Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 60


Kamar VIP di rumah sakit itu penuh dengan isak tangis. Mereka tak kuasa membendung air matanya. Buliran bening terus mengalir deras, terlebih Yuna. Tubuhnya bergetar dalam dekapan Mama Rena, tangisnya pecah hingga begitu menyayat hati.


Yuna menangisi kepergian putrinya, tangis yang sejak beberapa jam lalu dia tahan agar tidak tumpah di depan Cindy ataupun Barra.


Karna dia tidak mau menunjukan kehancurannya depan kedua orang itu. Yang mungkin saja akan bertepuk tangan dan tertawa bahagia di atas penderitanya.


"Semua ini salah Yuna, gara-gara Yuna baby girl meninggal." Ungkap Yuna dengan suara yang tercekat disela isak tangisnya. Dia menyalahkan dirinya sendiri atas meninggalnya yang putri yang saat itu masih dalam kandungan.


"Kalau saja Yuna jujur ada 2 malaikat kecil dalam rahim Yuna, pasti Tuhan nggak akan mengambil baby girl." Yuna terus menangis, semakin terisak karna begitu hancur dan menyakitkan kehilangan darah dagingnya.


"Sekarang Yuna benar-benar melahirkan satu anak," Ucapnya pilu. Sungguh ini adalah kehancuran dan sakit terbesar selama hidupnya.


"Maafin Yuna Mah,, maafin Yuna,," Pinta Yuna dengan tatapan putus asa.


"Nggak sayang, kamu nggak perlu minta maaf." Mama Rena mengusap punggung Yuna, mendekapnya erat dengan perasaan yang hancur seperti Yuna.


Nitha yang dan Farah yang ada di ruangan itu juga ikut menangis. Dia bisa merasakan kehancuran hati seorang anak dan ibu.


Yuna dan Mama Rena sama-sama sedang menangisi anaknya.


Yuna melepaskan pelukannya, menata Mama Rena dengan air mata yang terus mengalir.


"Tapi Yuna harus tetap minta maaf, Yuna sudah menyembunyikan kebohongan besar selama ini." Tutur Yuna.


Dia mulai menceritakan awal mula pernikahannya dengan Barra hingga surat perjanjian yang harus dia penuhi. Dan imbalan apa saja yang telah Barra berikan oleh Barra padanya.


Yuna juga menjelaskan posisinya yang hanya sebagai istri kedua.


Mama Rena tidak sanggup mengatakan apapun, air matanya semakin deras dan kembali memeluk Yuna. Ternyata kepedihan dan penderitaan yang Yuna alami saat ini, di sebabkan oleh dirinya.


Putrinya rela mengorbankan masa depan dan kebahagiaannya sendiri demi menyelamatkan nyawanya.


Mama Rena merasa gagal menjadi seorang ibu. Dia jadi penyebab rasa sakit dan kehancuran putrinya sendiri.


...*****...


"Yuna tau ini sulit, tapi sejak awal baby boy sudah menjadi milik Mas Barra dan istrinya." Nada bicara Yuna jelas sekali menahan sesak.


"Maafin Yuna kalau harus memberikan cucu Mama pada mereka." Yuna memalingkan wajah.


Air matanya tak kuasa untuk di bendung lagi. Entah sudah berapa banyak air mata yang tumpah, namun rasanya tak akan cukup untuk menggambarkan kehancuran dan rasa sakit yang Yuna rasakan.


Kehilangan anak untuk selama-lamanya, lalu dia juga harus merelakan baby boy untuk Barra.


Entah sehancur apa perasaan Yuna karna harus berpisah dengan kedua anaknya.


Dia yang mengandung selama 8 bulan, melahirkan dengan cara yang tragis, tapi begitu baby twins lahir, Yuna tidak bisa menggendong mereka dan merawatnya.


"Kenapa harus minta maaf sama Mama," Mama Rena menggenggam tangan Yuna.


"Kesedihan yang Mama rasakan tidak sebanding dengan kesedihan kamu, seharusnya Mama yang minta maaf."


"Kamu jadi harus mengalami semua ini karna Mama."


"Mama akan dukung apapun keputusan kamu. Tapi coba pikirkan baik-baik, apa kamu yakin melepaskan anak kamu.?"


Sebenarnya Mama Rena tidak setuju jika Yuna menyerahkan baby boy pada Barra, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa jika memang itu yang terbaik untuk ketenangan hati Yuna yang enggan berhubungan lagi dengan Barra dan Cindy.


Yuna menuturkan tidak ingin lagi melihat mereka berdua.


"Yuna nggak mau lagi berurusan sama mereka Mah, mungkin Yuna seperti ibu yang jahat karna memberikan anak pada mereka, tapi Mas Barra juga ayahnya. Dan memang sejak awal seperti ini perjanjiannya, ini konsekuensi yang harus Yuna terima."


"Yuna yakin mereka akan membesarkan baby boy dengan baik dan penuh cinta karna mereka sangat menginginkan kehadiran baby boy sejak lama."


Yuna mengulas senyum tipis, terlepas bagaimana perlakuan Cindy dan Barra pada awal pernikahan, Yuna yakin mereka akan menjadi orang tua yang baik untuk baby boy.


Sejauh ini Cindy dan Barra juga memiliki cinta yang besar satu sama lain, cinta itu lah yang akan mengiringi tumbuh kembang baby boy dengan bahagia.


"Nit, mana amplop coklat yang aku minta." Yuna baru memintanya setelah 2 jam berlalu. Sejak tadi mereka sibuk menangis dan saling menguatkan satu sama lain sampai tidak memikirkan hal lain.


Nitha beranjak dari duduknya, menghampiri Yuna dan memberikan amplop coklat itu padanya.


"Barang-barang di ruang kerja sudah mulai di pindahan." Tutur Nitha sembari menyodorkan amplop coklat itu pada Yuna.


"Mungkin setelah ini aku dan Farah harus ke ruko untuk menata barang-barang di sana."


"Kamu nggak papa kan disini sama Mama Rena.?"


Nitha sebenarnya tidak tega meninggalkan Yuna dalam keadaan seperti ini, dia ingin selalu ada di samping Yuna untuk menguatkannya.


"Semakin cepat dibereskan, semakin cepat juga bisa di tempati. Aku sudah ingin pulang."


"Makasih sudah mengurus semuanya, kamu terbaik." Yuna memeluk Nitha. Sahabatnya itu memang bisa di andalkan.


Mama Rena dan Nitha keluar dari ruangan atas permintaan Yuna, lalu meminta Mama Rena untuk memanggilkan Barra karna masih ada hal yang harus di selesaikan.


Begitu keluar, Mama Rena menatap Barra dengan sorot mata penuh kekecewaan. Dia tidak pernah mengira laki-laki sebaik Barra akan melukai hati putrinya bahkan menghancurkan kebahagiaannya.


"Mama kecewa sama kamu,," Ucapnya.


Barra langsung berdiri, menundukkan kepala penuh penyesalan. Dia sadar telah membuat banyak orang tersakiti. Semua ini bermula akibat kesalahannya.


"Saya minta maaf, saya janji akan memperbaiki semuanya."


"Saya mencintai Yuna," Ungkapnya.


"Masuk lah, Yuna ingin bicara." Tutur Mama Rena.


"Mama harap kamu nggak akan memaksa Yuna, biarkan dia bahagia dengan keputusannya." Pesannya sebelum meninggalkan Barra dan pergi untuk melihat cucunya yang dalam waktu dekat akan di serahkan pada Barra.


...*****...


"Yuna,,," Barra meraih tangan Yuna, berusaha menggenggamnya namun di tepis.


Sorot matanya masih sama, penuh kebencian dan kecewa.


"Aku ingin mengembalikan apa yang tidak seharusnya menjadi milikku." Yuna menyodorkan amplop coklat pada Barra.


"Itu kartu atm yang Mas Barra berikan padaku, isinya masih utuh. Aku tidak memakai sepeserpun uang mahar dan uang yang setiap bulan Mas Barra berikan padaku." Yuna memang sempat memakainya, tapi sudah dia kembalikan sesuai yang dia pakai.


"Di dalam juga ada cek, aku ingin mengembalikan uang operasi Mama, uang pelunasan hutang dan uang modal usaha yang Mas Barra berikan padaku."


"Semuanya telah kembali dengan utuh." Tutur Yuna tegas. Dia tidak lagi meluapkan emosi seperti sebelumnya, terlihat lebih tenang saat bicara meski ada amarah yang harus dia pendam.


"Untuk rumah, aku sedang mengosongkannya. Mungkin besok selesai."


"Rumah itu juga akan aku kembalikan pada pemiliknya, tentu saja pada Mas Barra."


"Terimakasih sudah memberikan tempat tinggal yang layak untukku selama mengandung baby twins." Ucap Yuna tulus.


Dia tentu bukan orang yang tidak tau berterima kasih, terlepas bagaimana hubungannya dengan Barra yang sudah di ambang kehancuran, dia tetap harus berterimakasih padanya.


Sebab tidak ada orang yang sempurna.


"Mas Barra bisa ceraikan aku sekarang dan bawalah baby boy. Aku titipkan dia pada kalian, tolong rawat dan besarkan dia dengan baik."


"Jadikan dia laki-laki yang bertanggungjawab, tegas dan punya pendirian." Ujar Yuna penuh penekan.


Ucapannya berhasil menyadarkan Barra bahwa dia bukan laki-laki yang baik.


"Aku mohon pikirkan baik-baik, aku nggak akan mengambil baby boy. Dia akan tetap tinggal bersama kamu, bersama kita."


"Sampai kapanpun aku nggak akan menceraikan kamu."


"Aku benar-benar mencintai kamu Yuna." Ungkapnya tulus.


"Kalau begitu, aku akan memberikan pilihan untuk Mas Barra."


"Pilih Mba Cindy atau aku.?! Karna sampai kapanpun aku nggak akan pernah mau jadi yang kedua." Tantang Yuna tegas.


Seketika Barra terdiam, raut wajahnya berubah. Dia terlihat sulit untuk menentukan pilihan.


Melihat hal itu, Yuna hanya tersenyum kecut.


...****...


Tolong follow instagram baru othor yah 🙏


Nama : r.wulland1


Mampir juga yuk ke penulis pemula LisNH_


dengan judul Novel Terjebak Perjodohan.


Mampir dan masukin ke daftar favorit kalian yah🥰