Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 100


Resepi Yuna dan Chandra di tunda beberapa jam untuk acara ulang tahun twins. Panggung besar untuk acara ulang tahun itu di isi oleh semua keluarga, termasuk Barra yang sudah pasti mendampingi twins.


Sementara itu, Yuna terlihat gelisah berdiri sejejar dengan Barra meski di halangai oleh tempat duduk twins. Yuna tidak berani menoleh ke arah Barra, selalu memfokuskan pandangan pada twins atau lurus kedepan. Rasa takut dan marah membuat Yuna enggan melihat wajah laki-laki yang semakin menorehkan kekecewaan di hatinya.


Chandra merangkul pundak Yuna, mengusapnya lembut dan menatapnya dengan seulas senyum.


Dia ingin memberikan ketenangan dan kenyamanan pada Yuna yang sedang gelisah dan terlihat menahan rasa takut.


"Jangan khawatir, aku disini." Ucap Chandra lirih. Yuna mengangguk paham. Dia percaya Chandra akan melindunginya dari Barra.


Acara ulang tahun twins dan resepsi pernikahan berjalan dengan lancar.


Twins sudah di bawa pulang oleh Barra dan keluarganya karna Mommy Sonya meminta twins untuk menginap di rumahnya selama beberpa hari kedepan. Awalnya Yuna merasa keberatan karna tidak bisa terpisah dari dua anaknya sekaligus. Namun dia tidak bisa egois, mereka juga berhak atas twins. Selama Barra tidak mengambil hak asuh twins, Yuna tidak akan pernah menghalangi mereka untuk membawa twins meningap disana.


Mommy Sonya juga seperti sengaja membawa teins menginap agar Yuna bisa memiliki waktu dengan Chandra.


"Ayo,," Chandra menggandeng tangan Yuna. Membawa Yuna keluar dari ballroom yang sudah sepi karna semua keluarga dan tamu undangan sudah pulang. Hanya tersisa staf WO dan hotel saja yang ada disana.


Keduanya menuju kamar hotel yang baru saja dipesan 1 jam yang lalu. Karna sejak awal mereka tidak berniat untuk menginap di hotel karna tidak mau meninggalkan twins di rumah bersama Mama Rena. Tapi rupanya twins malah di ajak menginap di rumah Daddy Hendra.


Yuna memasukkan kamar VIP itu. Kamar mewah tanpa adanya hiasan seperti kamar pengantin pada umumnya. Karna memang Chandra tidak menyiapkan semua itu. Dia lebih menuruti keinginan Yuna yang sejak awal ingin pulang ke rumah setelah acara pernikahan selesai.


Yuna duduk disisi ranjang dengan kepala yang tertunduk. Rasa takut tiba-tiba menyelimuti. Bayangan kisah menyedihkan itu seperti berputar-putar di kepalanya. Takut Chandra akan menyentuhnya dengan cara yang sama saat pertama kali Barra menyentuhnya.


Tanpa perasaan dan hanya menjadikannya sebagai objek saja.


Chandra melepaskan tuxedo dan meletakkannya di atas sofa. Dia lalu menghampiri Yuna dan duduk di sebelahnya.


"Ganti saja gaunnya kalau tidak nyaman, sementara pakai kimono dulu."


"Mungkin 30 menit lagi baju kita datang." Tutur Chandra sembari menatap arlojinya.


Dia sudah menyuruh supir untuk membawakan baju miliknya dan juga milik Yuna.


"Aku tunggu bajunya datang saja." Jawab Yuna cepat. Chandra hanya mengangguk.


"Lusa kita pindah ke rumah baru,,"


Yuna langsung menoleh, menatap Chandra yang mengajaknya untuk pindah.


Memang hal ini sudah dibicarakan sebelumnya, tapi Yuna tidak tau kalau akan secepat itu menempati rumah baru mereka.


"Secepat itu.?" Tanya Yuna.


"Lebih cepat lebih baik. Aku juga tidak mungkin tinggal berlama-lama di rumah pemberian Barra."


"Apa yang akan dia katakan nanti." Ujar Chandra.


Sebagai laki-laki tentu saja hal itu akan membuat harga dirinya turun.


Tentu saja malu jika harus tinggal di rumah yang ditempati oleh Yuna dan twins. Belum lagi tanggapan Barra yang bisa saja tidak suka jika dia tinggal di rumah itu.


"Yasudah, terserah Mas saja." Yuna bisa mengerti posisi dan perasaan Chandra, jadi memutuskan untuk menuruti keinginannya. Lagipula Chandra juga menyiapkan rumah yang masih dekat dengan ruko. Masih satu komplek, hanya saja rumah yang dibeli lebih jauh dari rumah pemberian Barra.


Dan hanya ada beberapa unit dalam 1 cluster.


Yuna masuk kedalam kamar mandi begitu baju miliknya datang. Dia sudah tidak nyaman dengan gaun yang super besar itu.


"Ya ampun, kenapa harus terulang lagi." Yuna mendesah kesal. Kejadian tidak bisa membuka resleting kembali terjadi lagi. Resleting itu hanya bisa terbuka sedikit dan selebihnya sangat sulit di turunkan.


Yuna mendekati pintu, membuka pintu dan berdiam diri disana. Dia ragu untuk meminta bantuan Chandra. Selama beberapa menit hanya mondar-mandir di depan pintu kamar mandi, sesekali mencoba untuk membuka resleting itu lagi tapi tetap tidak berhasil.


"Kenapa belum ganti baju juga.?" Chandra menatap dengan dahi berkerut. Sudah hampir 30 menit Yuna pergi ke kamar mandi, itu sebabnya dia menyusul karna takut terjadi sesuatu pada Yuna.


Tapi rupanya gaun pengantin itu masih melekat di tubuhnya.


"A,,aaku,,,


Chandra tersenyum melihat kegugupan Yuna dan pipinya yang merona.


"Kemari, biar aku bukakan." Panggil Chandra lembut. Dia langsung paham dengan kesulitan yang di alami oleh Yuna.


Yuna mendekat dengan langkah tertunduk. Berdiri di depan Chandra dan membelakanginya.


"Kenapa tidak memanggilku dari tadi.?" Tanya Chandra. Tangannya sudah mulai menempel di punggung Yuna dan memegang resleting gaun itu.


"A,,aaku,,,


Chandra terkekeh geli karna Yuna masih saja gugup.


"Kamu bukan remaja lagi Yuna, kenapa masih malu." Dia tak habis pikir kalau Yuna lebih pemalu dari yang dia kira.


"Atau kamu takut meminta bantuanku.?"


"Jangan khawatir, aku tidak akan memaksa kalau kamu belum siap." Tuturnya.


Ucapan Chandra membuat Yuna bernafas lega. Dia memang belum siap melakukannya malam ini.


"Tapi jangan terlalu lama juga, aku laki-laki normal." Ucapnya setengah berbisik. Hembusan nafasnya bahkan terasa menembus tengkuk Yuna.


Yuna mengangguk oaham.


"Sudah belum.?" Tanyanya lirih. Dia hanya merasakan jari tangan Chandra bermain di punggungnya.


"Astaga, aku lupa." Chandra mengulum senyum sembari menggelengkan kepala. Dia malah mengukir di punggung Yuna karna pikirannya sudah lari kemana-mana.


"Mas.! Jangan bercanda." Keluh Yuna. Dia sudah menunggu sejak tadi sampai gugup, tapi resleting gaunnya belum di buka juga.


"Maaf,, aku benar-benar lupa." Ucapnya. Dia lalu menurunkan resleting itu dengan perlahan. Sempat menelan saliva melihat punggung putih Yuna yang mulus itu.


"Sudah, aku tunggu di kamar." Chandra bergegas pergi setelah menurunkan resleting gaun itu seluruhnya.


Dia takut tidak bisa menahan diri dan akan membuat Yuna kecewa padanya.


...******...


Chandra tengah bersender pada kepala ranjang sembari memainkan ponselnya. Saat Yuna datang, pandangan matanya langsung tertuju pada wanita cantik yang sudah resmi menjadi istrinya.


Dia meletakkan ponsel, menatap Yuna jauh lebih penting daripada mengurus pekerjaan.


"Kemari,," Chandra menepuk ruang kosong di sampingnya.


Masih dengan rasa gugup dan malu yang menyertai, Yuna terus menundukan kepala. Dia naik ke atas ranjang dan berbaring di samping Chandra yang juga sudah mengubah posisi.


Tanpa pikir panjang, Chandra langsung mendekap Yuna dan memberikan usapan lembut di kepalanya. Terus mengusapnya dengan memberikan tatapan yang semakin dalam.


"Aku tau kamu masih ragu dan belum bisa sepenuhnya mencintaiku." Ucap Chandra. Yuna memberanikan diri mantap wajah tampan itu dalam jarak yang sangat dekat. Hembusan nafasnya bahkan beradu dengan hembusan nafas Chandra.


"Tidak ada sesuatu yang instan, semuanya butuh proses. Aku akan sabar menunggu proses itu." Chandra tersenyum, dia semakin mendekat dan mendaratkan kecupan di kening Yuna.


Hal itu membuat Yuna memejamkan mata. Tiba-tiba saja merasakan kehangatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnua. Hatinya mengatakan kalau Chandra benar-benar tulus akan memberikan kebahagiaan yang selama ini dia impikan.