
Barra baru saja selesai makan. Dia beranjak dari sofa saat Yuna masuk ke dalam kamar. Niat hati ingin mengajak Yuna bicara untuk membahas pertemuan mereka bersama Cindy, Yuna justru melengos dan melewatinya begitu saja sebelum akhirnya masuk ke walk in closet seolah tidak melihat keberadaannya di sana. Padahal jelas-jelas Barra sempat berdiri di depan Yuna.
Kecewanya orang sabar memang beda. Bukannya memaki atau memperlihatkan kekecewaannya, tapi malah menunjukkan sisi berbeda yang membuatnya tampak kuat dan terlihat santai.
Hampir 15 menit Barra menunggu di depan pintu lantaran Yuna mengunci pintu dan tidak menjawab saat di panggil.
Begitu keluar, Yuna sudah mengenakan pakaian formal dan sedikit memoleskan makeup di wajahnya.
Riasan makeup membuat Yuna tampak lebih segar.
"Kamu mau pergi sekarang.? Biar aku antar." Ucap Barra. Tatapan teduh dan senyum tipis diberikan Barra pada Yuna yang hanya memasang wajah datar.
"Nggak usah Mas, makasih." Jawab Yuna datar.
"Aku bisa pergi sendiri, lagipula Mas Barra lagi sakit kan."
"Aku pergi dulu," Yuna beranjak, lagi-lagi melewati Barra dan terkesan menghindarinya.
Sejak saat itu memang Yuna terkesan membatasi interaksi ataupun komunikasi dengan Barra.
Barra hanya bisa pasrah, menuai apa yang pernah dia tanam. Karna sebelumnya dia juga bersikap seperti itu pada Yuna.
"Apa kata Mama kamu kalau pergi sendiri sedangkan aku ada di rumah." Tutur Barra berusaha untuk membujuk Yuna.
Yuna berbalik badan, menatap Barra dengan tenang.
"Mama tau kalau Mas Barra sedang sakit, jadi nggak akan bilang apapun."
"Lagipula kita hanya sedang menjalani pernikahan kontrak, jadi nggak perlu bersikap layaknya suami istri sungguhan."
"Aku sudah berusaha untuk tau batasan, semoga Mas Barra juga tau batasnya."
"Bukankah ada hati dan perasaan yang harus di jaga." Yuna mengembangkan senyum lebar di akhir kata.
Tak ada lagi sakit yang dia rasakan. Yuna tidak peduli lagi dengan posisi dan tugasnya. Enggan mendramatisir keadaan yang sudah terlanjur terjadi dalam hidupnya.
"Aku sudah sehat, tadi pagi hanya butuh istirahat saja." Jelas Barra. Dia demam karna terlalu stres memikirkan permasalahan ini, di tambah perutnya yang kosong sejak kemarin sore. Hal itu membuatnya demam dan lemas.
"Ayolah, biar aku antar. Kalau kamu nggak mau di antar sama aku, anggap saja aku melakukan ini untuk baby twins."
"Tolong jangan menolak lagi kali ini,," Pintanya sedikit memohon.
Barra berharap kali ini Yuna akan menyetujui ajakannya. Setidaknya setelah mengantar Yuna, dia bisa membujuknya agar mau bertemu dengan Cindy.
Masalah yang sedang dia hadapi harus segera diselesaikan. Mempertemukan Cindy dan Yuna adalah salah satu cara untuk menyelesaikan masalah itu.
Yuna diam, dia tampak sedang berfikir sebelum akhirnya mengatakan iya. Dia mau untuk di antar oleh Barra.
Barra tersenyum lega lantaran permintaannya di turuti oleh Yuna. Setelah ini dia hanya perlu membujuk Yuna untuk ikut ke apartemennya.
Mobil yang mereka tumpangi sudah mengikuti jauh dari komplek perumahan. Sejak tadi Barra terus melirik Yuna. Dia ingin bicara namun ragu-ragu lantaran Yuna selalu membuang pandangan ke luar jendela.
"Yuna,,," Panggil Barra lirih. Yuna menoleh.
"Aku mau kamu bertemu dengan Cindy, dia ingin bicara banyak hal sama kamu." Ucapnya. Kening Yuna mengkerut mendengar nama Cindy.
"Cindy.?" Ucapnya bingung. Tapi beberapa detik kemudian mulai paham.
"Oh,, jadi istri Mas Barra namanya Cindy.?" Ujarnya. Dia sengaja menekankan kata istri, Seolah-olah hanya Cindy yang menjadi istri Barra.
Barra mengangguk pelan.
"Namanya bagus, pasti orangnya cantik." Puji Yuna santai.
"Apa kami harus bertemu.? Aku rasa nggak perlu sampai harus dipertemukan."
"Atau istri Mas Barra penasaran sama aku.? Dia ingin tau seperti apa wanita yang akan melahirkan anak kalian.?" Tanya Yuna.
Mungkin hanya orang yang tidak punya perasaan, yang tidak tersentuh setelah mendengar ucapan Yuna.
"Jangan bicara seperti itu, mereka semua akan tetap menjadi anak kamu meski salah satu harus ikut dengannya." Sanggah Barra.
Dia memang sudah berubah pikiran, tidak ingin mencampakkan Yuna dan salah satu baby twins, tapi tetap mempertahankan mereka meski baby twins akan tetap dipisahkan.
Karna dia sudah terlanjur memberitahu kedua orang tuanya tentang kehamilan Cindy.
Yuna tersenyum kecut. Apa bedanya dengan sebutan melahirkan anak mereka.
"Baiklah, aku bersedia bertemu dengan istri Mas Barra. Mungkin dia ingin tau seperti apa rasanya dijadikan tempat untuk menghasilkan anak." Sebelah sudut bibir Yuna terangkat. Dia begitu semangat memberikan kata-kata sindiran yang mungkin bisa membuat Barra terus menyadari perbuatan kejinya.
Karna apapun yang sudah diberikan Barra padanya, menjadikan seorang wanita sebagai alat untuk mencetak anak bukanlah hal yang wajar dan dibenarkan.
Barra hanya melirik, dia bingung harus bagaimana membalas ucapan Yuna. Meski tidak pernah menunjukan kemarahannya secara langsung, tapi selalu menyerangnya dengan kata-kata pedas.
Hampir 2 jam menemani Yuna di tempat produksi, Barra lebih banyak diam dan hanya memperhatikan Yuna. Dia sedikit kagum dengan kinerja Yuna. Sangat bersemangat dan antusias. Dia bahkan terlihat enjoy masuk kedalam gudang kain dan memilih sendiri kain yang akan menjadi bahan produksi selanjutnya.
Kehamilan tidak membuat Yuna lemah menjalani aktivitasnya yang cukup menguras tenaga. Berjalan ke sana kemari sambil terus berbicara mengutarakan ide dan keinginannya.
"Ayo,,," Ajak Yuna. Dia menghampiri Barra yang sejak tadi duduk dan memperhatikannya dari kejauhan.
"Sudah selesai.?" Tanya Barra sambil beranjak. Yuna mengangguk pelan.
"Kamu nggak cape.?" Barra mengusap sekilas perut Yuna.
"Mereka bisa diajak kerja sama." Ujarnya dengan senyum lebar.
Yuna hanya diam saja dan terlihat enggan merespon.
...****...
Barra memarkirkan mobilnya di basemen. Sejak Barra membelokkan mobilnya ke gedung apartemen mewah ini, Yuna tersenyum kecut dan bergumam sendiri dalam hati.
Tidak aneh kalau Barra bisa mengeluarkan uang yang menurut Yuna sangat banyak, demi mendapatkan seorang anak. Sepertinya uang yang sudah Barra keluarkan tidak ada apa-apanya bagi Barra. Nilai apartemen ini bahkan berkali - kali lipat dari harga rumah yang diberikan untuk Yuna dan uang yang sudah Barra keluarkan.
Yuna memperhatikan saat Barra membuka pintu apartemen. Pikirannya berkecamuk, tidak tau apa yang harus dia katakan di depan istri Barra dan bingung harus bersikap seperti apa di depan pasangan suami istri yang telah menjadikan dirinya calon ibu yang kejam.
"Ayo masuk,,," Ajak Barra. Dia hendak menggandeng tangan Yuna namun di tolak.
"Suami itu wajib menjaga perasaan istrinya." Ucap Yuna. Dia menolak di gandeng Barra dengan menjadikan Cindy sebagai alasan.
"Kamu juga istriku." Sahut Barra cepat. Yuna hampir tertawa mendengarnya, begitu menggelikan di telinga.
"Sayang,, bagaima,,,naa,,," Suara Cindy semakin pelan dan kini diam saat melihat Barra pulang bersama seorang wanita.
Sederhana, tapi cantik dan manis. Itu kesan pertama saat Cindy melihat Yuna.
'Sayang'
Yuna mengulangi kata itu dalam hati. Entah kenapa terasa muak mendengarnya. Bukan karna iri dengan pasangan suami istri itu, tapi merasa dirinya tidak punya harga diri lantaran dijadikan istri kedua hanya untuk tujuan mereka.
"Kamu,,,?"
"Yuna, nama saya Yuna." Yuna mengulurkan tangannya pada Cindy. Uluran tangannya di sambut hangat oleh Cindy, bahkan setelah itu langsung menarik Yuna dan memeluknya.
"Terimakasih Yuna, terimakasih karna bersedia menyempurnakan kebahagiaan suami kita." Ucap Cindy. Suaranya bergetar menahan tangis, antara bahagia dan sedih.
Yuna memaku, entah kenapa tiba-tiba dadanya sesak mendengar ucapan Cindy. Terlebih ketika mendengar suara Cindy yang terdekat. Ada perasaan iba yang mulai menyelimuti.
...***...
Udah hari senin lagi nih, jangan lupa tinggalin votenya yah🥰🙏