zie.?" Tanyanya dengan suara datar namun tegas. Kenzie baru akan berumur 15 tahun, tentu saja Barra tidak akan membiarkannya bebas dekat dengan wanita manapun.
"Tidak Pah, aku tidak sengaja menabraknya saat sedang berjalan. Ara saja yang hanya melihat sekilas, jadi terkesan aku sedang memeluk wanita itu." Tutur Zie memberikan pembelaan dengan mengatakan yang sejujurnya.
"Bohong Pah, itu hanya alasan Kak Zie saja."
"Harusnya Papa juga mengirim bodyguard untuk mengawasi Kak Zie." Kinara melirik Zie dan memberikan senyum meledek padanya. Kinara tidak mau hanya dirinya saja yang di awasi oleh bodyguard, sedangkan Kenzie dan Brian selalu bebas sejak dulu tanpa harus merasa risih di awasi gerak geriknya.
"Kenapa malah jadi ribut.? Kita kesini mau lihat kondisi Papa." Brian mulai bersuara. Dia lalu duduk di seisi ranjang.
"Papa sudah pergi ke dokter atau minum obat.?" Tanya Brian penuh perhatian. Barra mengulas senyum lalu mengacak pucuk kepala Brian.
"Jagoan Papa perhatian sekali." Kata Barra dengan senyum senang.
"Berarti sekarang Papa harus minum obat lagi." Sambung Ara.
"Papa belum makan kan.?" Tanyanya. Barra menganggukkan kepala.
"Ara ambil dulu ya makanan sama obatnya. Ara jamin Papa akan cepat sembuh setelah ini." Kinara mengembangkan senyum penuh arti, membuat Barra sedikit curiga dengan putrinya itu.
Dia hapal betul jenis senyuman itu, mirip dengan senyuman Sisil saat sedang merencanakan sesuatu.
Kinara lalu bergegas keluar, mengambil air putih dan kotak obat, lalu memanggil Yuna agar mau pergi ke kamar Barra.
"Mama sudah selesai beresinnya.? Ayo ke kamar Papa,"
"Bantuin Ara bain makanannya." Seru Ara sambil berjalan ke ruang tamu.
"Iya sayang,," Jawab Yuna sembari mengambil kotak makan di atas meja dan kado di dalam paper bag kecil.
Dia lalu mengikuti langkah Kinara ke kamar Barra. Ini pertama kalinya Yuna menginjakkan kakinya di kamar Barra.
Saat masuk ke dalam, ketiga laki-laki tampan itu sedang tertawa bersama. Yuna menatap kedua putranya yang terlihat sangat bahagia.
Barra menoleh ke arah pintu, dia terlihat bengong melihat kedatangan Yuna. Ada perasaan bahagia dalam hatinya melihat Yuna ikut menjenguknya.
"Kak Zie dan Brian di luar saja, Papa mau makan dulu." Begitu masuk, Kinara langsung mengusir kakak dan adiknya agar keluar dari kamar. Karna sudah tau tujuan Kinara, keduanya tidak membantah saat di usir. Mereka bergegas turun dari ranjang dan beranjak keluar.
"Tidak apa Ara, biarkan Zie dan Brian disini." Ujar Barra.
"Zie haus Pah, mau minum."
"Brian juga, mau minum dulu."
Keduanya kompak memberikan alasan palsu untuk keluar dari kamar.
"Bagaimana keadaan kamu.?" Tanya Yuna. Dia meletakkan makanan di atas nakas dekat ranjang.
"Aku hanya tidak enak badan." Sahut Barra.
"Terimakasih sudah datang." Ucapnya tulus.
Yuna mengangguk dengan seulas senyum tipis.
Kinara mengambil kursi setelah meletakkan gelas dan kotak obat.
"Mama duduk disini." Pinta Kinara sembari meletakkan kursi di sisi ranjang.
"Tidak usah, Mama mau keluar." Tolak Yuna.
"Sebaiknya kamu suapi Papa,"
"Aku sakit perut Mah, itu sebabnya aku mengambilkan kursi untuk Mama agar bisa leluasa menyuapi Papa." Kinara memasang wajah yang terlihat menahan sakit, kedua tangannya bahkan memegangi perut.
"Aduh, aku ke toilet dulu Mah, Pah,," Kinara berlari cepat keluar kamar dan menutup pintunya.
Yuna terlihat kebingungan melihat Kinara yang tiba-tiba sakit perut, padahal tadi baik-baik saja.
"Kenapa tiba-tiba sakit perut.?" Gumamnya heran.
Yuna benar-benar polos, sampai saat ini belum tau peringai putrinya yang sangat mirip dengan Sisil.
Barra yang sudah tau rencana anak-anak, hanya bisa menghembuskan nafas kasar. Ada saja yang dilakukan oleh anak-anak untuk membuatnya berduaan dengan Yuna.
Kini hanya ada mereka berdua di dalam kamar yang tertutup, anak-anak sengaja membiarkan kedua orang tuanya di dalam, bahkan kompak tak akan masuk ke dalam kamar.