
21+ bocil jangan baca, kalau siang di skip dulu (baca pas malam)
"Tak usah memikirkan cinta jika kita ingin melakukannya, karna bukan cinta yang akan memuaskan hasrat kita." Ujar Barra lagi.
Yuna masih belum merespon, sedangkan bira-hinya mulai tidak bisa di tahan lagi.
Beberapa kali terdengar menelan saliva, Barra sengaja memilih diam tanpa ada pergerakan lagi pada tangannya. Dia menunggu saat dimana Yuna akan berbalik badan menatapnya dengan tatapan memohon.
Apa yang dirasakan oleh Yuna saat ini memang karna ulahnya. Dia memasukkan obat dalam botol air mineral yang tadi di minum oleh Yuna.
Awalnya Barra enggan mengikuti saran dari Sisil, namun setelah melihat tidak ada perkembangan sama sekali dengan sika Yuna yang selalu tidur menjauh, akhirnya memilih jalan pintas ini.
Mungkin terdengar kelewatan, tapi Barra tak akan melakukan penyatuan sebelum Yuna mulai membuka hati untuknya.
Saat ini Barra hanya ingin membuat Yuna terbiasa dengan sentuhannya, berharap setelah itu Yuna akan merasa membutuhkannya.
"Sudah malam, sebaiknya tidur saja,," Ajak Barra.
Karna Yuna diam saja, dia jadi pura-pura mengatakan itu untuk melihat reaksi Yuna selanjutnya. Barra yakin Yuna tak akan bisa tidur lagi dalam keadaan pengaruh obat.
Barra bergeser mundur untuk membuat jarak dan menyingkirkan tangannya dari atas dada Yuna.
"Mas,,," Seketika Yuna berbalik badan, tangannya mencekal lengan besar Barra.
Dari tatapannya sudah bisa dilihat kalau dia ingin melakukannya dengan Barra.
"Hemm,, kenapa.?" Tanya Barra santai. Dia seolah tidak tau apapun, padahal dia yang sudah membuat Yuna jadi seperti itu.
"A,,aaku,,," Yuna ragu untuk mengatakannya karna malu pada Barra. Tapi di sisi lain sudah tidak bisa menahannya lagi. Membuatnya semakin gelisah dan kegerahan. Miliknya bahkan terasa berdenyut dan menginginkan sentuhan.
"Kamu kenapa.? Wajah kamu memerah,," Barra sengaja meletakkan telapak tangannya di pipi Yuna, memberikan usapan lembut yang teratur dan perlahan turun ke lehernya.
Hanya mendapat sentuhan di bagian lehernya saja sudah membuat tubuh Yuna menegang. Rupanya efek samping obat itu cukup mengerikan. Yuna benar-benar terlihat haus akan sentuhan.
Barra tak bermaksud membuat Yuna jadi seperti ini dengan mencampurkan obat perangsang dengan dosis tinggi. Tapi ini salah satu cara untuk menarik perhatian Yuna.
Lama memberikan usapan disekitar leher Yuna, tiba-tiba Yuna mendekat dan lebih dulu mencium bibir Barra. Menciumnya dengan lembut, kelamaan berubah rakus. Barra yang awalnya diam, kini mulai membalas ciumannya. Apalagi saat Yuna memegang tangannya dan mengarahkannya pada kedua buah kenyal miliknya.
Barra tersenyum dalam hati, tentu saja dia tak mau menyia-nyiakan untuk menaikkan dua benda favoritnya. Tangannya menyingkap baju Yuna hingga di atas dada. Barra menurunkan kain pembungkus dan dua buah kenyal itu menyembul keluar.
Dia memainkannya dan membuat tubuh Yuna semakin memegang. Meremasnya bergantian dengan gerakan lembut.
Yuna melepaskan ciumannya, nafasnya memburu.
Keduanya saling menatap, diam beberapa saat tanpa melakukan apapun. Begitu juga dengan tangan Barra yang berhenti memainkan benda kenyal itu.
"Aku tidak akan melakukannya sebelum kamu bisa mencintaiku." Ucap Barra. Biasanya kata-kata ini sering di lontarkan oleh wanita pada suaminya, tapi tak berlaku untuk Barra.
"Tapi aku,,,," Yuna ingin bilang bahwa dia menginginkannya, namun ucapannya langsung di potong oleh Barra.
"Aku akan memberikan kepuasan dengan cara lain." Potong Barra cepat. Dia lalu mengubah posisi dengan duduk di ranjang, mulai melepaskan kain yang melekat di tubuh Yuna tanpa ada penolakan. Bahkan Yuna terkesan buru-buru ingin mendapatkan kepuasan itu.
Baju milik Yuna di lempar asal oleh Barra. Tubuh polos istrinya itu sangat menggoda hingga membuat sesuatu di bawah sana menegang. Namun Barra tetap tidak akan melakukan penyatuan sebelum waktu itu tiba. Waktu dimana Yuna mulai bisa menerima kehadirannya dan bisa mencintainya.
Masih dengan memakai baju lengkap, Barra mengungkung tubuh polos Yuna. Dia memang sengaja tidak melepaskan bajunya agar tetap bisa mengontrol diri. Tujuannya saat ini hanya ingin memberikan kepuasan untuk Yuna saja.
Bibir tipis Yuna langsung menjadi sasaran Barra. Dia melum- atnya dengan rakus, mengabsen setiap inci rongga mulut Yuna, memainkan lidahnya di dalam sana. Tangannya tak tinggal diam, merem- mas kedua buah kenyal Yuna secara bergantian. Tubuh polos di bawah kungkungannya semakin menegang, desa- han kecil terus lolos dari bibir Yuna.
Barra melepaskan ciuman, mulai turun ke leher dan membuat tanda kepemilikan di sana. Tak berhenti disitu, ciuman Barra semakin turun kebawah sampai pada pucuk buah kenyal milik Yuna. Barra langsung melahapnya, menghi -sapnya kuat seperti bayi yang kehausan. Sesekali memainkannya dengan lidah.
Yuna semakin tak terkendali akibat rasa nikmat yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia bergerak ke sana kemari dengan kedua tangan yang mencengkram rambut Barra sekaligus memberikan tekanan pada kepala Barra.
Beberapa tanda kepemilikan membekas di kedua buah sintal itu. Nafas Yuna sudah naik turun akibat permainan bibir Barra di titik sensitif.
Barra beranjak dari atas tubuh Yuna, dia duduk di antara kedua kaki Yuna yang sudah di buka lebar-lebar olehnya.
Tangannya mulai menyentuh area inti milik Yuna yang menjadi sumber kenikmatan terbesar.
"Kamu sangat basah." Ucap Barra dengan suaranya yang serak menahan gairah. Kalau saja tidak ada niat utuk mendapatkan hati Yuna secara perlahan, mungkin saat ini dia sudah menghunjamkan miliknya didalam sana.
Wajah Yuna terlihat merona karna ucapan Barra. Benar-benar sangat malu tapi tidak bisa menghindar karna sangat menginginkannya.
Hanya dengan gerakan lembut jari Barra saja sudah membuatnya melayang tinggi. Dia ingin meminta Barra mempercepat sentuhannya, namun tak berani menyatakannya.
"Sh - iittt,,," Umpat Barra lirih. Dia jadi tidak tahan karna memainkan milik Yuna. Belasan tahun tidak membenamkan miliknya, membuat Barra rindu dengan kenikmatan itu.
Barra menghentikan aksinya, hal itu tampak membuat Yuna menatap kecewa.
"Jangan khawatir, yang ini akan lebih nikmat." Ujar Barra, dia tau arti raut wajah Yuna dan tatapannya.
Memposisikan kepala di antara kedua paha Yuna, tubuh seksi itu seketika melengkung ke atas. Yuna mencengkram seprei dan melepaskan desah- han cukup kencang.
Hanya dengan satu kali sapuan, Yuna merasakan nikmat yang sudah lama tidak dia rasakan.
Barra semakin bersemangat, memainkan lidahnya di sana hingga Yuna melenguh panjang dan menggelinjang kenikmatan.
Wanita itu mendapatkan pelepasan untuk pertama kalinya.
Barra berhenti, berbaring di samping Yuna dan membiarkan wanita itu untuk mengatur nafasnya.
"Bagaimana.? Masih mau lagi.?" Tanya Barra setelah nafas Yuna mulai teratur. Yuna diam dan tampak malu untuk menjawabnya.
"Mas Barra juga harus mendapatkannya." Ucap Yuna. Dia tak mau hanya dirinya saja yang dipuaskan.
"Kau tidak mau penyatuan." Ujar Barra, karna Yuna belum mencintainya. Dia tak mau Yuna membayangkan orang lain saat bercinta dengannya.
"Aku mengerti,," Jawabnya lirih. Yuna lalu bangun, dia mulai melakukan tugasnya untuk bergantian memberikan kepuasan pada Barra tanpa penyatuan.
selebihnya travelling sendiri 🤪
Besok upnya telat, gak sempat buat bab lagi karna besok pagi mau mudik 🙏🏻.
Buat yang mau mudik juga, hati-hati di jalan, semoga selamat sampai tujuan.
...*****...
...Pengumuman pemenang Give Away...
Masing-masing mendapatkan pulsa 50k. Klaim lewat DM instagram ke akun r.wulland1. Kirim no HP + screenshot akun masing-masing.
Bagi pemenang yang baru follow akun instagram othor, mohon maaf hadiahnya hangus dan akan di undi lagi untuk cari pemenang baru.
Nama pemenang :
Suaenleka Vaizun
Vania aisha rahman aisha
Rini Irawati
A putrie