
"Cindy, sekarang bagaimana keputusan kamu.?" Tanya Sonya. Semua mata tertuju pada Cindy, terutama Eva. Dia menatap tajam putrinya, seolah meminta Cindy untuk meminta cerai dari Barra.
Tidak peduli siapa yang meminta Barra untuk menikah lagi, Eva tetap tidak terima jika anaknya di madu.
"Aku,, aku mau pempertahankan rumah tangga bersama Barra."
"Aku tidak keberatan untuk berbagi dengan Yuna." Jawab Cindy tanpa ada keraguan sedikitpun dalam ucapannya.
"Cindy.! Jangan bodoh kamu.!" Tegur Eva tak habis pikir. Entah bagaimana jalan pikiran putrinya yang rela untuk berbagi suami.
Dia sudah di butakan oleh cinta. Sampai rela melukai dan mengorbankan kebahagiaan sendiri demi kebahagiaan Barra.
"Mam, aku tidak bodoh."
"Memang sejak awal aku yang menginginkan pernikahan kedua Barra."
"Aku tidak bisa memiliki anak Mam, aku hanya ingin Barra bisa memiliki anak."
Cindy membuang egonya, menepis rasa sakit yang sebenarnya sedang menggerogoti hatinya.
Sungguh keputusan yang berat, berulang kali mencoba untuk menjalani semua ini tanpa rasa sakit, tapi tidak pernah bisa. Rasa sakit itu selalu datang dengan sendirinya tanpa bisa dia cegah.
"Mami tidak setuju.! Kamu harus tetap bercerai dari Barra.!"
"Untuk apa kamu bertahan, kamu hanya akan menunjukkan pada semua orang kalau kamu tidak berdaya dengan kekurangan kamu.!"
Eva tetap kekeuh untuk memisahkan putrinya dengan Barra. Hatinya sakit sebagai orang tua yang melihat kehidupan putrinya begitu menyedihkan.
"Mam, aku tidak mau.!" Tolak Cindy. Dia bersikeras untuk mempertahankan Barra di sisinya.
"Cindy.!" Tegur Eva.
"Eva, aku sudah bilang biarkan mereka menentukan keputusan sendiri."
"Mereka bukan lagi anak kecil, biarkan mereka memilih apa yang akan mereka jalani ke depan."
Sonya menegur Eva yang ingin ikut campur terlalu jauh dengan rumah tangga putrinya.
"Lalu apa kamu akan setuju pada keputusan putramu yang memilih keduanya.?!" Seru Eva geram.
"Keputusan terakhir akan di tentukan oleh Yuna."
"Kalau memang Yuna juga setuju untuk tetap menjalani pernikahan ini, biarkan saja mereka menjalaninya."
Tutur Sonya. Dia juga tidak bisa mengambil keputusan apapun jika memang ketiganya ingin tetap mempertahankan pernikahan itu.
"Cihh.!!" Eva berdecak sinis ke arah Yuna.
"Aku sudah tau isi kepala wanita itu, tentu saja dia tidak mau bercerai agar bisa mengeruk harta putramu.!" Ucapnya ketus.
Mama Rena langsung menatap tajam, merasa sakit hati dengan ucapan Eva yang menghina putrinya untuk kesekian kali. Padahal Yuna sama sekali tidak tertarik dengan harta Barra.
"Tolong jaga ucapan Anda.!" Tegur Mama Rena.
"Mah,, biarkan saja." Ucap Yuna lirih. Dia mengusap pundak Mama Rena untuk memberikan ketenangan.
"Sepertinya anda sangat mengenal saya dengan baik Nyonya Eva.!" Ucap Yuna dengan gaya santainya namun menekankan setiap kata dan memberikan tatapan tajam penuh amarah.
"Bagaimana Anda bisa tau kalau saya akan mengeruk harta suami saya sendiri.?" Ujarnya lagi. Yuna menekankan kalimat terakhir, dia ingin menyadarkan Eva bahwa dirinya juga berhak atas harta Barra karna itu sudah menjadi kewajiban Barra untuk memberikan pada istri-istrinya.
Namun Eva seolah menganggap hal itu sebuah perbuatan yang menjijikan.
"Lagipula tidak mungkin kan kalau saya mengeruk harta suami orang lain.!" Tegas Yuna.
"Kalian lihat sendiri bukan, dia sangat menjijikkan.!" Seru Eva tak habis pikir.
"Eva.!" Tegur Sonya. Besannya itu paling tidak bisa mengontrol ucapan.
"Tidak apa Mom, Nyonya Eva memang benar." Ujar Yuna, dia tersenyum tipis.
"Saya tidak mau cerai, asal Mas Barra mau menceraikan Mba Cindy.!" Ucap Yuna tegas.
Semua orang tercengang mendengar keputusan Yuna.
"Yuna,, Mama nggak setuju nak." Mama Rena menatap memohon pada putrinya. Dia tidak mau putrinya jadi serakah dan merebut Barra dari Cindy.
"Kalian dengar itu.?!" Seru Eva.
"Dia memang pantas di sebut jal-l*ng.!" Cibirnya dengan amarah yang meledak.
Yuna terkekeh santai.
"Kenapa Anda terkejut Nyonya Eva yang terhormat.?" Tanya Yuna sembari mengulum senyum kecut.
"Saya sedang menunjukan pada Anda arti jal-l*ng yang sesungguhnya.!" Ujarnya penuh penekan.
Yuna ingin membuat Eva mengerti arti hinaan yang selalu di lontarkan padanya.
"Karna saya pikir Anda salah mengartikan kata jal-l*ng." Sindirnya.
"Kau.! Berani sekali bicara seperti itu padaku.?!" Eva hendak beranjak untuk menampar Yuna, namun semua orang mencegahnya.
Barra bahkan sampai berdiri di depan Yuna untuk menghalanginya dari Eva.
"Jaga ucapan dan sikapmu di rumah ini."
Eva terlihat tidak terima di tegur semua orang.
"Ayo Cindy, sebaiknya kita pulang.!"
"Biarkan saja laki-laki breng-s*k itu hidup menderita dengan jal-l*ngnya.!" Bentaknya menyindir.
"Kenapa buru-buru Nyona Eva.?"
"Tunggu dulu sampai Mas Barra menceraikan putri Anda di hadapan semua orang." Ujar Yuna.
"Yuna,," Seru Cindy dan Barra bersamaan. Mereka menatap dengan tatapan sendu pada Yuna, tidak menyangka Yuna akan meminta Barra untuk menceraikan Cindy.
"Kenapa.? Apa Mas Barra lebih memilih Mba Cindy daripada aku dan anak-anak.?" Tanya Yuna.
"Bukankah Mas Barra bilang mencintaiku dan baby twins, kami sangat berharga bukan untukmu.?" Tutur Yuna dengan tatapan sendu dan memohon.
"Dasar wanita miskin tidak tau diri.!" Bentak Eva. Dia langsung menarik tangan Cindy dan membawanya pergi dari sana.
"Mam aku tidak mau pergi.!" Tolak Cindy.
"Mam, biarkan Cindy tetap disini. Aku tidak akan menceraikannya.!" Barra berusaha untuk menahan Cindy dan Eva.
"Saya yang akan mengajukan gugatan cerai kalian.!" Sahut Eva.
"Urus saja wanita murahan itu dan anak-anakmu.!" Geramnya penuh amarah.
"Barra.! Sudah biarkan saja." Cegah Sonya.
"Eva sedang emosi, percuma saja bicara dengannya." Tuturnya. Barra menghentikan langkah, membiarkan Cindy di bawa pergi oleh Eva.
Memang percuma saja memohon pada Eva dalam keadaan seperti ini. Eva pasti tetap bersikeras untuk membuat pernikahan dia dan Cindy berakhir.
"Duduklah." Pinta Hendra pada Barra yang terlihat frustasi.
"Yuna meminta kamu menceraikan Cindy, apa keputusan kamu.?" Tanyanya.
Suasana di ruang keluarga seketika menjadi tenang setelah kepergian Eva.
"Aku tidak bisa meninggalkan Cindy Dad,," Sahut Barra lemah.
"Dia sudah menemaniku selama ini, mengurusku dengan baik, bagaimana aku bisa menceraikannya." Jelas Barra. Dia akan menjadi laki-laki yang kejam jika meninggalkan Cindy begitu saja setelah mendapatkan kebahagiaan dari wanita lain.
"Mas Barra tidak perlu menceraikan Mba Cindy." Ujar Yuna. Semua orang langsung menoleh, menatap heran pada Yuna. Beberapa menit yang lalu Yuna sendiri yang meminta Barra untuk menceraikan Cindy, tapi sekarang melarang untuk menceraikan Cindy.
"Jadi kamu setuju,,,
"Tidak, aku tidak setuju untuk menjalani pernikahan ini bersama-sama." Potong Yuna tegas.
"Keputusanku tetap sama sejak awal. Aku ingin bercerai.!" Tegas Yuna.
Barra menggelengkan kepalanya, dia tidak setuju dengan keputusan Yuna.
"Aku minta Mas Barra menceraikanku sekarang, di depan orang tua kita." Pinta Yuna.
"Karna sampai kapanpun aku tidak mau menjalani pernikahan seperti ini." Tegasnya. Selalu tidak ada keraguan sedikitpun dalam diri Yuna untuk bercerai dari Barra. Bertahan hanya akan menumpuk luka yang entah sampai kapan harus dia rasakan.
"Bagaimana Barra.?" Tanya Hendra tegas.
"Dad, aku tidak bisa." Raut wajah Barra begitu frustasi. Tidak sanggup rasanya melepaskan Yuna dan kedua anaknya.
"Jangan egois nak, kamu tidak bisa mempertahankan keduanya. Kamu pikir hati mereka sekeras apa sampai rela di madu tanpa merasakan sakit."
"Lepaskan Yuna kalau kamu tidak bisa melepaskan Cindy, begitu juga sebaliknya.!" Seru Sonya. Dia tidak mau mendukung putranya untuk menjalani 2 pernikahan sekaligus, sedangkan hal itu terlihat jelas telah memberikan luka batin pada Cindy dan Yuna.
"Baiklah." Ucap Barra pasrah.
Dia tidak bisa berbuat apa-apa karna Yuna tetap bersikeras untuk bercerai.
Walaupun ini tidak mudah dan menyakitkan, Barra berharap keputusan ini akan menjadi awal yang baik untuk kehidupan Yuna. Selama ini dia sadar tidak bisa membuat Yuna bahagia.
"Yuna Anindya, aku ceraikan kamu. Mulai hari ini aku melepaskan tanggungjawabku sebagai suami dan mengembalikan kamu pada Mama Rena."
Barra menunduk, air matanya mulai menetes.
Kalimat perceraian itu begitu meremas dan menghancurkan hatinya.
Semua orang tertunduk sedih, ikut merasakan kehancuran itu. Sangat menyayangkan perpisahan Yuna dan Barra yang telah dikaruniai 2 orang anak.
Yuna menarik nafas dalam, perasaan lega dan sesak menjadi satu.
Dia sedih karna baby twins akan semakin kekurangan kasih sayang dari Papanya. Tapi di sisi lain merasa lega terbebas dari beban berat yang selama ini dia pendam seorang diri.
"Terimakasih sudah menepati janji." Ucap Yuna lirih.
“Kenzie dan Kinara ada di atas, Mas Barra bisa bermain dengan mereka sebelum aku pulang." Yuna memberikan Barra kesempatan untuk bermain dan bertemu dengan anak-anak sebelum dia membawa twins pulang.
Yuna yang paling tegar disini, sedikitpun tidak menunjukkan kesedihan dari sikap dan sorot matanya.
Mungkin karna sejak dulu dia sudah menunggu hari ini. Hari dimana pernikahannya dengan Barra akan di akhiri.