
Pagi itu suana di kediaman Daddy Hendra cukup riuh. Kehadiran twins dan juga Kevin yang semalam menginap disana, membuat suana rumah menjadi lebih ramai dan hidup.
Suara tangis dan tawa anak-anak sudah terdengar sejak pukul 7 pagi. Mereka bertiga sedang main di ruang keluarga bersama Sisil dan Nicho. Sedangkan Barra dan kedua orang tuanya tengah duduk tak jauh dari sana karna Barra mengajak mereka untuk bicara.
"Aku akan tinggal di Singapura selama 3 bulan kedepan Mom, Dad,," Ucap Barra lirih. Dia menundukkan pandangan, sudah siap mendengar kalimat yang pasti akan membuatnya semakin menyadari kesalahan.
"Kamu yakin.? Bagaimana dengan anak-anak.? Mereka pasti akan mencari kamu." Mom Sonya menatap serius pada putranya. Dia memang tidak bisa mencegahnya jika itu sudah menjadi keputusan Barra.
"Aku akan sering pulang menemui mereka." Barra melirik twins yang sedang tertawa lepas. Tentu saja dia juga tidak bisa berlama-lama meninggalkan anak-anak.
"Cindy sedang membutuhkanku saat ini. Hanya aku yang bisa dia harapakan." Sorot mata Barra berubah sendu. Semua permasalahan seperti tak ada hentinya menimpa dirinya.
Selalu saja ada kesulitan dan rasa sakit yang harus dia hadapi setiap harinya.
Kehidupannya berkali-kali lipat lebih berat di bandingkan dulu.
Mungkin memang benar, hidup tak selamanya mudah dan bahagia. Sejak dulu dia hanya merasakan kebahagiaan, tanpa pernah tau seperti apa rasa sakit dan kesulitan. Kini semua itu berbondong-bodong hadir dalam kehidupannya dalam waktu yang bersamaan.
Hidupnya berada di titik terendah sejak beberapa tahun lalu hingga detik ini.
Kehadiran twins hanya memberikan sedikit cahaya dalam kegelapan hidupnya. Karna jauh lebih banyak kepedihan dibanding dengan kebahagiaan yang dia rasakan.
"Dad tidak akan ikut campur dengan keputusan kamu kali ini. Lagipula kamu memang harus bertanggungjawab dengan apa yang sudah kamu pilih."
"Fokus saja pada kesembuhan Cindy, Dad dan Mommy mu yang akan memantau perkembangan twins. Jadi tidak perlu mengkhawatirkan mereka."
Daddy Hendra tidak mau terlalu ikut campur dengan rumah tangga putranya, kecuali jika sudah menyangkut anak-anak.
Dia membiarkan Barra menetukan dan bertanggungjawab atas semua keputusan yang telah dia ambil.
"Makasih Dad, Mom." Ucap Barra. Dia bersyukur kedua orang tuanya masih mau merangkulnya setelah apa yang telah dia perbuat dengan mencoreng nama baik mereka sebagai orang tua.
"Aku titip anak-anak pada kalian."
"Setelah Cindy sembuh, aku akan mengajukan hak asuh anak-anak."
"Aku ingin mereka tinggal bersama kami."
Sikap santai dan tenang yang sejak tadi di tunjukkan oleh Mom Sonya dan Dad Hendra, seketika berubah setelah mendengar rencana Barra. Keduanya menunjukkan ekspresi tidak setuju sekaligus marah. Tergambar jelas dari sorot mata mereka yang menatap tajam putranya.
"Mom pikir kamu sudah menyesali perbuatan kamu dan introspeksi diri, tapi kenapa malah punya pemikiran gila seperti itu.?" Seru Mom Sonya tak habis pikir. Entah dimana akal sehat putranya yang tega memisahkan kedua balita mungil itu dari ibunya.
Twins masih sangat membutuhkan Yuna, mereka juga tidak akan bisa lepas dari Yuna begitu saja setelah bertahun-tahun hidup bersama Yuna.
"Mom, dimana letak salahnya.? Aku juga ingin hidup bersama anak-anakku.!"
"Tidak adil kalau hanya Yuna saja yang diberi kesempatan untuk tinggal bersama mereka.!" Barra terlihat kesalah karna keputusannya tidak di dukung oleh Mom Sonya.
"Setidaknya salah satu dari mereka harus tinggal bersamaku.!"
"Aku tidak peduli Mom setuju atau tidak, aku akan tetap mengajukan hak asuh anak-anak.!" Seru Barra.
"Barra.! Pelankan suara kamu.!" Tegur Dad Hendra tegas.
"Dad tidak pernah mengajarkan kamu bicara seperti itu dengan Mommy mu.!" Tatapan tajam Dad Hendra membuat Barra menarik nafas dalam dan menyadari kesalahannya.
"Maaf Mom,,," Ucapnya dengan kepala tertunduk.
"Aku juga ingin bahagia bersama anak-anak." Suara Barra tercekat.
Kebahagiaannya sudah sirna, berharap dengan twins ada di sampingnya setiap hari, bisa membuatnya merasakan kembali kebahagiaan itu.
"Dengan membuat twins dan Yuna menderita.? Begitu caranya.?" Nada bicara Mom Sonya pelan, namun penuh penekanan.
"Apa kamu tidak lihat bagaimana mereka merengek setiap jam karna mencari keberadaan Mamanya." Sorot mata Mom Sonya semakin tajam.
"Walaupun nantinya akan terbiasa, tapi perkembangan mereka sudah pasti akan terganggu jika setiap hari terus seperti itu dalam waktu yang lama." Mom Sonya juga tak habis pikir dengan putranya.
"Lalu kapan mereka bisa ikut denganku.?" Barra menatap dengan penuh kehancuran.
"Kenapa semua ini hanya tidak adil untukku.?"
Barra terlihat kacau. Dia tidak bisa lagi menyembunyikan kerapuhan hatinya di depan orang tuanya.
Buliran bening mulai keluar dari pelupuk mata. Barra tidak peduli dengan harga diri dan rasa malu sebagai anak tertua. Dia sudah tidak bisa menahan semua itu sendiri.
"Kamu pikir siapa yang membuat semua ini jadi rumit.?" Tanya Dad Hendra.
"Selama ini kehidupan kamu baik-baik saja, tapi kamu sendiri yang menghancurkan kebahagiaan itu sendiri."
"Dad tau kamu terluka, tapi kamu harus belajar menghadapi permasalahan yang sudah kamu buat sendiri dengan cara yang baik."
"Biarkan anak-anak tetap tinggal bersama Yuna, selama Yuna tidak membatasi akses kamu untuk bertemu anak-anak, jangan pernah berfikir untuk mengambil hak asuh mereka."
...****...
"Ya ampun.!" Yuna melonjak kaget melihat jam yang menunjukkan pukul 8 pagi. Dia sampai turun dari ranjang begitu saja.
"Kamu kenapa.?" Suara lembut Chandra membuat Yuna menoleh ke sumber suara.
Dilihatnya Chandra yang sudah rapi dan segar, tengah duduk di kursi dengan banyak makanan di atas meja.
Seketika Yuna merasa malu. Di hari pertama menjadi istri Chandra, dia malah bangun kesiangan.
Rambutnya masih acak-acakan dengan wajah khas bangun tidur, sedangkan Chandra sudah rapi dan setampan itu.
"Kenapa Mas Andra nggak bangunin aku.?" Tanya Yuna sembari merapikan rambutnya.
"Sudah, tapi kamu terlalu pulas." Jawab Chandra sembari mengulas senyum.
"Sebaiknya kamu mandi dulu, setelah itu telfon anak - anak. Mereka pasti kangen sama kamu."
Mendengar ucapan Chandra tentang twins, Yuna langsung beranjak dari ranjang dan bergegas mandi tanpa pikir panjang. Dia sudah tidak sabar melihat wajah dua malaikat kecilnya itu.
Begitu selesai mandi, Yuna langsung bergabung dengan Chandra dan melakukan panggilan vidio pada kontak Mommy Sonya.
"Rambut kamu masih basah, nanti sakit kalau tidak langsung di keringkan." Chandra melepaskan handuk kecil dikepala Yuna, dia menggeser kursi agar lebih dekat dengan istrinya.
"Biar aku keringkan." Ucap Chandra saat Yuna menatap ke arahnya. Yuna hanya mengulas senyum dan membiarkan Chandra mengeringkan rambutnya menggunakan handuk itu.
"Pagi Mom,,," Sapa Yuna begitu sambungan telfonnya terhubung.
"Pagi nak."
"Pengantin baru sudah bangun pagi-pagi." Goda Mom Sonya. Yuna tersenyum malu.
"Apa twins sudah bangun.?" Tanya Yuna.
Tak berselang lama, layar ponselnya memperlihatkan twins yang sedang di suapi oleh Barra. Sisil juga tampak sedang menyuapi Kevin.
"Mereka yang membangunkan semua penghuni rumah." Ucap Mom Sonya dengan sedikit tertawa.
"Dia mencari kamu sejak tadi malam, jadi tidak pulas tidurnya." Tuturnya.
"Aku mau bicara dengan mereka Mom." Pinta Yuna.
Mom Sonya mendekatkan layar ponselnya pada twins. Dua balita itu langsung tersenyum saat melihat wajah Yuna. Mereka bahkan langsung memanggil Mama berulang kali.
"Halo anak Mama,, kalian sedang makan apa.?" Tanya Yuna dengan mata yang berbinar.
Cukup lama Yuna berbicara dengan twins, sedangkan Chandra masih mengusap rambut Yuna dengan handuk meski sudah setengah kering.
Sesekali memainkan rambut panjang Yuna sambil terus menatap wajahnya dari samping.