
Barra menekan kode akses dan membukakan pintu kamar tamu untuk Yuna. Saat Yuna masuk dan hendak menutup pintu, Barra menahannya. Keduanya beradu pandang dalam diam untuk beberapa detik. Saling menatap dengan tatapan mata yang berkabut gairah.
Barra mendekat, terlihat ragu untuk menyentuh wajah Yuna. Namun melihat Yuna yang memejamkan mata, keberanian itu tiba-tiba muncul begitu saja. Pelan tapi pasti, setelah meletakkan telapak tangannya di wajah Yuna, Barra mendekat dan memagut bibir manis itu.
Tak ada penolakan, kedua tangan Yuna bahkan mencengkram baju Barra di bagian pinggang.
Cukup lama memagut bibir wanita yang bertahun-tahun dia cintai, Barra akhirnya melepaskan tautan bibir mereka. Tanpa ada balasan dan penolakan dari Yuna.
"Maaf,," Ucap Barra dengan rasa sesal. Dia berharap Yuna tak akan membencinya setelah menciumnya. Namun dia benar-benar tidak bisa menahan diri, bahkan ingin sesuatu yang lebih karna rasa itu semakin menggebu.
Yuna tak menjawab, dia tak menyalahkan Barra sedikitpun atas kejadian itu. Karna dia sadar sudah membiarkan Barra menciumnya tanpa ada penolakan. Meski hatinya tak mau menerima, namun tubuhnya tak mampu menolak. Ada gejolak yang bahkan memintanya untuk melakukan lebih dari sekedar berciuman.
"Kenapa tubuhku terasa aneh," Tanya Yuna dengan tatapan bingung sekaligus menahan sesuatu yang semakin membuatnya kegerahan dan ingin melepaskan hasratnya.
Barra mulai berfikir ada sesuatu yang tidak beres karna dia dan Yuna merasakan hal yang sama.
"Sisil." Gumam Barra. Dia jadi curiga pada adiknya itu, pasti Sisil sudah mencampurkan sesuatu kedalam minuman ataupun makanan dia dan Yuna.
"Sisil kenapa.?" Tanya Yuna.
"Tidak ada." Sahut Barra, dia enggan memberitahukan kecurigaannya pada Yuna. Takut Yuna akan marah dan kecewa pada Sisil karna sudah bertindak sejauh ini untuk menyatukan mereka.
"Masuklah, sebaiknya kamu berendam air dingin sekarang."
"Aku akan ke kamarku."
Barra lalu pergi meninggalkan Yuna dan masuk ke kamarnya dengan buru-buru. Dia sudah tidak tahan lagi untuk menahannya. Daripada harus melakukannya pada Yuna, lebih baik menuntaskannya seorang diri.
Barra tak mau mengambil resiko. Yuna pasti akan kecewa dan marah padanya jika hal itu terjadi.
Walaupun Yuna sudah bersikap normal padanya, namun tak menutup kemungkinan masih ada rasa benci dalam hatinya. Kebencian itu pasti akan terbuka lagi jika Yuna tak terima di sentuh.
Masuk ke dalam kamar mandi, melucuti seluruh kain yang melekat di badannya, Barra berdiri di bawah guyuran shower.
Tak peduli jika harus bersolo karir, lagipula selama ini dia juga melakukannya sendiri jika tak bisa lagi menahannya.
Barra pikir itu lebih baik daripada dia harus melampiaskannya dengan wanita malam karna tak mau mengambil resiko.
Sama halnya dengan Barra, Yuna juga sudah menanggalkan seluruh bajunya. Dia masuk ke dalam bathtub, berendam dengan menahan hasrat yang tak kunjung berkurang.
Rasa panas dalam tubuhnya memang sedikit berkurang setelah masuk ke dalam air, namun keinginan untuk mencapai klim -aks masih tetap menggebu.
Yuna bahkan merasa jijik dengan dirinya sendiri karna mendambakan sentuhan. Padahal selama 6 tahun ini dia tidak pernah berfikir untuk mendapatkan sentuhan dari siapapun.
Cukup lama Yuna berendam, dia berusaha mengalihkan pikirannya pada hal lain agar tidak terus-terusan menginginkan sentuhan. Dia masih belum mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya. Rasa itu datang begitu saja bahkan sulit untuk di hilangkan.
...*****...
Barra beranjak dari kamar mandi, kelakuan konyol adiknya sudah membuatnya harus menuntaskan hasrat berulang kali. Untung saja masih bisa berfikir logis dan tidak sampai menyentuh Yuna.
Barra pergi ke kamar tamu setelah mengenakan pakaian lengkap. Dia ingin melihat bagaimana keadaan Yuna sekarang, berharap Yuna baik-baik saja dan bisa mengontrolnya.
keadaan kamar masih sepi dengan pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Barra langsung berdiri di depan pintu lantaran panik, takut terjadi sesuatu pada Yuna karna belum keluar dari kamar mandi sampai sekarang.
Padahal sudah hampir 1 jam setelah dia meninggalkan Yuna di kamar ini. Apa jadinya jika Yuna berendam selama itu. Yang ada hanya akan membuatnya kedinginan.
"Yuna,,, kamu baik-baik saja.?" Barra sengaja mengeraskan suaranya dan berulang kali menggedor pintu.
Sementara itu Yuna tampak kedinginan di dalam bathtub. Nyatanya berendam hanya menghilang panas saja, tak ikut menghilangkan hasratnya.
"Aku baik-baik saja." Yuna menjawab dengan suara yang bergetar karna kedinginan.
"Kamu yakin.? Sepertinya kamu kedinginan."
"Lebih baik berhenti berendam saja." Pinta Barra. Dia tak mau mengambil resiko dengan membiarkan Yuna kedinginan di dalam.
"Tapi aku,,," Yuna tampak ragu untuk mengatakannya.
"Keluarlah, buka pintunya." Titah Barra lembut. Mungkin memang dia harus membantu Yuna, tidak tega jika Yuna tersiksa sendiri seperti itu.
Setelah mengambil handuk kimono dan memakainya, Yuna bergegas membuka pintu. Bibirnya terlihat sedikit membiru karna kedinginan, riasan tipis di wajahnya hilang karna terus di usap berulang kali dengan air.
"Kamu yakin baik-baik saja.?" Tanya Barra lekat. Dia bisa melihat jika Yuna masih menahan hasratnya.
"Aku,,," Dia tidak meneruskan ucapannya dan hanya mengangguk kecil.
Yuna menundukkan kepala, dia ingin mengatakan apa yang dia rasakan namun tak memiliki keberanian. Yuna takut Barra akan menganggapnya wanita yang tidak baik.
"Masuklah,," Barra mendorong pelan tubuh Yuna, dia ikut masuk ke dalam kamar mandi dan menguncinya.
"Aku tau kamu menginginkannya, lupakan kejadian ini kalau kamu tidak menyukainya."
Ucap Barra dengan suara lembut.
Dia memberikan ciuman pada Yuna, tangannya menyusup di balik handuk kimono Yuna.
Merasa tidak ada penolakan dan reaksi tubuh Yuna terlihat menerimanya, Barra kembali memberikan sentuhan di daerah sensitif Yuna.
Setelah beberapa menit, dia membuat Yuna melakukan pelepasan tanpa harus melakukan penyatuan. Bahkan tanpa harus melepaskan handuk kimono dari tubuh Yuna.
Wanita itu sempat memeluk erat tubuh Barra saat tubuhnya menegang, sedikit terdengar des-s*han tertahan dari bibirnya.
"Pakai bajunya, setelah ini aku antar kamu pulang. Aku tunggu di luar." Ucap Barra. Dia sempat mengusap lembut pipi Yuna yang terlihat sedikit merona. Yuna bahkan tidak berani menatapnya, dia hanya memberikan anggukan kecil.
Yuna bergegas memakai bajunya. Tentu saja dia sangat malu dengan Barra karna baru saja menerima sentuhan darinya. Tapi dia benar-benar tidak bisa menolak karna menginginkan.
keluar dari kamar, Yuna menghampiri Barra yang tengah duduk di ruang keluarga. Tanpa mengatakan apapun, Yuna mengambil tas miliknya di atas sofa. Barra juga beranjak dari duduknya tanpa bicara apapun. Kedua keluar dari apartemen menuju basemen untuk mengantar Yuna pulang.