Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 105


Seperti yang di katakan Chandra beberapa hari lalu, kini mereka sudah menempati rumah baru yang telah di siapkan oleh Chandra sebelum mereka menikah. Masih di dalam lokasi yang sama dengan rumah pemberian Barra, hanya saja letaknya sedikit lebih jauh.


Rumah yang berada di cluster elit itu memiliki bangunan yang megah dan luas. Yuna sempat berfikir ulang tinggal di rumah itu karna menurutnya terlalu besar untuk mereka tempati.


Tapi pada akhirnya tetap pindah ke rumah itu untuk menghargai Chandra.


Sore itu mereka baru saja melakukan ritual mandi bersama. Hal yang tak pernah mereka lewatkan setiap harinya. Karna Chandra meminta Yuna agar selalu mandi bersama jika dia ada di rumah.


Kegiatan itu membuat hubungan keduanya semakin intim.


"Sini biar aku keringkan." Chandra mengambil hairdryer dari tangan Yuna. Menarik kursi dan duduk di belakang Yuna.


Sambil menatap wajah Yuna dari pantulan cermin, dengan telaten Chandra mengeringkan rambut panjang Yuna. Kegiatan itu menjadi kegiatan favoritnya setiap selesai mandi.


Senyum di bibir Yuna mengembang. Setiap hari diselimuti oleh kebahagiaan yang diberikan oleh Chandra. Perlakuan manis dan lembut Chandra membuat hatinya terpaut pada laki-laki itu.


"Keluarga Mas Barra akan datang nanti malam untuk mengantar twins." Tutur Yuna memberi tau. 2 jam yang lalu dia dikabari oleh Mom Sonya kalau akan mengantarkan twins pulang setelah mengajak mereka jalan-jalan.


Tadi saat mengabarinya, mereka bilang masih di bandara untuk mengantar Barra.


"Boleh kan.?" Tanya Yuna memastikan.


Chandra langsung tersenyum mendengar pertanyaan Yuna.


"Tentu saja, siapapun boleh datang ke rumah ini." Jawab Chandra cepat.


"Aku juga tidak akan melarang Barra datang ke rumah ini. Tidak akan membatasi waktunya dengan anak-anak, asal tidak menginap saja." Chandra kemudian tersenyum kecil.


"Makasih,,," Ucap Yuna tulus.


Dia menatap wajah Chandra yang saat ini sedang serius mengeringkan rambutnya.


Banyak harapan yang di gantungkan oleh Yuna pada pernikahan keduanya ini. Dia juga menaruh harapan pada Chandra.


Setidaknya akan ada kebahagiaan yang bisa dia rasakan setiap harinya. Menggantikan tangis dan kepedihan yang sebelumnya dia rasakan.


Sudah cukup selama ini terbebani dengan permasalahan yang berkaitan dengan Barra dan Cindy.


Kini sudah saatnya di menatap kehidupan yang indah dan bahagia dengan keluarga kecilnya bersama Chandra.


...*****...


"Disini saja, jangan kemana-mana,," Chandra menahan Yuna yang akan beranjak dari tempat tidur. Sejak 1 minggu terakhir sikap Chandra berubah. Dia sangat manja dan selalu Menempel padanya, bahkan jarang pergi ke kantor hanya karna ingin terus berada di samping Yuna.


Pernikahan yang baru berjalan 2 bulan itu telah memberikan banyak perubahan dalam hidup Yuna. Kebahagiaan tak henti-hentinya di berikan oleh Chandra padanya.


Tak hanya menjadi suami yang baik untuknya, Chandra juga menjadi Papa sambung yang baik untuk twins. Dia selalu meluangkan waktu untuk mengajak mereka jalan-jalan atau sekedar bermain bersama di rumah.


Di tengah kesibukannya memimpin perusahaan besar, Chandra selalu memprioritaskan keluarga.


"Sudah siang Mas, sebaiknya sarapan dulu." Ajak Yuna.


Dia mengusap lembut pipi Chandra. Suaminya itu tidak demam ataupun sakit, tapi entah kenapa sikap manjanya melebihi orang yang sedang sakit.


"Baiklah,, tapi mandi dulu." Ujar Chandra sembari bangun dari tidurnya. Yuna mengangguk setuju tanpa penolakannya. Setidaknya kegiatan itu akan sedikit mengurangi sikap manja Chandra untuk beberapa saat.


Keduanya keluar dari kamar setelah melakukan ritual mandi bersama sekaligus mencoba berbagai gaya yang membuat mood naik.


"Aku ke kamar twins dulu. Mas Andra tunggu di ruang makan saja." Yuna hendak beranjak, namun Chandra langsung mengikutinya. Hal itu membuat Yuna menatap heran.


"Aku mau ikut liat twins." Jelas Chandra. Dia merangkul erat pinggang Yuna.


Yuna hanya bisa menggulingkan kepala, Chandra benar-benar tidak bisa jauh darinya. Pantas saja beberapa hari lalu tiba-tiba pulang dari kantor setelah jam makan siang. Dan kepulangannya hanya karna ingin memeluk Yuna saja.


"Apa kita perlu ke dokter.?" Tawar Yuna.


"Siapa yang sakit.?" Chandra balik bertanya.


"Aku rasa Mas Andra yang sakit."Jawab Yuna cepat.


"Aku.?" Chandra menunjuk dirinya sendiri. Yuna mengangguk.


"1 minggu ini sikap kamu aneh Mas, aku rasa ada sesuatu yang terjadi dengan kesehatan kamu." Tutur Yuna. Dia baru berani mengungkapkan pendapatnya tentang perubahan sikap Chandra.


"Aku jadi seperti punya 3 bayi, bahkan bayi besar ini jauh lebih manja dari twins." Ungkapnya.


"Aku hanya ingin bermanja dengan istriku, apa ada yang salah.?" Tanya Chandra.


"Tidak, tapi,,,


"Sudah, ayo ke kamar mereka." Chandra langsung mengajak Yuna pergi ke kamar twins.


...*****...


Barra sedang mengajak Cindy berkeliling di taman rumah sakit. Kondisi kesehatan Cindy semakin membaik setiap harinya. Kesembuhan Cindy sudah di depan mata. Keduanya sudah tidak sabar untuk segera kembali ke Jakarta dan melanjutkan hidup dengan semestinya seperti dulu.


"Bagaimana kabar Yuna.?" Tanya Cindy. Dia baru menanyakan hal itu pada Barra karna selama ini hanya fokus untuk kesembuhannya.


"Dia baik-baik saja." Jawab Barra singkat. 3 hari yang lalu Barra baru saja pulang ke Jakarta untuk menemui twins.


Dia melihat bagaimana hubungan Chandra dan Yuna yang terlihat sangat bahagia. Hal itu tentu saja membuat. hatinya terasa sakit. Tidak sanggup rasanya melihat orang yang kita cintai sangat bahagia dengan orang lain. Apalagi terlihat lebih jauh bahagia dibanding saat hidup bersamanya.


"Yuna tidak mau kembali.?" Tanya Cindy lirih.


"Kembali pada siapa.? Dia sudah menikah dengan Andra." Jawab Barra cepat.


Selama ini memang Cindy tidak tau kabar pernikahan Yuna. Barra juga enggan membahas hal itu karna hanya membuatnya kecewa.


"Apa.? Jadi Chandra benar-benar melakukannya.?"


"Aku pikir dia hanya bercanda saat bilang mencintai Yuna dan ingin menikah dengannya."


Gumam Cindy. Dia ingat saat Chandra mengajaknya kerja sama untuk memisahkan Yuna dari Barra.


Barra langsung menatap serius.


"Kapan dia bilang seperti itu padamu.?" Tanyanya penasaran.


"Setelah dia pulang dari Paris. Dia melihat kalian di sana dan langsung datang menemuiku setelah kembali ke Jakarta."


"Dia memintaku untuk memisahkan kalian. Tapi aku menolaknya. Lagipula Chandra pernah kesal padamu, aku pikir dia akan berbuat sesuatu pada Yuna."


Penjelasan Cindy membuat Barra terdiam. Fakta yang ada semakin membuatnya kehilangan harapan untuk merebut Yuna dari tangan Chandra.


Dan pada kenyataannya memang Chandra terlihat sangat mencintai Yuna. Begitu juga dengan Yuna, Barra bisa melihat tatapan mata Yuna pada Chandra yang sudah di penuhi oleh cinta.


"Kamu masih sangat mengharapkan Yuna.?" Pertanyaan Cindy membuyarkan lamunan Barra.


Barra hanya menoleh dan menatap Cindy tanpa bermaksud untuk menjawab pertanyaannya.


Dia tidak tega untuk mengatakan yang sejujurnya pada Cindy. Meski sangat mendukungnya untuk bisa kembali lagi bersama Yuna, pasti tetap ada rasa sakit jika mendengar kebenaran itu.


"Jika Yuna tidak bahagia dengan Chandra, kamu harus berjuang untuk mendapatkannya kembali. Tapi jika dia bahagia, maka lepaskan saja." Ujar Cindy.


Barra menghela nafas berat, terlihat tidak setuju dengan pernyataan Cindy. Rasa tetap tidak bisa melepaskan Yuna begitu saja meski Yuna sudah bahagia.


Selalu berharap suatu saat bisa bersama dengan Yuna lagi untuk hidup bersama membesarkan twins.