Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 73


Semua perlengkapan baby twins sudah lengkap. 1 koper besar hanya berisi perlengkapan mereka.


Padahal hanya akan berlibur selama 1 minggu.


Sebenarnya Yuna keberatan saat tau bahwa Barra akan membawanya berlibur ke Paris.


Yuna pikir Barra hanya akan mengajak berlibur di dalam negeri.


Jika dibayangkan berlibur membawa 2 balita, itu benar-benar sangat merepotkan karna hanya dia dan Barra yang akan mengurus baby twins. Tapi demi proses perceraian, Yuna berusaha untuk memenuhi keinginan terakhir Barra sebagai kenangan sebelum hubungan mereka berakhir.


"Sudah selesai.? Ayo turun,," Ajak Barra. Dia masuk begitu saja kedalam kamar Yuna dan membawakan 2 koper milik Yuna serta Baby twins.


Yuna mengangguk, membawa tas kecil miliknya dan berjalan di belakang Barra.


Di bawah semua orang sudah berkumpul dan mengerumuni baby twins yang duduk di 1 stroller.


Mereka sedang bercengkrama dengan Kenzie dan Kinara. Mengajak keduanya bercanda dan bicara. Mama Rena juga terlihat menciumi si kembar bergantian. 1 minggu akan berpisah dengan cucu kembarnya, sudah pasti akan membuatnya rindu berat.


2 hari saja tanpa salah satu dari mereka, Mama Rena merasa ada yang kurang.


"Kami berangkat dulu Mah." Pamit Barra.


"Hati-hati, tolong jaga putri dan cucu kembar Mama." Pinta Mama Rena. Meski kecewa pada Barra, tapi Mama Rena masih bisa mempercayakan putri dan kedua cucunya pada menantunya itu.


Sejauh ini Mama Rena bisa melihat kalau Barra benar-benar tulus mencintai Yuna. Barra juga sosok ayah yang bertanggungjawab, sangat menyayangi dan memperhatikan semua keperluan dan kebutuhan baby twins. Hanya dia yang tau semua itu karna Barra tidak menunjukkan di depan Yuna.


Barra bahkan sudah menyiapkan tabungan untuk pendidikan mereka berdua. Kehidupan mereka sudah dijamin oleh Barra hingga mereka dewasa nanti.


Semua itu berada di tangan Mama Rena. Barra menitipkannya pada Mama mertuanya lantaran tau Yuna pasti tidak akan mau menerima pemberian darinya.


Usaha Yuna yang kini semakin pesat juga atas campur tangannya tanpa di ketahui oleh Yuna.


Barra hanya ingin memastikan kehidupan Yuna dan baby twins akan terjamin jika hari itu benar-benar terjadi.


Hari dimana dia akan menceraikan Yuna, atas permintaan Yuna sendiri.


Barra tidak bisa berbuat apa-apa jika memang pada akhirnya Yuna tetap tidak bisa membuka hati untuknya. Sudah cukup selama 6 bulan ini berusaha untuk meluluhkan hati Yuna namun tak pernah terlihat sedikitpun olehnya.


"Jangan khawatir, saya pasti akan menjaga mereka dengan baik." Sahut Barra.


Mama Rena mengangguk lega.


"Yuna pergi dulu Mah," Yuna memeluk sang Mama.


"Hati-hati nak, Mama pasti akan merindukan kamu dan cucu Mama." Ucapnya.


Yuna juga pamit pada Nitha dan Farah. Mereka laku mengantar Yuna ke depan.


Mobil yang akan membawa mereka ke bandara sudah berada di luar sejak Barra datang.


Supir Barra langsung memasukkan koper ke bagasi. Barra juga membantu memasukkan stroller milik baby twins.


Yuna menggendong Kinara dan masuk kedalam mobil. Sementara itu, Barra mengambil Kenzie dari gendongan Mama Rena dan ikut masuk ke dalam mobil.


"Have fun Yun,,Yun,,," Seru Nitha sembari melambaikan tangan pada Yuna. Dia gemas sendiri melihat keluarga kecil sahabatnya.


Walaupun tau dengan permasalahan yang sedang di hadapi oleh Yuna dan Barra, namun dalam lubuk hatinya yang terdalam, Nitha selalu berharap Yuna dan Barra bisa hidup bahagia bersama baby twins.


Sama halnya dengan Mama Rena yang bisa melihat ketulusan dan cinta yang besar dari Barra, Nitha juga bisa melihat hal itu dalam diri Barra.


Dia merasa Barra memang laki-laki yang tepat untuk Yuna. Namun Nitha tidak pernah memberikan pendapat apapun untuk Yuna soal rumah tangga mereka karna tau batasannya.


Mungkin dia memang bisa melihat segala kebaikan dalam diri Barra, tapi belum tentu Yuna bisa merasakan semua kebaikan itu. Sedangkan Yuna yang akan menjalani kehidupannya.


"Bye Zie,, Ara,,," Ucap Nitha dan Farah bersamaan. Kedua balita itu langsung menoleh keluar dengan raut wajah yang menggemaskan.


"Hati-hati nak." Mama Rena juga ikut melambaikan tangan. Dia terharu melihat keluarga kecil putrinya bisa pergi berlibur. Selama ini Yuna memang tidak pernah mau pergi bersama Barra meski Barra terus memintanya.


Yuna mengangguk dan melempar senyum lebar pada 3 wanita yang sejak awal ada di sampingnya.


Yuna berharap ini akan menjadi awal dari kebahagiaan yang sesungguhnya.


Menciptakan kenangan indah untuk Kenzie dan Kinara sebelum kedua orang tuanya berpisah.


...*****...


Ini pertama kalinya Yuna datang ke kota dengan menara Eiffel yang indah di dalamnya.


The City Of Love, Barra seolah sengaja memilih kota Paris sebagai tempat untuk meninggalkan kenangan indah bersama istri dan kedua anaknya.


"Kita langsung ke hotel saja untuk istirahat. Jalan-jalannya besok saja." Ujar Barra. Yuna mengangguk tanpa protes. Dia juga lelah setelah menempuh perjalanan panjang. Begitu juga dengan si kembar yang sudah pasti kelelahan.


Barra menyewa mobil agar bisa leluasa mengelilingi kota Paris bersama keluarga kecilnya.


Dia selalu sigap untuk menyiapkan keperluan baby twins.


Sampainya di hotel, Barra membawa 3 koper ke walk in closet. Sedangkan Yuna memindahkan baby twins dari stroller ke ranjang.


Dia harus mengganti popok baby twins karna sudah 4 jam tidak ganti.


Yuna mengambil tas kecil berisi diapers dan peralatan mandi baby twins, lalu mengeluarkan diapers.


"Sini biar aku yang gantikan popok Kenzie." Barra mengambil diapers yang ada ditangan Yuna tanpa permisi. Padahal di atas ranjang masih ada 1 pack berisi diapers.


"Sebaiknya di cuci air dulu biar nggak gatal," Ucap Yuna saat Barra hendak membuka celana Kenzie.


"Oke Nyonya,," Jawab Barra sembari mengulas senyum. Dia lalu menggendong Kenzie dan membawanya ke kamar mandi dengan membawa handuk dan diapers.


Yuna hanya menatap datar. Dia juga menggendong Kinara dan menyusul mereka ke kamar mandi.


"Astaga Kenzie,,,"


Baru saja akan masuk ke kamar mandi, Yuna mendengar teriakan Barra. Teriakan yang terdengar menahan kesal.


"Ada ap,,aa,,


Yuna melongo melihat wajah Barra yang basah. Dia hampir saja tertawa lantaran tau dari mana sumber air yang ada di wajah Barra hingga membasahi kaos putihnya di sekitar dada.


"Kenapa nggak di tutup bagian itunya." Katanya Yuna. Dia lalu menggelengkan kepala untuk mengalihkan tawanya yang hampir saja lolos.


"Aku lupa." Ucap Barra pasrah.


Dia lalu melanjutkan tugasnya, mencuci tubuh bagian bawah Kenzie dan memakaikan popok.


Mereka keluar dari kamar mandi begitu selesai. Barra langsung meletakkan Kenzie di ranjang.


"Aku mandi dulu." Ujar Barra. Dia melepaskan kaos polosnya dan buru-buru masuk ke kamar mandi.


Yuna tersenyum geli melihat Barra yang baru saja di siram air hangat oleh putra mereka.


Yuna memangku Kenzie untuk menyusuinya, sedangkan Kinara di beri air mineral dalam dot untuk sementara.


Balita cantik itu tengah duduk sembari minum dan memainkan mainan kesukaannya yang di bawa oleh Yuna.


"Ma,, ma,," Kinara merangkak dan menarik tangan Yuna. Mendengar Kinara yang sedikit jelas mengatakan Mama, Yuna langsung specless.


Biasanya suara Kinara tidak sejelas itu.


"Kamu bilang apa sayang.? Coba bicara sekali lagi.?" Pinta Yuna dengan mata berbinar. Dia terharu dan bahagia mendengar Kinara memanggilnya Mama.


Bukannya mengulangi ucapannya, Kinara justru terkekeh dan sibuk sendiri dengan mainannya.


"Kamu dengar itu Zie.? Adikmu memanggil Mama." Tutur Yuna senang.


"Mama juga mau dengar itu dari kamu." Katanya sembari mencubit gemas pipi Kenzie yang masih asik meminum asi.


Kenzie hanya merespon dengan gerakan tangan yang memainkan rambut panjang Yuna.


Yuna membaringkan Kenzie yang sudah terlelap. Kini gantian Kinara yang harus di beri asi.


Balita cantik itu juga ikut terlelap tak lama setelah menyusu. Mereka berdua terlihat kelelahan.


Yuna tersenyum bahagia melihat putra dan putrinya tertidur pulas. Keduanya tidur bersebelahan. Sangat lucu dan menggemaskan. Kedua pilih mereka sama-sama chubby.


"Yuna,,,!" Teriakan Barra terdengar dari dalam kamar mandi.


"Aku lupa membawa membawa handuk besar, bisa tolong ambilkan di ruang ganti. Aku lihat di dalam lemari banyak handuk dan selimut." Serunya lagi.


Yuna langsung buru-buru mendekat ke kamar mandi dan memperingatkan Barra untuk tidak teriak lagi karna takut akan membangunkan Kenzie dan Kinara yang baru saja tidur.