Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 103


"Mama mana.?" Kenzie tiba-tiba kembali mencari Yuna. Anak laki-laki itu yang lebih sering mencari Mamanya di banding dengan Kinara. Jika Kinara bisa di bujuk dalam waktu yang singkat dan langsung kembali bermain, tidak dengan Kenzie yang tidak mudah untuk di bujuk. Dia akan menangis lebih dulu, terus memanggil Yuna.


"Oppa,, bagaimana ini.?" Sisil menatap bingung pada Barra. Sepertinya kali ini akan semakin sulit untuk membujuk Kenzie karna sudah kesekian kalinya menanyakan Yuna.


"Kamu telfon Yuna saja." Pinta Barra. Sebenarnya dia bisa saja menelfon Yuna, tapi takut panggilan telfonnya tidak di angkat lantaran kejadian beberapa hari lalu.


"Papa,, Mama mana.?" Kenzie mendekati Barra dan merengek padanya.


"Sebentar ya, nanti aunty telfon Mama dulu." Barra mengangkat Kenzie dan mendudukannya dalam pangkuan.


"Buruan Sil.!" Pinta Barra tak sabar. Dia sudah takut Kenzie akan menangis lebih dulu jika tidak cepat-cepat melihat wajah Yuna.


"Iya tunggu dulu Oppa." Sisil baru meraih ponselnya di atas sofa, dia lalu mencari kontak Yuna dan menelfonnya.


"Halo kak,, ini Kenzie,,,


"Berikan padaku,," Barra merebut ponsel dari tangan Sisil.


"Ckk.! Bilang saja ingin melihat wajah Kak Yuna juga." Gumam Sisil dengan lirikan malas. Dia memilih sibuk menemani Kevin dan Kinara bermain lagi.


Barra langsung mengarahkan layar ponsel ke wajah Kenzie yang masih duduk di pangkuannya.


"Zie mencarimu." Tutur Barra.


Anak laki-lakinya itu sudah bicara lebih dulu, memanggil Yuna dan meminta Yuna untuk datang.


"Sini Mama,, sini,," Ujar Kenzie.


"Zie sama Papa dan Oma dulu yah." Jawab Yuna. Dia tidak mungkin menjawab akan datang kesana, takut Zie akan menunggunya.


"Zie sedang apa.? Mana adek Ara.?" Yuna nampak mencari keberadaan Kinara.


"Ekheem,,,!" Sisil berdehem pelan. Barra yang sejak tadi menatap lekat layar ponsel di tangannya, langsung melirik ke arah sisil.


"Jaga mata jaga hati." Ucap Sisil lirih. Dia seperti enggan membuat Barra terlalu hanyut menatap wajah Yuna.


Mungkin jika Yuna melihat bagaimana tatapan dan raut wajah Barra saat ini, Yuna pasti akan meras iba.


Barra hanya diam saja, tidak menanggapi ucapan adiknya. Dia kembali fokus memenangi ponsel di tangannya agar tetap mengarah pada wajah Kenzie.


Setelah mendapat teguran dari Sisil, dia tidak lagi menatap layar ponsel. Memilih menundukan pandangan namun mendengarkan dengan baik percakapan Yuna dan Kenzie.


Kenzie bahkan tertawa, terlihat sangat senang bicara dengan Yuna dan menatap wajahnya.


Dia jadi berfikir ulang untuk mengambil hak asuh anak-anak. Sepertinya memang mereka tidak bisa berpisah dengan Yuna saat ini. Mungkin butuh waktu sampai mereka besar dan mulai mengerti. Barra berharap twins atau salah satu dari mereka mau ikut dengannya.


"Mas,," Panggil Yuna.


Barra yang sedang melamun sampai tidak mendengar panggilan Yuna.


"Aku ingin melihat Ara, Mas,,!" Panggil Yuna sekali lagi. Dia sampai mengeraskan suaranya.


"Papa,, papa,," Kenzie menggongcang tangan Barra. Hal itu membuat layar ponselnya mengarah sekilas ke wajah Barra, menunjukkan bagaimana raut wajah Barra saat ini.


"Apa sayang.?" Tanya Barra pada Kenzie.


"Ya ampun Oppa, Kak Yuna sejak tadi minta agar ponselnya di arahkan ke Ara." Seru Sisil.


Barra langsung menatap layar ponsel.


"Maaf, aku tidak dengar." Ucapannya pada Yuna. Dia lalu mengarahkan layar ponsel itu pada Ara.


"Halo Ara cantik,, lagi main sama Kakak Kevin ya.?" Tanya Yuna.


Ara langsung menoleh, tersenyum lebar melihat wajah Yuna di layar ponsel.


"Main Mama,, Mama ayo sini,," Kinara melambaikan tangan pada Yuna agar datang padanya.


Sambungan telfon itu berlangsung cukup lama. Lebih dari 1 jam. Mama Rena bahkan ikut bicara denga kedua cucunya karna rindu pada mereka.


...*****...


Yuna melirik jam di kamarnya. Sudah pukul 4 sore tapi Chandra belum kembali. Yuna mulai khawatir, takut ada masalah besar yang terjadi di perusahaan Chandra.


Namun hanya sekeder gosip belaka karna setelah bertahun-tahun, tidak ada sesuatu yang terjadi pada perusahaan itu.


Yuna tak tau banyak tentang keluarga Chandra. Laki-laki itu hanya mengatakan jika ibunya sudah meninggal sejak 10 tahun lalu dan 1 tahun setelah kematian ibunya, sang Ayah menikah lagi.


Mendengar cerita Chandra, Yuna memilih untuk tidak bertanya apapun. Dia takut pertanyaannya akan membuka luka lama. Karna dia juga pernah mengalami hal yang serupa mengenai kehidupan rumah tangga orang tuanya.


Apa lagi Chandra kehilangan wanita yang sudah melahirkannya, sudah pasti luka yang dirasakan oleh Chandra berkali-kali lipat dari yang dia rasakan.


Pukul 5 sore Yuna mulai berkutat di dapur untuk menyiapkan makan malam. Sibuk membongkar lemari pendingin untuk mencari bahan makanan yang bisa dia sajikan untuk Chandra.


"Sedang apa.?"


Tangan besar yang melingkar di perutnya membuat Yuna melonjak kaget.


"Mas.!" Pekik Yuna.


"Kenapa harus mengagetkanku." Wajah Yuna terlihat pucat. Dia berfikir ada orang asing yang masuk ke rumahnya.


Chandra hanya terkekeh kecil.


"Kamu memasak untukku.?" Tanyanya sembari melihat masakan yang sedang di buat oleh Yuna.


Yuna mengangguk.


"Sepertinya enak." Ucap Chandra sembari menghirup dalam aroma masakan Yuna yang masih di dalam penggorengan.


"Jangan seperti ini, malu ada Mama,," Yuna berusaha menyingkirkan tangan Chandra yang memeluknya erat dari belakang.


"Ibu sedang keluar, baru saja aku mengantarnya ke depan."


Tutur Chandra.


Yuna berbalik badan dan menatap tak percaya.


"Keluar.? Kemana.? Tapi Mama nggak bilang sama aku." Ucap Yuna.


"Hanya ke minimarket depan. Aku sudah menawari untuk menunggunya, tapi ibu tidak mau."


Chandra kembali membalik tubuh Yuna.


"Lanjutkan memasaknya, nanti gosong." Ucapnya dengan sedikit terkekeh.


"Iya tapi jangan seperti ini, aku jadi susah bergerak."


Yuna meminta Chandra untuk melepaskan pelukannya.


"Bergerak saja, aku akan mengikutimu." Jawab Chandra. Dia enggan melepaskan Yuna dalam dekapannya.


Yuna menarik nafas dalam. Dia lalu membiarkan Chandra menempel di belakang punggungnya. Setiap kali ia bergeser, Chandra akan bergerak mengikutinya. Hal itu berlangsung sampai Yuna selesai memasak.


"Kamu tidak lelah.?" Tanya Chandra. Dia sudah duduk di depan meja makan dan meneguk 1 botol air mineral dingin sampai habis. Menemani dan mengikuti setiap gerak Yuna saat sedang memasak, rupanya membuat Chandra kehilangan sedikit tenaganya.


Yuna menggelengkan kepalanya.


"Mandi dulu sudah malam." Yuna menyuruh Chandra untuk mandi.


"Bagaimana kalau mandi bersama.?" Tawar Chandra. Dia beranjak dari duduknya, mendekati Yuna dan merangkul erat pinggangnya.


"Aku sudah mandi." Jawab Yuna cepat.


"Tapi kamu baru saja memasak, aku bahkan sudah memelukmu. Keringatku jadi menempel di bajumu." Chandra mencari alasan untuk mengajak Yuna mandi bersamanya.


"Kalau begitu aku hanya perlu mengganti bajunya saja."


Mendengar Yuna yang banyak alasan untuk menolak mandi bersama, Chandra langsung mengangkat tubuh Yuna dan membawanya ke kamar.


"Kamu harus sedikit dipaksa." Bisik Chandra. Dia bahkan menggigit gemas telinga Yuna.


"Bagaimana kalau Mama pulang dan memanggilku.?" Yuna masih saja mencari cara untuk menghindari mandi bersama. Dia malu jika harus terjun langsung ke kamar mandi untuk pertama kalinya, sedangkan belum melakukan hal itu di atas ranjang.


"Ibu sangt pengertian, tidak akan mungkin memanggil kamu selama kita berada di dalam kamar." Jawab Chandra. Dia masuk kedalam kamar Yuna dan mengunci pintunya.