
permintaan Yuna sempat di tentang dan tolak oleh Sisil dan Mommy Sonya. Mereka khawatir jika Yuna ikut dan membawa baby twins, Barra atau Cindy bisa saja mengambil baby boy dari tangan Yuna. Walaupun sepertinya Barra dan Cindy sudah mendapatkan pengganti baby boy.
Jika mereka belum mendapatkan pengganti baby boy, sudah pasti mereka akan mengatakan kalau anak yang dilahirkan Cindy meninggal dunia. Sedangkan Barra mengatakan pada Sisil jika Cindy telah melahirkan.
Tak hanya keluarga Barra saja yang penasaran dengan sosok bayi yang akan menjadi anak Barra dan Cindy, Yuna juga ingin tau dan melihat bagaimana keadaan Cindy saat ini. Jujur saja, ada rasa kasihan terhadap Cindy, terlepas bagaimana Cindy sering memberikan peringatan padanya untuk melepaskan Barra.
Namun Yuna bisa melihat perjuangan Cindy untuk memberikan kebahagiaan pada Barra.
Cindy manusia biasa, hatinya rapuh sebagai wanita. Yuna bisa memahami kenapa pada akhirnya Cindy tidak ikhlas untuk berbagi dan ingin memiliki Barra lagi seutuhnya. Karna tidak ada satu orang pun yang akan benar-benar ikhlas untuk berbagi.
Kata ikhlas hanya akan bisa di ucapkan, tanpa bisa lakukan.
"Kamu yakin mau ikut.?" Sekali lagi Mommy Sonya meyakinkan Yuna. Wanita yang saat ini masih berstatus sebagai menantunya.
Mommy Sonya tidak pernah berfikir putranya akan menikah lagi dengan memiliki 2 istri sekaligus.
Kalau saja saat itu Sisil tidak menceritakan apa yang dia dengar dan kesaksian Jeje yang menyebut pernah melihat Cindy dalam keadaan tidak hamil, mungkin pernikahan kontrak Barra dengan Yuna tidak akan di ketahui dan Mommy Sonya tidak akan bisa menyembunyikan salah satu baby twins.
Barra dan Cindy pasti akan merasa tenang jika semua rencananya berjalan dengan mulus.
"Yakin tante, aku ingin bertemu dengan Mba Cindy." Sahut Yuna.
"Mommy, panggil saja Mom." Pinta Mommy Sonya ramah. Dia tidak menaruh sedikitpun rasa benci terhadap Yuna meski Yuna menjadi orang ketiga dalam rumah tangga putranya. Karna Mommy Sonya sudah tau bagaimana semua itu terjadi.
"Mom pikir, sebaiknya kamu tidak perlu ikut. Jika mereka melihat baby twins, bisa saja mereka akan ngambil Kenzie." Mommy Sonya terlihat cemas. Dia tidak setuju jika salah satu baby twins di pisahkan dari ibunya meski akan di rawat sendiri oleh putranya.
Bukannya tidak mau membela putranya, namun Mommy Sonya melakukan semua ini karna merasa kasihan pada Yuna sebagai sesama perempuan.
Dia juga memiliki anak perempuan, dan Mommy Sonya tidak mau hal itu sampai terjadi pada Sisil.
Setiap ibu yang melahirkan, tentu saja tidak akan rela untuk di pisahkan dari anaknya.
Perjuangan seorang ibu tidak mudah, rasa sakit dan sulitnya tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
Banyak pengorbanan dan juga air mata.
Mereka sudah mempertaruhkan nyawa demi melahirkan, tidak adil rasanya jika harus di ambil dan di akui sebagai anak orang lain.
"Saya pikir ini saatnya untuk menyelesaikan masalah kami, Saya hanya ingin semua selesai dan bisa hidup dengan jalan masing-masing kedepannya." Tutur Yuna.
Dia juga ingin meminta Barra menceraikannya, karna sampai detik ini, status dia dan Barra masih menjadi suami istri.
Yuna pikir, ini saat yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan mereka di depan keluarga Barra.
Jika Barra tidak mau menceraikannya, maka Yuna masih bisa meminta bantuan pada Mommy Sonya dan Cindy agar mereka bisa memaksa Barra untuk mengucapkan talak padanya.
"Baiklah kalau itu mau kamu."
"Mom janji tidak akan membiarkan Barra atau Cindy mengambil salah satu anak kamu." Mommy Sonya merangkul dan menepuk lembut pundak Yuna.
"Ayo Mom, kita harus ke rumah sakit sekarang." Ajak Sisil.
"Sayang, berikan padaku." Sisil meminta Kevin dari gendongan suaminya.
"Pelan-pelan,," Ucap Nicho. Dia tampak khawatir dengan cara Sisil mengambil baby mereka dari gendongannya.
"Sini, biar Kenzie sama Mommy." Sonya mengambil Kenzie dari stroller. Mereka bergegas keluar dari ruko. Namun begitu keluar, Mama Rena dan Nitha datang dengan memegang kantong belanjaan di tangan masing-masing.
Yuna tersenyum lebar, dia ingin memberitahukan kabar bahagia ini pada sang Mama.
Mama Rena pasti bahagia jika tau cucu perempuannya masih hidup.
Walaupun Mama Rena terlihat tegar, namun Yuna beberapa kali memergoki sang Mama menangis dengan menatap ponsel.
Mama Rena memang sempat mengabadikan foto baby girl sebelum di bawa dari rumah sakit. Yuna bahkan sempat melihatnya 1 kali, setelah itu tidak pernah mau lagi untuk melihatnya karna hanya akan membuat hatinya teriris.
"Yuna,,, mereka siapa.?" Mama Rena tampak bingung dengan kehadiran orang yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
"Lalu ini siap,,," Mama Rena menunjuk baby girl dalam gendongan Yuna dan bergantian menatap baby boy yang tengah di gendong oleh mommy Sonya.
"Kenzie, kenapa Kenzie di gendong ibu ini.?"
Wajah Mama Rena terlihat semakin kebingungan.
Yuna mendekat, mata yang tadinya berbinar, kini berkaca-kaca dan mulai meneteskan buliran bening dari pelupuknya. Dia sedikit menyodorkan baby girl agar Mama Rena bisa melihat jelas wajah cantik cucunya.
"Dia Kinara Mah,, cucu Mama."
"Baby girl masih hidup." Suara Yuna bergetar menahan tangis. Dia bahkan masih tidak percaya dengan semua ini. Benar-benar seperti mimpi bahwa baby girl telah kembali padanya.
"Aa,,apaa.?!!" Mama Rena terkejut. Kantong belanjaannya bahkan sampai terjatuh. Kedua tangannya gemetar, dia terlihat ingin menyentuh cucunya.
"Ba,,bagaimana bisa Yun,? Mama sendiri yang melihatnya telah meninggal." Masih dalam ketidak percayaan, Mama Rena berusaha untuk menyentuh bayi mungil itu. Bayi yang memiliki wajah mirip dengan menantunya.
"Sebaiknya jelaskan di mobil saja, disini panas." Ujar Nicho. Dia menatap istri dan putranya yang terlihat mulai kepanasan.
Akhirnya mereka masuk kedalam mobil, begitu juga dengan Mama Rena. Sedangkan Nitha memilih untuk tetap berada di ruko untuk mengurus online shop mereka.
Mama Rena terlihat syok mendengar penjelasan dari Yuna mengenai baby girl yang selama ini di sembunyikan oleh Grandma dan Aunty nya.
Keduanya juga sedikit terharu mendengar penuturan Sonya serta Sisil mengenai baby girl selama 1 bulan bersama mereka.
Selama itu, Kinara meminum asi dari Sisil. Hari pertama ikut mereka, Kinara seolah sadar telah di pisahkan dari ibu kandungnya. Dia gelisah dan sangat rewel, sangat berbeda dengan Kevin yang sangat anteng sejak hari pertama tinggal di rumah.
Sisil dan Mommy Sonya telah meluangkan banyak waktu dan teganya untuk mengurus Kinara di tengah-tengah mengurus Kevin.
Meski sedikit kecewa lantaran mereka menyembunyikan baby girl darinya, namun Yuna tetap berterimakasih karna mereka telah merawat Kinara dengan baik. Baju yang di pakai oleh kinara bahkan keluaran brand ternama, sangat jauh berbeda dengan Kenzie yang hanya bisa dibelikan brand lokal.
"Sekarang kita mau kemana.?" Tanya Mama Rena.
"Ke rumah sakit Mah, Mba Cindy dan Mas Barra ada di sana."
"Yuna mau menyelesaikan masalah ini biar ada kejelasan, selagi semuanya berkumpul."
Jelas Yuna.
...*****...
Sampainya di rumah sakit, mereka langsung di arahkan oleh Sisil dan Nicho ke ruang VIP dimana Cindy ditempatkan.
Sisil mengetuk pintu, setelah itu membukanya dan menyelonong masuk, disusul Nicho, Mommy Sonya serta Yuna dan Mama Rena.
"Oppa,,, kenapa tidak,,,,
Sisil tidak meneruskan ucapannya karna melihat Cindy yang sedang menangis histeris dan Barra sedang menenangkannya.
Keduanya terlihat bingung melihat semua orang masuk kedalam ruangan.
"Kalian kenapa.?" Tanya Mommy Sonya datar.
"Bayi kami meninggal," Jawab Barra lesu.
"Jangan pura-pura lagi, Mommy sudah tau semuanya. Cindy hanya pura-pura hamil, jadi anak itu juga tidak ada kan." Seru Mommy Sonya. Dia terlihat kesal dengan ulah putranya.
Barra dan Cindy terkejut mendengar penuturan Mommy Sonya, meski mereka sudah curiga lantaran Mommy Sonya datang bersama Yuna dan Mama Rena.