
"Jangan seperti itu nak, bagaimana pun juga Liona adik Mama, keluarga kita."
"Terlepas seperti apa perlakuannya terhadap kita, jangan sampai kita juga berbuat hal yang sama."
"Kamu harus ingat, apa yang kita tanam, itu yang akan kita tuai."
Tutur Mama Rena lembut. Dia tidak mau putrinya memiliki dendam dan kebencian terhadap siapapun.
"Kalau begitu titip salam untuk bibi, dia sedang menuai apa dia tanam." Yuna bergegas pergi ke lantai atas.
"Maafin Yuna Mah, mungkin dia cape karna lama di perjalanan." Ucap Barra. Mama Rena tersenyum tipis.
"Nggak papa nak Barra, Mama tau betul siapa Yuna." Sahutnya.
Mama Rena mengerti kenapa Yuna bersikap seperti itu. Ini pertama kalinya Yuna di sakiti dan dikecewakan oleh keluarganya, itu sebabnya sikap Yuna jadi seperti itu. Yuna belum bisa menyikapi harus bagaimana ketika di kecewakan. Emosinya belum terkontrol dengan baik.
"Mama mau pergi sekarang.? Biar saya antar." Tawar Barra. Mama Rena menolak karna dia sudah menelfon Nitha dan menyuruhnya untuk memesankan taksi. Dan tidak berselang lama, taksi yang di pesan berhenti di depan rumah.
"Mama titip Yuna," Pesannya pada Barra.
"Iya Mah, hati-hati di jalan."
"Hubungi saya saja kalau mau pulang, biar saya jemput." Ujar Barra. Mama Rena hanya menganggukkan kepalanya.
Barra mengantar Mama Rena sampai ke depan, setelah itu masuk kembali dan menyusul Yuna ke kamar.
Barra berdiri di depan pintu, dia terlihat ragu untuk masuk ke dalam.
Emosi Yuna sedang tidak stabil, dia pasti akan semakin menghindarinya.
Beberapa menit berdiri di sana, pintu di buka dari dalam. Yuna keluar dengan baju yang sudah di ganti. Memakai dress polos yang longgar dengan panjang selutut. Dress waran salem itu menutupi perutnya yang sedikit menonjol.
Selama ini Yuna memang masih menyembunyikan kehamilannya di depan Mama Rena dan Nitha dengan selalu memakai baju yang longgar.
Yuna cuek saja melihat Barra yang berdiri di depannya. Dia menutup pintu, kemudian menggulung asal rambutnya dan mengikatnya.
Keberadaan Barra sama sekali tidak berpengaruh apapun untuk Yuna. Dia berjalan melewati Barra dan menuruni tangga.
Mungkin memang lebih baik seperti ini. Tidak ada interaksi, tidak ada komunikasi. Anggap saja sedang belajar tanpa Barra. Jadi ketika perceraian itu tiba, tidak akan ada yang namanya rasa kehilangan ataupun sakit hati.
Yuna masuk ke ruang kerjanya. Dia mengambil 1 botol air mineral di dalam lemari pendingin, kemudian duduk di depan meja.
Daripada sibuk memikirkan masalah dengan Barra, lebih baik sibuk dengan pekerjaan.
Tidak peduli meski sekarang hari minggu.
Yuna menyalakan laptop dan mulai memproses orderan.
Setidaknya kekecewaan yang sedang dia rasakan bisa dilupakan sejenak.
****
Fokus Yuna terpecah saat mendengar pintu kaca itu di ketuk. Yuna menoleh ke arah pintu, bersamaan dengan itu Barra membuka pintu dan masuk ke dalam.
Laki-laki yang telah membeli rahimnya itu terlihat mengulas senyum tipis. Yuna sontak menatap sinis. Entah terbuat dari apa hati laki-laki itu sampai masih bisa melempar senyum pada wanita yang dia sakiti.
Memasang wajah tenang, seolah-olah tidak pernah melakukan kesalahan apapun pada Yuna.
"Sudah waktunya makan siang, ayo makan. Aku sudah membeli makanan." Ajak Barra sembari berjalan ke arah Yuna. Manik matanya memperhatikan semua sudut ruangan, menatap tumpukan baju yang tertata rapi di rak. Juga beberapa tumpukan karung besar yang masih penuh dengan baju.
"Kamu menjalankan usaha dengan baik,," Puji Barra. Produksi saat ini semakin meningkat drastis. Jumlahnya sudah puluhan kali lipat dari produksi awal.
"Terimakasih. Semua ini berkat kebaikan Mas Barra tentunya." Yuna tersenyum smirk.
"Aku harus bersyukur bukan.? Sekarang bisa jadi seperti ini karna dipertemukan dengan laki-laki sebaik kamu, Mas." Yuna mematikan laptop, dia beranjak dari duduknya sambil terus menatap Barra.
Sementara itu, Barra hanya diam saja. Dia tidak tau harus bersikap seperti apa dan harus menjawab apa.
Ucapan Yuna terlalu menohok, tapi juga terdengar memilukan.
Barra tau dibalik ketegaran Yuna, tersimpan kekecewaan dan rasa sakit yang besar.
Entah harus bagaimana untuk membuat Yuna memaafkannya dan mau bertahan bersamanya untuk tetap menjalani pernikahan ini.
"Aku butuh tenaga ekstra, jadi harus banyak makan walaupun sebenarnya nggak nafsu makan."
"Mas Barra beli apa.?" Tanya Yuna sembari berjalan melewati Barra.
"Yuna,," Barra langsung memegang pergelangan tangan Yuna dan menatapnya dalam. Dia merasa iba dan bersalah telah menyakiti wanita sebaik Yuna.
"Ya, kenapa Mas.?" Sahut Yuna lembut. Namun suara lembutnya tidak seperti biasanya. Lebih tepatnya berbeda setelah Yuna mengetahui isi perjanjian 2 poin terakhir.
"Aku minta maaf,," Ucap Barra tulus.
"Kenapa harus minta maaf.? Memangnya apa yang sudah Mas Barra lakukan padaku.?" Tanya Yuna santai. Dia menepis pelan tangan Barra sambil terus menatap datar padanya.
"Aku mohon jangan seperti ini, kita bisa bicarakan lagi baik-baik." Pinta Barra.
"Aku benar-benar bersedia mempertahankan pernikahan ini, demi kamu dan baby twins."
"Biarkan mereka tetap mendapat perhatian dan kasih sayang dari ayahnya."
Setelah melihat keadaan Yuna dan memikirkan kehidupan kedua anaknya, Barra mengurungkan niat untuk menceraikan Yuna. Dia juga tidak bisa berpisah dengan salah satu anaknya jika nanti harus ikut dengan Yuna.
"Demi aku dan baby twins.?" Yuna bertanya dengan antusias dan senyum lebar.
Barra menganggukkan kepalanya.
"Kamu terlalu baik Mas, terimakasih tawarannya. Tapi aku dan salah satu dari mereka bisa bertahan dan hidup bahagia berdua."
"Jangan mengkhawatirkan kami."
Yuna menepuk pelan pundak Barra, sedikit mengusapnya dan tersenyum tipis, setelah itu bergegas keluar dari ruangan.
Barra diam di tempat. Ini yang dia khawatirkan. Dia tidak tau apa yang sebenarnya ada di dalam benak Yuna saat ini. Sikap santai yang di tunjukkan oleh Yuna seakan palsu, Barra takut ada hal besar yang berusaha untuk di tahan oleh Yuna dan suatu saat akan di tunjukkan dihadapannya.
...****...
Yuna tidur membelakangi Barra. Sejak Barra tau bahwa Yuna hamil, Barra tidak pernah lagi meminta haknya. Sekarang Yuna paham kenapa Barra seperti itu. Ternyata selama ini hanya terpaksa menyentuhnya demi mendapatkan seorang anak.
Barra terlalu menjaga hati dan perasaan istrinya, namun tidak punya belas kasihan pada wanita yang akan memberikan anak untuknya.
"Kamu belum tidur.?" Barra bergeser mendekat. Tangannya mengulur dan memeluk Yuna dari belakang. Di usapnya perut Yuna dengan lembut.
Memang sudah beberapa jam yang lalu Yuna berbaring di ranjang, namun Barra tau kalau sampai sekarang Yuna belum tidur. Karna sesekali terdengar tarikan dan helaan nafas berat.
Tidak ada jawaban dari Yuna, dia juga tidak memberikan penolakan saat Barra memeluknya.
Tak berselang lama, terdengar hembusan nafas Yuna yang teratur. Barra bisa memastikan kalau sekarang Yuna sudah benar-benar tidur.
Kalau bisa memilih, Yuna tentu enggan untuk dipeluk oleh Barra setelah mengetahui semua rencana jahatnya. Namun Yuna tidak kuasa untuk menolak, karna dia sangat menginginkan sentuhan Barra pada perutnya.
...****...
Sudah 2 hari ada asisten rumah tangga yang datang ke rumah untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Barra memang menepati ucapannya untuk mendatangkan asisten rumah tangga agar Yuna tidak perlu mengerjakan pekerjaan rumah.
Setelah membuatkan teh dan menyiapkan baju kerja untuk Barra, Yuna bergegas turun dan pergi ke ruang kerjanya.
"Sedang apa.? Ayo sarapan." Barra menyelonong masuk. Dia sudah rapi dengan baju kerjanya.
Yuna mengangkat wajahnya, dia menatap datar. Tanpa mengatakan apapun, dia beranjak dari duduknya dan menuruti ajakan Barra.
"Sebaiknya Mas Barra nggak usah sering-sering datang kesini." Ujar Yuna setelah keluar dari ruangan.
"Datang saja 1 bulan sekali atau mungkin nanti saat aku akan melahirkan." Lanjutnya.
"Tujuan Mas Barra sudah tercapai, jadi nggak perlu sering-sering datang menemui kami."
Yuna beranjak pergi tanpa memberikan kesempatan pada Barra untuk menanggapi ucapannya.
...****...
vote buat yang belum,😚