Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 58


Sejak sadarkan diri Yuna terus meminta untuk di pertemukan dengan Baby twins. Tapi sampai kini pukul 10 malam, dia masih belum di pertemukan dengan mereka. Jawaban Barra dan Mama Rena tetap sama. Baby twins masih belum di perbolehkan untuk di bawa keluar, dan Yuna juga tidak di perbolehkan keluar ruangan. Padahal Yuna merasa kondisinya sudah membaik meski bekas operasi sesarnya terasa berdenyut. Namun demi ingin melihat buah hatinya, Yuna menguatkan diri. Tapi nyatanya tetap tidak diberi kesempatan.


"Kenapa belum tidur.? Sudah malam, kamu harus istirahat." Ujar Barra yang baru masuk ke ruangan. Dia baru saja mengantar Mama Rena pulang dan mengejek keadaan baby boy, ingin memastikan jika putranya baik-baik saja di sana.


Yuna melirik sekilas, sikap dan tatapan matanya memang mulai berubah, terkesan cuek dan dingin.


"Kamu mau minum atau makan buah.?" Tawar Barra. Dia duduk di sisi ranjang Yuna dan mengusap pucuk kepalanya.


Yuna menoleh, dia tidak menjawab pertanyaan Barra dan malah membahas hal lain.


"Mama jadi tau kalau aku melahirkan anak kembar," Ucapnya.


"Mas Barra sudah pikirkan cara untuk membawa baby boy.?" Tanya Yuna.


Tak hanya memikirkan ingin bertemu dengan kedua anaknya, Yuna juga sibuk memikirkan cara bagaimana memisahkan baby twins tanpa harus membuat Mama Rena tau alasan dibalik semua itu. Yuna juga tidak mau Mama Rena tau bahwa selama ini dia hanya menjadi istri kedua yang di minta untuk menghasilkan keturunan.


Barra terdiam, rupanya kegelisahan Yuna dan perubahan sikapnya lantaran dia memikirkan hal itu.


Saat ini Yuna masih bisa menyuruhnya untuk mengambil baby boy, tapi setelah dia tau hanya baby boy yang selamat, mungkin Yuna tidak akan memberikan baby boy untuk Cindy.


"Saat ini yang terpenting adalah kesehatan dan kesembuhan kamu, kita bisa pikirkan itu nanti." Barra tentu saja tidak tega membahasnya. Dia juga ingin Yuna bisa tidur dengan tenang tanpa harus memikirkan apapun. Karna kondisi Yuna terlihat buruk meski dia selalu bilang baik-baik saja.


Sepertinya karna banyak pikiran, jadi keadaan Yuna terlihat kacau.


"Tapi lebih cepat lebih baik, Mba Cindy juga harus segera pura-pura melahirkan."


"Tapi jangan sampai Mama tau kalau baby boy dibawa kalian. Bagaimana kalau bilang pada Mama baby boy meninggal.?" Usul Yuna.


"Yuna.! Jaga bicara kamu.!" Seru Barra tegas. Rasa takut membuat Barra lepas kendali dan bicara dengan nada tinggi padanya.


Ucapan Yuna membuat jantungnya serasa berhenti berdetak. Bagaimana jika ucapan Yuna menjadi kenyataan.? Mungkin tak hanya Yuna saja yang akan gila, dia juga akan gila karna kehilangan 2 anak sekaligus.


Sudah cukup rasanya kehilangannya baby girl, Barra tidak mau kehilangan baby boy.


"Kenapa Mas Barra nggak setuju.? Tapi cuma ini satu-satunya cara agar semuanya tidak terbongkar."


Yuna yang tidak tau apapun, merasa biasa saja mengungkapkan ide gila itu.


"Aku nggak mau bahas ini lagi, sebaiknya kita tidur." Barra beranjak dari kursi, dia menarik selimut untuk menutupi tubuh Yuna.


"Kamu harus banyak istirahat, jangan memikirkan apapun dulu." Pinta Barra. Kecupan hangat mendarat di kening dan bibirnya. Yuna nampak diam saja, setelah itu memalingkan wajahnya ke arah lain.


Melihat raut wajah Yuna yang terlihat sendu, Barra hanya bisa menarik nafas dalam. Dia lantas tidur di ranjang lain yang ada di ruangan itu.


...****...


Barra baru selesai menyuapi Yuna, kemudian dia pamit pulang untuk mengambil baju ganti milik Yuna dan baby boy. Kemarin Mama Rena tidak sempat membawa baju milik mereka lantaran panik dan tidak berfikir Yuna akan melahirkan.


"Aku pulang dulu, telfon aku kalau ada apa-apa." Pesan Barra. Dia mendaratkan kecupan serta ciuman singkat di kening dan bibir istrinya.


"Ambilkan juga baju untuk baby boy. Untung saja aku beli baju baby girl yang unisex, jadi bisa di pakai juga buat baby boy." Tutur Yuna. Wajahnya berbinar membayangkan kedua anaknya memakai baju yang dia beli 2 minggu lalu.


Meskipun sudah tau hanya baby girl yang akan ikut dengannya, namun Yuna tidak memilih baju yang benar-benar khusus untuk perempuan. Jadi baby boy masih bisa memakainya.


Barra mengangguk lemah. Selalu saja ada ucapan Yuna yang mampu mengiris hatinya.


Barra bahkan bingung bagaimana caranya untuk memberitahukan Yuna tentang keadaan baby girl yang sebenarnya.


Tak lama setelah Barra keluar, pintu kamar kembali terbuka. Yuna menoleh, berfikir Barra kembali lagi karna ada sesuatu yang tertinggal. Tapi rupanya Cindy yang datang ke kamarnya.


Cindy tersenyum, berjalan mendekat dengan membawa parsel buah di tangannya.


"Aku senang kamu sudah siuman." Ucap Cindy. Dia lalu duduk di samping ranjang, di kursi yang biasa diduduki oleh Barra.


"Bagaimana keadaan kamu,Yuna.?" Tanyanya. Sembari meletakkan parsel buah di atas meja.


"Seperti yang Mba Cindy lihat, aku baik-baik saja." Jawab Yuna santai. Dia mengulas senyum tipis.


"Terimakasih sudah menjengukku." Ucapannya.


"Jadi Mba Cindy sudah sempat kesini dan melihat baby boy.?" Tanya Yuna. Cindy mengangguk cepat dengan senyum lebar.


Pengakuan Cindy membuat Yuna menarik nafas dalam, dadanya terasa sesak seketika. Ada perasaan kesal, cemburu dan merasa tidak adil.


Dia yang sudah mengandung dan melahirkan, tapi


Cindy bisa melihat mereka dengan mudahnya. Sedangkan sampai saat ini dia belum tau seperti apa rupa baby twins.


"Dia sangat tampan seperti Barra." Ujar Cindy.


Yuna tersenyum lebar.


"Tentu saja Mba, karna Mas Barra yang membuatnya." Sahut Yuna cepat.


"Ah iya, kamu benar." Cindy tersenyum kaku. Dia tidak nyaman mendengar jawaban Yuna. Membayangkan Yuna dan Barra melakukan hal itu memang selalu membuat hatinya sakit, tapi selama ini berusaha untuk menahannya.


Untuk mendapatkan kebahagiaan memang terkadang harus melalui jalan yang menyakitkan.


"Ngomong-ngomong, aku turut berdukacita atas meninggalnya baby girl." Ucap Cindy lirih.


Degh,,,!


Yuna memaku, tiba-tiba saja seluruh tubuhnya serasa mati dan tidak bisa di gerakkan. Dada teras menghimpit dan sulit untuk bernafas. Pandangan matanya seketika menggelap.


Ucapan Cindy berhasil membuat Yuna seakan jatuh ke jurang yang gelap dan tanpa dasar.


"Yuna,,, kamu baik-baik saja.?" Cindy menggoncang pelan lengan Yuna. Dia panik lantaran Yuna diam saja dan tidak bergerak sama sekali, namun matanya mulai berkaca-kaca.


"Keluar dari sini.!!" Bentak Yuna. Matanya begitu tajam menatap wanita itu.


"Yuna,, aku nggak bermaksud,,,


"Aku bilang keluar.!!!" Teriaknya lagi.


"Aku benar-benar tulus ikut berduka untuk meninggalnya baby girl, aku harap kamu bisa menerima,,,


"Tolong ke kamar saya." Pinta Yuna. Dia baru saja menghubungi petugas keamanan disana untuk mengusir Cindy dari ruangannya.


"A,,apa kamu belum tau kalau,,


"Diam.!" Potong Yuna. Dia memegangi perut bawahnya, luka bekas operasinya terasa terbuka akibat berteriak.


"Apa itu sakit.? Aku akan panggilkan dokter." Cindy beranjak dari duduknya saat melihat Yuna yang menahan sakit.


"Tidak.! Pergi saja dari sini.!" Ucap Yuna sinis.


"Selamat pagi Bu,," Petugas keamanan masuk ke kamar Yuna.


"Tolong usir perempuan itu Pak." Pinta Yuna sembari menunjukkan Cindy.


"Dia sudah membuat kekacauan dan mengganggu istirahat saya." Tuturnya tegas. Petugas itu langsung melaksanakan perintah Yuna. Dia membawa Cindy keluar dari sana meski Cindy sempat menolak.


Yuna meraih ponsel di atas nakas, dia segara menghubungi Nitha.


"Sekarang Nit, tolong kamu urus semuanya."


"Tapi Yun, bukannya bulan depan.?" Tanya Nitha.


"Aku bilang setelah melahirkan, sekarang aku sudah melahirkan. Tolong bawa juga amplop coklat yang ada di laci meja kerjaku dan bawakan ke rumah sakit."


"Mas Barra sedang menjemput Mama, tolong bilang sama untuk tetap di rumah, aku ingin berdua dengan Mas Barra."


"Baiklah,," Jawab Nitha.


Yuna mematikan sambungan telfonnya, matanya menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.