Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 143


"Lanjut nanti malam saja,," Bisik Barra dengan suara beratnya. Dia sudah memberikan kepuasan pada Yuna tanpa ada penyatuan, tapi kini menghentikan aktivitas Yuna yang bahkan terlihat siap untuk memberikan haknya. Tapi Barra seperti enggan melakukannya di dalam kamar mandi, selain tidak leluasa, dia juga berfikir waktunya yang pasti terbatas dan sudah pasti akan terburu-buru.


Itu sebabnya Barra ingin melanjutkannya nanti malam agar bisa menikmati penyatuan pertamanya dengan Yuna setelah berpisah belasan tahun.


"Tapi Mas Barra belum,," Ucap Yuna. Dia tak keberatan kalau harus bergantian memberikan kepuasan pada Barra.


"Kamu mau menidurkannya.?" Tanya Barra. Dia masih saja takut membuat Yuna merasa terpaksa untuk balas memberikan kepuasan padanya.


Yuna menjawab dengan anggukan kepala, dia lalu melakukan tugasnya untuk membuat Barra mendapatkan pelepasan dengan cara manual.


Kegiatan itu selalu menimbulkan rasa malu di antara keduanya, tapi setelah itu merasa ingin melakukannya lagi dan lagi. Tak bisa di pungkiri di usia mereka yang sudah matang, tantu hal seperti itu akan menjadi prioritas.


"Sini biar aku gosok,," Barra mengambil bath puff spons dari tangan Yuna, lalu memposisikan diri di belakang Yuna dan mulai menggosok punggungnya.


"Makasih,," Ucap Yuna. Dia tak menolak bantuan dari Barra untuk membersihkan punggungnya.


"Aku akan ke New York minggu depan. Ada pertemuan dengan investor asing."


"Kamu mau ikut.?" Ajak Barra. Dia tak mau memaksa, tapi berharap Yuna mau ikut ke New York agar bisa melewati honeymoon untuk kedua kali.


"Boleh, tapi aku tidak janji. Banyak pekerjaan akhir-akhir ini." Tutur Yuna.


"Kalau selesai beberapa hari ke depan, kemungkinan bisa ikut." Jelasnya lagi.


"Aku bisa menyuruh seseorang untuk membantu pekerjaanmu kalau mau,," Usul Barra. Tangannya masih bergerak di punggung Yuna, menggosok dengan lembut punggung mulus itu yang sudah di penuhi oleh busa.


"Tidak usah, aku masih bisa meng-handlenya." Jawab Yuna.


"Sudah, berikan padaku." Yuna mengulurkan tangan ke belakang, meminta bath puff spons dari tangan Barra.


"Aku masih ingin menggosok punggungmu." Kata Barra. Kegiatan seperti ini membuat Barra merasa jaraknya dengan Yuna semakin dekat dan intim. Sambil bersentuhan fisik, dia juga bisa mengobrol dengan Yuna. Barra justru enggan beranjak dari kamar mandi jika bisa seperti itu terus dengan Yuna di dalam sana.


"Punggungku bisa merah kalau terlalu lama di gosok." Ucap Yuna. Dia berbalik badan menghadap Barra, lalu mengambil paksa bath puff spons itu dari tangan Barra.


"Sebaiknya giliran Mas Barra saja." Yuna lalu berdiri di belakang Barra dan mulai menggosok punggung lebar itu dengan gerakan perlahan.


Yuna terlihat santai saja dengan ekspresi yang biasa.


Sedangkan Barra sudah mengulum senyum karna perhatian kecil yang diberikan oleh Yuna.


Walaupun Yuna hanya ingin membalas perlakuannya, tapi tetap saja kehangatan itu bisa dirasakan oleh hatinya.


Yuna tak lagi pasif, dia melakukan apa yang seharusnya di lakukan untuk membalas perlakuan Barra padanya.


"Aku bisa ketiduran di kamar mandi kalau seperti ini." Ucap Barra lembut.


"Apa terlalu pelan.?" Tanya Yuna.


"Terlalu nyaman."


Yuna menggelengkan kepala mendengar jawaban Barra. Laki-laki itu lebih sering menggoda dan memujinya.


Memang perasaan cinta membuat seseorang ingin selalu mengucapkan kata-kata manis dan pujian. Yuna pernah merasakan hal itu dulu.


Keduanya lalu menyelesaikan mandi, setelah itu keluar bersama dari kamar dan bergabung di ruang keluarga bersama anak-anak serta Mama Rena.


Hal seperti ini yang di inginkan oleh anak-anak, berkumpul bersama kedua orang tuanya dalam satu rumah.


Mereka jadi merasa lebih mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari Barra dan Yuna, walaupun sebelumnya tak pernah kurang.


...*****...


Yuna dan Barra masuk ke dalam kamar pukul 10 malam. Mereka baru selesai mengobrol dengan anak-anak setelah makan malam. Yuna bahkan sempat mengecek pekerjaannya, begitu juga dengan Barra.


Malam ini menjadi malam yang paling di tunggu oleh Barra. Malam dimana dia bisa menyentuh Yuna seutuhnya layaknya suami istri pada umumnya.


Walaupun Yuna terlihat belum bisa membagi hatinya, setidaknya Yuna sudah bisa menerima dan menganggap keberadaannya sebagai suami.


Barra duduk lebih dulu di sisi ranjang. Suasana di antara keduanya terlihat sedikit canggung. Tak ada obrolan apapun sejak naik ke lantai dua dan masuk ke dalam kamar.


"Duduk disini," Pinta Barra. Dia menepuk pahanya, menyuruh Yuna untuk duduk di pangkuannya.


Wanita yang masih berdiri di tempat itu terlihat bingung. Diam tak menolak maupun mengiyakan.


"Kamu tidak lupa kan.?" Tanya Barra dengan suara maskulinnya yang teduh. Dia meraih tangan Yuna dan menariknya agar mendekat.


"Ya, aku mengingatnya." Jawab Yuna lirih. Setelah itu duduk di pangkuan Barra tanpa melakukan apapun.


Dia terlihat sudah siap memberikan hak yang sesungguhnya pada Barra walaupun melewati banyak pertimbangan.


"Tentu saja kamu harus mengingatnya, aku sudah menunggu malam ini setelah kita menikah." Ucap Barra. Tangannya perlahan mulai membuka satu persatu kancing baju tidur Yuna. Tatapan matanya menatap lekat wajah Yuna dengan penuh cinta dan bercampur gairah.


Yuna diam saja, tak bereaksi apapun saat Barra membuka seluruh kancing bajunya. Manik matanya beradu pandang dengan Barra.


Mata Barra mulai beralih pada kedua benda kenyal milik Yuna yang terlihat jelas di depan wajahnya.


Kedua tangan Barra meraba punggung Yuna untuk melepaskan pengait br-ra.


Dia jadi leluasa untuk menyentuh dan memainkan benda favoritnya itu.


Hanya bertahan beberapa menit memainkan jemarinya di sana, kini Barra membenamkan wajahnya, bibirnya bergantian melahap dan menyes-sap pucuk yang sangat menggoda itu.


Rasa nikmat yang menjalar membuat tubuh Yuna merespon dengan cepat. Dia mulai mengeluarkan des- sahan.


Tidak tahan lagi karna mendengar suara seksi Yuna, Barra langsung membaringkan tubuh Yuna di atas ranjang. Dia melepaskan celana panjang Yuna sekaligus melepaskan celana dlm nya.


Barra dengan cepat ikut melucuti bajunya sendiri hingga telanjang bulat. Langsung menindih tubuh Yuna, mencium lembut bibirnya.


"Jangan membayangkan siapapun, tatap aku saja." Bisik Barra. Dia tidak mau melihat Yuna memejamkan mata karna takut Yuna akan membayangkan Chandra.


Dulu dia juga memejamkan mata karna sedang membayangkan orang lain.


Yuna tampak menurut dengan membuka mata dan menatap wajah Barra yang sudah berkabut gairah tinggi.


Barra mengulas senyum lega sembari mengarahkan miliknya di bawah sana. Perlahan mulai membenamkan miliknya, mendorongnya pelan dan hati-hati karna terasa sempit. Bahkan terakhir kali melakukan penyatuan dengan Yuna 14 tahun lalu, rasanya tak sesulit ini.


"Apa sakit.?" Tanya Barra. Dia tak tega untuk mendorong penuh miliknya hingga tenggelam.


"Tidak,," Jawab Yuna cepat. Dia justru menahan ******* karna merasakan nikmat saat miliknya mulai dimasuki benda itu setelah bertahun-tahun lamanya.


Barra mendorong cepat miliknya, bergerak maju dan menghentakkannya dalam, segitu seterusnya hingga tubuh Yuna menegang.


Walaupun terkesan kasar, namun permainan panas itu justru memberikan sensasi tersendiri untuk keduanya.


Penyatuan itu berakhir dengan lenguhan panjang keduanya. Mereka sama-sama mencapai *******.


Tubuh Barra ambruk di samping Yuna, mendekap erat tubuh Yuna yang masih berusaha mengatur nafas.


"Terimakasih, kamu luar biasa,," Bisikan Barra lirih. Dia semakin mengeratkan pelukannya. Yuna tak menjawab, hanya terlihat mengukir senyum tipis di bibirnya.


Suasana berubah hening beberapa saat hingga Yuna memejamkan mata.


"Arrggghh,!" Pekik Yuna. Dia langsung membuka matanya saat Barra tiba-tiba memasukinya dalam posisi berada di belakangnya.


"Maaf, dia tidak tahan melihat tubuhmu." Bisik Barra.


Setelah mengeratkan pelukannya dari belakang, Barra mulai bergerak cepat dengan posisi tubuh menyamping.


Yuna tak berbuat apapun, pasrah saja saat Barra kembali memasukinya.


Suara seksi keduanya kembali terdengar dan menggema di dalam kamar.


Mereka melewati malam panjang penuh kenikmatan.